"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: SERIGALA DI BALIK GERBANG
BAB 30: SERIGALA DI BALIK GERBANG
Hujan lebat mengguyur Jakarta malam itu, seolah langit sedang berusaha mencuci dosa-dosa yang tumpah di kediaman Adiwangsa. Di dalam ruang kerja Elvan yang kedap suara, Alana duduk termenung. Di depannya terdapat sebuah monitor yang menampilkan rekaman interogasi Bi Sumi. Hatinya hancur, namun api dendam kini mulai membakar sisa-sisa kesedihannya.
Ia mengusap pergelangan tangannya yang masih memar akibat borgol. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit mengetahui bahwa ayahnya Kenzo—pria yang seharusnya ia panggil "Papa"—adalah orang yang mendanai kehancuran mentalnya selama bertahun-tahun.
"Nona Alana," sebuah suara lembut memanggil dari arah pintu.
Alana menoleh. Itu adalah Bram, kepala keamanan pribadi keluarga Adiwangsa yang sudah bekerja bersama Elvan selama sepuluh tahun. Bram adalah orang yang melatih Alana menembak, orang yang selalu memastikan rute perjalanan Alana aman. Bagi Alana, Bram adalah sosok kakak sekaligus pelindung yang tak tergantikan setelah keenam kakaknya.
"Bram," Alana menghela napas panjang. "Bagaimana kondisi di rumah sakit? Apa Kenzo sudah bisa dipindahkan?"
Bram masuk dan berdiri di samping meja Alana. Wajahnya tampak lelah namun tetap waspada. "Tuan Kenzo dalam kondisi stabil, Nona. Tapi, ada kabar buruk dari penjara pusat. Raka dan Siska... mereka tidak benar-benar 'dihabisi' oleh Tuan Besar Dirgantara."
Alana mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Bukankah ayah Kenzo ingin melenyapkan mereka karena mereka saksi kunci?"
Bram menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman satelit rahasia. Di sana terlihat sebuah ambulans hitam meninggalkan area penjara melalui jalur belakang tepat sebelum unit pembersih Dirgantara masuk.
"Raka adalah rubah yang licik, Nona. Dia tahu Tuan Besar akan mengkhianatinya, jadi dia sudah menyiapkan rencana cadangan. Dia bekerja sama dengan pihak ketiga," ujar Bram dengan suara yang tiba-tiba merendah.
"Pihak ketiga? Siapa?"
Bram tidak menjawab. Ia justru mendekati jendela, menatap ke arah halaman rumah yang gelap. "Kadang, musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang membencimu terang-terangan, Nona. Tapi orang yang kau beri kunci pintu rumahmu karena kau pikir dia adalah perisaimu."
Alana merasakan firasat buruk. "Bram... apa yang sedang kau bicarakan?"
Tiba-tiba, lampu di ruang kerja itu mati total. Di tengah kegelapan, Alana mendengar suara klik dari senjata yang dikokang. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba meraih pistol di bawah meja, namun sebuah tangan yang kuat mencengkeram bahunya dan menekannya kembali ke kursi.
"Maafkan aku, Alana," bisik Bram di telinga Alana. "Tapi Wilhelm von Heist menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Elvan. Dia menjanjikan pengobatan untuk putriku di Jerman... pengobatan yang hanya bisa dibayar dengan darahmu."
Alana tertegun. Pengkhianat baru. Bram. Orang yang memegang semua sandi keamanan keluarga Adiwangsa.
"Kau... kau menjualku, Bram?" suara Alana bergetar karena murka. "Setelah semua yang kakakku lakukan untukmu?!"
"Elvan memberikan uang, tapi Wilhelm memberikan harapan hidup," Bram mengikat tangan Alana ke kursi dengan kabel nilon yang kuat. "Dan kau tidak perlu khawatir soal Raka dan Siska. Mereka sekarang berada di bawah perintahku. Mereka bukan lagi pion Wilhelm, mereka adalah algojoku."
Di Sebuah Pabrik Kimia Terbengkalai – Pinggiran Jakarta.
Raka Ardiansyah berdiri di depan sebuah tangki besar yang berkarat. Wajahnya yang dulu sombong kini dipenuhi luka parut, dan satu matanya tampak merah akibat gas saraf semalam. Di sampingnya, Siska berdiri dengan tatapan kosong yang mengerikan. Siska tidak lagi menangis; ia tampak telah kehilangan akal sehatnya dan berubah menjadi boneka pembunuh.
Siska memegang sebuah pisau lipat, menggores-goreskannya ke permukaan besi hingga menimbulkan suara ngilu yang memekakkan telinga.
"Kapan Alana sampai, Raka?" tanya Siska dengan nada datar yang menyeramkan. "Aku ingin memotong rambut indahnya itu... lalu aku ingin mengulitinya perlahan."
Raka tertawa, suara tawa yang jauh lebih gelap dari sebelumnya. "Sabar, Siska. Bram sedang membawanya ke sini. Kali ini tidak akan ada polisi. Tidak akan ada Kenzo. Kita punya waktu semalaman untuk bersenang-senang dengannya sebelum kita menyerahkannya pada Wilhelm."
Raka mengeluarkan sebuah botol berisi cairan asam pekat. "Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan segalanya. Aku ingin melihat wajah cantiknya hancur seperti masa depanku."
