Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Hadiah Kecil
Ratih mengayun keranjang bayi anaknya yang tengah tertidur pulas itu. Dengan tatapan yang begitu teduh, Ratih menatap Rafa.
Putranya yang dulu, entah bagaimana kehidupannya.
Ceklek
"Sayang!"
Ratih menoleh ke arah pintu. Spontan jari telunjuknya langsung bergerak ke depan bibirnya. Mencoba untuk menghentikan Fandi yang akan bicara.
Ratih segera berdiri dan mendorong Fandi keluar dari kamarnya.
"Mas, Rafa sedang tidur. Ada apa? Apa yang membawamu pulang ke rumah di jam kerja yang sangat sibuk?" tanya Ratih.
Karena Ratih tahu, Fandi pulang pasti untuk membujuknya dengan segala cara, supaya Sarah tetap jadi pengasuh Rafa. Tapi, sayangnya. Ratih juga akan menggunakan segala cara, supaya keinginan mereka tidak akan pernah terlaksana.
Sindiran Ratih itu pasti bisa membuat Fandi berpikir dua kali kalau mau tetap membujuknya.
"Aku tadi kebetulan ada pertemuan dengan klien tidak jauh dari rumah. Aku pulang untuk menemuimu!"
Ratih berjalan ke arah ruang tengah, lalu duduk dengan tenang di sofa.
"Tumben!"
Satu kata itu saja, seharusnya bisa kembali menyindir Fandi.
Fandi duduk di sebelah Ratih. Tapi Ratih langsung berdiri.
"Mas, kamu pakai parfum. Dan aku sedang menyusui Rafa. Aku tidak bisa dekat-dekat denganmu!" kata Ratih.
Fandi menjadi sangat kesal.
'Memangnya siapa yang mau dekat-dekat denganmu!' batin Fandi.
"Baiklah, aku tidak dekat-dekat. Tapi sayang, apa kamu sudah pikirkan. Masalah pengasuh untuk Rafa...?"
"Sejak kapan kamu mengurusi hal semacam ini?" sela Ratih.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Tadi, saat aku bertemu dengan klien. Aku dengar ada berita penculikan anak. Dan itu di lakukan oleh pengasuhnya sendiri. Dia juga dari yayasan, punya sertifikat. Tapi yang namanya orang butuh uang, apapun bisa di lakukan sayang. Apa tidak sebaiknya kita ambil pengasuh dari orang yang sudah di kenal baik. Kamu pertimbangkan lagi, orang yang di bawa bibi Erma mungkin lebih baik. Bibi Erma sudah kerja dengan kamu belasan tahun. Orang yang dia rekomendasikan pasti bagus kan. Contohnya Joni, dia sudah menjaga rumah ini dengan baik, iya kan?" bujuk Fandi.
Ratih terkekeh dalam hatinya. Cara seperti ini, bukankah justru semakin memperjelas, kalau Fandi sangat ingin Sarah menjadi pengasuh Rafa. Sebenarnya sudah terlihat jelas. Tapi sayangnya, dulu karena rasa cinta Ratih pada Fandi. Matanya tidak bisa melihat semua itu, tidak bisa membaca situasi yang sebenarnya sudah terlihat sangat jelas.
Begitu rasa cinta itu mati, hilang tak berbekas. Semuanya terlihat begitu nyata. Sungguh ironis.
"Mas, kamu pasti sangat perduli pada Rafa ya?"
"Tentu saja sayang. Rafa kan anakku juga,.aku tidak mau dia kenapa-kenapa!" sahut Fandi dengan cepat.
Fandi kembali mendekati Ratih, tapi Ratih kembali menghindar.
"Sayang, oke oke... aku bicara dari sini. Setidaknya kita harus berhati-hati. Lebih baik mempekerjakan orang yang sudah dikenal oleh orang kita kan? kamu juga sangat percaya pada bibi Erma kan?"
Ratih mengangguk. Dia menunjukkan kalau Fandi memang sudah berhasil mempengaruhinya. Dia hanya menunjukkan itu pada Fandi, padahal dalam hatinya, dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Fandi.
"Nah, kamu pecat saja pengasuh itu. Kita bisa cari pelayan laundry yang lain kan? aku akan mengurus semuanya!"
