Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendakian Santai ke Pos Kedua
Dua minggu adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Li Fan untuk mulai merasa bosan dengan aroma keringat dan keputusasaan yang memenuhi udara di Pos Pertama. Baginya, menghabiskan waktu lebih lama di kaki gunung ini sama saja dengan membiarkan naga surgawi berendam di kolam pembuangan tinja. Energi spiritual di sini terlalu encer, nyaris tidak terasa bagi seseorang yang memiliki sembilan nadi surgawi yang haus akan Qi murni.
“Tianyu, kemasi barang-barangmu. Kita naik ke atas hari ini,” ucap Li Fan pagi itu sambil merapikan jubah sutranya yang masih licin tanpa kerutan.
Jin Tianyu yang sedang berlatih kuda-kuda di sudut kamar langsung berdiri tegak. Tubuhnya kini tampak jauh lebih tegap. Jika dua minggu lalu ia terlihat seperti bocah desa yang kekurangan gizi, kini otot-ototnya mulai terbentuk dengan proporsi yang atletis. Berkat teknik pernapasan Penguatan Tulang Harimau Langit, setiap napas yang ia ambil seolah memadatkan kalsium ke dalam tulangnya, membuatnya terlihat lebih tinggi dan lebih perkasa dari anak seusianya.
“Baik, Tuan Muda! Aku sudah siap sejak tadi malam!” jawab Jin Tianyu dengan semangat yang meluap-luap.
Keduanya melangkah keluar dari Paviliun Sayap Timur menuju jalur pendakian yang menghubungkan Pos Pertama dan Pos Kedua. Jalan setapak itu terdiri dari ribuan anak tangga batu yang licin, berkelok-kelok di antara tebing curam dan kabut abadi. Bagi calon murid biasa, pendakian ini adalah siksaan fisik yang bisa memakan waktu seharian penuh karena tekanan gravitasi spiritual yang semakin berat setiap kali mereka melangkah lebih tinggi.
Namun, bagi Li Fan dan Jin Tianyu, ini hanyalah sekadar jalan-jalan pagi yang menyenangkan.
Di sepanjang jalan, mereka banyak berpapasan dengan rombongan murid gagal yang sedang melakukan tugas sekte. Saat sosok Li Fan yang mengenakan jubah putih bersih muncul di tikungan, suasana mendadak menjadi hening. Para pemuda yang tadinya asyik mengobrol atau mengangkut kayu bakar segera menepi ke pinggir jalan dengan wajah pucat.
“Lihat, itu dia... si iblis tampar dari Hebei,” bisik salah satu murid gagal dengan suara gemetar.
“Ssst! Kecilkan suaramu! Jangan sampai dia mendengarnya atau gigimu akan berakhir seperti gigi Wang Hu!” balas temannya sambil menunduk dalam-dalam.
Li Fan hanya melirik sekilas ke arah mereka melalui sudut matanya. Ia merasa geli mendengar julukan baru yang diberikan orang-orang itu kepadanya. Iblis tampar? Sungguh selera penamaan yang sangat rendah. Wang Hu, yang dikenal sebagai salah satu dari sepuluh petarung terkuat di antara murid gagal, kini dikabarkan masih terbaring di tempat tidur dengan rahang yang harus diikat kain karena retak permanen.
“Dunia ini memang pelit dengan energi spiritual, tapi sangat murah hati dengan penyebaran gosip,” batin Li Fan sinis. Ia terus berjalan dengan langkah ringan, bahkan tidak terlihat terengah-engah sedikit pun.
Pendakian yang seharusnya memakan waktu lima jam itu berhasil mereka lalui hanya dalam waktu kurang dari tiga jam. Saat mereka akhirnya menginjakkan kaki di pelataran Pos Kedua, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih megah daripada sebelumnya.
Pos Kedua terletak di sebuah dataran tinggi yang luas, dikelilingi oleh hutan bambu ungu yang langka. Namun, daya tarik utamanya adalah sebuah sungai lebar berair biru jernih yang membelah dataran tersebut dan berakhir pada sebuah air terjun raksasa yang tingginya mencapai ratusan meter. Suara gemuruh air yang jatuh menghantam bebatuan di bawah menciptakan simfoni alam yang megah, sekaligus menyebarkan kabut dingin yang kaya akan Qi spiritual.
“Wah! Lihat itu, Li Fan! Air terjunnya sangat tinggi!” seru Jin Tianyu dengan mata berbinar-binar.
Li Fan mengangguk kecil. “Tempat ini lumayan. Setidaknya udaranya tidak lagi berbau seperti kemiskinan dan keputusasaan.”
Hal pertama yang dicari Li Fan bukanlah tempat meditasi, melainkan tempat makan. Perjalanan mendaki gunung dengan tubuh anak kecil berusia sepuluh tahun tetap saja menghabiskan kalori, dan perutnya mulai memberikan protes kecil yang tidak bisa diabaikan.
