NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Sempurna!!"

Teriakan sang sutradara memecah keheningan studio yang tadinya mencekam.

Suara itu diikuti oleh gemuruh tepuk tangan dari para kru yang diam-diam kembali masuk ke set.

Mereka semua terpaku melihat rekaman di monitor; chemistry antara sang produser dingin dan si gadis pasar itu tampak begitu nyata, seolah-olah bukan sedang berakting.

Adrian perlahan melepaskan pelukannya, menatap Liana dengan binar bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

Liana hanya bisa menunduk malu, wajahnya masih merona merah akibat adegan intim tadi.

"Kerja bagus, semuanya! Kita lanjut besok di lokasi luar ruangan. Untuk hari ini, cukup sampai di sini," seru Adrian sambil mengelap sisa air hujan buatan di kening Liana dengan sapu tangannya.

Saat mereka berjalan menuju parkiran, perut Liana mulai berbunyi nyaring, membuat Adrian terkekeh pelan.

"Ayo, aku traktir makan malam di restoran paling enak di dekat sini sebagai perayaan take pertama yang sukses," ajak Adrian sambil membukakan pintu mobil untuk Liana.

Liana terdiam sejenak, membayangkan restoran mewah dengan lampu temaram dan sendok perak yang membuatnya canggung lagi.

Ia teringat kulkas besar di apartemen Adrian yang isinya mungkin hanya air mineral dan camilan mahal.

"Pak, daripada ke rumah makan, bagaimana kalau kita belanja saja? Terus kita masak di apartemen Bapak," ajak Liana dengan mata berbinar.

"Saya bosan makan makanan restoran. Lidah saya kangen masakan rumah."

Adrian sempat tertegun. Selama ini, apartemennya hanya tempat untuk tidur atau menerima katering sehat.

Belum pernah ada wanita yang mengajaknya memasak bersama di sana, apalagi setelah seharian bekerja keras.

"Memangnya kamu tidak capek? Tadi latihannya sangat berat," tanya Adrian memastikan.

"Memasak itu hobi saya, Pak. Justru itu cara saya menghilangkan stres," jawab Liana sambil tersenyum lebar.

"Baiklah, Tuan Putri. Kita mampir ke swalayan sekarang. Tapi ingat, jangan hanya masak sayur, aku butuh banyak protein setelah basah-basahan tadi," ujar Adrian sambil melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terdekat.

Mobil mewah Adrian melesat membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalan, menuju sebuah swalayan eksklusif tak jauh dari apartemen.

Sesampainya di sana, Adrian mendorong troli dengan gaya yang masih terlihat kaku, sementara Liana berjalan di depannya dengan langkah ringan seolah sedang berada di pasarnya sendiri.

"Kita butuh bumbu dapur," ucap Liana sambil berhenti di rak rempah-rempah segar.

"Pak, tolong ambilkan lengkuas dan jahe di sebelah sana."

Adrian melangkah penuh percaya diri, namun tangannya tertahan di atas tumpukan rimpang yang bentuknya hampir serupa.

Ia mengernyitkan keningnya, membolak-balik dua potong akar di tangannya dengan wajah sangat serius, seolah sedang menganalisis naskah film jutaan dolar.

"Liana, yang ini jahe, kan? Atau ini yang lengkuas?" tanya Adrian dengan nada ragu yang sangat kontras dengan wibawanya di studio tadi.

Liana menoleh dan seketika tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya, mengundang perhatian beberapa pengunjung lain yang melintas.

"Ya ampun, Pak Adrian! Masa membedakan jahe dan lengkuas saja tidak bisa? Yang kulitnya lebih halus itu jahe, Pak. Yang ini keras, ini lengkuas!" seru Liana di sela tawanya, sambil merebut bumbu itu dari tangan Adrian.

Melihat Liana tertawa begitu lepas, hati Adrian terasa hangat.

Tanpa mempedulikan sekelilingnya, ia melangkah maju dan melingkarkan lengannya di pinggang Liana, memeluknya dari belakang dengan sangat erat.

"Jangan menertawakanku, Guru Masak," bisik Adrian tepat di telinga Liana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Liana tersentak, tubuhnya membeku. Rasa malu seketika menyerangnya saat menyadari mereka sedang berada di tempat umum.

"Pak, lepaskan. Jangan seperti ini. Saya malu dilihat orang," bisik Liana sambil berusaha melepaskan pelukan itu dengan tangan gemetar.

