Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Iren terkekeh pelan mendengar ucapan Kevin. Bukan tawa gugup, melainkan tawa orang yang yakin sepenuhnya bahwa ia sedang memegang kendali.
“Cerai?” ulangnya ringan. “Kevin, cukup untuk hari ini. Bercanda kamu sudah nggak lucu lagi.”
Kevin menatapnya, keningnya berkerut. Ia menunjuk ke arah dirinya sendiri, seolah tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
“Aku,” katanya pelan namun tegas, “bercanda?”
Nada itu sempat membuat Iren terdiam sepersekian detik. Namun ia segera menepisnya dengan helaan napas pendek, seolah semua ini hanya drama kecil yang akan berlalu seperti biasanya.
Kevin membuka mulut, hendak menjelaskan, hendak menegaskan bahwa kali ini berbeda. Namun ia tak diberi ruang.
“Apalagi, Kevin?” Iren menyela cepat. “Kamu itu rumahku. Empat tahun kita menikah. Aku tahu kamu sangat mencintaiku.”
Ia mendekat setapak, suaranya melunak, terlalu melunak bagi Kevin.
“Kalau kejadian di restoran tadi yang bikin kamu ngomong sejauh ini,” lanjutnya, “baik. Aku minta maaf.”
Kevin menghela napas berat. “Iren… kamu—”
“Sudahlah, Vin,” potong Iren lagi, kini nadanya mulai lelah. “Sejak kemarin kita terus bertengkar soal ini. Kamu nggak capek?”
Ia mengusap pelipisnya, lalu menatap Kevin dengan sorot mata yang mengandung tuntutan, bukan pengertian.
“Aku nggak mau tahu,” katanya tegas. “Besok kamu jadilah Kevin yang biasa. Kevinku. Jangan ribut lagi, jangan bahas ini lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Iren berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Kevin berdiri sendiri di ruang yang mendadak terasa asing. Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, tapi dampaknya terasa lebih keras daripada bentakan mana pun.
Kevin tetap berdiri di tempatnya. Rahangnya mengeras, dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa lagi ia sebut amarah.
Ia tertawa kecil, pahit.
“Kamu memang menganggap aku rumahmu,” gumamnya lirih. “Tapi aku bukan tujuanmu, Iren.”
Ia menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke depan.
“Jangan salahkan aku,” lanjutnya pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri, “kalau akhirnya aku memilih menyerah.”
***
Esok harinya Kevin mendapati Iren sudah rapi seperti biasanya. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya tenang, seolah pertengkaran semalam tidak pernah terjadi. Ponsel menempel di telinganya, suaranya terdengar rendah namun penuh kekhawatiran.
“Ka kamu sakit? Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?”
Kevin berhenti melangkah. Ia tidak berniat menguping, namun nada itu terlalu akrab untuk diabaikan.
“Baiklah aku akan ke sana,” lanjut Iren setelah jeda singkat. “Kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak pikiran. Aku akan ada untukmu.”
Panggilan itu berakhir. Iren menurunkan ponselnya lalu mengangkat wajah dan sedikit terkejut mendapati Kevin sudah berdiri tak jauh darinya, menatap tanpa ekspresi.
“Vin,” katanya cepat, seolah sudah menyiapkan penjelasan. “Kamu jangan salah paham. Tadi itu Vano.”
Kevin tetap diam malas untuk membalas setiap kata Iren.
“Dia sedang sakit,” lanjut Iren. “Di sini dia tidak punya siapa siapa, jadi dia menghubungiku dan minta tolong untuk menemaninya ke rumah sakit.”
Penjelasan itu mengalir lancar, terlalu lancar, seakan bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Kevin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan nada datar, “Oh.”
Iren terdiam. Ia jelas tidak menyangka respons sesingkat itu. Namun di saat yang sama, ia merasa lega karena Kevin tidak berdebat dan tidak menyita waktunya.
“Aku berangkat dulu,” ucap Iren, kali ini dengan nada sedikit ragu.
“Tunggu dulu,” cegah Kevin.
Iren berdecak pelan. Baru saja ia ingin bersyukur karena Kevin tidak membuat masalah, kini lelaki itu kembali membuka mulut. Ia hendak bicara, namun Kevin lebih dulu berkata.
