Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Arga menatap pria itu. Jika ia tidak tahu bahwa Pak Bambang adalah penjudi berat yang nantinya akan menjual rumah Arga di masa depan, ia mungkin akan tertipu wajah teduhnya.
“250 juta buat mahar?”
“Iya, betul.”
“Dikasih ke Bapak dulu?”
“Iya, dong.”
“Lalu Bapak pakai buat main judi di kasino?”
“Iya, be—hah?!” Pak Bambang tersedak ludahnya sendiri.
“Cukup!” Arga menarik napas dalam. “Taktik kalian sudah basi. Mau main kasar atau main halus, tujuannya cuma satu: merampok uang Bapak saya demi menutupi utang si pecundang ini.”
Ia menunjuk pintu. “Pergi sekarang, atau saya panggil warga dan polisi!”
Pintu ditutup dengan bantingan keras tepat di depan hidung mereka.
Di luar, keluarga Tiara gemetar karena geram.
“Bu, kenapa si Arga jadi berani begitu?” Tiara bertanya dengan nada panik.
Bu Lastri menatap pintu kontrakan itu dengan tatapan tajam. “Sudahlah! Tiara, kamu itu cantik. Jangankan 200 juta, satu miliar pun ada yang mau bayar kalau kamu jadi istrinya!”
“Ayo pergi! Kalau nanti Tiara sudah dapat anak pengusaha kaya, kita injak-injak si Arga ini sampai dia memohon di kaki kita!”
Arga hampir tertawa terbahak-bahak saat mendengar percakapan di luar rumah kontrakan itu sebelum ia menutup pintu tadi.
Apakah semua orang kaya memang bodoh? Dengan keluarga "ajaib" seperti itu, keluarga terpandang mana yang sudi menikahi Tiara?
Beberapa hari berikutnya, keluarga itu bersikap cukup tahu diri dan tidak lagi berani mengganggu Arga. Ia pun bisa menikmati hari-hari yang tenang dan nyaman, sesuatu yang sangat langka di kehidupan sebelumnya.
Namun, Arga sama sekali tidak bermalas-malasan. Berdasarkan ingatannya, ia kembali mengikuti beberapa undian produk dan kuis berhadiah. Meski nominal kemenangannya tidak sebesar hadiah utama 10 miliar kemarin, tabungan yang terkumpul secara akumulatif telah bertambah beberapa juta.
“Keuntungan dari undian seperti ini tidak akan bertahan lama. Jika aku terus melakukannya, kemungkinan besar pihak berwenang atau bank akan mulai mencurigaiku,” gumam Arga.
Bukan berarti Arga takut diperiksa, tetapi ia tidak menyukai perasaan terus diawasi saat sedang membangun fondasi kekuatannya. Ia pun merenung dengan saksama. Berdasarkan ingatannya, ia tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi sebuah peristiwa besar di kota ini—sebuah kejadian yang akan mengguncang dunia kolektor barang antik di seluruh negeri!
Dalam kehidupan sebelumnya, Arga ingat betul berita itu: pemilik toko barang antik Jati Lawas di Jalan Pemuda pernah membeli sebuah mangkuk tanah liat kusam dari zaman Kerajaan Majapahit dengan harga tinggi. Saat itu, semua orang menertawakan pemilik toko karena dianggap telah "salah taksir" dan membeli barang rongsokan.
Namun siapa sangka, mangkuk tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Genthong Penglaris milik saudagar legendaris masa lalu yang berlapis material langka di balik tanah liatnya. Harga pasarnya ditaksir para ahli mencapai 8 miliar! Pemilik toko Jati Lawas bahkan mengadakan syukuran besar selama tujuh hari tujuh malam dan menyalakan kembang api senilai lebih dari 100 juta untuk merayakannya.
Dalam ingatannya, hari ini adalah hari ketika pemilik toko itu membeli harta karun tersebut!
Bagaimana mungkin Arga membiarkan kesempatan emas ini jatuh ke tangan orang lain?
Pagi-pagi sekali, Arga bahkan tidak sempat sarapan. Ia langsung menarik uang tunai sebesar 3 juta dari bank—jumlah yang sangat besar untuk dibawa dalam tas ransel di tahun 2000. Setelah itu, ia naik taksi menuju Jalan Pemuda dan langsung menuju toko Jati Lawas.
