persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Tentang Penjaga Malam dan Senjata di Balik Jaket Tua
Jumat sore di Bandung selalu punya cara untuk membuat orang merasa terburu-buru, tapi saya memilih untuk diam di teras, memperhatikan Si Kumbang yang sedang saya mandikan sampai kinclong. Besok adalah acara di kafe itu. Acara yang menurut Dara adalah panggung sandiwara Arkan, tapi menurut Kayla adalah jalan damai.
"Bumi, ini ada paket buat kamu. Tadi dititip anak perempuan pakai sepeda," teriak Ibu dari dalam.
Saya mengeringkan tangan dan menghampiri Ibu. Sebuah kantong kain berwarna hitam. Isinya sebuah kemeja flanel kotak-kotak berwarna gelap yang masih baru, wanginya segar, dan selembar catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat saya kenali.
Isinya: Pakai ini besok. Jangan pakai jaket denim kamu yang sudah bau matahari itu. Kamu harus terlihat seperti laki-laki yang punya poros sendiri, bukan seperti pengungsi dari belakang sekolah. Dari Dara.
Saya tersenyum. Dara itu memang aneh. Dia benci keramaian, tapi dia tidak mau teman diskusinya terlihat menyedihkan di depan meteorit seperti Arkan.
Malamnya, ponsel saya bergetar. Sebuah pesan dari Senja.
"Bumi, besok saya pakai baju apa ya? Saya takut salah kostum. Kafe itu sepertinya mewah sekali."
Saya mengetik balasan: "Pakai apa saja yang bikin kamu nyaman, Senja. Kamu ke sana bukan mau ikut audisi model, tapi mau menemani saya. Kalau kamu pakai daster pun, saya tetap bangga jalan di samping kamu."
Senja membalas dengan emoji senyum malu-malu. "Terima kasih, Bumi. Sampai ketemu besok."
Saya merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar. Saya membayangkan besok. Arkan pasti akan berdiri di tengah ruangan, memegang mikrofon, dan bicara tentang kesuksesan timnya. Kayla akan berdiri di sampingnya, tersenyum pada semua orang. Dan saya? Saya mungkin akan duduk di pojok, memegang gelas es teh, sambil menghitung berapa kali Arkan menyebut kata "saya" dalam pidatonya.
Tapi saya tidak takut. Karena di saku kemeja flanel pemberian Dara nanti, saya akan membawa miniatur kamera kardus yang sudah diperbaiki Senja. Itu adalah pengingat bahwa meskipun Arkan bisa menyewa satu kafe penuh, dia tidak akan pernah bisa membeli sejarah yang sudah hancur tapi berhasil disusun kembali dengan kasih sayang.
Sabtu pagi datang dengan udara yang sejuk. Saya menjemput Senja menggunakan Si Kumbang. Senja memakai gaun terusan warna cokelat muda yang sangat sederhana, tapi di mata saya, dia terlihat jauh lebih bersinar daripada lampu hias mana pun di sekolah.
"Siap, Senja?" tanya saya sambil menyodorkan helm.
"Siap, Bumi. Selama porosnya tidak goyang," jawab Senja sambil naik ke boncengan.
Kami membelah jalanan Bandung menuju kafe di daerah Dago. Kafe itu memang mewah. Parkirannya penuh dengan mobil-mobil mengkilap dan motor-motor sport kelas atas. Si Kumbang terlihat sangat kontras di sana, tapi saya memarkirnya dengan kepala tegak, tepat di samping motor merah Arkan.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa keberanian itu bukan soal seberapa mahal pakaianmu, tapi seberapa jujur kamu berdiri di depan orang-orang yang ingin menjatuhkanmu. Panggung Arkan sudah siap, dan saya baru saja melangkah masuk ke dalamnya.
Senja yang berdiri di depan pintu kaca kafe, menghirup aroma kopi dan parfum mahal, menyadari bahwa di dalam sana, babak baru dari persaingan ini akan segera dimulai.