Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Bibir berdarah
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di antara celah gedung-gedung tinggi Jakarta. Setelah lelah berkeliling mal, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pulang. Di jok belakang mobil Pajero sport milik Arjuna, Siena sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka, tangan kecilnya masih setia memeluk erat dua kotak boneka Barbie Cinderella dan Pangeran Tampan yang baru dibelinya.
Suasana di kabin depan terasa sunyi, hanya deru mesin dan hembusan AC yang terdengar. Dita menyandarkan kepalanya di jendela samping, matanya menatap kosong deretan gedung pencakar langit yang mereka lewati. Namun, pikirannya melayang jauh ke pesan singkat Rena tadi. Bayangan tentang lorong kampus Universitas Pelita Harapan, buku-buku tebal, dan impian masa depannya kini terasa seperti kabut yang semakin menjauh sejak ia menyandang status sebagai istri seorang perwira.
Arjuna, yang sejak tadi fokus menyetir, sesekali melirik ke arah istrinya. Ia menyadari perubahan drastis pada raut wajah Dita. Ceria yang tadi sempat hadir saat mereka digoda Bayu, kini lenyap digantikan kemurungan yang dalam.
"Dit..." panggil Arjuna lembut, memecah keheningan.
Dita tidak bergeming, ia masih asyik dengan lamunannya.
"Dita," panggil Arjuna sekali lagi, kali ini tangan kirinya terulur menyentuh punggung tangan Dita yang berada di atas paha.
Dita tersentak pelan dan menoleh. "Eh, iya... iya, Mas? Kenapa?"
Arjuna menatap jalanan di depan, lalu kembali melirik Dita dengan tatapan khawatir yang nyata. "Sejak di restoran tadi, kamu tiba-tiba jadi diam. Wajahmu murung sekali. Ada apa? Apa ada kata-kataku yang salah atau... ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Dita menghela napas panjang, ia kembali menatap ke luar jendela sebelum menjawab dengan suara lirih. "Tidak ada yang salah dengan perkataan Mas Juna. Aku hanya... tadi Rena kirim pesan. Dia sudah daftar kuliah di UPH."
Arjuna terdiam sejenak. Ia tahu betul betapa Dita sangat ingin melanjutkan pendidikannya. "Lalu? Apa itu yang membuatmu sedih? Kamu merasa tertinggal?"
"Aku hanya berpikir... apa mungkin aku masih bisa kuliah seperti Rena? Mengingat sekarang aku sudah tinggal di rumah Mas, mengurus Siena... rasanya impian itu jadi terasa sangat jauh, Mas," ucap Dita, setetes air mata hampir jatuh namun ia segera menghapusnya.
Arjuna memperlambat laju mobilnya, ia menggenggam tangan Dita lebih erat. "Dengar, Dita. Menikah denganku bukan berarti mimpimu harus mati. Aku tidak pernah melarang mu untuk belajar. Jika itu memang impianmu, kita akan cari jalannya bersama. Jangan murung lagi, ya?"
Dita menatap suaminya dengan tatapan tak percaya, rasa hangat perlahan mulai mengalir di hatinya, menghapus sedikit demi sedikit keraguan yang sempat menyiksa batinnya sepanjang perjalanan.
Lampu rem mobil-mobil di depan menyala merah, menciptakan barisan panjang yang tak berujung. Jalanan Jakarta sore itu macet total, memberikan ruang sunyi yang pas bagi Dita untuk mengutarakan isi hatinya. Dita meremas tali tasnya, menoleh perlahan ke arah suaminya yang masih setia memegang kemudi.
"Mas... soal kuliah tadi," suara Dita mencicit ragu. "Kalau aku benar-benar daftar ke UPH... apa Mas Juna akan memberiku izin? Aku janji tidak akan menelantarkan rumah atau Siena."
