Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suara bel pintu berbunyi memecah keheningan apartemen itu.
Lolitta berjalan menghampiri pintu dengan langkah tenang. Wajahnya kembali datar, tanpa emosi. Saat pintu dibuka, Dev sudah berdiri di sana dengan tatapan serius.
“Lolitta, apakah aku bisa masuk sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan,” tanya Dev pelan.
Tanpa menjawab, Lolitta membuka pintu lebih lebar lalu berbalik masuk. Ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa seolah tamu itu bukan siapa-siapa.
“Kenapa tiba-tiba saja datang ke sini? Sepertinya Tuan Zhang sangat luang sampai menemukan alamatku,” ucap Lolitta dingin tanpa menoleh.
Dev masuk dan menutup pintu. Ia menatap punggung gadis itu beberapa detik sebelum ikut duduk di sampingnya.
“Kenapa tidak beritahu aku kejadian ini? Berita hari ini… kau sengaja melakukannya?” tanyanya hati-hati.
Lolitta menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lurus ke depan.
“Ini masalah keluargaku. Sudah lama aku ingin melakukan ini,” jawabnya tenang.
“Demi balas dendam?” tanya Dev, meneliti wajahnya.
“Benar. Balas dendam harus dengan tanganku sendiri baru aku bisa puas. Melihat mereka jatuh dari ketinggian ini adalah keinginanku,” ujar Lolitta sambil menoleh ke arah Dev, “Apakah aku terlihat sangat kejam?”
Dev terdiam sejenak. Tatapannya melembut, bukan menghakimi, tapi memahami.
“Terjadi begitu banyak masalah, kenapa kau menanggungnya sendiri? Aku adalah tunanganmu. Seharusnya kau memberitahuku. Aku akan membantu asal kau mau membuka suara,” ucapnya pelan.
Lolitta tersenyum tipis, senyum yang tidak menunjukkan kebahagiaan.
“Membalas dendam adalah hal yang mudah bagiku. Aku ingin mengandalkan kedua tanganku untuk melakukannya. Jadi biarkan aku saja,” jawabnya.
Dev menarik napas panjang.
“Mengenai rumor yang tersebar sebelumnya… kau sengaja melakukannya untuk menghancurkan Ji Group?” tanyanya lagi.
Lolitta bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Ia menatap keluar, ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala.
“Iya. Aku memang berniat menghancurkannya. Aku tidak ingin mereka menikmati hasil keringat mamaku. Mereka bahagia di atas penderitaanku, hidup mewah di atas pengorbanan mamaku,” ungkapnya lirih namun penuh tekanan.
Dev berdiri dan memandang punggung gadis itu. Dari belakang, Lolitta terlihat begitu tegar… namun tidak tahu kenapa justru tampak sangat kesepian.
“Kakek sudah tahu?” tanya Lolitta tanpa menoleh. Tatapannya masih tertuju ke luar jendela, seolah kota di depannya jauh lebih menarik daripada percakapan ini.
“Sudah tahu. Kakek berharap aku bisa membantumu,” jawab Dev pelan.
Lolitta akhirnya menoleh. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.
“Tidak ada masalah. Aku sudah merencanakan semuanya dari awal. Tentu saja aku siap menghadapinya,” ucapnya mantap.
Dev memperhatikannya dengan saksama. Ada sesuatu dalam ketenangan itu yang justru membuat hatinya terasa berat.
“Setelah ini apa rencanamu?” tanya Dev
“Belum ada rencana lain. Aku mantan narapidana dan sekarang semua orang sudah tahu. Dev… bagaimana kalau kita batalkan saja pertunangan ini?” tanya Lolitta datar.
Dev langsung menggeleng pelan.
“Mereka telah memaksamu sehingga kau yang harus berkorban. Apa pun yang terjadi, pertunangan ini akan tetap dilanjutkan,” jawabnya tegas.
Lolitta menatapnya dalam.
“Apa kau tidak khawatir akan mencemarkan nama baik keluarga Zhang?” tanyanya.
“Ini urusan pribadiku. Publik tidak berhak menilai,” jawab Dev tanpa ragu.
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu.
“Baiklah. Lagi pula tidak ada yang tahu hubungan kita. Cukup hanya kita dan kakek yang tahu,” kata Lolitta akhirnya.
Dev melangkah mendekatinya.
“Apakah kau butuh bantuan dariku? Pengacara, atau apa saja?” tanyanya dengan nada tulus.
Lolitta menggeleng pelan.
“Bantu aku menenangkan kakek, itu saja. Untuk sementara ini aku tidak bisa keluar masuk rumah keluarga Zhang. Tolong sampaikan pada kakek kalau aku baik-baik saja,” jawabnya.
“Mengenai kakek, jangan khawatir. Lolitta, jangan merasa berutang padaku. Biarkan aku membantumu dan meringankan beban di pundakmu. Jangan menanggung semuanya sendiri,” ucap Dev lembut seraya menarik pinggang gadis itu dan memeluknya.
Lolitta terdiam. Pelukan hangat itu membuat dadanya yang sejak tadi terasa sesak perlahan mengendur.
"Setiap kali dia memelukku, aku selalu merasa aman… seolah semua bebanku tiba-tiba menjadi ringan, "batin Lolitta.
“Ingat satu hal,” lanjut Dev pelan di dekat telinganya, “kau tidak sendiri. Aku akan selalu di sisimu, mendukungmu.”
Belum sempat Lolitta menjawab, suara keras tiba-tiba memecah suasana.
“Lolitta Fang… apa kau sudah gila? Membuat keluargamu sendiri bangkrut dan mempermalukan mereka!”
Suara itu membuat keduanya refleks melepaskan pelukan dan menoleh.
Eric berdiri di ambang pintu, wajahnya dipenuhi amarah.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Shane cepat, mencoba menghalangi langkahnya.
“Jangan ikut campur! Aku ingin menemui wanita iblis itu!” hardik Eric sambil menunjuk ke arah Lolitta.
Belum sempat Eric melangkah lebih jauh, Dev sudah lebih dulu menghampirinya.
Bruk!
Satu pukulan keras dari Dev langsung membuat Eric terjatuh dan terkapar di lantai.
Ruangan itu mendadak sunyi. Shane terdiam, sementara Lolitta hanya menatap tanpa ekspresi.