"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: TERIAKAN YANG PATAH
Seorang petani diseret keluar rumahnya sambil berteriak bahwa ia tak pernah menyentuh api—teriakannya patah oleh pukulan popor senapan.
Pukul lima pagi, langit masih gelap.
Dullah baru saja bangun untuk sholat subuh ketika suara itu memecah keheningan. Bukan suara azan. Bukan suara ayam. Tapi jerit.
Jerit laki-laki. Jerit ketakutan.
Ia melompat ke jendela. Membuka sedikit. Dari celah itu, ia melihat.
Lima centeng—anak buah Datuk Sulaiman—menyeret seorang lelaki keluar dari rumahnya. Rumah Mahmud. Petani di ujung kampung, bapak empat anak, tidak pernah terlibat apa pun.
"AKU TAK PERNAH! AKU TAK PERNAH SENTUH API!"
Jeritan Mahmud pecah di pagi buta. Tangannya meronta, tapi dua centeng memegangnya kuat. Istrinya berlari keluar, menarik baju mereka, memohon.
"Jangan! Dia tidak tahu apa-apa! Dia di rumah semalam!"
Samsul—kepala centeng, laki-laki bertubuh besar dengan cambuk di pinggang—melangkah maju. Tanpa bicara, ia mengayunkan popor senapan.
BUK.
Jeritan Mahmud berubah jadi rintihan. Darah mengalir dari pelipisnya. Tubuhnya lemas.
Istrinya menjerit. Anak-anak di dalam rumah ikut menjerit. Bayi yang baru lahir bulan lalu ikut menangis, suaranya kecil tapi menusuk.
"Bawa dia." Suara Samsul datar. "Yang lain cari bukti di dalam."
Centeng-centeng itu masuk ke rumah Mahmud. Suara barang jatuh, pecah, dan tangis anak-anak terdengar dari kejauhan. Lemari dibongkar. Kasur dirobek. Beras ditumpahkan ke lantai.
Istrinya hanya bisa menangis di luar, memeluk bayi yang digendongnya.
Dullah menutup jendela. Tangannya gemetar. Ia berlari ke belakang rumah, melompat pagar, menuju gudang Maringgih.
---
Di gudang, Datuk Maringgih baru selesai sholat. Ia duduk di kursi, membaca catatan dagang, tenang seperti air di telaga yang tidak pernah bergerak. Lampu minyak di sampingnya masih menyala, menerangi wajahnya yang teduh.
Dullah masuk terengah-engah. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahi. Pintu gudang dibuka keras, bunyinya mengagetkan dua karyawan yang sedang menimbang rempah di sudut.
"Tuan!" Napasnya memburu. "Tuan... mereka tangkap Mahmud!"
Maringgih tidak mengangkat wajah. Matanya masih pada catatan. Tangannya masih memegang pena.
"Mahmud? Petani di ujung?"
"Iya, Tuan. Dituduh bakar gudang. Mereka pukul dia. Bawa paksa. Istrinya menjerit-jerit, anak-anaknya nangis, bayi mereka ikut nangis—"
Maringgih diam. Masih membaca.
Dullah menunggu. Tangan kanannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak mengerti mengapa Tuan-nya tenang sekali. Di luar sana, orang tak bersalah dipukuli, dan Tuan-nya hanya duduk membaca catatan?
"Tuan... Mahmud tidak ikut kita. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya petani biasa. Istrinya baru melahirkan bulan lalu. Anaknya masih bayi, Tuan. Masih nyusu."
Maringgih melipat catatan itu perlahan. Meletakkannya di atas meja. Pena ditutup, diletakkan rapi di sampingnya.
"Kau pikir aku tidak tahu siapa Mahmud?"
Dullah tertegun. "Tapi Tuan—"
"Aku tahu Dullah. Aku tahu dia tidak ikut kita. Aku tahu dia tidak bersalah. Aku tahu istrinya baru melahirkan. Aku tahu anaknya masih bayi." Suara Maringgih pelan. Sangat pelan. Tapi berat. "Aku tahu semua."
