Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Janji Pertemanan
Area belakang gedung kelas 11 adalah tempat yang sempurna untuk bersembunyi.
Hanya ada deretan pohon akasia tua, tembok pembatas sekolah yang tinggi, dan hamparan rumput liar yang tertutup daun kering. Suara riuh rendah siswa lain yang sedang bersih-bersih di lapangan utama terdengar jauh, teredam oleh desau angin.
Aku menyapu daun-daun kering itu dengan gerakan ritmis. Srek. Srek. Srek. Efisien. Cepat. Tanpa banyak bicara.
Targetku sederhana: bersihkan area ini dalam 20 menit, lalu cari tempat sepi untuk tidur sampai jam pulang.
Tapi, rencana sederhana itu menjadi rumit karena satu variabel tak terduga: Zea.
Gadis berambut pendek itu tidak memegang sapu dengan benar. Dia lebih banyak melompat-lompat menghindari semut atau memungut daun yang bentuknya unik daripada membersihkannya.
"Cal, lihat deh! Daun ini warnanya gradasi dari kuning ke merah. Cantik ya?" celotehnya untuk kesekian kalinya.
Aku hanya bergumam "hm" tanpa menoleh, terus fokus pada tumpukan sampah daun yang mulai menggunung.
Lima menit berlalu dalam keheningan—setidaknya bagiku. Zea tampaknya bosan. Suara sapunya berhenti terdengar. Aku merasakan kehadirannya mendekat ke arahku, tapi aku tetap fokus menyapu.
Tiba-tiba, sesuatu yang ringan mendarat di atas kepalaku.
Aku berhenti, menyentuh benda itu. Sebuah lingkaran anyaman dari tangkai daun kering dan bunga liar kecil. Mahkota mainan.
Aku menoleh. Zea berdiri di sana sambil terkikik geli. Tangannya kotor oleh tanah, tapi wajahnya cerah sekali.
"Yang Mulia Raja Callen dari Kerajaan Daun Kering!" serunya teatrikal. "Gimana? Cocok kan sama wibawamu yang dingin-dingin empuk itu?"
Dia tertawa, menunggu reaksiku. Mungkin dia berharap aku akan tertawa balik, atau setidaknya tersenyum malu.
Tapi sistem di otakku merespons berbeda. Bagiku, ini adalah gangguan. Pekerjaan belum selesai, dan dia malah bermain-main.
Aku melepas mahkota daun itu, lalu meletakkannya di atas tumpukan sampah yang baru saja kusapu.
"Zea, bisa serius sedikit nggak?" tanyaku datar, menatap matanya lurus. "Kita di sini buat kerja bakti, bukan buat main drama TK. Kalau kamu nggak mau bantu, mending duduk aja di sana."
Tawa Zea terputus seketika.
Senyum cerahnya layu, persis seperti daun kering yang kuinjak. Bibirnya mengerucut, matanya yang tadi berbinar kini meredup. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya.
"Maaf..." cicitnya pelan. "Aku cuma mau bikin suasana nggak kaku..."
Melihat bahunya yang turun lemas, sesuatu di dadaku terasa... tidak enak. Rasa bersalah. Perasaan asing yang jarang muncul. Aku sadar aku terlalu keras. Dia bukan prajurit yang sedang kulatih, dia cuma remaja cewek biasa yang ingin bersenang-senang.
Aku menghela napas panjang, meletakkan sapuku.
Aku melangkah mendekat, berdiri di hadapannya. "Zea."
Dia tidak mendongak.
"Maaf," ucapku kaku. "Aku nggak bermaksud ngebentak. Aku cuma... terbiasa fokus kalau lagi ngerjain sesuatu."
Zea mengangkat wajahnya perlahan. Dia tidak menangis, tapi wajahnya terlihat kecewa. Dia menggeleng pelan, lalu memaksakan senyum tipis yang terlihat perih.
"Nggak apa-apa kok, Cal. Kamu bener. Aku yang kekanak-kanakan," jawabnya lirih. Dia kembali mengambil sapunya, berniat lanjut bekerja dalam diam.
Suasana menjadi canggung. Kami kembali menyapu selama sepuluh menit tanpa kata. Matahari mulai naik, jam menunjukkan pukul 09.30. Keringat mulai membasahi punggungku.
"Cal," panggil Zea tiba-tiba. Dia berhenti menyapu, bersandar pada batang pohon akasia.
