NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 perjamuan di puncak langit

Jalan menuju Puncak Terlarang bukanlah sekadar jalur pendakian; itu adalah labirin vertikal yang diselimuti oleh kabut beracun dan dijaga oleh formasi batuan yang bisa menyesatkan pikiran. Bagi murid biasa, tempat ini adalah tabu. Bagi Han Shuo, dengan kondisi tubuh yang remuk dan satu tangan yang digerakkan oleh mesin logam, ini adalah perjalanan menuju mulut harimau.

Efek obat bius dari Li Mei mulai memudar, digantikan oleh sensasi terbakar di tangan kirinya. Setiap kali ia menyalurkan Qi ke dalam Tangan Bayangan, logam hitam itu berderit, mengirimkan kejutan listrik kecil ke sarafnya.

"Kau datang lebih cepat dari yang kukira," sebuah suara tua bergema, memantul di dinding-dinding tebing.

Han Shuo tiba di sebuah pelataran kecil yang menggantung di bibir jurang. Di sana, di bawah pohon pinus kuno yang batangnya melilit seperti naga, duduk seorang pria tua. Ia mengenakan jubah abu-abu sederhana yang tampak usang, kontras dengan statusnya sebagai Penatua Agung Sekte Awan Merah—Mu Chen.

Di depan Mu Chen, sebuah meja batu kecil telah ditata. Namun, tidak ada makanan. Hanya sebuah kompor tanah liat kecil dan sebuah kuali besi tua yang berkarat.

"Duduklah," perintah Mu Chen tanpa menoleh.

Han Shuo duduk bersila di seberangnya. Ia bisa merasakan aura Mu Chen—tenang seperti danau, namun di kedalamannya tersimpan kekuatan yang mampu meratakan gunung.

"Anda mengenali teknik saya," kata Han Shuo langsung, tanpa basa-basi.

Mu Chen menuangkan teh ke dalam cangkir tanah liat. "Tiga ratus tahun yang lalu, aku pernah mencicipi masakan dari seorang pria gila yang menyebut dirinya 'Dewa Dapur Tanpa Mahkota'. Dia memotong naga laut seolah-olah itu adalah ikan mas, dan menumis awan seolah-olah itu adalah sayuran. Teknik 'Seribu Benang' yang kau tunjukkan tadi... hanya murid dari Kitab Rasa Semesta yang bisa melakukannya."

Mata Mu Chen tiba-tiba berkilat, tajam seperti pedang yang dicabut dari sarungnya. "Katakan padaku, bocah. Di mana kau menemukan kitab itu? Dan kenapa kitab itu ada pada seorang pelayan sampah sepertimu?"

Tekanan Qi di udara meningkat secara drastis. Han Shuo merasa paru-parunya seperti dihimpit oleh lempengan baja. Tangan kirinya yang logam mulai bergetar hebat.

"Kitab itu... memilihku," jawab Han Shuo, suaranya parau tapi stabil. Ia menahan tekanan itu dengan memusatkan seluruh Qi-nya ke ulu hati. "Dan saya bukan sampah. Saya seorang koki. Di depan api dan pisau, status sekte Anda tidak ada artinya."

Mu Chen terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tekanan di udara menghilang seketika.

"Bagus! Keberanian yang murni atau kebodohan yang luar biasa. Keduanya adalah bumbu yang baik," Mu Chen menunjuk ke arah kuali besi di depannya. "Malam ini, kau bukan murid, dan aku bukan penatua. Kau adalah koki, dan aku adalah pelanggan yang lapar. Masakkan sesuatu untukku menggunakan bahan-bahan di sekitarmu. Jika aku puas, rahasiamu aman. Jika tidak... aku akan mengambil kitab itu dari mayatmu."

Han Shuo melihat ke sekeliling. Puncak Terlarang adalah tempat yang gersang. Hanya ada lumut batu, ranting pohon pinus kering, dan salju tipis yang mulai turun. Di dalam kuali hanya ada air gunung yang dingin.

"Tidak ada bahan?" tanya Han Shuo.

"Dunia adalah dapurmu, Han Shuo. Begitu bunyi bab pertama kitabmu, bukan?" Mu Chen tersenyum tipis, penuh tantangan.

Han Shuo berdiri. Rasa sakit di lengannya ia abaikan. Ia menutup mata, menggunakan Mata Rasa-nya untuk memindai lingkungan sekitar.

Ia tidak mencari daging atau sayuran. Ia mencari esensi.

Ia mulai bergerak. Dengan tangan kanannya, ia memetik beberapa pucuk pinus muda yang masih tertutup es. Dengan tangan kiri logamnya, ia menghantam dinding tebing, merontokkan sejenis lumut merah yang tumbuh di celah-celah batu yang terpapar petir—Lumut Petir.