Mereka menemukan sebuah kedai bernama Paviliun Rasa Azure yang menghadap langsung ke arah air terjun. Li Fan melangkah masuk dengan gaya angkuh seorang tuan muda kaya raya, meskipun sebenarnya simpanan emas pribadinya sudah mulai menipis. Namun, Li Fan sama sekali tidak khawatir.
Tepat sebelum meninggalkan Pos Pertama tadi malam, ia sempat memberikan kunjungan perpisahan ke asrama kelompok Wang Hu. Dengan senyum paling ramah yang bisa ia tunjukkan, Li Fan telah melakukan pemerasan yang sangat sopan. Ia mengancam akan mematahkan kaki sepuluh orang itu satu per satu jika mereka tidak memberikan biaya kompensasi atas kerugian mental yang ia alami akibat gangguan makan mereka di kedai sebelumnya. Hasilnya? Kantong sutranya kini penuh sesak dengan keping emas hasil rampokan legal tersebut.
“Pelayan! Bawakan menu terbaikmu! Dan pastikan porsinya cukup untuk memberi makan seekor gajah!” seru Li Fan sambil melemparkan satu koin perak ke atas meja.
Dalam waktu singkat, meja kayu di depan mereka sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan mewah. Mulai dari daging rusa hutan yang dipanggang dengan bumbu madu, sup ikan sungai azure yang segar, hingga tumis rebung bambu ungu yang renyah.
Li Fan mulai makan dengan elegan, namun ia segera menyadari bahwa lawan bicaranya di seberang meja telah berubah menjadi mesin penghancur makanan. Jin Tianyu menyambar paha rusa dengan kedua tangannya dan mulai mengunyahnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Li Fan memperhatikan sahabatnya itu dengan dahi berkerut. “Tianyu, pelan-pelan sedikit. Daging itu tidak akan lari ke atas gunung sendirian.”
Jin Tianyu menelan daging di mulutnya dengan susah payah. “Maaf, Tuan Muda. Aku merasa sangat lapar. Sejak membuka gerbang pertama, perutku rasanya seperti lubang tanpa dasar.”
Li Fan tersenyum tipis. Ia mengamati fisik Jin Tianyu dengan saksama. Tubuh bocah itu benar-benar tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Latihan pernapasan Harimau Langit yang ia berikan sebenarnya bertujuan untuk memadatkan fondasi, namun sepertinya tubuh Jin Tianyu memiliki bakat fisik yang sangat rakus terhadap energi. Semakin banyak Qi yang ia serap, semakin besar kebutuhan nutrisi tubuhnya untuk membangun jaringan otot dan tulang yang lebih kuat.
“Baguslah kalau kau sehat. Makanlah sepuasmu. Uang Wang Hu masih cukup untuk memberimu makan sampai kau tumbuh sebesar gunung ini,” ucap Li Fan santai sambil menyesap tehnya.
Setelah perut mereka benar-benar penuh, Li Fan memanggil seorang pelayan kedai yang terlihat sudah cukup lama bekerja di sana. Ia meletakkan dua keping koin emas murni di atas meja, yang seketika membuat mata pelayan itu berbinar lebih terang daripada matahari siang.
“Tuan Muda yang terhormat, ada yang bisa saya bantu? Nama saya Ah-Fu, saya tahu segala seluk beluk tempat ini!” ucap pelayan itu sambil membungkuk rendah hingga hidungnya nyaris menyentuh meja.
Li Fan mengetukkan jarinya ke meja. “Katakan padaku, apa yang membedakan Pos Kedua ini dengan tempat sampah di bawah sana? Selain air terjun besar itu, apa yang dilakukan para calon murid di sini untuk menghabiskan waktu mereka?”
Ah-Fu segera menjelaskan dengan suara yang dikecilkan, seolah sedang membagikan rahasia negara. “Tuan Muda, Pos Kedua ini dikenal sebagai Tahap Pemurnian Tubuh. Di bawah sana, orang-orang hanya fokus membuka gerbang pertama. Tapi di sini, tantangannya jauh lebih berat. Apakah Tuan Muda melihat sungai di depan sana? Itu disebut Sungai Roh Azure.”
Li Fan melirik ke arah sungai biru yang tenang namun memancarkan aura dingin tersebut.
“Air sungai itu mengalir langsung dari mata air puncak gunung. Suhunya sangat dingin dan mengandung tekanan Qi yang cukup kuat. Calon murid yang ingin membuka gerbang kedua nadi spiritual biasanya akan berendam di sungai itu sambil bermeditasi. Namun, ujian yang sesungguhnya ada di bawah air terjun raksasa itu,” lanjut Ah-Fu.
“Air terjun?” tanya Jin Tianyu dengan mulut masih mengunyah rebung.