Ratih menghela nafas panjang.
"Jadi kamu yang akan bayar penalti 750 juta ke yayasan tempat ibuku mengambil pengasuh itu?" tanya Ratih.
Mata Fandi melebar. Kenapa dia harus bayar penalti?
"Sayang, maksudmu apa?"
"Ya, karena kamu mau pecat dia tanpa alasan. Kamu harus bayar penaltinya mas. Ibu mengambil kontrak dengan yayasan darimana bi Asih berasal selama 3 tahun. Kalau ada pemutusan kerja sebelum waktu kontrak berakhir. Mas wajib bayar penalti, 5 kali lipat gaji yang harus di dapatkan oleh bibi Asih selama 3 tahun itu!" jelas Ratih.
"Sayang, kenapa begitu?"
"Mas, jaman sekarang itu seperti kata mas tadi loh. Susah percaya sama orang! dan kalau sampai bi Asih menculik Rafa, seperti berita yang mas dengar tadi. Pihak yayasan juga tidak akan diam saja. Mereka akan ikut bertanggung jawab. Makanya aku bilang, yayasan yang ibu datangi itu bukan yayasan sembarangan. Jadi gimana? kalau mas mau bayar 750 juta. Aku tidak keberatan bilang ke ibu, supaya bi Asih di pulangkan saja ke yayasan!"
Fandi terdiam. Dia mana mau kehilangan uang sebanyak itu, hanya untuk membuat seorang pengasuh pergi dari rumah.
Otak liciknya kembali berpikir.
'Aku tidak akan mengeluarkan uang sebanyak itu. Enak saja. Meski sekarang aku punya uang itu, tapi kenapa aku harus mengeluarkannya untuk membuat seorang pengasuh pergi. Aku akan pikirkan cara lain!' batinnya.
"Mas, bagaimana?" tanya Ratih lagi.
"Itu terlalu banyak sayang. Lagipula kalau yayasannya juga mau bertanggung jawab. Ya sudahlah. Aku masih harus ke perusahaan. Aku tidak akan menemanimu!"
"Iya mas, hati-hati ya!"
"Iya sayang, aku pergi dulu!"
Ratih melambaikan tangannya pada Fandi yang sudah keluar dari kamar seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia sangat kesal.
Begitu pintu tertutup, Ratih mengambil racun yang dia dapatkan dari rumah sakit tadi. Dia sudah menggantinya ke botol spray. Ratih juga mengambil sebuah masker penutup hidung dan mulut. Lalu pergi ke kamar Fandi.
Ratih yakin, saat ini Fandi pasti sedang bicara pada bibi Erma dan Sarah, tentang percakapannya dengan Ratih yang tidak berhasil tadi. Jadi, Ratih punya waktu untuk menyemprotkan racun itu.
Ratih pergi ke dekat tempat tidur setelah sebelumnya mengenakan masker penutup itu. Dia menyemprotkan cairan itu ke bantal dan selimut. Ratih tidak khawatir akan tertular, karena semua selimut Ratih berwarna biru muda. Sedangkan Fandi tidak suka warna itu, dia suka warna putih, seperti selimut di kamar lain. Tak pastinya punya pelayan tidak akan sebagus selimut milik Fandi.
Setelah dari tempat tidur, dan sudah menyemprotkan cairan racun itu ke bantal dan selimut. Ratih beranjak ke sofa single tempat Fandi suka minum kopi di pagi hari atau membaca di malam hari.
Ratih menyemprotkan cairan racun disana juga. Lalu ke kotak rokok yang ada di atas meja. Bahkan Ratih menyemprotkan racun itu di sandal kamar mandi suaminya.
Setelah Ratih rasa cukup, dia melepaskan maskernya dan keluar dari kamar Fandi.
"Mas, selamat menikmati racun itu. Tenang saja mas, aku tidak akan biarkan kamu keracunan sendirian. Aku juga akan berikan racun ini untuk simpananmu itu!" gumam Ratih yang berjalan ke arah pintu belakang rumah.
Ratih menuju ke kamar para pelayan yang ada di belakang rumahnya. Dia tentu tidak akan membiarkan Fandi menerima hadiah kecilnya itu sendirian. Ratih akan berbaik hati, memberikan hadiah yang sama pada Sarah.
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..