Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Papan Catur Takdir
Bab 3: Musuh Lama dan Papan Catur Takdir
Wanita itu menatapku dengan tatapan yang sangat merendahkan, persis seperti ingatanku di kehidupan sebelumnya. Dia adalah Madam Widowati, ibu dari Seeula. Di masa depan, dia adalah sosok yang selalu mencaci kemiskinanku dan menganggapku tidak lebih dari sekadar benalu yang menempel pada putrinya. Namun, di masa sekarang, dia seharusnya belum mengenalku sama sekali.
"Masuk ke mobil, anak muda," perintahnya dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Aku tidak merasa takut sedikit pun. Aku justru merasa tertantang. Aku melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tenang, duduk di jok kulit yang sangat empuk, dan menatapnya balik dengan sorot mata yang setara. Dia tampak sedikit terkejut melihat keberanianku, karena biasanya pemuda selusuh aku akan gemetar jika berhadapan dengan orang sepertinya.
"Saya melihat Anda keluar dari toko Pak Handoko membawa tas besar. Saya tahu apa yang baru saja Anda jual," cetus Madam Widowati sambil melipat tangannya di dada.
Ternyata dia mengincar guci itu juga. Sebagai kolektor barang antik yang haus akan gengsi, dia pasti merasa kecolongan karena barang incarannya sudah jatuh ke tanganku lebih dulu. Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya aku gunakan untuk mematikan mental lawan bisnisku di masa depan.
"Barang itu sudah menjadi milik Pak Handoko sekarang. Jika Anda menginginkannya, silakan bicara dengan beliau," balasku dengan nada bicara yang sangat formal namun tegas.
Madam Widowati mendengus kesal mendengar jawabanku. Dia mungkin terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan uangnya, tapi dia belum tahu bahwa aku bukan pemuda sembarangan yang bisa disuap dengan recehan.
"Berapa dia membayarmu? Saya beri dua kali lipat jika kau bisa membujuknya membatalkan kesepakatan itu," tanyanya penuh selidik.
Tawaran yang sangat menggiurkan bagi orang miskin, tapi tidak bagiku. Bagiku, kepercayaan Pak Handoko jauh lebih berharga daripada uang tambahan dari wanita ini. Pak Handoko adalah kunci untuk jaringan bisnisku yang lebih besar nantinya.
"Kesepakatan saya adalah sebuah kehormatan, Madam. Dan kehormatan saya tidak dijual," sahutku sambil membuka pintu mobil meskipun kendaraan ini masih berjalan pelan.
Aku turun dari mobil itu di tengah kemacetan, meninggalkan Madam Widowati yang terpaku dengan mulut setengah terbuka. Aku tidak butuh koneksinya sekarang. Aku punya jalanku sendiri.
Langkahku kini tertuju pada sebuah warnet kecil di pinggiran kota. Dengan uang seratus juta di tangan, aku harus segera bergerak ke bursa efek. Aku menyewa komputer paling pojok dan mulai masuk ke platform perdagangan saham. Mataku langsung tertuju pada kode saham 'X-Core'.
Saat ini, harga saham mereka sedang terjun bebas karena rumor kegagalan produk. Semua orang sedang menjual sahamnya dengan panik. Ini adalah momen yang paling aku tunggu. Aku memasukkan seluruh uang seratus juta rupiah itu untuk membeli saham X-Core di harga terendah.
"Semua orang pikir ini adalah akhir, padahal ini adalah awal dari sebuah ledakan," gumamku sambil menekan tombol beli.
Namun, saat aku baru saja selesai bertransaksi, layar komputer di depanku mendadak mati total. Seluruh lampu di warnet itu padam. Aku mendengar suara keributan dari luar, dan saat aku melongok keluar jendela, aku melihat beberapa mobil hitam yang sama dengan milik Madam Widowati sudah mengepung tempat ini.
Kegelapan ini tidak membuatku panik. Justru, ini adalah lingkungan yang sangat akrab bagiku. Di kehidupan sebelumnya, aku sering mengambil keputusan besar di tengah situasi yang paling kacau sekalipun. Aku segera mencabut flashdisk yang berisi data akun tradingku dan menyimpannya di saku celana yang paling dalam.
"Cari pemuda yang tadi masuk ke sini! Jangan sampai dia lolos!" teriak seseorang dari luar dengan suara yang sangat kasar.
Aku menyadari bahwa Madam Widowati tidak akan melepaskanku begitu saja. Dia tipe wanita yang akan menghancurkan apa pun yang tidak bisa dia miliki. Aku tidak boleh tertangkap di sini, karena uang seratus juta itu sudah berubah menjadi saham digital yang belum sempat aku amankan sistem keamanannya.