“Benar, Tuan Muda. Di balik tirai air terjun itu terdapat deretan gua-gua kecil yang disebut Gua Napas Naga. Tekanan air yang jatuh dari ketinggian ratusan meter itu bukan tekanan air biasa, melainkan tekanan Qi yang sangat masif. Jika seseorang mampu duduk bermeditasi di bawah hantaman air terjun itu selama satu jam tanpa pingsan, biasanya mereka akan langsung menembus gerbang nadi kedua atau bahkan ketiga,” jelas Ah-Fu dengan wajah serius.
Li Fan memicingkan matanya. “Hanya duduk di bawah air terjun? Kedengarannya terlalu sederhana untuk disebut ujian.”
Ah-Fu terkekeh canggung. “Tuan Muda mungkin belum tahu, tapi tekanan air itu sanggup meremukkan tulang orang biasa dalam hitungan detik. Kebanyakan murid gagal yang tinggal di sini hanya berani bermeditasi di pinggiran sungai. Hanya murid-murid jenius seperti Nona Lin Xueyan yang baru sampai kemarin lusa, dikabarkan sudah mencoba mendekati area tengah air terjun.”
Mendengar nama Lin Xueyan, ujung bibir Li Fan sedikit terangkat. “Oh, jadi gadis es itu sudah ada di sini, ya? Menarik.”
Ah-Fu kemudian melanjutkan penjelasannya. “Selain tempat latihan fisik, di Pos Kedua ini juga terdapat Arena Duel. Itu adalah tempat bagi para calon murid untuk melakukan spar atau bertarung secara resmi. Di sini, perkelahian dilarang keras kecuali dilakukan di atas arena. Barang siapa yang menang dalam pertarungan arena, mereka bisa merebut poin kontribusi atau bahkan koin emas dari pihak yang kalah. Itulah sebabnya banyak murid lama yang masih tinggal di sini untuk memalak para pendatang baru melalui jalur resmi.”
“Jadi di sini ada sistem judi legal, ya?” gumam Li Fan sambil mengelus dagunya. “Itu sangat efisien bagi mereka yang tidak ingin bekerja keras.”
“Satu hal lagi, Tuan Muda,” tambah si pelayan dengan nada lebih serius. “Di Pos Kedua ini, Tetua yang memimpin adalah Tetua Mo. Berbeda dengan Tetua Zhao di bawah yang agak santai, Tetua Mo dikenal sangat gila dengan aturan dan disiplin. Beliau sering berpatroli di hutan bambu ungu. Jika dia melihat ada yang bermalas-malasan atau melanggar aturan sekte, dia tidak segan-segan memberikan hukuman cambuk spiritual yang bisa membuat seseorang lumpuh selama seminggu.”
Li Fan mengangguk-angguk paham. Ia sudah mendapatkan gambaran yang cukup jelas. Pos Kedua adalah tempat untuk menyaring mereka yang memiliki ketahanan fisik dan mental. Meditasi di bawah air terjun adalah cara paksa untuk memperlebar meridian melalui tekanan eksternal. Bagi orang biasa, itu sangat berbahaya, namun bagi Li Fan, itu adalah tempat bermain yang sempurna untuk mempercepat proses asimilasi tubuh fana ini dengan jiwa agungnya.
“Terima kasih informasinya. Ini kembaliannya untukmu,” ucap Li Fan sambil memberikan satu koin emas tambahan, yang membuat Ah-Fu nyaris menangis bahagia.
Li Fan berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia menatap ke arah air terjun raksasa yang gemuruhnya menggetarkan tanah di bawah kakinya.
“Tianyu, kau dengar itu? Air terjun di Gua Napas Naga sepertinya tempat yang cocok untukmu mandi besok pagi,” ucap Li Fan sambil menyeringai.
Jin Tianyu yang baru saja menyelesaikan potongan daging terakhirnya mendongak dengan wajah penuh semangat. “Apapun perintah Tuan Muda, aku akan melakukannya! Jika air terjun itu bisa membuatku lebih kuat untuk melindungi Tuan Muda, aku akan duduk di sana sampai airnya kering!”
Li Fan tertawa lepas. “Jangan sampai kering, bodoh. Aku masih butuh air untuk menyeduh teh.”
Li Fan berdiri dari kursinya, menatap hamparan sungai yang luas di depannya. Di kehidupannya yang lalu sebagai Su Fan, ia telah melihat ribuan ujian yang jauh lebih mengerikan dari ini. Namun, ada kepuasan tersendiri saat ia merangkak dari bawah menggunakan kekuatannya sendiri. Tekanan Qi, persaingan antar calon murid, dan aturan sekte yang ketat ini hanyalah bumbu-bumbu penyedap dalam perjalanannya kembali menuju puncak langit.
“Dunia fana ini mulai terasa sedikit lebih menarik,” gumam Li Fan pelan. “Mari kita lihat seberapa kuat para jenius klan itu saat mereka berhadapan dengan seorang Putra Dao Ancestor dari Alam Dewa.”
Cerdas...
Lucu...