NovelToon NovelToon
Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Dark Romance
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"

Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
​Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.

​Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.

​"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."

​Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 11: Hukuman untuk Sebuah Pembangkangan

​Gudang di bawah tangga itu tidak lebih luas dari kandang anjing. Ruangan itu lembap, berbau debu kayu yang menyesakkan, dan sama sekali tidak memiliki ventilasi.

Kegelapan di dalamnya begitu pekat sampai Elena tidak bisa melihat jemari tangannya sendiri meskipun ia meletakkannya tepat di depan mata. Suara hujan yang menghantam atap rumah terdengar seperti ribuan jarum yang menusuk telinganya.

​Elena meringkuk di sudut, memeluk lututnya yang gemetar. Gaun tidurnya yang basah kuyup kini terasa seperti kulit kedua yang membeku, menyerap panas tubuhnya hingga ia menggigil hebat. Setiap kali ia mencoba mengatur napas, dadanya terasa sesak karena debu dan rasa takut yang mencekam.

​Klik.

​Suara kunci diputar dari luar terdengar seperti suara petir di tengah keheningan. Cahaya kuning yang tajam tiba-tiba menyeruak masuk saat pintu dibuka sedikit, membuat mata Elena yang sudah terbiasa dengan kegelapan terasa pedih dan silau.

​Arkan berdiri di ambang pintu. Arkan sudah melepas jasnya, hanya memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di tangannya, Arkan membawa sebuah ember plastik berisi air yang tampak keruh.

​"Masih hidup, tikus kecilku?" suara Arkan terdengar begitu santai, namun penuh dengan kebencian yang mendarah daging.

​Elena tidak menjawab. Ia hanya berusaha mundur lebih jauh ke pojok gudang, meskipun punggungnya sudah membentur dinding kayu yang kasar.

​Arkan melangkah masuk. Ruangan yang sempit itu seketika terasa semakin sesak oleh kehadirannya.

Ia berjongkok di depan Elena, menatap istrinya yang berantakan dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Kamu tahu, Elena... aku benci kekerasan. Aku benar-benar ingin kita hidup tenang di rumah ini," ucap Arkan sambil mengulurkan tangan, mengusap pipi Elena yang kotor oleh tanah dan bekas air mata. "Tapi kamu selalu memaksaku menjadi monster. Kamu lari dariku, padahal aku sudah memberikan segalanya. Berlian, gaun, rumah mewah... apa yang kurang?"

​"Aku... aku cuma ingin melihat Ayah," bisik Elena dengan suara serak.

​"Ayah?" Arkan tertawa rendah. Tiba-tiba, ia menjambak rambut Elena, menariknya hingga wajah wanita itu mendongak paksa ke arahnya.

"Ayahmu sedang menikmati fasilitas terbaik dariku, dan kamu hampir saja menghancurkan semuanya dengan kebodohanmu! Karena kamu ingin kabur, maka kamu harus belajar bagaimana rasanya kehilangan kenyamanan."

​Tanpa peringatan, Arkan mengangkat ember yang dibawanya dan menyiramkan seluruh isinya ke tubuh Elena.

​Air itu bukan sekadar air biasa. Itu adalah air yang dicampur dengan es batu dan sedikit deterjen keras.

​Elena tersedak, rasa dingin yang ekstrem menghantam kulitnya yang sudah menggigil. Deterjen itu masuk ke mata dan luka-luka goresan di lengannya, menimbulkan rasa perih yang luar biasa seperti terbakar api di tengah es.

​"Aakh! Perih... Arkan, tolong... mataku perih!" Elena berteriak sambil mencoba mengusap matanya dengan tangannya yang juga basah.

​Arkan tidak peduli. Ia justru menekan kepala Elena ke dinding. "Itu agar kamu tetap terjaga. Aku tidak mau kamu tidur dengan tenang malam ini. Kamu harus merenungkan setiap langkah kakimu yang mencoba melarikan diri tadi."

​Arkan mengeluarkan ponselnya, lalu memutar sebuah rekaman video. Ia meletakkan layar ponsel itu tepat di depan mata Elena yang masih merah dan berair. Di layar itu, terlihat suasana sebuah kamar rumah sakit yang asing. Ayah Elena sedang terbaring di sana, dikelilingi oleh dua orang pria berwajah garang yang mengenakan seragam perawat, tapi tatapan mereka lebih mirip algojo.

​"Lihat mereka?" bisik Arkan. "Mereka bukan perawat biasa. Mereka adalah orang-orangku. Satu pesan dariku, dan mereka akan mencabut selang oksigen ayahmu. Kamu ingin aku menekan tombol kirim sekarang?"

​"Jangan... jangan, aku mohon..." Elena bersimpuh di kaki Arkan, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. "Aku janji tidak akan lari lagi. Aku janji akan jadi istri yang patuh. Tolong jangan sakiti Ayah..."

​Arkan mematikan ponselnya. Dia berdiri, menatap Elena yang kini bersujud di bawah kakinya dengan tubuh yang basah kuyup dan menggigil hebat. Arkan merasa berada di puncak dunia. Inilah yang dia inginkan; Elena yang hancur, Elena yang memohon, Elena yang tidak lagi memiliki martabat.

