Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
adaptasi
Pagi hari di pinggiran kota Bridgestone yang padat itu, sebuah apartemen kecil tiga tingkat terlihat berdiri kokoh diantara bangunan lainnya. Seperti biasa, suasana di sekeliling apartemen itu tampak penuh dengan kesibukan. Karena kebanyakan orang yang tinggal di sana, merupakan para pekerja yang rata-rata berangkat di pagi hari dan pulang pada malam hari.
Berbeda dengan Serra, mungkin jika digolongkan ia termasuk kedalam pekerja serabutan. Gadis itu tidak setiap hari bekerja, ia bergerak sesuai jadwal yang sudah diatur, dalam seminggu hanya ada 2 sampai 3 kali pelatihan saja. Namun hal itu bisa saja berubah sesuai dengan situasi.
Seperti pagi ini, seharusnya Serra sudah berangkat sejak tadi. Karena suatu hal, jadwal pelatihannya diundur menjadi siang hari. Gadis itu duduk di sofa dekat jendela, memeluk lututnya sambil menatap ke luar. Dari balik bahunya, terdengar suara langkah seseorang, membuatnya menoleh kearah sumber suara.
Ethan baru saja keluar dari toilet, pemuda itu mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek. Rambutnya masih sedikit berantakan, dengan tatapan yang belum sepenuhnya terjaga, tapi jauh lebih stabil dibanding hari-hari sebelumnya. Sejenak pandangan mereka bertemu, tapi tidak saling menyapa.
Ethan melanjutkan langkahnya ke dapur, mengambil dua buah gelas kosong, lalu mengisinya dengan air. Satu gelas ia letakkan di meja ruang tamu, sedangkan segelas lagi ia minum sendiri. Hal itu terlihat sederhana, namun membuat perasaan Serra tersentuh.
Siang harinya, Serra bersiap pergi ke dojang. Sebelum keluar ia berhenti di dekat pintu, menoleh pada Ethan yang sedang fokus menonton televisi.
"Aku akan pulang sedikit terlambat," katanya. Ethan hanya mengangguk tanpa menoleh. Serra tak lagi berucap, apalagi bertanya mengenai keadaan Ethan, ia lebih banyak diam karena tidak ingin menekan pemuda itu lebih dalam.
...----------------...
Sepeninggal Serra dari apartemen, tatapan Ethan yang semula fokus ke layar televisi, kini beralih ke arah pintu. Otaknya mulai berputar kembali ke pada penjelasan Serra tempo hari mengenai banyak hal yang rumit.
Walaupun ia hidup di lingkungan yang sangat jauh berbeda dengan Serra, namun pemuda itu bukanlah orang yang bodoh. Pada dasarnya ia memiliki logika yang cukup tajam. Ethan mengerti jika situasi sedang tidak berpihak kepadanya. Terlebih posisinya saat ini telah disalahpahami sebagai target penting yang berbahaya.
Dikala pikirannya tengah berputar, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang penting. Ethan mulai beranjak dari sofa, meraih tas kecil miliknya yang Serra gantung di depan gagang pintu lemari.
Kini di telapak tangannya sudah ada sekantung kecil bibit tanaman langka yang sempat ia selamatkan sebelum tragedi memilukan itu terjadi. Seperti baru mendapat udara segar, setelah sekian lama menahan sesak. Pemuda itu mulai sadar jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk tetap berdiam diri. Ia harus mulai kembali bergerak untuk tetap bertahan.
Sebagai permulaan, pemuda itu ingin mulai menanam kembali bibit-bibit tanaman langka tersebut. Namun hal itu tentunya memerlukan media tanam agar cepat tumbuh.
Ethan berdiri cukup lama di depan pintu apartemen. Perasaan ragu masih tersisa dalam dirinya. Namun ia sudah bertekad untuk memulai kembali semua dari awal, dan itu memerlukan keberanian yang besar.
Klik!
Pintu apartemen kecil itu mulai terbuka, di iringi suara langkah kaki yang membawa setitik harapan baru. Ethan membuka pintu dan melangkah keluar. Lorong apartemen terasa sepi, hanya ada beberapa orang tetangga yang sempat menyapanya.
