NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

BAB 1: Siluet di Balik Oli dan Debu

Tokyo, 02:14 AM.

Lampu neon pucat di distrik industri Ota berkedip-kedip, seolah-olah sedang sekarat. Di jam sedini ini, detak jantung Tokyo yang biasanya membara di Shibuya atau Shinjuku terasa seperti denyut nadi yang lemah di sini. Hanya ada deru mesin pabrik yang jauh dan aroma bensin yang menguap dari aspal basah setelah hujan rintik-rintik menyapu kota.

Hana Asuka melangkah keluar dari taksi dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Gaun sutra off-white rancangan desainer ternama yang ia kenakan tampak sangat tidak relevan di lingkungan ini. Kainnya yang halus terseret di atas beton yang retak, dan tumit tinggi stiletto-nya mengeluarkan bunyi klik-klik yang menggema di gang-gang sempit yang sunyi.

Bagi dunia luar, Hana adalah perwujudan kesempurnaan. Di usia 26 tahun, dia adalah Direktur Pemasaran Asuka Group, putri tunggal dari dinasti perhotelan yang menguasai cakrawala Jepang. Namun, malam ini, di balik riasan wajahnya yang masih sempurna, Hana merasa seperti barang dagangan yang baru saja diberi label harga.

"Kau harus mengerti, Hana. Keluarga Shimada adalah satu-satunya kunci agar kita tetap berdiri. Kaito adalah pemuda yang ambisius. Menikah dengannya bukan hanya soal perasaan, tapi soal kelangsungan hidup ribuan karyawan kita."

Suara ayahnya, Daichi Asuka, terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya. Kaito Shimada. Pewaris terkaya nomor tiga di dunia. Pria yang memandang Hana seolah-olah dia adalah tanah jajahan yang siap dikuasai.

Hana berhenti di sebuah gang buntu yang remang-remang. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang dingin, membiarkan air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh merusak maskaranya. Dia ingin menghilang. Dia ingin menjadi siapa saja, di mana saja, asalkan bukan Hana Asuka.

"Hei, lihat apa yang kita temukan di sini..."

Suara parau itu memecah keheningan. Hana tersentak, bahunya menegang saat tiga bayangan muncul dari kegelapan di ujung gang. Mereka adalah pria-pria dengan pakaian kusam—mungkin buruh pelabuhan atau preman lokal yang sedang mabuk sisa sake murahan.

"Nona manis, kau tersesat?" salah satu dari mereka, pria dengan tato kasar di lehernya, melangkah maju. Matanya menyapu gaun Hana dengan tatapan lapar yang menjijikkan. "Gaun itu... harganya pasti bisa membiayai makan kami selama setahun."

Hana mencoba menegakkan punggungnya, memanggil sisa-sisa martabatnya sebagai seorang putri konglomerat. "Jangan mendekat. Saya hanya sedang menunggu jemputan."

Pria kedua tertawa, sebuah suara serak yang membuat bulu kuduk Hana berdiri. "Jemputan? Di Ota jam dua pagi? Jangan bercanda. Kau pasti simpanan orang kaya yang baru saja didepak, kan?"

Pria bertato itu meraih pergelangan tangan Hana. Cengkeramannya kasar, meninggalkan noda hitam di kain sutra putihnya. "Ikut kami sebentar. Kami akan memberikan 'kehangatan' yang tidak bisa diberikan oleh tuanmu yang kaya itu."

"Lepaskan!" Hana berteriak, suaranya bergetar hebat. Dia meronta, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Ketakutan yang murni mulai melumpuhkan logikanya. Saat pria itu menariknya lebih dekat dan aroma alkohol busuk menerpa wajahnya, Hana memejamkan mata, bersiap untuk yang terburuk.

"Tuan-tuan yang terhormat..."

Sebuah suara memotong ketegangan itu.

Suara itu tidak tinggi, tidak juga penuh amarah. Itu adalah suara yang sangat tenang, sangat lembut, namun memiliki resonansi yang aneh—seperti denting pedang baja yang ditarik dari sarungnya di tengah malam.

Hana membuka matanya.

Di mulut gang, berdiri seorang pria. Cahaya lampu jalan yang redup berada di belakangnya, membuat wajahnya tertutup bayangan, namun siluet tubuhnya terlihat jelas. Dia tidak mengenakan baju atasan. Otot-otot bahu dan dadanya tampak kokoh dan terlatih, berkilau tipis oleh keringat yang memantulkan cahaya. Celana kargo hitamnya yang kusam dipenuhi noda oli, dan rambut wolf cut-nya yang berantakan menutupi sebagian keningnya.

"Siapa kau? Jangan ikut campur, bocah!" teriak pria bertato itu, masih memegangi tangan Hana.

Pria misterius itu melangkah maju. Gerakannya sangat efisien, tanpa suara, seperti predator yang tidak perlu terburu-buru karena ia tahu mangsanya tidak akan bisa lari. Saat dia masuk ke dalam jangkauan cahaya, Hana bisa melihat wajahnya.