Lalu, ia mengambil segenggam salju yang paling bersih.

"Aku akan memasak: Sup Intisari Keabadian Puncak Langit," gumam Han Shuo.

Ia menyalakan api di bawah kuali. Namun, ia tidak menggunakan kayu bakar. Ia meletakkan telapak tangannya di bawah tungku dan menyalurkan Qi-nya.

Teknik Api Batin: Membakar Jiwa.

Api yang keluar berwarna biru pucat. Ini adalah teknik berbahaya yang membakar energi kehidupan koki untuk menciptakan panas yang paling murni.

Han Shuo memasukkan salju ke dalam kuali. Saat salju mencair, ia memasukkan pucuk pinus. Aroma hutan yang tajam dan pahit mulai menguar. Kemudian, ia menghancurkan Lumut Petir dengan tangan logamnya menjadi bubuk halus dan menaburkannya ke dalam air.

Cisss!

Air di dalam kuali bereaksi. Percikan listrik kecil menari-nari di permukaan sup. Lumut Petir memberikan rasa pedas yang menyengat, bukan pedas cabai, tapi pedas yang menggetarkan lidah hingga ke saraf.

Namun, masakan itu masih belum lengkap. Rasanya terlalu keras, terlalu "jantan". Ia butuh penyeimbang.

Han Shuo melihat ke arah tangannya yang terluka. Perbannya sedikit basah oleh darah yang merembes.

Ia teringat sebuah teknik terlarang dalam kitab: Bumbu Pengorbanan.

Tanpa ragu, ia membuka sedikit balutan di lengannya dan membiarkan tiga tetes darahnya jatuh ke dalam sup yang mendidih.

Blub. Blub.

Warna sup yang tadinya bening kebiruan berubah menjadi sedikit keemasan. Darah seorang kultivator yang baru saja mengonsumsi Pil Pembakar Darah mengandung energi vital yang sangat tinggi dan rasa manis yang samar dari esensi kehidupan.

"Selesai," Han Shuo menuangkan sup itu ke dalam cangkir Mu Chen.

Sup itu tidak memiliki daging, tidak memiliki bumbu mewah. Hanya air, pinus, lumut, dan setetes kehidupan.

Mu Chen menyesap sup itu perlahan.

Seketika, matanya terbelalak. Wajahnya yang keriput perlahan-lahan memerah. Ia merasa seperti sedang berdiri di tengah badai salju, namun di dalam hatinya ada api yang menyala hangat. Rasa pahit pinus mewakili pahitnya kultivasi, rasa pedas lumut mewakili tantangan petir langit, dan rasa manis samar dari darah Han Shuo... itu mewakili kegigihan manusia yang menolak untuk menyerah pada takdir.

"Ini..." Mu Chen meletakkan cangkirnya dengan tangan gemetar. "Ini bukan sekadar sup. Ini adalah perjalanan hidupku selama tiga ratus tahun. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Saya tidak tahu hidup Anda, Penatua," jawab Han Shuo sambil mengatur napasnya yang tersengal. "Saya hanya memasak apa yang saya rasakan malam ini. Dingin, sakit, dan keinginan untuk bertahan hidup."

Mu Chen menatap Han Shuo lama sekali. Keserakahan yang sempat muncul di matanya untuk memiliki kitab itu kini menghilang, digantikan oleh rasa hormat yang tulus.

"Kau benar. Kitab itu tidak salah memilih tuan," Mu Chen merogoh lengan bajunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hitam legam. "Ini adalah Cairan Pemurnian Sumsum Hitam. Ini bukan Buah Sumsum Naga yang kau incar, tapi efeknya cukup untuk menyambung kembali tendon di lenganmu malam ini. Anggap saja ini pembayaran untuk sup paling jujur yang pernah kumakan."

Han Shuo menerima botol itu. "Kenapa Anda membantu saya?"

Mu Chen berdiri dan berjalan menuju tepi jurang, menatap lampu-lampu sekte di bawah. "Karena dunia kuliner kultivasi sudah terlalu lama dikuasai oleh orang-orang seperti Keluarga Wang yang hanya memedulikan status dan bahan mewah. Mereka lupa bahwa rasa sejati lahir dari penderitaan dan jiwa. Aku ingin melihat sejauh mana seorang pelayan bisa menggoncang langit besok."

"Dan satu hal lagi," Mu Chen menoleh sedikit. "Di Hutan Kabut Hantu besok, jangan hanya berburu hewan. Berburulah 'Kesempatan'. Ada sesuatu yang tertidur di kedalaman hutan itu, sesuatu yang hanya akan bangun oleh aroma masakan yang benar."