"Oh.. selamat pagi, anda pasti suami nona Jane," sapa seorang wanita paruh baya dengan ramah.
Ethan tidak mengerti akan maksud dari orang dihadapannya, pemuda itu hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum singkat "maaf nyonya, saya sedang buru-buru," balasnya sopan. Si wanita tidak lagi menjawab, ia membiarkan pemuda dihadapannya lewat.
...---------------...
Di luar apartemen, udara kota terasa berat. Bukan karena polusi, tapi karena terlalu banyak suara orang-orang yang sibuk beraktivitas. Ethan mulai berjalan perlahan, menyesuaikan napas.Tujuannya sederhana, yaitu mencari media tanam. Tanah, pot, atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk menumbuhkan kembali bibit-bibit itu.
Dikala ia sedang fokus mencari tempat yang dituju, netra nya menangkap sebuah apotek kecil di sudut jalan. Yang membuatnya berhenti bukanlah papan nama apotek tersebut, melainkan tanaman di depan etalasenya.
Ethan mulai mendekat perlahan, mengamatinya sejenak. Tanaman itu tampak terawat dengan baik, baik daun maupun bunganya memiliki warna yang berbeda, namun terlihat unik karena guratan silver yang terlihat berkilau di serat daunnya.
"Silenthorn," gumamnya pelan.
Nama dari tanaman langka yang biasanya hanya tumbuh di dataran lembap tertentu. Ia pernah menanamnya bertahun-tahun lalu dengan susah payah. Lalu membudidayakannya di halaman depan rumah. Yap benar, itu adalah tanaman yang Serra lihat di depan halaman pada episode 2. Tanaman dengan khasiat tinggi yang Ethan gunakan untuk mengobati luka Serra.
"Cari obat?," tanya seorang pria paruh baya dari balik konter.
Ethan terkesiap, "Ah.. bukan" katanya cepat, "maaf saya sedikit penasaran dengan tanamannya."
Apoteker itu menoleh ke arah tanaman di etalase, lalu tersenyum tipis, "padahal orang lain tidak ada yang membahasnya, itu silenthorn aku dapat dari teman yang tinggal jauh di pegunungan utara", jelas si apoteker.
Ethan mendekat sedikit, "benar itu silenthorn."
Apoteker itu berkedip, lalu tertawa kecil, "Haha.. kau terlihat serius sekali, itu hanya hiasan, tapi jika ingin belajar tanaman obat, apotek bukan tempatnya."
Ethan mengernyit, "Maksud anda?."
"Ini adalah tempat untuk mencari dan menebus obat, tentunya secara medis dan lebih modern", jelas si apoteker santai.
Ethan terdiam sejenak, pikirannya kembali pada luka di paha Serra yang pernah robek parah, hingga darah yang ia hentikan seadanya dengan ramuan darurat. Ia tahu banyak tanaman, tapi soal medis modern, ia baru mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya, pemuda itu merasa jika hal yang baru saja ia dengar, tidak bisa diabaikan begitu saja.
"K-kalau begitu, apa disini menjual obat modern untuk luka lebam?," tanya Ethan ragu.
Si apoteker kembali tersenyum, "tentu saja, bukan hanya luka lebam, tapi untuk segala jenis penyakit pun tersedia disini," ujarnya seraya memberikan kotak kecil berisi krim, "kau tinggal mengoleskannya secara rutin pada area yang lebam," jelas si apoteker.
Setelah membayarnya, Ethan bergegas meninggalkan apotek tersebut. Langkah kakinya terasa lebih ringan di bandingkan waktu ia baru menginjakkan kaki di pinggiran kota yang padat penduduk ini.
Hingga beberapa menit kemudian,ia berhenti di trotoar, menoleh ke kanan dan kiri, lalu menyapa seorang pria yang sedang menyusun kardus di depan sebuah toko kelontong.
"Permisi," sapa Ethan dengan sopan, "apa disekitar sini, ada yang menjual tanaman?."
Pria itu tidak menjawab langsung, namun menunjuk ke arah seberang jalan, "dua blok dari sini."
Ethan mengangguk pelan sambil berterimakasih.