"Hm?"
Zea menatapku lekat-lekat. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Bukan tatapan menggoda atau ceria, tapi tatapan menelisik.
"Kamu itu... beda banget ya dari cowok-cowok lain," ucapnya pelan. "Mungkin satu-satunya spesies langka yang pernah aku temui."
Aku mengerutkan kening, bingung. "Maksudnya?"
Zea tersenyum miring, meletakkan sapunya. Dia melangkah perlahan ke arahku.
"Biasanya nih ya," Zea mulai menjelaskan sambil menghitung dengan jarinya, "cowok seumur kita itu kalau deket sama cewek—apalagi cewek populer kayak aku—pasti tingkahnya kebaca. Ada yang caper, ada yang grogi, ada yang sok cool tapi matanya jelalatan, ada yang nyoba ngegombal..."
Dia berhenti tepat satu langkah di depanku.
"Tapi kamu..." Zea menatap mataku dalam-dalam. "Kosong. Tenang banget. Nggak ada gejolak, nggak ada usaha buat bikin aku terkesan. Lempeng aja kayak jalan tol."
"Itu karena aku nggak tertarik buat pamer," jawabku defensif.
"Bukan cuma soal pamer, Cal. Ini soal reaksi," bantah Zea.
Tanpa peringatan, Zea maju satu langkah lagi. Jarak kami habis.
Dia berjinjit sedikit, tangannya memegang kedua lenganku untuk menahan keseimbangan. Lalu, dengan gerakan perlahan namun pasti, dia menempelkan keningnya ke keningku.
Duniaku berhenti berputar.
Kulitnya terasa panas dan lembap oleh keringat, sama sepertiku. Aroma vanilla dari rambutnya menyeruak masuk ke indra penciumanku, begitu kuat, begitu dekat. Napas hangatnya menerpa daguku.
Mataku membelalak kaget, tapi tubuhku tidak bergerak mundur. Aku terpaku.
"Kamu ngerasain nggak?" bisik Zea, suaranya sedikit gemetar karena malu, tapi dia memaksakan diri bertahan di posisi intim ini.
"Jantungku... bunyinya keras banget, Cal. Dug-dug-dug. Kedengeran sampai kupingku sendiri," bisiknya lagi, matanya terpejam. "Kalau aku lakuin ini ke cowok lain—ke Kevin atau siapa pun—aku yakin jantung mereka bakal mau meledak. Tangan mereka pasti gemeteran, napas mereka bakal nggak beraturan."
Zea membuka matanya perlahan. Jarak wajah kami hanya beberapa senti. Mata cokelat indahnya menatap langsung ke dalam manik mataku yang hitam.
"Tapi kamu..." Zea menelan ludah. "Kamu tenang banget. Napasmu teratur. Jantungmu... aku bahkan nggak bisa denger suaranya. Kamu beneran manusia atau robot sih, Cal?"
Aku mendengar pertanyaannya, tapi mulutku terkunci.
Aku segera memegang bahu Zea dan mendorongnya pelan—sangat pelan—untuk melepaskan tempelan kening kami. Aku mundur dua langkah, memberi jarak aman.
"Cukup," kataku datar, membuang muka ke arah tembok sekolah.
Dalam hati, aku merutuk.
Zea salah. Jantungku tidak mati. Jantungku berdetak, mungkin sedikit lebih cepat dari biasanya. Tapi dia benar soal satu hal: Aku tidak bereaksi.
Pikiranku melayang ke Dojo bawah tanah di rumah Papa.
"Kendalikan napasmu, Callen! Jangan biarkan emosi menguasai detak jantungmu! Lawan bisa membaca ketakutanmu dari ritme napasmu!" teriakan Papa menggema di memori.
Bertahun-tahun latihan meditasi, kontrol pernapasan, dan pain tolerance telah mengubah sistem sarafku. Di saat orang normal panik atau grogi, tubuhku secara otomatis masuk ke mode "siaga dingin". Adrenalin tidak membuatku gemetar; adrenalin membuatku semakin tenang dan fokus.
Itulah kenapa aku tidak merona saat dia mendekat. Itulah kenapa tanganku tidak gemetar.
Bukan karena aku tidak punya perasaan. Tapi karena aku dilatih untuk membunuh perasaan itu sebelum sempat muncul ke permukaan.