Pria itu tampak masih muda, mungkin awal dua puluhan. Wajahnya memiliki garis rahang yang tajam dan hidung yang lurus sempurna—ketampanan yang terasa terlalu aristokrat untuk tempat sekotor ini. Matanya, yang berwarna gelap, menatap para preman itu dengan kedinginan yang mutlak. Tidak ada ketakutan di sana, hanya kejenuhan yang mendalam.

"Saya rasa wanita ini sudah meminta kalian untuk melepaskannya," ucap pria itu lagi. Bahasa Jepangnya sangat formal, sangat sopan, namun setiap kata terasa seperti es yang menusuk kulit. "Tidakkah lebih bijaksana jika kalian melanjutkan perjalanan sebelum malam menjadi semakin tidak menyenangkan bagi kalian?"

"Halah! Bacot!" Pria ketiga menerjang maju, mengayunkan tinjunya ke arah wajah pria berambut wolf cut itu.

Apa yang terjadi selanjutnya berlangsung begitu cepat hingga Hana nyaris tidak bisa mengikutinya. Pria itu tidak menghindar dengan panik. Dia hanya menggeser kakinya sedikit, menangkap pergelangan tangan si penyerang dengan satu tangan, lalu dengan gerakan putaran yang halus namun bertenaga, dia menjatuhkan pria itu ke aspal.

BRAK!

Si penyerang mengerang kesakitan, wajahnya mencium beton. Pria itu—sang penyelamat—bahkan tidak terlihat terengah-engah. Dia masih berdiri dengan tegak, menatap dua pria lainnya dengan ekspresi datar yang sama.

"Apakah ada yang lain?" tanyanya lembut.

Pria bertato itu melepaskan tangan Hana. Dia melihat temannya yang terkapar di tanah, lalu menatap pria di depannya lagi. Ada sesuatu yang salah. Pria bertelanjang dada ini... aura yang dikeluarkannya bukan aura mekanik biasa. Ada otoritas yang mengintimidasi, sesuatu yang membuat nyali para preman itu menciut seketika.

"A-ayo pergi! Sialan!" Pria bertato itu menarik temannya yang lain, memapah temannya yang jatuh, dan mereka lari menghilang ke dalam kegelapan gang seolah-olah baru saja melihat iblis.

Keheningan kembali menyergap. Hana berdiri mematung, dadanya naik turun dengan cepat. Dia menatap pria yang baru saja menyelamatkannya. Pria itu tidak mendekat. Dia tetap berdiri di jarak yang aman, seolah-olah menghormati ruang pribadi Hana.

Pria itu menghela napas panjang, lalu menyeka tangannya yang berlumuran oli sedikit ke celananya. Dia menatap gaun Hana yang kotor, lalu beralih ke wajah Hana yang sembap.

"Nona," ucapnya dengan nada dingin yang sopan. "Mengenakan gaun seharga mobil mewah di distrik seperti ini adalah bentuk kecerobohan yang luar biasa. Jika Anda mencari tempat untuk mengakhiri hidup atau sekadar mencari masalah, saya sarankan cari tempat yang lebih berkelas."

Hana tertegun. Dia baru saja diselamatkan, tapi pria ini justru memarahinya dengan kata-kata yang begitu tajam. "Saya... saya tidak bermaksud..."

"Simpan penjelasan Anda," potong pria itu. Dia berbalik, memperlihatkan punggungnya yang lebar dengan otot-otot yang berkedut halus. "Ikuti saya. Berdiri di sini hanya akan mengundang lalat-lalat lain."

Hana ragu sejenak, namun dia menyadari bahwa dia tidak punya pilihan lain. Dia mengikuti pria itu keluar dari gang. Mereka berjalan sekitar lima puluh meter hingga sampai di sebuah pintu besi besar yang setengah terbuka. Di atasnya, sebuah papan kayu kecil bertuliskan: KURODA MOTOR.

Pria itu masuk ke dalam bengkel. Interiornya dipenuhi oleh kerangka motor kustom, ban-ban bekas, dan rak-rak berisi peralatan mekanik. Meskipun berantakan, ada keteraturan yang aneh di sana. Bau oli dan bensin mendominasi ruangan.

Pria itu mengambil sebuah kaos hitam polos dari gantungan di pojok ruangan dan mengenakannya dengan santai. Lalu, dia mengambil sebuah kursi kayu tua dan mengarahkannya pada Hana.

"Duduklah," perintahnya. "Saya akan memanggilkan taksi untuk Anda. Di sini, taksi jarang mau lewat kecuali dipesan secara pribadi."

Hana duduk perlahan, merasa sangat canggung dengan gaun sutranya di tengah bengkel yang kotor ini. Pria itu—Tuan Kuroda, atau siapa pun dia—berjalan ke sebuah teko listrik tua. Dia mulai memanaskan air.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Hana pelan, mencoba memecah kedinginan yang menyelimuti mereka.

Pria itu tidak menoleh. Dia sibuk menyiapkan cangkir keramik yang tampak sudah lama digunakan. "Suara teriakan Anda mengganggu konsentrasi saya saat sedang menyetel mesin. Hanya itu."