“Ada dokumen yang perlu tanda tanganmu," tunjuk Kevin ke arah meja dimana dokumen itu berada.
“Dokumen apa?” tanya Iren penasaran, ia pun segera mengambilnya dan berniat membaca.
“Baca saja dulu sebelum pergi dan sebelum kamu tanda tangan,” jawab Kevin tenang.
Namun ponsel Iren kembali berdering. Notifikasi pesan dari Vano terus masuk tanpa henti seolah tidak sabar menunggu kedatangan Iren.
“Apa tanda tangannya tidak bisa ditunda sampai aku pulang?” tanya Iren ragu-ragu.
“Tidak,” jawab Kevin singkat. “Ini penting. Kamu tidak ingin aku mengganggumu kan.”
Iren menatap Kevin cukup lama lalu menurunkan pandangannya ke dokumen di tangannya. Ia tahu Kevin termasuk orang nekat. Jika keinginannya tidak segera dipenuhi, lelaki itu bisa saja mengganggu urusannya tanpa peduli situasi. Dan Iren tidak ingin waktunya terbuang saat mengurus Vano.
Tanpa membaca isinya, ia langsung membubuhkan tanda tangan di kolom atas namanya.
“Kamu tidak membacanya?” tanya Kevin alisnya terangkat sedikit.
“Untuk apa. Aku percaya sama kamu,” jawab Iren ringan. “Lagipula ini untuk keperluan rumah kan.”
Kevin hanya menarik sudut bibirnya tipis, dalam hati berkata, "Bagus."
Tak lama dokumen itu kembali diletakkan di atas meja. Tanpa menoleh ke arah Kevin, Iren berkata, “Baiklah aku pergi dulu.”
“Hm,” jawab Kevin singkat.
“Oh ya,” Iren berhenti sejenak. “Tolong titip ibu. Dia sedang tidak enak badan karena masalah semalam.”
Kevin berjalan melewatinya menuju dapur. “Itu ibumu,” katanya datar. “Kamu tidak merawatnya dulu?”
“Kevin…”
“Baiklah, baiklah,” potong Kevin. “Pergi sana.”
Iren berdiri beberapa detik di tempatnya, menunggu sesuatu yang tidak datang. Tidak ada larangan, tidak ada pertanyaan, tidak ada kecemburuan. Setelah itu ia melangkah pergi.
Saat pintu tertutup, Kevin menuangkan kopi ke dalam cangkir. Tangannya stabil, wajahnya kosong, seolah kepergian Iren bukan lagi sesuatu yang perlu dipikirkan.
Sambil menikmati kopi hitam kesukaannya, Kevin kembali membuka dokumen yang baru saja ditandatangani Iren. Pandangannya bergerak tenang menyusuri halaman demi halaman, memastikan setiap lembar berada di tempatnya.
Sudut bibirnya terangkat tipis. Dokumen itu berisi gugatan perceraian dan persetujuan pemindahan seluruh aset, termasuk saham yang diberikan pada Iren dulu. Semalam ia terima dokumen itu dari Nurma melalui surel pribadinya. Tadinya ia mengira akan sangat sulit membuat Iren menandatangani semua ini. Namun nyatanya begitu mudah, karena satu orang Iren lengah, siapa lagi kalau bukan Vano penyebabnya.
Kevin menyesap kopinya sekali lagi. Cairan hitam itu terasa lebih pahit dari biasanya, namun anehnya justru menenangkan. Seakan mengungkapkan apa perasaannya saat ini.
“Akhirnya aku bebas,” gumamnya pelan ada perasaan yang sulit untuk ia jelaskan secara gamblang.
Ia meletakkan cangkir ke meja, menatap dokumen di hadapannya dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan selama empat tahun terakhir. Bukan marah, bukan sakit, melainkan ringan. Seolah beban yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat.
“Empat tahun,” ucapnya nyaris tersenyum. “Ternyata semudah itu.”
Ia bersandar di kursi, menghela napas panjang. “Kamu selalu mengira memegang kendali, Iren. Padahal kamu sendiri yang menyerahkannya.”
"Akhirnya kita pisah juga," imbuh Kevin.
Saat Kevin merasakan kebahagiaan itu suara Fatwa terdengar, "Apa pisah?"