NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan

Manhattan – Kantor Alkava Global Enterprises.

Seraph Vale duduk di ruang kerjanya yang mewah—lantai dua puluh lima gedung AGE yang menghadap langsung ke Central Park.

Meja kerjanya rapi, dokumen-dokumen tertata sempurna, monitor komputer menampilkan dashboard real-time performance perusahaan.

Tapi pikirannya tidak fokus pada pekerjaan.

Dia menatap ponselnya—tepatnya pada aplikasi perekam suara yang tersembunyi.

Aplikasi yang terhubung dengan mikrofon kecil yang dia pasang diam-diam di tas Kimberly.

Seraph bukan orang yang mudah percaya. Dan dia jelas-jelas mencium sesuatu yang aneh dari perilaku Kimberly akhir-akhir ini.

Kimberly—wanita yang selama tiga bulan terakhir berwajah dingin seperti es, yang tidak pernah tersenyum, yang bekerja seperti robot tanpa emosi—tiba-tiba berubah.

Senyum mulai muncul di wajahnya.

Matanya yang tadinya tajam dan kosong sekarang penuh kehidupan.

Bahkan cara dia berjalan pun berbeda—lebih ringan, seperti ada beban berat yang terangkat dari pundaknya.

Dan yang paling mencurigakan—setiap hari Kimberly pergi ke Elysium Medical Institute. Rumah sakit milik Daniel.

Untuk apa?

Seraph tidak bodoh. Dia bisa menghubungkan titik-titik itu.

Jadi dia memasang mikrofon.

Mikrofon kecil seukuran kancing baju yang dia selipkan di dalam tas Kimberly—di saku tersembunyi yang jarang disentuh.

Dan selama seminggu terakhir, dia mendengarkan rekaman-rekaman itu.

Percakapan Kimberly dengan seseorang. Suara laki-laki yang terdengar familiar tapi tidak bisa dia pastikan karena kualitas audio yang tidak sempurna.

Mereka tertawa.

Ngobrol santai.

Bercanda.

Dan yang paling penting—Kimberly berkali-kali menyebut satu nama.

Rafael.

Seraph merasakan jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali mendengar nama itu.

Rafael.

Rafael Alkava.

Orang yang seharusnya sudah mati tiga bulan lalu.

Tapi jika dia mati, kenapa Kimberly masih menyebut namanya dalam konteks present tense?

Kenapa mereka tertawa bersama?

Kenapa Kimberly terdengar sangat... hidup saat berbicara dengannya?

Hanya ada satu kesimpulan yang masuk akal.

Rafael masih hidup.

Pikiran itu membuat Seraph tidak bisa tidur nyenyak selama seminggu.

Dia perlu konfirmasilebih lanjut.

Dia perlu tahu kebenarannya.

***

Manhattan – Apartemen Kimberly – Malam Hari.

Kimberly baru saja sampai di apartemennya pukul sepuluh malam. Hari yang panjang—dari kantor di pagi hari, lalu ke rumah sakit menemui Rafael, lalu kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa dokumen urgent, dan akhirnya pulang.

Dia melempar kunci mobil ke meja, melepas sepatu hak tingginya yang membuat kakinya pegal, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral dari kulkas.

Tok tok tok.

Ketukan di pintu.

Kimberly mengerutkan kening. Siapa yang datang selarut ini?

Dia berjalan ke pintu, mengintip melalui peephole—dan melihat Seraph berdiri di sana dengan ekspresi serius.

Kimberly membuka pintu.

"Seraph? Ngapain lo datang kesini malam-malam?"

Seraph tidak menjawab. Dia langsung masuk—melewati Kimberly tanpa izin, berjalan ke ruang tamu, lalu berbalik menatap Kimberly dengan mata yang penuh tuduhan.

"Gue perlu memastikan sesuatu," kata Seraph. Suaranya rendah, terkontrol, tapi ada getaran di dalamnya.

"Dan jangan coba-coba bohong sama gue."

Kimberly menutup pintu, berjalan mendekat dengan wajah bingung.

"Tentang apa?"

Seraph mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi perekam, lalu menekan play.

Suara Kimberly terdengar dari speaker—tertawa, lalu berbicara dengan nada yang sangat berbeda dari nada profesionalnya di kantor.

"Rafael, berhenti! Gue serius, lo harus minum vitaminnya!"

Lalu suara laki-laki—suara yang membuat Kimberly membeku total.

"Gue sudah minum tiga botol hari ini. Lo mau gue muntah?"

Tawa Kimberly lagi. "Lo terlalu lebay."

Seraph mematikan audio. Dia menatap Kimberly dengan mata yang tidak berkedip.

"Darimana lo—" Kimberly mulai bicara, tapi Seraph sudah mengangkat tangannya—di telapak tangannya, mikrofon kecil yang familiar.

Mikrofon yang dia pasang di tas Kimberly.