Pemuda itu melanjutkan langkahnya ke sebuah toko kecil dengan etalase penuh tanaman hijau dan bunga warna-warni. Begitu pintu dibuka, aroma tanah basah dan daun segar langsung menyambutnya. Ia berhenti cukup lama di ambang pintu masuk toko tersebut. Aroma itu mengingatkannya pada rumah nya yang sudah binasa.
Ethan berjalan pelan di antara rak-rak tanaman. Tangannya menyentuh pot-pot kecil berisi media tanam. Ia membaca label satu per satu, mencermati komposisi tanah, pupuk dan kerikil kecil.
"Ini bagus untuk akar halus," ia bergumam sendiri.
Pemilik toko, yang merupakan seorang pria paruh baya, memperhatikannya dengan senyum tipis.
"Sedang cari apa?," tanyanya.
Ethan terkesiap, ia sampai lupa dengan tujuannya karena terlalu fokus melihat-lihat. "Saya ingin membeli media tanam yang lengkap."
...----------------...
Sementara itu di dalam apartemen, Serra menatap jam di dinding untuk ketiga kalinya, waktu sudah mulai larut. Serra berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemen, mencoba menenangkan diri. Ia tahu jika Ethan sedang keluar, terlihat dari berkurangnya beberapa lembar uang yang sengaja ia letakkan di atas kulkas.
Gadis itu tidak mempersalahkan kepergian Ethan, bagaimanapun juga pemuda itu perlu menghirup udara luar. Namun, tak disangka jika akan selama ini. Ia khawatir jika Riven, atau anggota organisasi lain dapat mencium keberadaan mereka.
Serra mengambil jaket, "hanya mengecek sebentar," gumamnya.
Klik!
Namun begitu pintu dibuka, ia mendengar langkah kaki dari tangga bawah. Serra terdiam sejenak, langkah kaki itu terdengar familiar. Tak lama kemudian, terlihat dari ujung tangga, seseorang muncul dengan membawa sekantong besar alat media tanam, serta sekantong kecil berisi obat.
Seketika mata mereka bertemu, dan tanpa sadar Serra menghela napas lega.
"Hufftt.."
"Ada apa?" tanya Ethan, berjalan mendekat.
Serra hanya terdiam, lalu kembali masuk kedalam pintu apartemen. Setelahnya, Ethan meletakkan barang-barangnya di meja. Serra berdiri bersandar di dinding, memperhatikannya diam-diam.
"Jika ingin keluar, kau tinggal tulis note di sana", ujar Serra sembari menunjuk ke arah pintu kulkas, "aku harap kau lebih berhati-hati," lanjutnya.
Ethan tertegun, alih-alih mendengarkan perkataan Serra, ia malah fokus pada luka lebam sedikit lecet yang masih tampak jelas di pelipis wajah gadis itu. Luka yang belum sempat ia obati karena tidak tahu caranya. Ethan mulai beranjak, mengambil kotak kecil berisi krim dari dalam kantong plastik kecil, lalu membukanya perlahan, kemudian mendekat ke posisi Serra.
"Sssh..," Serra mendesis pelan, merasakan sensasi dingin dengan sentuhan ringan namun sedikit menekan di bagian pelipisnya.
Serra menatap wajah Ethan dari jarak dekat, mengamati setiap lekuk garis pada area wajah pemuda itu. Kedua matanya yang berwarna cokelat, hidung mancung, tak terkecuali bentuk bibir, dagu serta rahangnya, tampak sempurna. Sosok Ethan memang terbilang tampan untuk seseorang yang hidup di desa terpencil.
Waktu terasa berhenti, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir gadis itu. Namun perasaan aneh yang sempat muncul beberapa waktu lalu, kini muncul kembali dengan intensitas yang lebih.
Hingga beberapa saat kemudian, tatapan mereka bertemu.
Deg deg deg!
Suara detak jantung terasa jelas terdengar di kesunyian malam itu, entah milik siapa, namun yang pasti ada sesuatu yang tersimpan dari balik tatapan keduanya. Ethan menarik tangannya lebih dulu, "sudah," katanya pelan.