"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Benih Keraguan di Istana Emas
Pagi itu, suasana di istana D’Arcy terasa sedikit berbeda. Kieran harus pergi ke ruang bawah tanah untuk mengurus urusan pengiriman logistik senjata yang tertunda, meninggalkan Velin yang masih asyik dengan sarapan mewahnya di paviliun kaca.
Saat Velin sedang menikmati croissant berlapis cokelat, Jaxon datang menghampiri dengan wajah datar namun sedikit tegang.
"Nona—maksud saya, Nyonya Muda. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda di taman samping. Dia mengaku sebagai anggota keluarga," ujar Jaxon.
Velin mengernyit. "Keluarga? Kakek Evander sedang pergi memancing di laut lepas, dan Bibi Amora sedang sibuk belanja di Paris. Siapa lagi?"
Velin melangkah ke taman samping, dan di sana berdiri seorang pria yang penampilannya sangat mirip dengan Kieran, namun dengan aura yang lebih teduh, atau setidaknya begitulah kelihatannya.
"Halo, Aveline. Aku Sirius, kakak angkat Kieran," sapa pria itu dengan senyum yang tampak sangat tulus.
Velin tertegun. "Kakak angkat? Kieran tidak pernah cerita."
Sirius terkekeh kecil, ia duduk di kursi taman dan mempersilakan Velin duduk. "Kieran memang begitu. Dia tidak suka berbagi cerita tentang masa lalu yang menyakitkan. Dia selalu ingin terlihat sebagai pahlawan di matamu, bukan?"
Velin merasa ada yang aneh dengan nada bicara Sirius. "Apa maksudmu?"
Sirius mengeluarkan sebuah tablet kecil dan meletakkannya di atas meja. "Kau tahu, Velin... Adriano, mantan suamimu, dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia menghubungiku dan memohon agar aku menjagamu. Dia bilang Kieran memaksamu menikah karena kekuatan cincin itu."
"Itu bohong!" bantah Velin cepat. "Aku yang memilih untuk tinggal di sini!"
"Benarkah? Atau kau hanya terpesona oleh harta D'Arcy?" Sirius menatap mata Velin dengan dalam. "Dengar, aku menyayangi Kieran sebagai adik, tapi aku tidak bisa diam melihat dia membohongimu. Kau tahu kenapa ibunya meninggal? Adriano benar soal kutukan, tapi dia salah soal siapa pelakunya."
Velin menelan ludah, detak jantungnya meningkat. "Bibi Amora bilang itu karena musuh."
Sirius menggeleng sedih. "Itu cerita yang Kieran buat untuk menutupi rasa bersalahnya. Ibunya meninggal karena kecerobohan Kieran saat mencoba mengaktifkan kekuatan cincin itu di masa lalu. Cincin itu membutuhkan pengorbanan, Velin. Dan sekarang, cincin itu ada di jarimu. Menurutmu, kenapa Kieran begitu posesif padamu?"
Velin terdiam. Logikanya mulai berperang dengan perasaannya. "Nggak mungkin... Kieran yang memijat kakiku kemarin malam nggak mungkin sekejam itu," batinnya.
"Aku punya rekaman suara dari ruang kerja Ayah kami dulu," Sirius menekan tombol play di tabletnya.
Suara Kieran terdengar, lebih muda namun sangat jelas: "Aku tidak peduli jika cincin itu mengambil nyawanya, aku hanya ingin kekuasaan ini menjadi milikku!"
Velin menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa dunianya sedikit bergoyang. Ia tidak tahu bahwa rekaman itu adalah hasil editan canggih yang dibuat Sirius untuk menghasutnya.
"Adriano menunggumu, Velin," lanjut Sirius pelan. "Dia tidak sehebat Kieran, tapi dia mencintaimu tanpa perlu tumbal. Dia sudah menyiapkan rumah di perbatasan Swiss atas namamu. Kau bisa bebas dari dunia berdarah ini."
Velin berdiri, tangannya gemetar. "Aku... aku butuh waktu untuk berpikir."
...****************...
Di Kantor Adriano, Kota...
Adriano sedang berbicara melalui telepon satelit dengan Sirius. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah namun penuh kegelisahan.
"Bagaimana reaksinya? Apa dia percaya?" tanya Adriano cepat.
"Dia ragu, Adriano. Dan ragu adalah awal dari kehancuran," jawab Sirius di seberang sana. "Bersiaplah. Malam ini aku akan mengirimkan tim untuk membawanya keluar dari pulau saat Kieran sedang melakukan pertemuan dengan klan Rusia. Kau harus berada di titik penjemputan."
Adriano mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan Kieran menyentuhnya lagi. Terima kasih, Sirius."
...****************...
Malam Harinya, di Kamar Utama D'Arcy...
Kieran baru saja kembali dari urusannya. Ia melihat Velin duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Kieran mendekat, hendak memeluk istrinya, namun Velin refleks menghindar sedikit.
Kieran mematung. Matanya menajam. "Ada apa?"
"Tuan Kieran..." Velin menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Apa kau benar-benar mencintaiku? Atau kau hanya mencintai fakta bahwa aku adalah pemegang cincin ini?"
Kieran mengerutkan kening, aura dingin mulai keluar dari tubuhnya. "Siapa yang menemuimu hari ini?"
"Jawab saja!" seru Velin. "Apa benar kau yang menyebabkan kematian ibumu karena kau menginginkan kekuasaan?!"
Kamar itu mendadak sunyi senyap. Kieran terdiam, tatapannya berubah sangat gelap, penuh dengan luka lama yang kembali robek. Ia tidak menyangkal, tapi juga tidak membenarkan. Baginya, rasa bersalah atas kematian ibunya adalah fakta yang ia pikul sendiri selama belasan tahun, meskipun itu bukan kesalahannya secara langsung.
"Jika itu yang kau percayai, maka percayalah," jawab Kieran dengan suara yang sangat dingin dan patah hati. "Aku tidak akan memaksamu untuk percaya pada pembunuh seperti aku."
Kieran berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras.
Velin jatuh terduduk di lantai, menangis terisak. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk: [Gerbang belakang paviliun terbuka sekarang. Adriano menunggumu. Lari sekarang sebelum Kieran benar-benar menjadikanmu tumbal.]
Velin menatap pintu kamar, lalu menatap jendela. Jiwa "figuran" dalam dirinya merasa ketakutan luar biasa. Tanpa pikir panjang, ia mengambil jubahnya dan berlari menuju gerbang belakang, tidak menyadari bahwa di balik kegelapan, Sirius sedang tersenyum penuh kemenangan melihat rencananya berjalan sempurna.
terimakasih 🙏🙏🙏