Tanpa peringatan, Mu Chen mengibaskan lengannya. Pusaran angin kencang menerjang Han Shuo, mengirimnya jatuh ke belakang—bukan jatuh ke jurang, tapi seolah-olah ia diteleportasi kembali ke kaki gunung.

Han Shuo mendarat di depan gubugnya dengan posisi berlutut. Tubuhnya terasa ringan. Ia segera meminum Cairan Pemurnian Sumsum Hitam pemberian Mu Chen.

Rasanya seperti menelan ribuan jarum es. Namun, di dalam lengannya, ia bisa merasakan serat-serat otot yang putus mulai merayap, menyambung satu sama lain, diperkuat oleh cairan hitam tersebut. Rasa nyeri yang tumpul menghilang, digantikan oleh kekuatan baru yang lebih liar.

Esok paginya, fajar menyingsing dengan warna merah darah.

Arena utama Sekte Awan Merah telah dipindahkan ke perbatasan Hutan Kabut Hantu. Hanya tersisa lima peserta: Han Shuo, Wang He, dan tiga murid elit lainnya.

Wang He tampak gagah dengan baju zirah ringan dan pedang perak di pinggangnya. Di belakangnya, beberapa pengawal Keluarga Wang tampak memberikan instruksi rahasia.

"Selamat datang di Babak Final!" Suara Penatua Tie terdengar sedikit lebih serius dari biasanya. "Peraturannya sederhana: Kalian punya waktu enam jam di dalam Hutan Kabut Hantu. Kalian harus membawa pulang bahan utama hasil buruan kalian sendiri, dan memasaknya di sini, di depan kami. Siapa yang membawa bahan paling langka dan masakan paling luar biasa, dialah yang akan mendapatkan gelar Koki Agung Awan Merah dan Buah Sumsum Naga."

Penatua Tie memandang kelima peserta. "Hutan ini penuh dengan binatang buas tingkat dua dan tiga. Jika kalian merasa tidak sanggup, nyalakan suar ini dan kalian akan dijemput, namun dinyatakan gugur. Mengerti?"

"Mengerti!" seru mereka serempak.

Wang He berjalan mendekati Han Shuo, membisikkan sesuatu saat mereka bersiap memasuki hutan. "Kau selamat semalam, tapi di dalam sana, tidak ada juri yang melihat. Kau tidak akan keluar dari hutan itu sebagai koki, Han Shuo. Kau akan keluar sebagai pupuk tanah."

Han Shuo hanya memeriksa ketajaman pisau dapurnya. "Hutan itu luas, Wang He. Cukup luas untuk mengubur kesombonganmu."

DONG!

Gong tanda mulai berbunyi. Kelima peserta melesat masuk ke dalam kabut tebal hutan.

Hutan Kabut Hantu adalah tempat yang aneh. Pohon-pohonnya memiliki kulit berwarna abu-abu pucat, dan daunnya tidak mengeluarkan oksigen, melainkan uap tipis yang bisa menyebabkan halusinasi jika dihirup terlalu banyak.

Han Shuo tidak berlari ke arah yang sama dengan peserta lain. Ia menggunakan indra penciumannya yang telah ditingkatkan oleh Cairan Pemurnian.

Aroma pinus... aroma tanah basah... dan... aroma belerang?

Ia mengikuti bau belerang itu. Di dalam dunia kuliner kultivasi, belerang sering kali menandakan keberadaan Babi Hutan Api Neraka, binatang tingkat tiga yang dagingnya sangat sulit diolah karena mengandung api, tapi jika berhasil, rasanya bisa meningkatkan kultivasi seseorang secara drastis.

Namun, saat ia sampai di sebuah mata air panas tersembunyi, ia tidak menemukan babi hutan.

Ia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.

Dua murid elit lainnya tergeletak tidak bernyawa di tanah. Tubuh mereka tidak memiliki luka cakaran binatang. Mereka memiliki luka tusukan pedang yang sangat presisi di jantung mereka.

"Jadi kau benar-benar melakukannya, Wang He," bisik Han Shuo.

"Bukan aku," sebuah suara berat terdengar dari balik pohon besar.

Bukan Wang He yang muncul, melainkan seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian hitam tanpa lambang sekte. Seorang pembunuh bayaran profesional dari luar sekte.

"Tuan Muda Wang membayar mahal agar final ini menjadi panggung tunggalnya. Maaf, Nak. Kepalamu bernilai sepuluh ribu batu roh."

Si pembunuh melesat dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti mata manusia. Pedangnya mengarah ke tenggorokan Han Shuo.

Han Shuo tidak menghunus pedang—karena ia tidak memilikinya. Ia mengeluarkan sebuah wajan besi berat dari tas punggungnya.