"Tidak usah malu, Liana. Biarkan saja mereka melihat. Aku hanya sedang memeluk calon koki pribadiku," ujar Adrian santai, enggan melepaskan dekapannya. Ada rasa nyaman yang posesif dalam pelukan itu, seolah ia ingin menandai bahwa gadis di pelukannya ini adalah miliknya.

Liana akhirnya hanya bisa mendengus pasrah, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke punggung Adrian.

"Sudah, ayo jalan lagi. Kita belum beli lauknya."

"Baiklah, Tuan Putri," sahut Adrian akhirnya melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap merangkul bahu Liana saat mereka berjalan menuju bagian daging dan ikan laut.

Di sana, Liana mulai sibuk memilih udang segar dan potongan daging sapi premium, sementara Adrian kembali menjadi asisten yang penurut—meski sesekali ia masih mencoba mencuri pandang ke arah Liana yang tampak begitu cantik di bawah lampu swalayan yang terang.

Sesampainya di apartemen, kantong-kantong belanjaan segera berpindah ke meja kitchen island berlapis marmer yang mengilap.

Liana dengan sigap mengeluarkan bahan-bahan, menggulung lengan bajunya, dan mulai memotong-motong bumbu dengan ritme pisau yang lincah bak koki profesional.

Melihat Liana begitu sibuk, ego Adrian sebagai tuan rumah meronta.

Ia melangkah ke samping Liana, ikut menggulung lengan kemejanya.

"Biar aku bantu. Masa aku cuma diam saja melihat bintang utamaku memasak?"

Liana menatapnya ragu. "Bapak yakin? Tadi bedain jahe sama lengkuas saja butuh waktu lama."

"Jangan meremehkan. Potong sayur atau cuci bahan makanan, aku pasti bisa," jawab Adrian penuh percaya diri.

Namun, rasa percaya diri itu hanya bertahan kurang dari lima menit.

Saat Adrian mencoba membersihkan udang, air cuciannya memercik ke mana-mana, membasahi lantai marmer yang licin.

Belum lagi ketika ia mencoba memindahkan mangkuk kaca berisi tepung bumbu—mangkuk itu tergelincir dari tangannya yang basah.

Pyar!

Puff!

Tepung putih beterbangan bagai salju di tengah musim panas, mendarat dengan indah di rambut hitam Adrian, menempel di kemeja mahalnya, dan mengotori hampir separuh area dapur mewah yang tadinya tak bernoda.

Liana menghentikan irisan bawangnya. Ia menatap Adrian yang kini berwajah cemong dengan sisa tepung di hidung.

Tawa Liana hampir meledak lagi, tapi ia segera memasang wajah galak yang dibuat-buat.

"Ya ampun, Pak Adrian! Dapur mewah begini malah jadi seperti kapal pecah!" omel Liana sambil berkacak pinggang.

Adrian hanya meringis tanpa dosa. "Maaf, jariku licin. Sini, aku bersihkan dulu tepungnya—"

"Tidak, tidak, berhenti di situ!" sela Liana cepat sebelum Adrian membuat kekacauan yang lebih besar.

Mata Liana tertuju pada celemek cadangan dengan tali yang cukup panjang menggantung di balik pintu kabinet.

Dengan langkah cepat, ia mengambilnya. Liana mendorong pelan dada Adrian hingga pria itu terpaksa mundur dan terduduk di kursi bar yang tinggi.

Sebelum Adrian sempat protes, Liana menarik kedua tangan pria itu ke belakang, lalu melilitkan tali celemek itu ke pergelangan tangannya, mengikatnya longgar ke sandaran kursi.

"Liana? Hei, apa-apaan ini?" protes Adrian dengan mata membelalak kaget, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa.

"Sudah, Bapak di sini saja! Jangan bergerak, jangan menyentuh apa pun, dan biarkan saya yang masak," ucap Liana dengan nada mutlak bak seorang jenderal yang memberi perintah.

"Tugas Bapak sekarang cuma duduk manis dan menunggu makanan matang. Paham?"

Adrian menatap tangannya yang terikat lucu dengan tali celemek di belakang punggung.

Alih-alih marah karena diperlakukan sewenang-wenang oleh bawahannya, dada Adrian justru bergemuruh hangat.

Ia menyandarkan punggungnya, menatap Liana yang kembali sibuk mengaduk wajan dengan senyum penuh kemenangan.

"Baiklah, Koki Liana. Aku menyerah," kekeh Adrian pelan. Matanya tak lepas memandangi siluet Liana yang bergerak lincah di dapurnya, membawa kehangatan yang selama ini tidak pernah ada di ruangan luas tersebut.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!