Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. 12 titik aktif Gate
Namun semua yang terlihat selesai ini tidak benar-benar selesai. Markas besar DGA mendapat gelombang aneh dan jumlah nya tidak kecil.
Gelombang itu tersebar ke berbagai belahan dunia dan saling terhubung serta berkomunikasi.
Semua itu terjadi setelah Gate level 8 meledak.
....
"Hah!" Reyhan terbangun di ruangan serba putih, dia memakai jubah putih seperti di rawat di rumah sakit.
Namun Reyhan yakin dia tidak di rumah sakit. Reyhan mengusap kepalanya yahg sakit karena saat DGA tiba dia tiba-tiba pingsan.
"Dimana aku?" Reyhan meringis sakit. "Sial aku tidak ingat apa-apa setelah kejadian itu"
Namun pintu terbuka dan sosok Zahra memakai baju seragam akademi masuk.
"Akhirnya kamu bangun juga Reyhan" tersenyum lega. "Aku kira kamu tidak akan bangun dalam waktu dekat"
"Zahra?" Reyhan memandang dengan bingung. "Apa-apaan pakaian itu? Dan dimana ini sebenarnya?"
Zahra tersenyum lalu duduk di sebelah Reyhan. "Ini adalah markas besar DGA di pulau Spratly, oh ya pakaian ini adalah pakaian murid akademi Exorcist" tersenyum.
"Tunggu dulu kita di pulau markas besar GDA? Kenapa bisa, dan bukankah kamu masih murid SMA?"
Zahra tertawa lalu menghela nafas. "Aku harus mengikuti ujian naik pangkat ke Senior jadi untuk sekolah kepala sekolah Daniel memberikan hak khusus lulus duluan"
Reyhan terkejut. "Itu keren kau kau akan ikut ujian senior? Aku begitu iri"
Zahra tersenyum nakal. "Kenapa iri? Kau bisa saja masuk ke Exorcist kenapa menolak?"
Reyhan menggaruk kepalanya gugup. "Karena jika aku bergabung ke Exorcist maka aku harus memilih bukan?"
Zahra mengangguk. "Kamu benar, tapi kamu tenang saja semua organsiasi tidak akan berperang jika tidak ada alasan yang jelas"
Reyhan mengangguk kecil. "Tunggu, bagaimana dengan lainnya? Dan ibuku?" Reyhan berdiri dengan tergesa-gesa.
"Reyhan, aku disini" Alisa berdiri di depan pintu dengan memakai Exorcist hitam tapi lebih bagus karena level Alisa Exorcist Legenda.
"Ibu!" Reyhan berlari lalu memeluk Alisa.
Alisa membalas pelukan Reyhan dengan lembut. "Syukurlah kamu sudah bangun, kamu tidak bangun selama 5 hari"
"Apa, 5 hari?!" Reyhan tercengang. "A-aku kira aku hanya tidak bangun selama 1 hari!"
Alisa tertawa kecil lalu menoleh ke Zahra. "Apa temanmu tidak memberi tahumu?"
Reyhan menggeleng. "Sudahlah tidak apa, tapi kenapa ibu memakai jubah Exorcist?"
Alisa membelai rambut Reyhan dengan lembut. "Karena dari perkataan mu kamu menyadarkan ibu jika aku berhenti maka iblis bisa menyebabkan orang banyak menderita"
Reyhan tersenyum lebar. "Tapi ibu benar-benar hebat, itu jadi membuatku merasa lemah" menggeleng tak berdaya.
"Kau memang lemah" sahut Flower dengan nada becanda, Flower juga memakai jubah putih Exorcist Barat Selatan.
Reyhan pura-pura terluka, kejadian ini membuat mereka berempat tertawa karena lega setelah menyelesaikan urusan Gate.
Tapi ada beberapa tentara DGA menghampiri mereka. "Permisi saya mencari Reyhan"
Reyhan menatap dengan bingung. "Ada apa mencari saya?"
Orang itu mengeluarkan tanda pengenalnya. "Saya adalah wakil komandan Shu Yuan, saya mencari anda untuk menjadikan anda Exorcist di bawah pengawasan saya" tegasnya.
Alisa menghalangi dua tentara di belakang mengambil Reyhan. "Kenapa terburu-buru wakil komandan? Biarkan dia memilih ingin jadi Exorcist atau tidak"
Shu Yuan tersentak karena kehadiran Exorcist Legenda yang hanya ada segelintir di dunia.
"Nyonya, tolong biarkan saya melakukan tugas saya" bujuk Shu Yuan.
Namun Alisa menggeleng lalu menatap Reyhan. "Reyhan katakan, apa kau mau jadi Exorcist atau tidak"
Reyhan tersenyum percaya diri. "Kurasa itu sudah jelas, saya akan bergabung"
"Jika tuan saya bergabung maka saya juga harus bergabung" Asuna muncul.
"Asuna kau baik-baik saja?" Reyhan merasa lega kalau Asuna juga ada disini.
