Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Festival??
Angin pagi masih berhembus pelan di halaman latihan Lightveil.
Percakapan antara Arkan, Leyna, Solan, dan Seris membuat suasana di antara mereka terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Beberapa murid di sekitar mereka masih berlatih sihir cahaya.
Kilatan mantra dan lingkaran sihir sesekali terlihat di udara.
Namun perhatian keempat murid itu sekarang sepenuhnya tertuju pada satu hal.
Nyanyian Malam.
Seris masih menatap Arkan dengan ekspresi serius.
“Kalau Nyanyian itu benar-benar sudah terdengar oleh pewaris Noctis…” katanya pelan.
“…maka segel di Gerbang Bayangan mungkin sudah jauh lebih lemah daripada yang kita kira.”
Leyna menyilangkan tangan.
“Makhluk bayangan sudah muncul di dalam akademi.”
Ia menatap Seris.
“Itu seharusnya tidak mungkin terjadi jika segelnya masih kuat.”
Solan mengangguk.
“Yang berarti kita punya masalah yang cukup besar.”
Seris memandang mereka satu per satu.
Matanya akhirnya kembali pada Arkan.
“Kau mengatakan kau mengusir makhluk itu dengan bayangan?”
Arkan mengangguk pelan.
“Aku tidak benar-benar tahu bagaimana melakukannya.”
“Nyanyian itu menjadi lebih kuat… lalu bayangan di ruangan bergerak.”
Seris tampak berpikir keras.
“Kekuatan Noctis memang selalu berhubungan dengan bayangan.”
Ia menunjuk buku hitam di tangan Arkan.
“Namun bagian tentang Nyanyian Malam jauh lebih jarang dibicarakan.”
Leyna bertanya,
“Kenapa?”
Seris menjawab singkat.
“Karena sebagian besar catatan tentangnya hilang.”
Solan mengangkat alis.
“Hilang?”
Seris mengangguk.
“Sebagian dihancurkan.”
“Sebagian lagi disegel oleh para penjaga lama.”
Keheningan muncul beberapa detik.
Arkan akhirnya bertanya,
“Kenapa mereka melakukan itu?”
Seris menatapnya.
“Karena Nyanyian Malam bukan hanya panggilan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Itu juga jawaban.”
Leyna mengerutkan kening.
“Aku tidak mengerti.”
Seris berkata pelan,
“Nyanyian itu tidak hanya berasal dari Gerbang Bayangan.”
“Kadang… sesuatu dari sisi lain juga bisa mendengarnya.”
Angin berhembus lebih kuat melewati halaman latihan.
Beberapa murid Lightveil di kejauhan tertawa saat salah satu mantra latihan gagal.
Kontras dengan percakapan serius di antara mereka.
Solan akhirnya berkata,
“Baiklah.”
“Kalau kita terus berdiri di sini membahas teori kuno, kita tidak akan mendapatkan jawaban baru.”
Ia menatap Seris.
“Kau tahu tentang keluarga Aurelius.”
“Kami tahu sedikit tentang Noctis.”
Ia menoleh ke Leyna.
“Sekarang kita hanya perlu menemukan pewaris Sylvara.”
Leyna mengangguk.
“Ada murid tahun ketiga di Natureveil dengan nama itu.”
Seris bertanya,
“Namanya?”
Leyna berpikir sejenak.
“Kalau tidak salah… Eryndor Sylvara.”
Seris terlihat mengenali nama itu.
“Dia cukup terkenal di Natureveil.”
Solan tersenyum kecil.
“Bagus.”
“Berarti kita tidak perlu mencarinya terlalu lama.”
Seris kemudian menatap Arkan lagi.
“Aku ingin tahu satu hal lagi.”
Arkan mengangkat alis.
“Apa?”
Seris bertanya pelan,
“Apakah nyanyian itu masih ada?”
Arkan tidak langsung menjawab.
Ia menutup matanya sebentar.
Dan di sana—
Di bagian paling dalam pikirannya—
Melodi itu masih ada.
Sangat pelan.
Seperti gema yang jauh.
“Masih,” katanya akhirnya.
Seris mengangguk pelan.
“Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”
Leyna berkata,
“Untuk apa?”
Seris menjawab,
“Untuk memahami apa yang sebenarnya sedang bangun.”
---
Beberapa saat kemudian—
Percakapan mereka akhirnya selesai.
Tidak ada jawaban pasti yang mereka temukan.
Hanya lebih banyak pertanyaan.
Seris menutup buku hitam itu dan mengembalikannya pada Arkan.
“Simpan itu baik-baik.”
Arkan mengangguk.
Solan berkata santai,
“Kurasa ini awal dari sesuatu yang sangat merepotkan.”
Leyna tersenyum tipis.
“Seperti biasa.”
Seris memandang mereka.
“Aku akan mencari lebih banyak catatan keluarga Aurelius.”
“Kalau aku menemukan sesuatu… aku akan memberitahu kalian.”
Solan mengangguk.
“Baik.”
Setelah itu—
Mereka berpisah.
Seris kembali ke halaman latihan.
Solan berjalan menuju menara Lightveil.
Leyna menuju area Natureveil.
Dan Arkan kembali ke menara Darkveil.
Langit mulai berubah menjadi sore ketika Arkan akhirnya sampai di asramanya.
Koridor menara Darkveil lebih tenang dibanding bagian akademi lainnya.
Lampu kristal di dinding menyala lembut.
Beberapa murid Darkveil sedang berbicara pelan di ujung lorong.
Arkan membuka pintu kamarnya.
Begitu ia masuk—
Sebuah suara langsung terdengar dari dalam.
