Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG TAK BERDARAH
Pagi itu, Mansion Shelby terasa mencekam. Flaire datang dengan langkah ragu, mengenakan setelan kantor yang rapi namun tetap menonjolkan keanggunannya. Ia terpaksa datang setelah Jaydane mengancam akan membatalkan seluruh kontrak logistik Fernandez Group jika ia tidak hadir untuk "diskusi bisnis" pribadi.
Namun, alih-alih di ruang kerja, Jaydane justru membawanya ke taman belakang tempat Jorden sedang asyik bermain dengan balok susunnya di atas permadani rumput.
"Duduk," perintah Jaydane dingin, menunjuk kursi di depan meja marmer. Ia sendiri duduk dengan kaki bersilang, kacamata hitam menutupi iris abu-abunya, mengamati setiap gerak-gerik Flaire seperti pemangsa.
"Jay, kita di sini untuk membahas kontrak, bukan melihat anakmu bermain," ucap Flaire pelan, meski matanya tak bisa lepas dari sosok mungil Jorden.
"Bisnis bisa menunggu. Aku ingin tahu seberapa hebat 'Queen of Lens' dalam menghadapi seorang anak kecil," sahut Jaydane sinis.
Jorden yang melihat Flaire, langsung berlari menghampiri dengan wajah berseri-seri. "Tante Cantik! Lihat, Jorden bikin istana!" Jorden menarik tangan Flaire, memaksanya duduk di atas rumput bersamanya.
Flaire luluh. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan duduk bersimpuh di samping Jorden. Sifat lemah lembutnya keluar secara alami. Ia membantu Jorden menyusun balok-balok itu dengan sangat sabar. Tawa kecil Jorden pecah saat Flaire memujinya.
Jaydane memperhatikan dari kejauhan. Ia mencari kilatan kebencian atau rasa risih di mata Flaire, namun yang ia temukan hanyalah... kerinduan yang dalam.
Tiba-tiba, Jorden memegang tangan Flaire dan menatapnya dengan mata hijaunya yang besar.
"Tante punya anak? Di mana anaknya?"
Pertanyaan polos itu seperti petir di siang bolong bagi Flaire. Senyumnya membeku. Tangannya yang memegang balok kayu gemetar hebat. Ia mengusap rambut blonde Jorden dengan kasih sayang yang tulus, sementara matanya mulai berkaca-kaca di balik lensa kontaknya.
"Tante... dulu punya bayi, Jorden," bisik Flaire, suaranya parau menahan tangis. "Tapi Tuhan lebih sayang dia. Kalau bayi Tante masih hidup, pasti dia seumuran denganmu."
DEG!
Di kursinya, tubuh Jaydane menegang kaku. Rahangnya mengatup begitu keras hingga otot lehernya menonjol. Ia mengepalkan peninjunya dengan sangat erat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih, seolah ingin menghancurkan apa saja yang ada di genggamannya.
Batin Jaydane meledak. Apa yang dia katakan? Mati?
"Berhenti bersandiwara, Flaire!" batin Jaydane berteriak penuh amarah dan kebingungan. "Kau membuangnya! Kau meninggalkannya di rumah sakit karena kau malu hamil di luar nikah dan ingin mengejar kariermu di luar negeri! Kenapa sekarang kau berpura-pura menjadi ibu yang kehilangan?"
Jaydane berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursi marmer itu berderit nyaring.
"Jorden, masuk ke dalam! Sekarang!" gertak Jaydane.
Jorden yang kaget melihat kemarahan ayahnya langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan ketakutan. Setelah Jorden hilang dari pandangan, Jaydane melangkah lebar ke arah Flaire, menjambak lembut dagu wanita itu agar menatapnya.
"Apa maksudmu dengan 'mati', Flaire? Apa itu skenario baru yang kau pelajari di luar negeri untuk membuatku merasa kasihan?" desis Jaydane tepat di depan wajah Flaire.
Flaire tidak melawan. Ia membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi beningnya. "Dia mati, Jay. Ayahku bilang bayi itu tidak selamat saat dilahirkan. Aku bahkan tidak sempat memeluknya sekali pun. Itulah sebabnya aku pergi... karena aku tidak punya alasan untuk tinggal dan melihatmu membenciku karena kehilangan anak kita."
Jaydane tertegun. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Jika Flaire jujur... maka selama empat tahun ini, seseorang telah memberikan kebohongan besar kepada mereka berdua.