"Gue pasang ini seminggu yang lalu," kata Seraph.

"Dan gue sudah mendengar cukup banyak."

Kimberly merasakan darahnya mendingin. Dia menatap mikrofon itu dengan mata yang melebar—campuran antara shock dan kemarahan.

"Lo... lo nyadap gue?"

"Jawab pertanyaan gue," Seraph maju selangkah, suaranya lebih keras sekarang.

"Apa Rafael masih hidup?"

Kimberly terdiam. Pikirannya berputar cepat—mencari cara untuk mengelak, untuk berbohong, untuk melindungi rahasia.

Tapi bukti sudah jelas. Rekaman itu tidak bisa disangkal. Suara Rafael terdengar jelas di sana.

"Seraph, dengar—"

"Jawab!" Seraph hampir berteriak sekarang.

"Ya atau tidak! Apakah Rafael Alkava masih hidup?!"

Keheningan yang sangat panjang.

Lalu Kimberly menghela nafas panjang. Bahunya merosot. Dia tahu tidak ada gunanya berbohong lagi.

"Ya," katanya pelan.

"Rafael masih hidup."

Seraph terduduk lemas di sofa—seolah kakinya tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.

"Bagaimana?" bisiknya.

"Bagaimana dia bisa bertahan?"

Kimberly duduk di samping Seraph. Dia menceritakan semuanya—tentang bagaimana Daniel berhasil menetralkan racun di tubuh Rafael, tentang penyakit di dalam tubuh Rafael, tentang suspended animation selama tiga bulan, tentang diagnosis DAI yang sangat serius. sehingga membuat Daniel tidak yakin untuk menyembuhkan Rafael.

Seraph mendengarkan tanpa berkedip. Setiap kata yang keluar dari mulut Kimberly terasa seperti mukjizat yang mustahil tapi nyata.

"Dan sekarang dia ada di rumah sakit Daniel," lanjut Kimberly.

"Dalam proses pemulihan. Daniel masih menyiapkan strategi untuk memunculkan Rafael kembali ke publik. Sampai saat itu tiba..." Dia menatap Seraph dengan tajam.

"Tidak ada yang boleh mengetahui tentang Rafael."

Seraph menggelengkan kepalanya—masih tidak percaya, masih mencoba memproses semuanya.

"Tapi... tapi Kael bilang dia melihat Rafael hampir mati. Luka di perutnya—"

"Daniel menyembuhkannya," potong Kimberly.

"Gue nggak tahu bagaimana caranya. Tapi Daniel berhasil."

Seraph teringat Kael Irios—laki-laki berusia dua puluh empat tahun dengan tubuh atletis dan kepribadian perfeksionis yang menjengkelkan.

Dia adalah ahli strategi terbaik yang pernah Seraph temui—bisa membaca medan pertempuran seperti orang membaca buku, bisa membuat rencana yang begitu detail sampai tidak ada celah.

Dan Kael juga adalah sniper terbaik. Saat dia memegang senjata laras panjang, tidak ada target yang bisa lolos dari bidikannya.

Seraph pernah melihat Kael menembak target dari jarak dua kilometer—angin kencang, visibility rendah—tapi pelurunya tetap tepat mengenai sasaran.

Kael ditugaskan bersama Rafael dan Aurelia untuk melawan Lyra Vantross. Dia yang melihat langsung kondisi Rafael setelah pertempuran—tubuh membiru karena racun, luka sayatan di berbagai tempat, dan yang terparah adalah luka tusukan yang menembus perut Rafael.

Kael yang mengumumkan kematian Rafael ke publik.

Kael yang membuat kecelakaan palsu untuk membuat berita itu terasa nyata.

"Apa..." Seraph ragu.

"Apa Kael tahu tentang semua ini?"

Kimberly menggelengkan kepala.

"Tidak. Hanya gue, Daniel, dan sekarang lo."

Seraph menatap lantai dengan pandangan kosong. "Teman-teman Rafael yang lain... mereka berhak tahu. Alvin, Williams, Ryzen, Zen—mereka semua—"

"Nggak," Kimberly memotong dengan tegas.

"Tidak untuk sekarang. Percayalah, Seraph. Ada waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya ke mereka. Tapi bukan sekarang. Berita ini tidak boleh dihebohkan."

Seraph menatap Kimberly dengan mata yang penuh pertanyaan. Tapi akhirnya dia mengangguk—perlahan, berat.

"Gue ngerti," katanya pelan.

"Gue nggak akan bocorin berita ini."

Dia berdiri, berjalan ke pintu dengan langkah yang goyah. Sebelum keluar, dia berbalik sejenak.

"Terima kasih," katanya.

"Terima kasih sudah menjaganya."

Lalu dia pergi—meninggalkan Kimberly sendirian dengan beban rahasia yang semakin berat.

***

BERSAMBUNG...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!