Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi WhatsApp. Dari nomor tak dikenal, namun nama kontak yang terpampang membuat Siman tersentak.
Bapak Trisno.
“Halo, Pak Trisno?” sapa Siman, suaranya sedikit tercekat karena gugup.
“Halo, Siman. Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya tadi sudah berjanji, ya,” suara Bapak Trisno terdengar ramah di seberang sana. “Saya tahu Anda sudah cukup lelah. Tapi tidak apa-apa kalau besok pagi kita bisa bicara langsung saja. Bagaimana menurut Anda?”
Jantung Siman berdegup kencang. Ia mengusap akiknya. Sensasi panas menjalari jarinya. Itu adalah pertanda baik, seperti yang biasa terjadi. “Nggak apa-apa, Pak! Saya siap kalau malam ini juga. Nggak mengganggu sama sekali, kok.” Siman langsung menjawab, menepis sisa keraguan di hatinya.
“Oh, benarkah?” Bapak Trisno terkekeh. “Baiklah kalau begitu. Begini, Siman. Saya minta Anda datang besok pagi jam delapan. Saya akan kirimkan alamatnya, Anda sudah tahu kan kalau saya punya bisnis lainnya? Di bidang perkebunan kopi. Perusahaan kopi ini sedang berkembang, jadi saya ingin mendesain ulang logonya, untuk lini produk biji kopi mereka yang premium. Saya ingin logo yang mencerminkan semangat petani lokal, kesegaran kopi, tapi tetap modern dan bisa bersaing secara global. Bisa, kan?”
Siman terpaku. Logo kopi? Itu persis seperti salah satu portofolionya di tender tadi, yang bahkan sempat mendapat pujian dari Ibu Anita! “B-bisa, Pak! Sangat bisa! Saya janji akan buat yang terbaik!” jawab Siman penuh semangat, bibirnya melengkung lebar.
“Bagus. Saya tunggu kejutan Anda,” tutup Bapak Trisno, lalu panggilan berakhir.
Siman meletakkan ponselnya, dadanya bergemuruh. Ini proyek. Proyek pertamanya untuk Akik Creative Studio yang ia tangani sendiri. Tanggung jawab besar kini ada di pundaknya. Ia harus membuat karya terbaik, tidak peduli nominalnya. Apalagi, tawaran ini datang langsung dari direktur utama, yang memuji ide orisinalnya. Tidak peduli bahwa orang lain bilang saya anak pinggiran yang sampah dan kumuh, tapi saya yakin, saya tidak akan mudah menyerah begitu saja, pikir Siman. Ia meraih buku sketsanya, mengambil pensilnya.
Pagi-pagi sekali, setelah Murni pulang menjenguk ibunya. Murni tampak semangat pagi itu.
"Mana janji Bapak, ya?" Murni mengetuk pintu studio, tidak berani masuk terlalu jauh karena melihat Siman sedang tidur di sana. Namun kemudian, mata Murni menangkap Siman sedang duduk. Bukan, Murni tak yakin itu adalah Siman yang ia kenal. Siman begitu berantakan, tidur dengan pulas, dan itu menandakan Siman terlalu capek semalam.
“Man? Bangun!” Murni menggedor pintu, suara lembut itu memecah kegelapan yang menyelimuti Siman. Siman tersentak. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa semalam suntuk menatap layar monitor.
“Astaga, Mur? Sudah pagi, ya?” Siman tergagap, menyeka sisa kantuk dari matanya. Ia melihat jam di dinding. Pukul enam pagi! Dia bahkan tidak menyadari sudah terlelap, setelah bekerja selama empat jam! Empat jam? Logo sudah berhasil diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat!
“Pagi gimana? Ini sudah hampir terang, tahu!” Murni mengerutkan kening. Lalu matanya beralih ke layar monitor. Sketsa logo yang sangat memukau terpampang di sana. Sebuah desain yang merepresentasikan identitas lokal, daun kopi dengan warna cokelat dan sentuhan emas, dikelilingi ornamen etnik modern yang elegan. Di sampingnya, beberapa ide turunan logo dan implementasi pada kemasan produk.
Murni terkesima. Ia tidak banyak berbicara lagi, justru melongo melihat karya Siman yang sangat hebat. "Ini... Man? Kamu... serius semalam baru mengerjakannya?"