Begitu Arga melangkah masuk, ia justru melihat beberapa wajah yang sangat dikenalnya.
“Tante, liontin giok ini kualitas super. Saya datangkan langsung dari luar. Harga pasaran terendahnya saja 1 juta,” ujar seorang pria perlahan.
“Wah, Nak Yuda, saya cuma mengajak Tiara main ke tokomu. Kenapa malah dikasih hadiah mahal begini?” kata Bu Lastri sambil tersenyum lebar, tangannya tak henti-henti mengelus liontin itu.
Semakin lama ia memandang Yuda Perdana, semakin puas hatinya. Mampu membuka toko barang antik sebesar ini di usia awal 30-an, serta begitu royal—pria itu jelas ribuan kali lebih unggul dibanding Arga yang ia anggap miskin!
“Tiara, kemari. Lihat ini. Kalung giok ini untukmu.”
Sambil berkata demikian, Yuda sendiri yang memasangkan kalung itu ke leher Tiara. Di matanya tampak kilatan keserakahan dan keangkuhan. Padahal, Arga tahu betul itu hanyalah sisa bahan giok kualitas rendah yang harga belinya tak lebih dari puluhan ribu.
“Kak Yuda, terima kasih banyak ya,” ucap Tiara dengan wajah berseri-seri.
“Haha, tidak perlu sungkan. Asal kamu dan Mama senang, itu sudah cukup,” jawab Yuda sambil tertawa.
“Ah, andai saja Tiara ketemu kamu lebih awal! Tidak perlu dia menderita sama si Arga itu!” Bu Lastri menghela napas penuh drama.
Pada saat itulah Arga melangkah masuk. Begitu melihat Arga, raut wajah Tiara langsung berubah jijik.
“Kenapa kamu, si miskin, datang ke sini?” katanya ketus. “Arga, dengar ya. Sekalipun sekarang kamu bawa uang 250 juta itu, aku tidak akan mau balik sama kamu!”
Sambil berbicara, ia dengan bangga menggandeng lengan Yuda. “Kenalin, ini pacar baruku—pemilik toko Jati Lawas!”
Bu Lastri mencibir dan menunjuk perhiasan di dada Tiara. “Lihat itu! Nak Yuda baru kenal Tiara dua hari saja sudah kasih hadiah giok 1 juta. Kamu? Bertahun-tahun sama Tiara, boro-boro kasih hadiah, yang ada malah numpang makan!”
Rendi yang ikut di belakang menambah ejekan, “Kita sama-sama laki-laki, tapi kok nasibnya beda jauh ya? Yang satu bos, yang satu gelandangan.”
Yuda menikmati pujian itu dan melirik Arga dengan remeh. Dengan nada tenang yang dibuat-buat, ia berkata, “Bukannya laki-laki cari uang memang untuk memanjakan wanitanya? Kalau wanitaku tidak bisa foya-foya, berarti aku gagal cari uang.”
Tiara menatap Yuda penuh kagum. “Kak Yuda benar-benar hebat! Tidak pelit seperti orang itu. Memang pantasnya dia jomblo seumur hidup!”
Menghadapi hinaan itu, Arga hanya menjawab datar, “Aku ke sini bukan cari kamu.”
“Halah, alasan!” Tiara mencibir. “Kamu ke sini mau beli barang? Barang di sini harganya ratusan ribu sampai jutaan. Dompetmu saja mungkin isinya cuma struk tagihan.”
Tepat saat itu, seorang pria paruh baya berpakaian seperti kuli panggul masuk ke toko dengan langkah ragu.
“Bos... apakah di sini terima barang antik?” tanya pria itu hati-hati.
“Terima! Mau jual apa?” Yuda segera menyambutnya. Arga diabaikan begitu saja.
Pria itu mengeluarkan bungkusan kain kumal dari balik bajunya, meletakkannya di atas meja kaca, lalu membukanya perlahan. Sebuah mangkuk kecil dengan segel tanah liat kusam, sebesar telapak tangan, muncul di hadapan mereka.
Ini dia... harta karun itu!