​"Bagus. Pertahankan sikap ini," Arkan berbalik menuju pintu. "Kamu akan tetap di sini sampai besok pagi. Tanpa selimut, tanpa makanan. Kalau aku mendengar suara tangisan lagi, aku akan benar-benar mengirim pesan itu ke rumah sakit."

​Brak!

​Pintu ditutup kembali. Kegelapan kembali menelan Elena. Namun kali ini, kegelapan itu terasa lebih berat karena rasa bersalah dan ketakutan akan nyawa ayahnya.

Elena meringkuk di atas lantai yang kini becek oleh tumpahan air deterjen. Kulitnya mulai terasa gatal dan panas, namun ia tidak berani bersuara. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan, membiarkan air matanya mengalir dalam keheningan yang menyiksa.

​Di sisi lain rumah, di ruang kerjanya, Arkan sedang menuangkan wine ke gelasnya saat Selin masuk dengan wajah cemberut.

​"Kenapa kamu harus mengurus pelayan desa itu sampai malam begini, Sayang? Biarkan saja dia di gudang," keluh Selin sambil memeluk leher Arkan.

​"Dia harus belajar, Selin. Barang yang mahal harus dirawat dengan disiplin agar tidak rusak," jawab Arkan sambil menyesap minumannya.

Tapi, pembicaraan mereka terputus oleh suara dering telepon rumah yang khusus untuk keadaan darurat keamanan. Arkan mengernyit, kemudian mengangkat gagang telepon itu.

​"Tuan," suara kepala pengawal di seberang sana terdengar panik. "Seseorang telah meretas sistem kamera pengawas kita. Semua layar berubah menjadi hitam selama sepuluh menit terakhir."

​Arkan berdiri seketika, wajahnya menegang. "Apa maksudmu? Periksa seluruh gerbang sekarang!"

​"Sudah kami periksa, Tuan. Gerbang masih terkunci, tapi... ada sesuatu di ruang tengah."

​Arkan segera meletakkan telepon dan berlari menuju ruang tengah, diikuti Selin yang kebingungan. Begitu sampai di sana, Arkan membeku.

​Di tengah lantai marmer yang tadi siang baru saja dibersihkan Elena, tergeletak sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam. Di atas kotak itu, tertancap sebuah pisau lipat yang sangat dikenal Arkan—pisau yang dulu sering digunakan Eros untuk mengukir nama Elena di pohon desa.

​Dengan tangan gemetar, Arkan membuka kotak itu. Di dalamnya bukan berisi ancaman tertulis, melainkan sesuatu yang membuat napas Arkan tercekat dan Selin menjerit ketakutan.

Di dalam kotak itu, terletak sebuah jam tangan mewah milik pria yang tadi menjaga Ayah Elena di rumah sakit, lengkap dengan noda darah yang masih segar, dan sebuah catatan kecil yang berbunyi:

​"Permainan rumah-tangga mu selesai, Arkan. Sekarang, giliran permainanku."

1
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cetirinya menarik
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
caeritanyabgus ka dan keren
smngat up kaka🤗
🧡⃟𝚉𝚑𝚘𝚞𝚔𝚎ͫ𝚌ᷴ𝚑ͫ𝚞ᷴ𝚗⁷
cerita bagus ka, penulisan juga rapi dan enak dipahami jdi gmpang kebawa isi novel
smngat up kaka🤗🤗
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
cerita luar biasa bagus ka
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
bagus karyanya ,sukses selalu untuk kaka
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴅͫᴏᷰᴜͫʙᷰᴇʟˢ🧡
ceritanya bagus, penulisan juga rapih
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
semoga Elena bisa selamat dari dendam msa lali wkwkwk
🍁🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏ❣️ѕ⍣⃝✰
aku mampir kak smeoga makin sukses skedepannya
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dan orang2 yg akan menghancurkan Eros bisa dikalahkan sama Eros .
Eve_Lyn: hehehe...nyaman bacanya bunda? baca novel aku yang judulnya gara2 biji kedondong aku menikahi tapir dong bund...itu komedi rumah tangga,,habis baca istri di atas kertas meluncur kstu sbgai penawar nya bund.hihihi
total 1 replies
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dari orang2 yg akan berbuat jahat pada Eros .
partini
penasaran lanjut Thor
Arin
Arkan ini sakit jiwa. Psikopat sebenarnya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjut thor
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ni orang ya.. pengen ku lempar pakai kayu tuh mulut rasanya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ku tampol juga ya mulutmu arkan
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
sabar ya elena ngadepin arkan
Ma Em
Mampir Thor , tapi sepertinya ceritanya membuat hati sakit dan deg2 an dgn nasib Elena , semoga Elena bisa menghadapi cobaan dgn sabar tapi jgn diam Elena hrs bisa melawan .
Eve_Lyn: terimakasih Bunda...iya bund..alurnya bakalan berkembang kok..tapi aku bakalan bawa pembaca ngilu sama penderitaan elena dulu hehehe...sekali lagi makasih yaa bund..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!