Aku menoleh kembali ke arah Zea. Wajahnya merah padam sekarang. Dia menunduk, meremas ujung bajunya, terlihat sangat malu karena keberaniannya barusan.
"Zea," panggilku, suaraku kembali normal. "Apa pun yang barusan kamu lakuin... itu murni keinginanmu sendiri."
Aku menarik napas panjang.
"Aku deket sama kamu cuma karena kita satu kelompok Geografi. Aku berusaha bantu tugas kita, jadi anggap aja ini jasa profesional dari rekan kerja. Nggak usah bawa-bawa perasaan atau ekspektasi aneh-aneh."
Kata-kataku keluar lebih dingin dari yang kuduga. Aku bermaksud menetapkan batasan, tapi terdengar seperti penolakan mentah-mentah.
Zea tersentak. Dia mengangkat wajahnya. Rasa malu di wajahnya berganti menjadi kemarahan yang bercampur kesedihan.
"Kok kamu ngomong gitu sih?" suaranya meninggi. "Jasa profesional? Rekan kerja? Jadi di mata kamu, aku cuma tugas sekolah?"
"Emangnya kita apa lagi?" tanyaku balik, bodoh.
Zea melangkah maju lagi, kali ini dengan agresif. Dia menunjuk dadaku.
"Awalnya emang iya! Awalnya aku liat kamu sebagai beban karena omongan orang-orang!" seru Zea jujur, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi sekarang beda, Cal! Meskipun kamu anggep aku cuma rekan, aku pengen lebih dari itu! Aku pengen berteman sama kamu! Aku pengen kenal kamu yang asli, bukan Callen yang pura-pura jadi patung!"
Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Setelah tugas kelompok ini selesai... apa kamu bakal asing lagi sama aku? Apa kita bakal balik kayak orang nggak kenal kalau papasan di koridor? Aku nggak mau kayak gitu, Cal... Apakah itu nggak boleh?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Suaranya yang parau menusuk pertahananku lebih dalam daripada pukulan karate mana pun.
Aku terdiam. Merenung.
Kenapa dia begitu peduli? Aku cuma cowok ranking 30 yang kebetulan tahu sedikit soal parit. Kenapa dia—gadis yang bisa mendapatkan siapa saja di sekolah ini—malah memohon pertemanan dariku?
Tapi melihat air mata yang siap jatuh itu... aku sadar aku tidak bisa menjadi bajingan yang membiarkannya menangis.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata manis bukan keahlianku.
Melihat aku yang diam saja, Zea menyeka sudut matanya kasar. Dia mengangkat tangan kanannya, mengacungkan jari kelingking ke arahku.
"Janji sama aku," tuntutnya, suaranya bergetar tapi tegas.
"Janji apa?"
"Janji kalau setelah tugas kelompok ini selesai... kita bakal tetep kayak gini. Kamu nggak boleh ngejauh. Kamu nggak boleh pura-pura nggak kenal aku. Kita temenan. Titik."
Aku menatap jari kelingking mungil itu. Sebuah gestur kekanak-kanakan yang mengikat.
Jika aku menyambutnya, artinya aku membuka pintu bentengku untuk orang asing. Artinya kehidupanku yang tenang akan terganggu selamanya.
Tapi kemudian aku teringat ucapan Mam semalam. 'Tarik dia keluar dari guanya. Dia butuh teman.'
Dan mungkin... Zea benar. Mungkin aku memang butuh teman yang berisik seperti dia.
Perlahan, aku mengangkat tanganku. Aku mengaitkan jari kelingkingku yang kasar ke jari kelingkingnya yang halus.
"Baiklah," ucapku pelan, menatap matanya. "Aku berjanji, Zea."
Detik itu juga, awan mendung di wajah Zea sirna. Dia tertawa kecil di sela sisa air matanya. Dia menatap tautan kelingking kami dengan senyum manis yang merekah lebar—senyum yang, harus kuakui, membuat detak jantungku yang "hilang" tadi muncul kembali walau hanya satu ketukan.
"Awas kalau ingkar," ancamnya main-main, tapi matanya memancarkan kebahagiaan murni.
Di bawah pohon akasia, dengan mahkota daun kering yang terlupakan di tanah, sebuah ikatan baru saja terjalin. Ikatan yang mungkin lebih kuat daripada yang kami sadari.