Kegilaan Raka dan Siska telah mencapai puncaknya. Mereka tidak lagi hanya ingin uang; mereka menginginkan penderitaan Alana sebagai tumbal atas kegagalan hidup mereka. Siska, yang dulu hanya pelakor manja, kini telah bertransformasi menjadi psikopat yang haus darah karena rasa irinya yang mendalam terhadap Alana.
Di Dalam Mobil yang Membawa Alana.
Alana mencoba melepaskan ikatan nilon di tangannya sambil terus menatap Bram yang menyetir di depan. "Bram, dengarkan aku. Wilhelm berbohong padamu. Dia tidak akan menyembuhkan putrimu. Dia akan menjadikan putrimu sebagai kelinci percobaan, sama seperti yang dia lakukan pada ibu dan adik Bi Sumi!"
Bram terdiam, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Diam kau, Alana! Kau tidak tahu apa-apa!"
"Aku tahu bagaimana Von Heist bekerja!" teriak Alana. "Kau sedang menyerahkan putrimu ke mulut harimau demi menangkapku! Elvan bisa membiayai pengobatan terbaik di Amerika, Bram. Kau tidak perlu melakukan ini!"
"Amerika tidak punya teknologi regenerasi sel yang dimiliki Wilhelm!" Bram membentak. "Sudah terlambat, Alana. Kita sudah sampai."
Mobil berhenti di depan pabrik kimia yang suram itu. Raka dan Siska sudah menunggu di pintu masuk dengan senyum yang mengerikan. Begitu pintu mobil dibuka, Siska langsung menjambak rambut Alana dan menyeretnya keluar.
"Hai, Nyonya Besar," desis Siska tepat di wajah Alana. "Merindukan aroma kemiskinan?"
Siska melayangkan tamparan keras ke wajah Alana, lalu menyeretnya masuk ke dalam pabrik. Di dalam, Alana diikat pada sebuah tiang besi di tengah ruangan yang dipenuhi tabung-tabung zat kimia berbahaya.
Raka mendekat, ia membawa sebuah kamera video. "Wilhelm ingin rekaman proses 'ekstraksi' ini. Dia ingin melihat ketakutan di matamu, Alana."
"Kau bajingan, Raka!" Alana meludah ke arah Raka.
Raka menyeka ludah itu dengan jarinya, lalu menjilatnya. "Darahmu terasa manis, Alana. Pantas saja semua orang menginginkannya."
Sementara itu, di Mansion Adiwangsa.
Kenzo, yang baru saja melarikan diri dari rumah sakit dengan bantuan Satya, tiba di ruang kerja Elvan. Ia menemukan ruangan itu berantakan dan Alana menghilang. Satya segera memeriksa rekaman CCTV rahasia yang tidak diketahui oleh Bram.
"Sial! Bram!" geram Satya. "Dia mematikan semua firewall dari dalam. Dia membawa Alana ke pabrik tua milik keluarga Dirgantara yang sudah tidak terpakai."
Kenzo memegang bahunya yang sakit, wajahnya memerah karena amarah yang tak terbendung. "Siapkan pasukan, Satya. Aku tidak peduli jika aku harus meruntuhkan pabrik itu. Malam ini, aku akan mengakhiri Raka, Siska, dan siapa pun yang berani menyentuh Alana."
"Tapi Kenzo, lukamu—"
"Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding apa yang akan aku lakukan pada mereka!" potong Kenzo. Matanya berkilat tajam, memancarkan aura predator yang sesungguhnya.
Kembali ke Pabrik.
Siska mulai mengambil sebuah pisau bedah, ia mengarahkannya ke pipi mulus Alana. "Bagaimana kalau kita buat tanda permanen di sini? Agar Kenzo tidak lagi mengenalimu."
Alana menatap Siska dengan berani. "Lakukan saja, Siska. Tapi ingat satu hal... setiap inci kulitku yang kau lukai, Kenzo akan membalasnya sepuluh kali lipat padamu."
Siska tertawa histeris, baru saja ia hendak menggoreskan pisau itu, suara ledakan terdengar dari pintu depan pabrik. Pintu baja itu roboh, memperlihatkan sosok Kenzo yang berdiri di tengah kepulan asap, memegang senapan laras panjang.
"Lepaskan dia," suara Kenzo bergema, dingin dan mematikan.
Bram segera mengarahkan pistolnya ke kepala Alana. "Jangan mendekat, Kenzo! Atau aku tembak dia sekarang juga!"
Raka tertawa gila di belakang Bram. "Lihat siapa yang datang! Pahlawan yang sedang sekarat! Siska, lanjutkan tugasmu! Biarkan dia menonton wanitanya hancur!"
Siska kembali mengarahkan pisau ke leher Alana. Situasi menjadi sangat genting. Alana menatap Kenzo, memberikan kode rahasia lewat kedipan mata yang pernah mereka pelajari saat di Jerman. Alana tahu, di bawah sepatunya, ada sebuah katup gas yang longgar.
"Sekarang, Kenzo!" teriak Alana.
Alana menendang katup gas tersebut dengan sekuat tenaga. Gas bertekanan tinggi menyembur keluar, membutakan pandangan Bram dan Siska untuk sesaat. Di saat itulah, Kenzo melepaskan tembakan yang tepat mengenai bahu Bram.
Kekacauan pecah. Pertempuran antara cinta, pengkhianatan, dan kegilaan meledak di dalam pabrik kimia itu. Namun, di tengah kekacauan, Raka berhasil menarik Alana menjauh, menuju ke lantai atas yang dipenuhi tangki asam.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang bisa!" teriak Raka sambil mencoba mendorong Alana ke dalam tangki terbuka.