Asuna mengangguk. "Saya suruh budak lainnya menjaga rumah selagi tidak ada kita di rumah"
"Baguslah" jawab Reyhan.
Shu Yuan berdehem. "Jadi karena Reyhan sudah mau, silahkan ikuti saya untuk tes"
Reyhan mengangguk lalu bersam Asuna pergi melakukan uji tes.
Alisa memadang dengan cemas tapi Zahra berdiri di sebelah Alisa. "Bibi tenang saja, karena Reyhan itu adalah Exorcist yang kuat"
Flower mengangguk setuju. "Itu benar, dia cocok jadi calon suamiku"
Alisa ketawa menggeleng. "Kalian berdua benar-benar membuatku senang"
Keduanya tersenyum karena merasa tidak seperti sebelumnya setelah melewati itu semua.
...
Saat Reyhan tiba di tempat tes darah, ternyata ada banyak orang lainnya yang melakukan tes darah tapi semuanya berbaris antre.
Tapi hanya dia dan Asuna yang terus masuk ke dalam dan akhirnya tiba di ruang khusus.
"Masuklah, kalian berdua akan menjalankan tes bersamaan" jelas Shu Yuan.
Keduanya mengangguk lalu masuk ke dalam, saat di dalam Reyhan melihat ruangan berbeda dari luar.
Disini ada benda seperti bebda pengukur, dan Reyhan melihat ada satu anak berotot meninju benda itu dengan keras.
Sinar di bawah benda itu menyala dan sampai di angka 9.347.
"Apa itu semalam alat untuk mengukur kekuatan?" Bisik Reyhan.
"Sepeetinya iya tuan" angguk Asuna.
"Kalian berdua cepat kesini dan berbaris!" Ucap instruktur.
"Baik" Reyhan dan Asuna bergegas berbasis.
Instruktur itu memegang catatan kertas. "Apa darah kalian"
Reyhan tersenyum bingung. "Maksudnya?.."
Instruktur itu memandang Reyhan dan Asuna. "Oh aku paham, baiklah tidak apa"
Reyhan melihat instruktur itu pergi dengan heran, sampai giliran Reyhan dia menatap jika benda itu lebih besar dari yang dia kira.
"Dengar, kau harus memukul benda ini sekeras mungkin. Setiap angka yang sinar itu raih adalah bentuk kekuatan mu.8.000 adalah Exorcist pemula, dan wajarnya jika 30.000 adalah Exorcist senior"
Reyhan bertanya. "Apa setiap angka itu?"
"Setiap angka adalah menunjukan seberapa berat pukulan yang kau keluarkan" jelasnya. "Sekarang cepat pukul benda itu"
Reyhan mengangguk lalu meregangkan otot bahunya. "Aku boleh pakai energi?"
Instruktur itu mengangguk, Reyhan menarik nafas lalu mengalirkan listrik ke tangannya.
"Hora!"
Bom!, suara keras seperti ledakan terdengar saat Reyhan memukul benda itu.
Akan tetapi benda itu tidak meledak atau rusak, sinar itu baik dari bawah dan terus ke atas melebihi 10.000.
Instruktur serta murid lainnya yang menunggu tes ini selesai langsung tercengang.
Angka terus maju bahkan tebih 12.000, lalu berhenti di angka 15.000.
"O-oh ya ampun dia adalah genius" teguk Instruktur dengan ragu. "S-selamat ya, selanjutnya!"
Reyhan tersenyum lalu pergi ke sebelah, Asuna langsung dengan cepat memukul tanpa mendengar penjelasan darinya.
Sinar dari bawah itu berhenti di angka 13.000, Instruktur kembali tercengang karena ada dua murid jenius.
Wakil komandan Shu Yuan membuka pintu. "Apa sudah selesai?"
"I-iya wakil komandan, dua orang yang di bawa wakil komandan segera pergi dengannya"
Reyhan dan Asuna mengangguk lalu pergi bersama Shu Yuan.
Di perjalanan Reyhan bertanya tentang kenapa tidak ada tes darah. "Permisi kenapa kami tidak melakukan tes darah?"
"Tidak ada alasan" jawab singkat Shu Yuan.
Reyhan tersentak. "O-oke"
Begitu mereka tiba di depan pintu Shu Yuan tersenyum seringai. "Berhentilah bertanya dan jangan mengira karena kau istimewa kau kuat"
"Tunggu, apa maksudmu?" Reyhan merasa tersinggung dan jelas kesal.
Shu Yuan mendengus lalu membuka pintu di depannya, saat itulah ketika mereka masuk mereka melihat ada arena.
Arena itu ada dua orang bertarung dengan sengit, ganas, dan sangat kacau. Seperti melawan iblis jika ada Gate.
Reyhan terbelakak karena semua orang yang menonton Arena ini auranya sangat mengintimidasi dan mencekam.
"Selamat datang di ujian terakhir mu, Arena" Shu Yuan terkekeh.
....