Arjuna terdiam sejenak, lalu tangan kirinya terulur mengusap lembut puncak kepala Dita. Sebuah senyuman tipis namun hangat terukir di wajahnya. "Tentu saja boleh, Dita. Aku tidak ingin mematikan impianmu hanya karena pernikahan ini. Tapi..." Arjuna menjeda kalimatnya, matanya berkilat jahil. "Ada syaratnya."
Dita yang tadi sempat menahan napas langsung berbinar antusias. "Syarat? Apa syaratnya, Mas? Aku akan lakukan apa saja asal bisa kuliah!"
Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menunjuk pipi kirinya dengan telunjuk, lalu mengetuk-ngetuk nya pelan. Dita mengernyitkan kening, tampak bingung dengan kode suaminya.
"Maksudnya?" tanya Dita polos.
"Cium... aku minta kamu cium aku di sini," bisik Arjuna sambil menahan tawa melihat ekspresi Dita yang langsung berubah syok.
Dita sempat merasa permintaannya sedikit kekanak-kanakan, bahkan "tak senonoh" untuk ukuran di dalam mobil. Namun, demi kursi kuliah di UPH dan masa depannya, ciuman di pipi rasanya harga yang kecil. Toh, mereka sudah pernah melakukan yang lebih dari itu.
"Ya sudah... tapi Mas harus tutup mata! Jangan mengintip!" perintah Dita dengan wajah merona.
Arjuna menurut dengan patuh. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan kepalanya ke kursi dengan senyum kemenangan. Kondisi jalanan yang macet total dan Siena yang masih mendengkur halus di belakang membuat suasana terasa sangat mendukung.
Dita menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia memajukan tubuhnya, bibirnya hampir menyentuh kulit pipi Arjuna yang terasa maskulin. Namun, tepat saat bibir Dita tinggal satu senti lagi, Arjuna dengan gerakan kilat memalingkan wajahnya ke arah Dita.
Cup!
Bukan pipi yang didapat Dita, melainkan bibir Arjuna yang langsung menyambutnya. Dita terbelalak kaget, tangannya refleks mencengkeram lengan pakaiannya Arjuna. Namun, alih-alih melepaskan, Arjuna justru mem*gut bibir istrinya itu dengan lahap dan lembut. Dita yang awalnya terkejut, perlahan mulai terhanyut. Ia menutup matanya, membalas lum*tan suaminya dalam keheningan macetnya Jakarta.
"Ayahhh!"
Suara lantang Siena yang tiba-tiba terbangun menggelegar di kabin mobil seperti ledakan bom.
Duarrrrr!
Arjuna tersentak hebat karena kaget setengah mati. Refleks tubuhnya saat terkejut membuat giginya tanpa sengaja menggigit bibir bawah Dita dengan cukup keras.
"Awww...! Sakittt!" jerit Dita spontan sambil memegangi bibirnya yang berdenyut pedas.
Suasana mobil langsung kacau balau. Arjuna panik luar biasa, ia segera melepaskan Dita dan mencari tisu dengan tangan gemetar. "Aduh! Dita, maaf! Maafkan aku! Aku kaget sekali tadi!"
Dita hampir menangis, matanya berkaca-kaca menahan perih. Saat ia melihat ke cermin kecil, ada sedikit bercak darah di sudut bibirnya yang terluka. "Mas Juna menyebalkan! Bibirku jadi luka begini kan!"
Sementara itu, di jok belakang, Siena duduk tegak dengan tangan bersedekap. Matanya menatap tajam ke arah dua orang dewasa di depannya dengan ekspresi kesal yang sangat kentara.
"Ayah sama Tante Dita sedang ngapain sih? Kenapa pakai gigit-gigitan segala?" gerutu Siena ketus. "Katanya habis ini kita mau makan es krim, malah makan bibir orang! Siena lapar lagi tau!"
Arjuna hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya merah padam antara malu pada anaknya dan merasa berdosa pada istrinya. Hari Minggu yang manis itu harus ditutup dengan insiden "bibir berdarah" dan omelan bocah sekolah dasar.
Bersambung...
walaupun gak comend di setiap bab nya... di krn kan fokus ke cerita....