Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut salah bicara
Kejadian kemarin membuat Anisa tak akan menyiakan-nyiakan waktu saat berdua dengan James mumpung belum pergi keluar Anisa mendekat setelah sarapan.
"Ayah kemarin aku belajar bela diri dengan kakak dan paman Noah juga Rudolf dan tamu datang, ayah boleh izinkan kan aku berlatih beladiri... "
"Kau bisa?"
James hampir tidak mau mengikuti masalah itu tapi, Anisa mengungkitnya dan mengatakan untuk bela diri.
Sambil membaca korannya dengan kaca mata yang bertengger, tiba-tiba di lepasnya dan kembali melipat koran meletakkan di atas meja di samping kiri cangkir tehnya.
"Apa kau sungguh memilih dengan baik, Grey ingin membawamu kemarin?"
"Iya, aku sungguhan ingin bersama ayah.. Atau ayah yang bosan dengan Anisa?"
James tak bisa menjawab bosan ia malah sangat senang Anisa bersamanya.
"Kau menguping kan kemarin?"
Menghentak kakinya mendesah kesal tangan yang kesal memukul udara.
"Mengalihkan saja terus, ayah itu aku bertanya kenapa ayah terus mengalihkan pertanyaan sih!"
James seperti sedang di omelin ibunya.
"Iyaa baiklah, ayah tidak akan bosan dengan Anisa, ayah selalu berharap ayah hanya ayah Anisa saja, dan terimakasih jawaban kemarin Anisa memilih ayah, ayah tadinya khawatir kalo ayah tidak akan memilih ayah. "
"Ah yaa, aku ternyata beruntung ayah sangat baik dan manis hari ini."
Wajahnya sudah malu-malu dan badan yang berdiri seolah bergoyang lucu dengan tangan keduanya di belakang saling menggenggam.
Ah, ya sangat salah James bicara haruskan seperti hal lain.
"Tapi, kalo aku tidak memilih ayah?"
Anisa sudah sangat sombong jika jawaban James pasti akan sama manis dan memujinya.
"Tapi, yaa... Kalo Anisa tidak memilih ayah yaa aku akan cari putri lain yang lebih cantik dan penurut bahkan lebih lembut. "
Entah ada bau gosong dimana, James tak mau melihat wajah Anisa yang sudah terbakar.
"AYAHHHH!"
*****
Di ruang latihan juga ruang olah raga lumayan besar, Anisa belajar bela diri dari Canaria yang diawasi James dari sana.
"Jelek sekali pertahannya. "
"Ayah diam lah, aku sedang fokus kenapa malah ayah banyak bicara sekali!"
James terkekeh.
Beberapa bawahan yang tidak biasa melihatnya masih sedikit merinding.
"Tuan terkekeh?" Bisik mereka.
"Yaa."
"Tidak mungkin apa aku akan sakit besok?"
"Tidak mungkin, kau akan mati besok."
Rudolf dan Theo yang mendengar bisikan teman-temannya merasa harus diam di tempat tanpa tersenyum sedikitpun.
Selama latihan Anisa terus terlihat sangat takut sampai James merasa puas dengan wajahnya yang terlihat tetap santai menatap tajam.
"Cukup!"
Anisa hampir membuat masalah depan salah satu bawahannya masuk rumah sakit.
"Kau melecehkannya."
"Kata yang buruk ayah!" Tak terima.
"Lalu apa, kau hampir menendang bagian tengahnya dan kau juga hampir meninjunya dengan tangan kananmu."
Berkobar kesal matanya.
"Ayah banyak protes ya."
"Aku hanya menyelamatkan bawahanku, dari tingkah luar biasa mu."
Semuanya kembali ketempat dan yang tadi sempat membatu Canaria mengajar Anisa langsung membeku di tempatnya mendengar percakapan Tuan dan putri nya.
"Kau hampir kesakitan disana." Ejek temannya.
"Diam lah aku berhutang telur pada Tuan."
Keplakan keras di leher belakang dari Theo.
"Kembali ke barisan malah mengosip saja."
Hari berlalu dan suasana mansion kembali tenang tapi, tidak dengan taman di rumah yang hampir tertata rapi, malah terlihat hampir tak selesai di rapikan karena Anisa yang membuat air menggenang dimana-mana.