"Lalu kenapa Tuan diam saja?!"
Maringgih menatapnya. Satu tatapan. Tidak marah. Tidak tinggi. Tapi dalam. Seperti sumur tua yang tidak terlihat dasarnya.
Dullah langsung menunduk. "Maaf, Tuan... saya bicara terlalu keras. Tapi saya... saya tidak tega, Tuan."
"Tidak apa." Maringgih berdiri. Berjalan ke jendela. Membuka sedikit. Dari celah itu, ia bisa melihat ke arah kampung—meski hanya asap tipis dari kejauhan. Mungkin rumah Mahmud, mungkin mereka bakar sesuatu.
Darah Maringgih mendidih. Tapi wajahnya tidak berubah.
"Dullah," suaranya pelan, "kau pikir aku takut ketahuan? Kau pikir aku takut pada Samsul? Pada Sulaiman? Pada VOC sekalipun?"
Dullah diam.
"Aku tidak takut, Dullah." Maringgih berbalik. Matanya tajam. Bukan marah. Tapi seperti baja yang ditempa. "Bukan pada mereka. Bukan pada siapa pun. Tapi aku harus memilih waktu yang tepat."
"Waktu yang tepat?"
Maringgih kembali ke kursinya. Duduk. Tenang. Mengambil cangkir kopi yang sudah dingin.
"Aku ingin melihat." Ia meneguk kopinya. Pahit. "Aku ingin melihat sejauh mana Sulaiman akan pergi. Aku ingin tahu apakah ia masih punya hati nurani, atau sudah mati total."
Dullah mengerutkan dahi. "Maksud Tuan?"
"Mereka punya tiga hari. Batas waktu dari VOC." Maringgih meletakkan cangkir. "Tiga hari aku akan lihat. Apakah Sulaiman masih bisa berhenti sendiri, atau harus aku yang hentikan."
"Tapi Tuan, Mahmud—"
"Mahmud akan selamat." Potong Maringgih tegas. "Aku jamin. Tapi belum sekarang."
Dullah diam. Tangannya masih mengepal. Dadanya naik turun.
Maringgih menatapnya. Untuk pertama kalinya, nada suaranya melunak.
"Dullah, aku tahu kau marah. Aku juga marah. Kau pikir aku tidak ingin ke sana sekarang? Kau pikir aku tidak ingin tarik Mahmud dari mereka?" Ia menghela napas. "Tapi kalau aku turun sekarang, mereka akan tahu aku yang membakar gudang."
Dullah mengangkat wajah.
"Bukan karena mereka pintar, Dullah. Tapi karena mereka akan curiga. Mereka akan bertanya, kenapa Datuk Maringgih yang turun? Kenapa ia peduli? Lalu mereka akan mulai menyelidiki. Lalu 30 orang itu—termasuk kau, termasuk Salim, termasuk semua keluarga kalian—akan dalam bahaya."
Ia berdiri. Berjalan mendekati Dullah. Meletakkan tangan di bahunya.
"Kau rela? Kau rela semua itu terjadi?"
Dullah menunduk. "Tidak, Tuan."
"Kalau begitu, tunggu. Sabar. Aku punya rencana."
---
Sepanjang hari itu, Maringgih tidak keluar dari gudang.
Ia duduk, membaca catatan, sesekali menulis. Tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya di kampung. Di rumah Mahmud. Di kepala yang berdarah. Di bayi yang menangis.
Jafar dan Kasim, dua karyawannya, bekerja dalam diam. Mereka tahu ada yang tidak beres. Tapi tidak berani bertanya.
Sore harinya, Dullah datang lagi. Wajahnya lebih tenang. Tapi matanya masih sembab.
"Tuan... mereka lepaskan Mahmud."
Maringgih mendongak. Pena di tangannya berhenti.
"Lepas?"