Hana menatap profil samping pria itu. "Kau punya cara bicara yang aneh. Sangat sopan... tapi kau terdengar seperti kau membenci semua orang di dunia ini."

Pria itu berhenti sejenak, jemarinya yang panjang dan kuat terdiam di atas cangkir. Untuk sesaat, Hana melihat kilatan sesuatu yang sangat dalam di matanya—kesedihan? Kehampaan? Namun, secepat kilat, ekspresi itu kembali menjadi datar dan dingin.

Dia berbalik dan memberikan cangkir teh hangat kepada Hana. "Minumlah. Teh ini murah, tapi cukup untuk menenangkan saraf Anda, Nona Asuka."

Hana hampir menjatuhkan cangkirnya. "Bagaimana kau tahu namaku?"

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sebuah motor besar yang sedang dikerjakan. Dia melipat lengannya di depan dada, menatap Hana dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding pertahanannya.

"Hana Asuka. Putri tunggal Daichi Asuka. Wajah Anda muncul di setiap berita bisnis minggu ini karena rencana merger antara Asuka Group dan Shimada Global," ucapnya datar. "Hanya orang buta yang tidak mengenali Anda."

Hana menunduk, menatap pantulan wajahnya di air teh yang kecokelatan. "Jadi... kau tahu siapa aku. Dan kau tetap memarahiku?"

"Bagi saya, Anda hanyalah seorang wanita yang tidak tahu tempat," jawab pria itu tanpa ampun. "Status Anda tidak berguna di distrik Ota. Di sini, jika Anda jatuh, tidak ada karpet merah yang akan menyambut Anda. Hanya aspal dingin."

Hana merasakan kemarahan sekaligus kekaguman. Selama ini, semua orang—bahkan Kaito—selalu menjilatnya atau memandangnya sebagai aset bernilai tinggi. Pria ini, mekanik di bengkel berdebu ini, adalah orang pertama yang menatapnya seolah-olah dia tidak lebih dari sekadar manusia biasa yang merepotkan.

"Namamu... Kuroda?" tanya Hana.

"Ren," jawabnya singkat. "Panggil saja Ren."

"Ren..." Hana mengecap nama itu di lidahnya. Sederhana. Namun kuat.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel terdengar dari saku celana Ren. Dia mengambil ponselnya, dan sejenak, Hana melihat wajah pria itu sedikit melunak saat membaca pesan di layarnya.

Dari kejauhan, di balik bayangan rak ban, dua pasang mata sebenarnya sedang mengawasi mereka dengan napas tertahan.

"Kakak benar-benar membawanya ke sini?" bisik seorang gadis muda dengan rambut pirang yang disembunyikan di balik topi beanie. Itu adalah Elara, yang sedang bersembunyi bersama adiknya, Julian.

"Ssst! Elara, diamlah," Julian memperingatkan sambil memegang laptop kecil di pangkuannya, memantau radar GPS di sekitar area tersebut. "Jika Kak Ren tahu kita mengintip, dia akan mengunci kita di gudang selama seminggu."

"Tapi lihat itu," Elara menunjuk ke arah Ren yang sedang memberikan sapu tangan bersih kepada Hana. "Aurelius Renzo von Hohenzollern, pria yang tidak pernah mau menyentuh orang lain, baru saja memberikan sapu tangan kesayangannya kepada wanita Jepang itu. Ini sejarah, Julian!"

Kembali ke tengah bengkel, Ren memberikan sapu tangan kain putih bersih dengan tekstur yang sangat halus kepada Hana. "Seka wajah Anda. Anda terlihat berantakan."

Hana mengambil sapu tangan itu. Wanginya... sangat lembut. Bukan bau parfum maskulin yang tajam, melainkan bau seperti hutan pinus setelah hujan. Sangat menenangkan. Di sudut sapu tangan itu, terdapat sulaman kecil inisial A.R. dengan benang emas yang nyaris tak terlihat.

"Terima kasih, Ren-san," ucap Hana tulus.

Ren hanya mengangguk kecil, lalu berbalik kembali ke motornya. Dia mengambil kunci pas dan mulai bekerja lagi, seolah-olah keberadaan putri konglomerat di bengkelnya bukanlah hal yang lebih penting daripada baut yang longgar.

Hana memperhatikan Ren yang bekerja dengan sangat fokus. Gerakan tangannya sangat presisi, setiap putaran alatnya dilakukan dengan keanggunan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang mekanik biasa. Ada misteri yang sangat besar di balik punggung pria itu.

Di tengah keheningan itu, Hana merasa untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia bisa bernapas. Di sini, di antara bau oli dan besi, di bawah pengawasan pria dingin yang tutur katanya sangat baik namun menjaga jarak, Hana merasa... aman.

Dia tidak tahu bahwa pria yang sedang membongkar mesin motor di depannya adalah pewaris takhta kekayaan nomor satu di dunia. Pria yang sedang melarikan diri dari takdir yang sama menyesakkannya dengan miliknya.

Dan di malam yang sunyi di distrik Ota ini, takdir dua kerajaan besar baru saja bertabrakan tanpa suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!