Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11:Jalan Menuju Gunung Hitam Dan Pengalaman Baru
Matahari pagi menyelinap melalui celah-celah atap gubuk yang rusak, menyebarkan cahaya hangat yang membangunkan Lira dan Kaelen. Mereka bangun dengan perasaan segar, meskipun tubuh mereka masih terasa sedikit pegal setelah perjalanan dan pertarungan yang melelahkan kemarin. Namun, semangat mereka membara. Mereka tahu bahwa mereka semakin dekat dengan tujuan mereka—Gunung Hitam, tempat di mana nasib dunia akan ditentukan.
Setelah membersihkan diri dan sarapan dengan sisa makanan yang mereka miliki, mereka mengemasi barang-barang mereka dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum meninggalkan gubuk itu, Kaelen menggunakan kekuatannya untuk memadamkan sisa bara api di perapian, memastikan tidak ada bahaya kebakaran yang bisa terjadi.
"Mari kita pergi, Lira," kata Kaelen, membuka pintu gubuk itu. "Hari ini, kita akan berjalan lebih jauh dari sebelumnya. Kita harus sampai di kaki Gunung Hitam sebelum matahari terbenam."
Lira mengangguk dengan tegas. "Ya, Yang Mulia. Saya siap."
Mereka melangkah keluar dari gubuk itu, dan segera memulai perjalanan mereka. Hari ini, cuaca tampak lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar terang di langit biru yang cerah, dan angin berhembus lembut, membawa aroma bunga liar dan daun segar. Pemandangan di sekitar mereka juga mulai berubah. Hutan yang lebat dan gelap perlahan-lahan berubah menjadi padang rumput yang luas dan hijau, dengan bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran di mana-mana. Burung-burung berkicau riang di antara dedaunan pohon, dan sesekali, mereka bisa melihat hewan-hewan kecil seperti kelinci dan tupai yang berlari melintasi jalan setapak.
Pemandangan yang indah dan damai ini membuat Lira merasa tenang dan bahagia. Untuk sesaat, dia hampir lupa tentang bahaya yang menanti mereka di depan. Dia hampir lupa tentang Malakar dan kekuatan gelapnya. Dia hanya ingin menikmati momen ini, menikmati keindahan alam dan kehadiran Kaelen di sisinya.
"Ini sangat indah, bukan, Yang Mulia?" kata Lira, tersenyum sambil memandang ke sekelilingnya. "Saya hampir tidak percaya bahwa di tempat yang begitu indah ini, tidak jauh dari sana ada kegelapan yang mengancam segalanya."
Kaelen tersenyum, menatap Lira dengan mata yang penuh dengan cinta. "Ya, ini sangat indah, Lira. Dan itulah sebabnya mengapa kita harus berjuang. Kita harus melindungi keindahan dan kedamaian ini. Kita tidak boleh membiarkan kegelapan menghancurkan semua yang baik dan indah di dunia ini."
Lira mengangguk setuju. "Anda benar, Yang Mulia. Kita harus berjuang sampai akhir."
Mereka terus berjalan, menikmati keindahan alam di sekitar mereka dan berbicara tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan. Mereka berbicara tentang Kerajaan Celestial, tentang kehidupan mereka di sana, dan tentang impian mereka untuk masa depan. Mereka berbicara tentang bagaimana dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik setelah mereka mengalahkan Malakar, dan tentang bagaimana mereka akan hidup bersama dengan bahagia dan damai.
Seiring berjalannya waktu, mereka mulai melihat bahwa jalan di depan mereka mulai menanjak naik. Tanah di bawah kaki mereka mulai menjadi lebih berbatu dan kasar, dan pohon-pohon di sekitar mereka mulai menjadi lebih sedikit dan lebih kerdil. Udara juga mulai terasa lebih dingin dan lebih tipis, menandakan bahwa mereka semakin tinggi dan semakin dekat dengan Gunung Hitam.
Perlahan-lahan, pemandangan indah yang mereka nikmati sebelumnya mulai hilang. Padang rumput yang hijau dan bunga-bunga yang berwarna-warni digantikan oleh tanah yang kering dan berdebu, dengan bebatuan hitam yang tersebar di mana-mana. Langit di atas mereka juga mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi abu-abu gelap, dan awan-awan hitam mulai berkumpul di puncak Gunung Hitam yang menjulang tinggi di depan mereka.
Suasana di sekitar mereka juga menjadi lebih hening dan mencekam. Burung-burung tidak lagi berkicau, dan hewan-hewan kecil tidak lagi terlihat. Hanya ada suara angin yang berhembus kencang, membawa debu dan pasir yang menabrak wajah mereka.