"Setengah mati dipukul, Tuan. Wajahnya bengkak. Tulang rusuknya mungkin patah. Tapi tidak ngaku. Akhirnya dilepas—tidak ada bukti." Dullah menghela napas panjang. "Istrinya menangis peluk dia. Anak-anaknya nangis. Bayinya ikut nangis. Tapi... setidaknya hidup."
Maringgih diam. Tangannya memegang pena—tapi tidak menulis. Matanya menatap kosong ke dinding.
Lama.
Akhirnya ia meletakkan pena. Membuka laci meja. Mengambil sekantung uang.
"Bawa ini." Suaranya pelan. "Kasih ke istrinya. Bilang sedekah dari orang tidak dikenal. Jangan bilang dari siapa."
Dullah menerima. Kantung itu berat. Isinya cukup untuk makan sebulan, mungkin lebih.
"Tuan... kapan?"
Maringgih menatapnya.
"Besok. Lusa. Tergantung Sulaiman." Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Langit mulai jingga, matahari hendak tenggelam. "Aku masih ingin lihat, apakah ia akan berhenti sendiri. Atau harus aku yang hentikan."
"Dan kalau ia tidak berhenti?"
Maringgih tersenyum. Senyum tipis. Tapi di matanya, ada api. Api yang selama ini dipendam, menunggu saat yang tepat.
"Maka aku akan turun. Dan semua orang akan lihat."
---
Malam turun.
Di rumah Mahmud, lampu minyak menyala redup. Hanya satu, di sudut ruangan. Mahmud terbaring di dipan bambu. Wajahnya bengkak, biru di sana-sini. Bibirnya pecah. Matanya hampir tertutup.
Istrinya duduk di samping. Sehelai kain basah di tangan, membasuh lukanya dengan hati-hati. Bayi di ayunan di sampingnya menangis—lapar, mungkin. Tapi ia tidak bisa menenangkan sekarang.
Anak-anak yang lain duduk di lantai. Diam. Hanya mata mereka yang bicara. Mata yang bertanya: Bapak kenapa, Bu?
Mahmud meraih tangan istrinya. Tangannya lemah, dingin.
"Maaf," bisiknya. Suara serak, hampir tidak terdengar.
Istrinya tidak menjawab. Hanya menangis. Air matanya jatuh ke tangan Mahmud, membasahi luka-luka itu.
Di luar, di balik jendela, Dullah berdiri sebentar. Ia menaruh uang di ambang pintu. Lalu pergi, menghilang dalam gelap. Tidak ada yang melihat.
---
Di kantor VOC yang darurat, Datuk Sulaiman duduk sendirian.
Lampu minyak di mejanya hampir habis. Api kecil berkedip-kedip, seperti nyawa yang hampir padam. Di depannya, secarik surat.
Surat dari Van der Berg.
Tangan Sulaiman gemetar saat membuka lipatannya. Kertas itu tipis, tapi terasa berat. Matahuruf Belanda tercetak rapi.
Aan: Datuk Sulaiman
Van: Van der Berg, VOC Posthouder
Ia membaca:
"Tuan Sulaiman,
De deadline nadert. U heeft nog drie dagen om de daders van de brand te vinden. Als u faalt, bent u persoonlijk verantwoordelijk voor de schade van duizend gulden. Uw nalatigheid zal worden gerapporteerd aan de Gouverneur-Generaal in Batavia.
Ik waarschuw u: VOC vergeet niet. En vergeet niet wie u betaalt.
Van der Berg"
(Kepada: Datuk Sulaiman
Dari: Van der Berg, Kepala Pos VOC
"Tuan Sulaiman,
Tenggat waktu semakin dekat. Anda punya tiga hari untuk menemukan pelaku pembakaran. Jika gagal, Anda pribadi bertanggung jawab atas kerugian seribu gulden. Kelalaian Anda akan dilaporkan kepada Gubernur Jenderal di Batavia.
Saya peringatkan: VOC tidak lupa. Dan jangan lupa siapa yang membayar Anda.