Asik bermain air tamu tak di undang datang saat James tak dirumah dan Anisa yang sedang bermain air di awasi Canaria dan dua pelayan nya seperti bisa tiba-tiba berhenti tertawa karena air yang di semprotkan pemancar otomatis.
"Apa ini yang di lakukan pekerja di rumah ini?"
Suara itu membuat para bawahannya James tertunduk diam.
"Kau siapa?"
Wanita tua yang sudah terlihat benar-benar sepuh dan satu asisten perempuannya selalu membantunya jalan dengan berpegangan tangan atau berdiri tiga langkah di belakangnya.
Terdiam di tempatnya sikap beraninya tiba-tiba menciut karena Anisa benar-benar tunduk pada tatapannya dan Anisa hanya bisa berani dan bersikap aneh-aneh hanya didepan James.
"A-aku, Saya Anisa... "
"Kau anak pelayan?"
"Ah buk... Iya... "
Mendekat di biarkan Canaria dan dua pelayan nya. Sol yang terlambat menyampaikan pesan berlarian mendekat ke taman dimana Nyonya besar datang untuk melihat Anisa dengan mata kepalanya setelah kemarin sempat di bahas di pengadilan kalo ternyata Anisa adalah salah satu anak angkat keluarga inti yang memiliki kekuatan telekinesis yang di sembunyikan negara.
Karena ini juga bisa membuat keluarga dalam masalah atau kematian yang cepat karena banyak orang yang tak suka dan ketakutan.
"Tidak bisakah kamu tidak bergetar, aku ini buyutmu juga, kau memilih James sebagai walimu, kau tidak mau ikut dengan keluarga ibumu kenapa?"
Terdiam kaget dalam hati akhirnya paham arti kedatangan orang ini dari apa yang di katakan ya.
"Apa ini aku akan di antar kesana, aku tidak mau kesana aku mau dengan mereka, aku sudah memakai nama Arthur Oceanus di belakang namaku, ayah yang memberikannya.. "
Segera menutup mulutnya, Anisa kelepasan bicara saking kerasnya menolak untuk pergi dari tempat ini.
"Kau terlihat menjijikan... Ganti bajumu, kita bisa di sana. "
Menunjuk Gazebo dengan bunga kertas dan mawar seperti atap dan tiangnya.
Kaget di katakan jijik tapi, Anis paham karena ia bermain kotor-kotoran sejak tadi.
"Ah iyaa, baik.. Aku akan segera menyusul. "
Melirik tajam mereka semua yang memperhatikan dan melirik tajam Sol yang menyambut Anisa dengan tangannya.
"Sol kau harus menceritakan apa yang terjadi di rumah cucu ku."
Anisa tak bisa tak kaget setiap mendengar suara nenek itu tapi, Anisa bingung juga harus bersikap apa, terakhir tadi bicaranya sangat memaksa angkuh dan berani juga.
Selama masuk dan berganti pakaian di temani Mina dan Nena. Anisa menatap keduanya dari pantulan cermin.
"Kak Mina... Aku harus memanggil nya apa?"
"Anda sangat gugup yaa Nona?"
Sambil tersenyum menyisir rambutnya.
"Yaa begitulah... Aku anak yang... "
"Nona anda sangat cantik dengan pita bukan mari saya pakaikan pita biru garis emas ini ya ?"
Nena mengalihkan kekhawatiran Anisa yang benar-benar terlihat diwajahnya dan mengatakan hal kalo ia anak haram atau adopsi.
Nena dan Mina benar-benar harus menyelamatkan diri mereka dari pemecatan tiba-tiba dan hilangnya kesempatan mendandani Anisa yang benar-benar menggemaskan juga cantik, kapan lagi yakan.
Kalo sampai Tuan mereka dengar Anisa mengatakan sendiri dengan mulutnya, jelas Tuan James akan mencari penyebabnya lalu pelayan yang tak berusaha mengalihkan dengan pembicaraan lainnya.
"Haah... Iyaa aku mau yang di kepang saja tapi pintanya di ujung nya. "
"Baiklah nonaku, semua akan siap. "
Setelah berdandan rapi dengan pakaian santai, rok panjang kemeja panjang yang tidak gerah dan rambut yang di kepang dengan pita biru garis emas.
Wajah yang tua itu melihatnya sedikit teringat cucu laki-laki dinginnya yang berjalan kemari, tapi bukan laki-laki melainkan perempuan.