Aku bergerak lincah di antara meja-meja komputer, menuju pintu belakang yang biasanya digunakan untuk membuang sampah. Aku keluar ke gang yang sempit dan becek, namun di sana sudah ada dua orang pria berbadan kekar yang menungguku. Mereka memakai kacamata hitam meskipun hari sudah mulai gelap, sebuah gaya klasik anak buah bayaran.
"Serahkan apa pun yang kau bawa, dan kami akan membiarkanmu pergi dengan kaki yang masih utuh," ancam salah satu dari mereka sambil mengeluarkan pisau lipat.
Aku tidak punya waktu untuk bertarung secara fisik lagi. Tubuhku sudah sangat lelah setelah kejadian di tempat lelang tadi. Aku melihat ke arah tiang listrik di atas mereka yang kabelnya tampak semrawut dan sedikit terkelupas. Dengan gerakan cepat, aku mengambil sebilah bambu panjang yang ada di tumpukan sampah dan menyodok kabel tersebut hingga mengeluarkan percikan api yang besar.
Kejutan listrik itu membuat mereka berteriak kaget dan mundur beberapa langkah. Itulah celah yang aku butuhkan. Aku berlari sekencang mungkin menuju jalan raya utama, berniat menghilang di tengah keramaian pasar malam yang tidak jauh dari sana.
Sambil berlari, otakku terus bekerja. Aku tidak bisa terus-menerus dikejar seperti ini. Aku butuh perlindungan, dan aku tahu satu orang yang bisa memberikannya tanpa banyak tanya. Dia adalah seorang peretas jenius yang di masa depan akan menjadi kepala departemen keamananku, namun sekarang dia hanyalah seorang pengangguran yang tinggal di basement apartemen kumuh. Namanya adalah Rian.
Aku sampai di depan apartemen Rian dengan napas tersengal-sengal. Tanpa mengetuk, aku langsung mendobrak pintunya yang memang tidak pernah terkunci. Rian yang sedang asyik dengan tiga monitor besarnya langsung meloncat kaget.
"Siapa kau?! Jangan rampok aku, aku tidak punya uang!" pekik Rian sambil memegang keyboard sebagai senjata.
Aku mengatur napas dan menatapnya tajam. "Rian, aku butuh kau mengamankan akun tradingku sekarang juga. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu sepuluh persen dari keuntungan saham X-Core minggu depan."
Rian mengerutkan kening, tampak bingung bagaimana aku bisa tahu namanya dan rencana kenaikan saham X-Core yang bahkan belum diketahui publik. Namun, melihat keseriusan di mataku, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Dia mulai mengetik dengan kecepatan yang luar biasa di atas papannya.
"Akunmu sedang diserang oleh peretas dari pihak ketiga. Sepertinya ada orang kaya yang ingin membekukan asetmu," jelas Rian sambil terus bekerja.
Aku tahu siapa pelakunya. Madam Widowati benar-benar bermain kotor. Dia ingin membuatku miskin kembali agar aku berlutut memohon bantuannya. Tapi dia salah besar. Aku sudah selangkah lebih maju darinya.
"Blokir akses mereka dan pindahkan servernya ke lokasi yang tidak terlacak," perintahku dengan nada yang sangat berwibawa.
Rian berhasil menyelesaikannya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Dia menyeka keringat di dahinya dan menatapku dengan penuh kekaguman. Dia belum pernah melihat orang yang begitu tenang saat asetnya sedang dipertaruhkan.
"Selesai. Asetmu aman sekarang. Tapi, kawan, kau berutang penjelasan padaku. Bagaimana kau tahu X-Core akan naik? Semua berita bilang mereka akan bangkrut," tanya Rian penuh rasa ingin tahu.
Aku baru saja akan menjawab ketika ponsel butut di meja Rian berbunyi. Itu adalah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Aku memberi kode pada Rian untuk menyalakan pengeras suara.
"Yansya, kau pikir kau bisa lari dariku?" suara Madam Widowati terdengar dingin dari seberang telepon.
Aku hanya tersenyum dingin. "Madam, Anda baru saja membuang waktu Anda untuk mengejar bayangan. Tunggu saja minggu depan, saat saya membeli sebagian saham perusahaan Anda."
Aku menutup telepon itu dengan puas. Namun, saat aku melihat ke arah jendela apartemen Rian, aku melihat sosok yang sangat aku rindukan sedang berdiri di trotoar jalan, tampak kebingungan mencari alamat.
Itu Seeula. Dan dia sedang membawa surat undangan yang tampak sangat resmi.