Van der Berg")
Tiga hari.
Sulaiman meremas surat itu. Tangannya gemetar hebat.
Ia memejamkan mata. Membayangkan wajah Mahmud. Wajah babak belur yang tidak bersalah. Wajah yang pagi tadi ia lihat sendiri.
Ini salah, bisik hati kecilnya. Ini salah. Dia tidak bersalah.
Tapi tekanan VOC terlalu besar. Seribu gulden. Laporan ke Batavia. Karier. Keluarga. Istri. Anak-anak.
Ia membuka mata. Menatap surat itu lagi.
Tiga hari.
"Maafkan aku, Mahmud," bisiknya. "Aku tidak punya pilihan."
---
Di gudang Maringgih, lampu masih menyala.
Maringgih duduk di kursi. Di hadapannya, peta kampung terbentang. Beberapa titik ditandai dengan arang—rumah Sulaiman, kantor VOC, pos-pos penjagaan.
Dullah masuk. "Uang sudah sampai, Tuan. Saya taruh di pintu, tidak ada yang lihat."
Maringgih mengangguk. Tidak mengalihkan pandangan dari peta.
"Tuan..." Dullah ragu. "Menurut Tuan, Sulaiman akan berhenti?"
Maringgih diam sejenak. Jarinya menelusuri peta, berhenti di satu titik.
"Dulu," ia memulai, suaranya pelan, "sembilan tahun lalu, ia menangis di depan rumahku. Kapalnya karam. Hutang menumpuk. Ia datang malam-malam, basah kuyup, gemetar. Ia bilang, 'Aku tidak akan lupa, Ringih. Suatu hari aku balas'."
Ia menghela napas.
"Aku percaya waktu itu. Aku kira ia akan jadi orang baik."
"Dan sekarang?"
Maringgih akhirnya mengangkat wajah. Matanya dingin. Tapi di balik dingin itu, ada luka. Luka karena dikhianati oleh kawan sendiri.
"Sekarang aku ingin lihat, apakah ia masih ingat. Atau jabatan sudah butakan mata dan telinganya."
"Dan kalau tidak?"
Maringgih tersenyum. Senyum yang sama seperti sore tadi. Tipis. Tapi api di matanya makin terlihat.
"Maka aku yang akan mengingatkannya. Dengan cara yang tidak akan ia lupakan."
Dullah tersenyum. Untuk pertama kalinya hari ini, dadanya lega.
---
Pagi datang.
Matahari terbit, kampung mulai ramai. Petani ke sawah. Ibu-ibu ke pasar. Kehidupan berjalan seperti biasa. Seolah kemarin tidak ada penangkapan. Seolah Mahmud tidak babak belur.
Di pasar, Datuk Maringgih berjalan tenang. Destar sutra di kepala. Baju hitam rapi. Keris di pinggang.
Ia membeli ikan. Membeli sayur. Menyapa pedagang. Wajahnya biasa saja. Tidak ada yang berubah.
"Selamat pagi, Datuk."
"Selamat pagi, Din. Ikan segar?"
"Segar, Datuk. Baru dari laut."
Di sudut pasar, dua centeng Sulaiman duduk minum kopi. Mereka melihat Maringgih. Berbisik.
"Itu Datuk Maringgih?"
"Iya. Cucu Kyai Agung Mahmud."
"Hati-hati sama dia. Konon kenal banyak pembesar di Batavia. Gubernur Jenderal pun mungkin kenal."
Maringgih tidak peduli. Ia terus berjalan. Tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi di dalam dadanya, api terus menyala. Menunggu waktu yang tepat.
Ia melewati rumah Mahmud. Melihat sekilas dari kejauhan. Pintu tertutup rapat. Tidak ada aktivitas.
Dua hari lagi, pikirnya. Dua hari lagi ia akan lihat.
Sulaiman, kawan lama, tunjukkan padaku. Apakah kau masih manusia. Atau sudah jadi algojo.
---
[Bersambung...]
---