Kaelen dan Lira berhenti sejenak, menatap ke depan dengan perasaan campur aduk. Di depan mereka, Gunung Hitam menjulang tinggi dan megah, namun juga terasa sangat menakutkan dan gelap. Puncak gunung itu tertutup oleh awan hitam yang tebal, dan dari sana, asap hitam terus mengepul ke langit, menciptakan suasana yang suram dan gelap.
"Itu adalah Gunung Hitam," kata Kaelen, suaranya rendah dan serius. "Kita sudah sampai, Lira. Di sana, di puncak gunung itu, ada benteng tua tempat Malakar dan kekuatan gelapnya berada."
Lira menatap Gunung Hitam itu dengan perasaan cemas, tapi juga dengan perasaan berani dan bertekad. Dia tahu bahwa perjalanan mereka yang paling berbahaya baru akan dimulai. Dia tahu bahwa di sana, di Gunung Hitam, mereka akan menghadapi musuh yang paling kuat dan paling jahat. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian. Dia memiliki Kaelen di sisinya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa kuat.
"Kita harus pergi, Yang Mulia," kata Lira, suaranya tegas. "Kita tidak boleh menunda lagi. Kita harus segera naik ke puncak gunung dan mengalahkan Malakar."
Kaelen mengangguk setuju. "Ya, Lira. Mari kita pergi. Tapi ingat, kita harus sangat berhati-hati. Gunung Hitam ini penuh dengan bahaya dan jebakan. Kita harus tetap waspada dan tetap bersama-sama."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, mulai menanjak naik menuju Gunung Hitam. Jalan di depan mereka semakin curam dan sulit untuk dilalui. Mereka harus memanjat bebatuan yang licin dan tajam, dan mereka harus menghindari lubang-lubang yang tersembunyi di antara bebatuan. Udara di sini semakin dingin dan semakin tipis, membuat mereka sulit untuk bernapas. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus maju, didorong oleh tekad yang kuat dan rasa sayang satu sama lain.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang agak datar di tengah gunung. Di sana, mereka melihat sebuah gua besar yang terbuka lebar di sisi gunung. Dari dalam gua itu, mereka bisa merasakan aura gelap yang sangat kuat dan jahat, dan mereka bisa mendengar suara-suara aneh yang datang dari dalamnya.
"Itu pasti jalan menuju benteng Malakar," kata Kaelen, menunjuk ke arah gua itu. "Kita harus masuk ke sana."
Lira menggenggam pedang esnya dengan erat, merasakan jantungnya berdegup kencang. "Baiklah, Yang Mulia. Mari kita masuk."
Mereka berjalan mendekati gua itu dengan hati-hati. Saat mereka masuk ke dalam gua, suasana di sekitar mereka menjadi semakin gelap dan dingin. Dinding-dinding gua itu terbuat dari batu hitam yang kasar, dan di mana-mana, ada kristal-kristal hitam yang bersinar dengan cahaya yang redup dan gelap. Suara angin yang berhembus melalui celah-celah gua menciptakan suara melengking yang menyeramkan, dan dari kejauhan, mereka bisa mendengar suara geraman monster yang mengerikan.
Mereka berjalan perlahan-lahan melalui gua itu, mata mereka memindai sekelilingnya dengan waspada. Tiba-tiba, dari bayang-bayang di sudut gua, muncul beberapa monster yang mengerikan. Monster-monster itu memiliki tubuh yang besar dan berbulu hitam, dengan mata yang merah menyala dan gigi-gigi yang tajam. Mereka menggeram dengan ganas, siap untuk menyerang.
"Awasi dirimu!" teriak Kaelen, segera mengeluarkan pedang esnya.
Lira juga segera mengeluarkan pedangnya, siap untuk bertarung. Monster-monster itu segera menyerang mereka dengan ganas. Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Kaelen menggunakan kekuatannya untuk membekukan monster-monster itu, sementara Lira menggunakan pedangnya dan kekuatan cahaya emasnya untuk memotong mereka.
Pertarungan itu berlangsung sengit dan cepat. Monster-monster itu sangat kuat dan ganas, tapi Kaelen dan Lira lebih kuat dan lebih terampil. Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengalahkan semua monster itu. Monster-monster itu hancur menjadi debu hitam yang kemudian hilang di udara.
Kaelen dan Lira berdiri di tengah gua itu, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia. Mereka berhasil melewati satu lagi rintangan.
"Kamu hebat, Lira," kata Kaelen, tersenyum bangga. "Kamu bertarung dengan sangat baik."
Lira tersenyum, wajahnya memerah karena pujian Kaelen. "Terima kasih, Yang Mulia. Itu semua karena kita bekerja sama."
Mereka beristirahat sejenak di tengah gua itu, memulihkan tenaga mereka. Setelah merasa cukup kuat, mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui gua itu.