Siman mengangguk bangga. Ia ingat detail-detail yang diberikan Bapak Trisno: kesan lokal, modern, premium. Dan semua itu telah terwujud sempurna di layar monitornya, bahkan melampaui ekspektasinya sendiri. “Iya, Mur. Aku nggak tahu bagaimana bisa secepat itu. Semalam… aku benar-benar terinspirasi. Rasanya seperti ide-ide itu mengalir begitu saja.”
Murni mendekat, jarinya menyentuh permukaan akik di jari manis Siman. Akik itu terasa hangat, memancarkan semacam aura ketenangan yang Murni rasakan menular. “Akikmu... kamu hebat, Man,” bisik Murni, senyum tulus mengembang di wajahnya. “Aku bangga sama kamu.”
Pujian Murni adalah obat. Lebih mujarab dari istirahat paling pulas. Lebih berharga dari honor proyek apa pun. Siman membalas senyumnya, perasaan puas meluap dalam dirinya. Ini bukan lagi soal uang, melainkan validasi atas keberadaan dirinya, sebagai seorang desainer.
“Nanti aku akan datang presentasi ke kantornya Pak Trisno, kamu mau ikut, Mur?” Siman menawarkan. Dia tahu Murni adalah pendorong utama semua ini. Dia adalah orang terpenting di hidup Siman, jauh melampaui akik yang ada di jari Siman.
Murni menggeleng. “Nggak usah, ah. Nanti kamu malah grogi kalau aku ikut. Lagian aku mau bantu Ibu masak di rumah. Kamu harus tunjukkan yang terbaik. Aku di sini akan selalu mendukungmu.” Senyum Murni meyakinkan Siman bahwa gadis itu memang tahu kapasitas Siman. Tapi dia tahu, dukungan Murni adalah sebuah penawar, dan ia adalah kekuatan Siman untuk kembali membuktikan semua hal ini.
Siman mengangguk. Dia mengekspor file logo, menyiapkannya dalam berbagai format yang diminta Bapak Trisno. Akik di jarinya terasa tenang, namun memancarkan denyutan ringan yang menenangkan hati Siman. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya sebuah ketenangan, ketegasan untuk menghadapi semuanya. Trauma itu seolah hilang entah kemana.
Dengan semangat yang membara dan keyakinan baru, Siman kembali mengenakan jas pinjaman Pak Hartoko. Pukul delapan tepat, Siman tiba di lobi perusahaan Bapak Trisno yang terletak di kawasan perkantoran elit Jakarta Selatan. Hawa dingin dari pendingin ruangan menyapa, menyisakan jejak harum dari orang-orang berjas rapi yang lalu-lalang. Gedung pencakar langit yang menjulang, meja resepsionis mewah, dan interior modern itu sedikit mengingatkannya pada Bapak Hadi.
Namun kali ini, Siman tidak ciut. Ia menarik napas dalam, memegang erat folder berisi flash disk desain logonya. Akik di jarinya kembali terasa hangat. Sensasinya berbeda; bukan hanya kekuatan pemicu insting, melainkan juga sebuah aura ketenangan yang membuatnya merasa sejajar dengan siapa pun di ruangan itu. Ia percaya. Aku akan membuktikan semuanya pada Dina.
“Selamat pagi, Pak Siman. Bapak Trisno sudah menunggu Anda di ruang rapat lantai lima,” sapa resepsionis dengan senyum ramah, membuat Siman terkesima. Sambutan yang berbeda dari kesan formal kemarin di tender.
Siman mengangguk, menuju lift. Begitu tiba di lantai lima, seorang asisten Bapak Trisno sudah menunggunya, menuntunnya ke sebuah ruang rapat berdinding kaca yang elegan, menghadap ke arah gedung-gedung tinggi di kejauhan. Di dalamnya, Bapak Trisno sudah duduk, mengamati pemandangan kota. Ada secangkir teh panas, dan beberapa penganan.
“Selamat pagi, Siman! Silakan duduk, maaf kalau saya tidak dapat datang menemuimu.” Bapak Trisno menyambut, suaranya ramah, jauh dari kesan direktur utama yang ia bayangkan. “Saya harap Anda cukup istirahat. Jadi, bagaimana? Sudah ada gambaran untuk logo kopi saya?”
“Selamat pagi, Pak,” Siman menjawab, sedikit canggung, namun ia berhasil menahan kegugupannya. “Sudah, Pak. Saya harap Bapak suka.” Siman menyerahkan flash disk berisi desainnya.
***