“Arkan?”
Arkan menoleh.
Di dalam kamar, seorang pemuda berambut hitam sedang duduk di kursi dekat jendela.
Itu Kael, teman sekamarnya.
Kael memandangnya dengan ekspresi heran.
“Kau akhirnya kembali juga.”
Arkan meletakkan tasnya.
“Ada apa?”
Kael mengangkat alis.
“Kau serius?”
Arkan mengerutkan kening.
“Serius tentang apa?”
Kael menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata dengan nada tidak percaya.
“Jangan bilang kau belum menyiapkan apa pun.”
Arkan bingung.
“Menyiapkan apa?”
Kael berdiri dari kursinya.
Ia menatap Arkan seolah sedang melihat seseorang yang baru saja turun dari gunung terpencil.
“Arkan yang benar saja.”
“Kemana saja kau selama ini sampai tidak tahu tentang Festival Akademi?”
Arkan berkedip.
“Festival… Akademi?”
Kael menghela napas panjang.
“Baiklah.”
Ia berjalan mendekat.
“Sepertinya aku benar-benar harus menjelaskan semuanya dari awal.”
Arkan duduk di tempat tidurnya.
Kael mulai berbicara dengan penuh semangat.
“Festival Akademi adalah turnamen tahunan antara tiga rumah Veil.”
“Darkveil, Natureveil, dan Lightveil.”
Arkan menyilangkan tangan.
“Turnamen?”
Kael mengangguk cepat.
“Setiap tahun semua murid terbaik dari setiap rumah akan ikut.”
Ia tersenyum lebar.
“Ini acara paling besar di akademi.”
Arkan bertanya,
“Lalu apa yang mereka lakukan?”
Kael menjawab,
“Permainannya sebenarnya cukup sederhana.”
Ia mengangkat jarinya.
“Setiap rumah memiliki sebuah bendera.”
“Tugas para peserta adalah menyusup ke wilayah rumah lain…”
“…mengambil bendera mereka…”
“…lalu menancapkannya di markas rumah sendiri.”
Arkan menatapnya datar.
“Jadi semacam permainan pencurian bendera.”
Kael menunjuknya.
“Persis.”
“Tapi dengan sihir.”
Ia tertawa kecil.
“Dan biasanya dengan banyak kekacauan.”
Arkan mengangkat bahu.
“Tidak terdengar terlalu menarik.”
Kael membeku.
“Apa?”
Arkan berkata santai,
“Aku tidak terlalu tertarik dengan kompetisi seperti itu.”
Kael menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kau serius?”
Arkan mengangguk.
“Serius.”
Kael langsung berjalan mendekat.
“Tidak.”
“Tidak tidak tidak.”
“Kau harus ikut.”
Arkan menghela napas.
“Kenapa?”
Kael menunjuk ke luar jendela.
“Karena ini Festival Akademi.”
“Semua orang ikut.”
Arkan tetap terlihat tidak tertarik.
“Aku tidak punya waktu.”
Namun Kael tidak menyerah.
Sepanjang malam—
Ia terus berbicara.
Terus membujuk.
Terus memaksa Arkan untuk ikut.
“Bayangkan saja,” kata Kael untuk kesekian kalinya.
“Kau bisa menunjukkan kemampuan bayanganmu.”
Arkan memandang langit malam dari jendela.
“Aku bahkan belum mengerti kemampuan itu.”
Kael tetap tidak menyerah.
Percakapan mereka berlangsung hampir sepanjang malam.
Dan akhirnya—
Karena lelah mendengar Kael terus memaksanya—
Arkan berkata,
“Baiklah.”
“Aku akan mendaftar.”
Kael langsung melompat dari kursinya.
“Aku tahu kau akan berubah pikiran!”
Arkan hanya menggeleng pelan.
...----------------...
Keesokan paginya—
Aula makan akademi dipenuhi murid dari tiga rumah.
Suara percakapan memenuhi ruangan besar itu.
Arkan berjalan masuk sambil menguap.
Ia baru saja selesai mendaftar untuk Festival Akademi.
Kael berjalan di belakangnya dengan ekspresi puas.
“Lihat?”
“Aku bilang kau tidak akan menyesal.”
Arkan tidak menjawab.
Ia mengambil makanan dan duduk di salah satu meja panjang.
Namun sebelum ia mulai makan—
Seseorang duduk di seberangnya.
Arkan mengangkat kepalanya.
Leyna.
Ia tersenyum kecil.
“Pagi.”
Arkan mengangguk.
“Pagi.”
Leyna melihat formulir kecil di tangan Arkan.
Matanya sedikit melebar.
“Tunggu.”
“Kau mendaftar Festival Akademi?”
Arkan menghela napas.
“Dipaksa.”
Leyna tertawa kecil.
“Itu lucu.”
Arkan menatapnya curiga.
“Kenapa?”
Leyna tersenyum santai.
“Karena aku sudah mendaftar jauh-jauh hari.”
Arkan berhenti makan.
“Serius?”
Leyna mengangguk.
“Tentu saja.”
Matanya bersinar penuh semangat.
“Aku tidak akan melewatkan Festival Akademi.”
Kael yang duduk di sebelah Arkan langsung tertawa keras.
“Ini akan jadi sangat menarik.”
Arkan hanya menggeleng pelan.
Ia merasa masalah tentang Nyanyian Malam sudah cukup rumit.
Sekarang—
Ia juga harus menghadapi Festival Akademi.
Dan entah kenapa—
Ia punya firasat buruk.
Bahwa turnamen itu mungkin tidak akan berjalan senormal yang semua orang harapkan.