TANG!

Bilah pedang itu menghantam dasar wajan. Han Shuo menggunakan teknik Goyangan Wajan Seribu Beban untuk mengalihkan momentum serangan lawan.

"Apa?! Bertarung dengan wajan?" Si pembunuh terkejut, namun segera memutar pedangnya untuk serangan kedua.

Han Shuo menyeringai. "Wajan ini bukan hanya untuk menggoreng, kawan."

Han Shuo menyentuh bagian bawah wajan yang telah ia olesi dengan minyak khusus dari lemak Harimau Kristal. Ia menyalakan sedikit Qi api di jarinya.

Blar!

Wajan itu tiba-tiba menyemburkan api besar ke arah wajah si pembunuh, seperti teknik flambé di dapur profesional.

"Aakh!" Si pembunuh mundur, matanya perih terkena jelaga dan panas mendadak.

Han Shuo tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menggunakan kaki kirinya untuk menendang pergelangan tangan si pembunuh, lalu dengan tangan kanan, ia mengayunkan pisau dapurnya—bukan untuk menusuk, tapi untuk memotong urat nadi di tangan lawan dengan presisi seorang koki memotong sayur.

Sret.

Pedang si pembunuh jatuh. Sebelum ia sempat berteriak, Han Shuo menghantamkan pinggiran wajannya ke pelipis pria itu.

BRAK.

Pembunuh itu tumbang, pingsan seketika.

Han Shuo mengatur napasnya. "Wang He benar-benar tidak main-main. Dia ingin menghabisi semua pesaingnya."

Tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar. Sebuah raungan yang memecah telinga bergema dari dalam gua di dekat mata air panas.

Sesosok makhluk raksasa keluar. Tingginya tiga meter, kulitnya berupa sisik merah yang membara, dan ia memiliki kepala seperti serigala namun bertanduk banteng.

Kirin Tanah Bermata Api. Binatang tingkat empat.

Ini adalah makhluk yang disebutkan Penatua Mu Chen. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di pinggiran hutan. Sesuatu yang "terbangun".

Di kejauhan, Han Shuo melihat Wang He berdiri di atas tebing, memegang sebuah botol kosong. Wang He tertawa jahat. "Aku baru saja menuangkan Cairan Perangsang Birahi Binatang Purba ke arahmu, Han Shuo! Selamat bersenang-senang dengan Kirin itu. Aku akan kembali ke arena dengan membawa bagian tubuhnya dan mengklaim kemenangan!"

Wang He menghilang ke dalam hutan, meninggalkan Han Shuo sendirian menghadapi monster yang bahkan seorang Penatua pun akan berpikir dua kali untuk melawannya.

Kirin itu menatap Han Shuo, matanya menyala dengan api kemarahan. Ia mengendus aroma tubuh Han Shuo yang tercampur dengan aroma sup yang ia masak semalam di Puncak Terlarang.

Anehnya, Kirin itu tidak langsung menyerang. Ia mendengus, air liurnya jatuh ke tanah dan membakar rumput.

Han Shuo menelan ludah. Ia melihat ke arah pisau dan wajannya, lalu ke arah monster raksasa itu.

"Kau lapar, ya?" bisik Han Shuo.

Dalam situasi hidup dan mati, otak koki Han Shuo bekerja dengan cara yang berbeda. Ia melihat Kirin itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai... pelanggan paling sulit di dunia.

"Jika aku bisa memasak untuk Penatua Agung, aku bisa memasak untukmu," Han Shuo meletakkan pisaunya, tapi ia mengeluarkan sesuatu yang lain dari tasnya.

Bumbu rahasia yang ia curi dari lemari Penatua Li semalam: Garam Surga Pengikat Jiwa.

Pertarungan final yang sesungguhnya bukanlah antara koki, melainkan antara manusia dan alam liar di piring saji yang paling berbahaya dalam sejarah Sekte Awan Merah.

Pojok Informasi Kuliner & Kultivasi

Teknik Baru:

* Api Batin (Soul Burning Fire): Menggunakan energi vital koki untuk menghasilkan panas ekstrem. Menghasilkan rasa masakan yang "hidup" namun sangat melelahkan fisik.

* Goyangan Wajan Seribu Beban: Teknik pertahanan menggunakan alat masak untuk menangkis dan mengalihkan momentum serangan senjata tajam.

Bahan Langka:

* Lumut Petir: Lumut yang menyerap energi petir; memberikan sensasi kesemutan dan kejutan listrik pada saraf yang bisa membersihkan penyumbatan Qi.

* Cairan Pemurnian Sumsum Hitam: Obat tingkat tinggi untuk meregenerasi jaringan ikat dan tendon secara instan.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!