Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Sekar
Danu melangkah keluar kamar dengan wajah yang masih mengeras, menuju kamar Riana yang terletak di ujung lorong lantai dua. Sisa-sisa ketegangan dari pasar malam tadi masih membekas jelas di rahangnya yang kaku.
Tok..tok..tok...
Danu mengetuk pintu kamar adiknya dengan ketukan yang tegas dan berwibawa. Di dalam, Riana yang sedang duduk gelisah di tepi ranjang segera membukakan pintu dengan wajah pucat.
"Mas..." Bisik Riana takut-takut.
Danu masuk ke dalam kamar, berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Postur tubuhnya yang tegap dan usianya yang terpaut dua belas tahun lebih tua dari Riana membuat aura kepemimpinannya terasa sangat mendominasi ruangan itu.
"Mas tidak bermaksud mengekangmu, Riana" Ucap Danu dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan penekanan.
"Tapi kamu harus sadar, Sekar itu berbeda denganmu. Dia sedang hamil muda, fisiknya tidak sekuat kamu yang biasa keluyuran di kampus. Udara malam di pasar malam itu dingin, debunya banyak, dan kerumunan orang itu berbahaya untuk janinnya"
"Iya Mas, Riana minta maaf. Riana cuma ingin Mbak Sekar senang, tidak di rumah terus
" Jawab Riana dengan kepala menunduk.
"Senang itu perlu, tapi keselamatan itu nomor satu. Kamu tahu sendiri bagaimana Ibu memperlakukannya di rumah ini. Satu-satunya perlindungan yang dia punya adalah Mas, dan saat ini, Mas mempercayakannya padamu. Jangan kecewakan kepercayaan Mas lagi!" Nasihat Danu dengan nada yang sedikit melunak namun tetap tegas. Sebagai kakak laki-laki sekaligus kepala keluarga, Danu selalu menempatkan tanggung jawab di atas segalanya.
Riana mengangguk dengan patuh atas petuah Kakaknya itu.
"Iya, Mas. Riana janji tidak akan membawa Mbak Sekar pergi sampai larut malam lagi"
Danu keluar dari kamar Riana dengan helaan napas panjang. Ia berjalan kembali menuju kamar utamanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Kepalanya berdenyut, urusan proyek yang menumpuk di kantor ditambah kepanikan mencari Sekar tadi benar-benar menguras energinya.
"Kenapa belum tidur?" Danu melihat Sekar masih duduk di tepi ranjang dengan wajah cemas.
"M-mas, apa Mas memarahi Riana? Tolong maafkan Riana Mas, jangan salahkan dia. Sekar juga salah karena pergi tidak bilang Mas Danu dulu!" Sekar benar-benar ketakutan dan merasa bersalah pada adik iparnya itu.
"Mas tidak memahaminya. Mas hanya menegurnya saja!" Danu meletakkan tangan ya di atas kepala Sekar dan mengusapkannya di sana dengan lembut. Danu tampaknya tau kalau istrinya takut Riana dimarahi olehnya.
"Sekarang tidurlah!"
Danu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju. Sekar masih tetap menunggu Danu hingga keluar dari kamar mandi.
Tapi dia sudah memadamkan lambu kekar, hanya ada lampu tidur di dekat sudut tempat tidur.
Danu langsung duduk di pinggir ranjang, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun pikiran.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Danu lagi karena istrinya tak kunjung tidur.
"Sekar nggak bisa tidur Mas." Jawab Sekar terus memperhatikan Danu.
"Kelihatannya Mas lelah sekali" Jawab Sekar jujur. Ia ragu sejenak, jemarinya meremas ujung kardigannya.
"Mas, apa mau Sekar pijat punggungnya? Dulu saya sering membantu memijat almarhum Ibu kalau Ibu kelelahan bekerja"
Sekar menawarkan itu dengan detak jantung yang berpacu. Ia takut Danu akan menolak, atau menganggap tawaran itu terlalu lancang. Namun, di luar dugaan, Danu justru menghela napas panjang dan sedikit melonggarkan bahunya.
"Boleh. Sepertinya bahuku memang sedang kaku sekali" sahut Danu.
Danu membelakangi Sekar, duduk dengan posisi yang memudahkan istrinya untuk menjangkau punggungnya. Sekar berdiri agar lebih banyak tenaga untuk memijat Danu. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan tangannya yang sedikit gemetar. Ia mulai meletakkan telapak tangannya di bahu lebar Danu.
Sentuhan pertama itu membuat Sekar tertegun. Punggung Danu terasa begitu kokoh, otot-ototnya keras namun terasa sangat hangat di bawah kain kaus tipis yang ia kenakan. Sekar mulai menekan dengan kekuatan yang pas, memijat urat-urat di leher dan bahu suaminya dengan gerakan memutar yang telaten.
"Enak?" Tanya Sekar lirih.
"Hmm, tanganmu hangat Sekar" Gumam Danu, suaranya terdengar lebih rileks. Pria itu memejamkan mata, membiarkan jemari lembut istrinya bekerja mengusir rasa penatnya.
Sekar terus memijat dengan penuh dedikasi. Dalam keheningan itu, ia merasa sangat dekat dengan Danu. Ia mengagumi setiap jengkal punggung pria ini, punggung yang telah menopang beban berat keluarga Subroto, punggung yang menjadi tameng baginya dari hinaan orang-orang. Ada rasa haru yang membuncah di hati Sekar. Pria sehebat dan sedewasa Danu, kini membiarkannya menyentuh sisi lelahnya.
Sambil memijat, pikiran Sekar kembali pada jam tangan yang tersimpan di tasnya. Ia merasa semakin tidak sabar untuk memberikannya. Melihat Danu yang bekerja begitu keras, Sekar merasa pemberiannya yang murah itu sama sekali tidak ada harganya, tapi ia akan memberikannya dengan seluruh rasa hormat yang ia punya.
"Sekar..." Panggil Danu pelan.
"Iya Mas?"
"Terima kasih sudah pijitin Mas malam ini" Ucap Danu. Ia berbalik, menangkap kedua tangan Sekar dan menariknya lembut hingga Sekar berdiri di antara kedua kakinya.
Danu menatap wajah Sekar dengan pandangan yang sangat dalam. Di bawah cahaya remang, kecantikan Sekar yang sederhana tampak begitu memukau. Kulitnya yang bersih dan matanya yang selalu tampak jernih membuat Danu merasa tenang.
"Kadang Mas lupa kalau Mas juga butuh istirahat" Lanjut Danu. Ia mengusap punggung tangan Sekar dengan ibu jarinya, sebuah gestur manis yang membuat Sekar merasa sangat dicintai, meski tanpa kata-kata cinta.
"Sudah cukup pijatnya. Sekarang kamu yang harus istirahat. Jangan sampai kelelahan karena mengurus Mas"
"Enggak Mas. Sekar nggak lelah, karena Mas seperti ini juga karena Sekar. Mas sudah leleh bekerja, tapi tadi malah masih sempat jemput Sekar ke pasar malam. Sekar mita maaf" Sekar menunduk sendu.
"Kamu tidak salah, Mas kelelahan juga bukan karena itu. Tidak perlu minta maaf. Ayo tidur saja, istirahat!"
"Iya Mas" Sekar mengangguk, dia kembali naik ke ranjang bersebelahan dengan Danu.
"Sekar?" Panggil Danu setelah Sekar menyelimuti tubuh kecilnya itu.
"Iya Mas?"
"Sini lebih dekat, Mas kedinginan. Pingin dipeluk!"