Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Pemuda Baik-Baik
Arisa menutup mulutnya dengan tangan. Dia merasa kasihan pada Ogi. Ternyata lelaki itu lebih tahu rasanya pengkhianatan dibanding dirinya. Dikhianati oleh kakak dan pacar sendiri pasti menyakitkan.
"Kasihan ya, Kang Ogi..." lirih Arisa.
"Sekarang dia terlihat lebih baik setelah menikah sama Eneng." Asih memegangi salah satu tangan Arisa. "Jangan pernah sakiti Ogi ya, Neng. Dia tuh sudah seperti adik kandung sendiri bagi Teteh," ungkapnya.
"I-iya, Teh..." gagap Arisa. Dia tersenyum kecut. Jelas itu adalah beban baginya. Mengingat sejak awal Arisa hanya memanfaatkan Ogi untuk menyelamatkannya dari rasa malu. Dia dan Ogi bahkan berjanji akan bercerai di waktu yang tepat.
"Terus Eneng tadi mau apa atuh, Neng? Apa ada masalah?" tanya Asih.
"Anu, nggak jadi, Teh. Lupakan saja. Nggak penting. Aku mandi dulu ya," kata Arisa seraya masuk ke kamar mandi. Ia sebenarnya ingin menanyakan tentang shower di kamar mandi pada Ogi. Tapi urung dilakukan karena malu pada Asih.
Asih kembali ke dapur. Dia melihat Ogi sedang mengaduk nasi goreng di wajan.
“Kumaha, Teh? Neng Arisa naha? (Gimana, Teh? Neng Arisa kenapa?)" tanya Ogi.
“Teu jadi cenah. Ka dieu, sina Teteh wé nu neruskeun masak, (Nggak jadi katanya. Sini biar Teteh yang nerusin masak,)" ujar Asih.
“Teu kudu, Teh. Ieu ampir jadi. Teteh mending beberes imah wé langsung. (Nggak usah, Teh. Ini hampir jadi. Teteh mending bersih-bersih rumah aja langsung,)" sahut Ogi.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu tuh ya, memang suami idaman," puji Asih.
"Amin..." balas Ogi.
Setengah jam berlalu, Arisa baru selesai mandi. Dia melihat nasi goreng sudah siap di meja makan. Sementara Ogi tampak duduk menikmati kopi.
"Lama amat atuh Neng mandinya," tukas Ogi.
"Kau lihat penampilanku! Cantik kan?" tanggap Arisa.
"Iya, cantik..." kening Ogi mengernyit samar.
"Nah, kecantikanku ini karena aku mandinya bersih. Kalau mandi kecepatan, nggak bersih dong," jelas Arisa sembari duduk. Dia menatap nasi goreng buatan Ogi dan segera memakannya.
Ogi menatap Arisa dengan seksama. Penasaran dengan reaksi gadis itu. "Gimana, Neng? Enak?" tanyanya.
Mata Arisa membulat penuh binar. Mulutnya sedikit menganga. "Enak banget sumpah! Ini Kang Ogi yang bikin?"
Ogi mengangguk dengan senyuman lebar. Dia senang melihat Arisa menyukai masakannya. Terutama saat Arisa makan dengan lahap.
"Ditambah ya, Neng. Ini aku sengaja bikinnya banyak biar Eneng nggak kelaparan," ungkap Ogi. Dia segera ikut memakan nasi gorengnya. "Ini sambalnya, Neng. Sengaja dipisah biar Eneng nggak kepedesan," tawarnya.
"Aku suka pedas kok!" sahut Arisa. Dia menambahkan sambal ke nasi gorengnya.
Hening menyelimuti sejenak. Sampai akhirnya Ogi pun bicara. "Tadi Eneng sebenarnya mau apa manggil Akang? Soalnya kata Teh Asih, kau nggak jadi bilang," tuturnya.
"Oh... Aku cuman mau nanyain tentang shower kok. Kan aku terbiasa mandi pakai itu. Nggak terbiasa pakai gayung," terang Arisa.
"Oh itu, nanti Akang bikinkan deh. Gampang itu," kata Ogi.
"Eh nggak usah, Kang. Aku akan terbiasa kok pakai gayung. Nggak perlu repot-repot," balas Arisa yang merasa tak enak.
"Nggak apa-apa, Neng. Aku nggak bikin shower karena aku dan Eyang emang nggak terbiasa memakainya. Sekarang kan ada Eneng yang juga bagian dari keluarga ini. Jadi nggak apa-apa. Nanti aku bikinkan pokoknya." Ogi bersikeras.
"Terserah deh, Kang. Kalau nggak kerepotan, aku terima saja." Arisa tak kuasa menolak. Saat itu dia semakin sadar kalau Ogi memang adalah pemuda yang sangat baik. Arisa harus berhati-hati kalau menginginkan sesuatu, Ogi mungkin akan menganggapnya serius seperti sekarang.
"Woy! Ogi! OGI!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang memanggil Ogi. Namun bedanya sekarang suara lelaki.
"Astaga, Dadang!" seru Ogi.
"Siapa itu, Kang?" tanya Arisa.
"Itu Dadang. Dia teman dekatku, Neng. Sepertinya Dadang marah karena aku nggak cerita tentang pernikahan kita," jawab Ogi. Dia segera beranjak menemui Dadang ke depan.