Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 ‐ Rasa Posesif yang Datang
“Kalau tau namaku, kenapa tidak memanggilku begitu?.”
“Kak, kalau ada orang lain aku akan memanggilmu Sander. Kalau hanya kita berdua, aku akan memanggilmu Kakak, bagaimana?.”
Sander menghela nafas, apapun yang ia katakan sepertinya tidak berguna bagi Fasha
Tok, tok tok, tok tok tok.
Ketukan di pintu terdengar seperti kode rahasia. Sander, dengan rambut masih basah kuyup, membetulkan ikat pinggang jubah mandinya.
“Masuk.”
Sekilas, otot perutnya yang kencang terlihat.
'Wah… Lihat otot perutnya.. terlihat sangat menggoda!. Ah, andai saja aku bisa melihatnya lebih lama… bahkan mungkin menyentuhnya.'
Fasha berfikir beberapa saat lalu dengan suara imut ia berkata:
“Kak, aku tidak bisa menjangkau luka di punggungku. Apa yang harus aku lakukan?”
Fasha memegang salep, menatap wajah Sander dengan ekspresi penuh harap, seolah-olah kata tolong bantu aku tertulis jelas di dahinya.
Tanpa sadar, Sander menjepit ujung jarinya, lalu berkata dengan suara serak, “Kemarilah dan berbaring..”
Sander menepuk-nepuk sofa, seolah memberi kode agar Fasha duduk disana, namun wanita itu malah melepas piyamanya dan berbaring di atas tempat tidur besar itu.
Dia menatap Sander dengan sedikit cemberut.
“Kakak, bersikaplah lembut, ya? Aku takut sakit.”
Dengan kesal Sander menatap Fasha namun tak berkomentar lebih, ia memilih mendekati Fasha untuk mengobatinya.
“Di mana kapas penyekanya? Aku ingat Dokter Liam menaruhnya di sini.”
“Oh, pahaku juga tergores, ini sangat sakit, jadi aku tidak mengambilnya.”
Fasha hendak bergerak untuk memperlihatkan pahanya, tetapi begitu ia bergeser sedikit, Sander langsung menekannya kembali.
“Jangan bergerak.”
Sander memang sudah melihat lukanya sore tadi, tetapi di bawah cahaya sekarang, bekas merah yang menonjol itu tetap membuatnya mengerutkan kening.
Ia memencet botol salep sehingga cairannya keluar sedikit dan mengoleskannya perlahan dengan ujung jarinya.
Meski Sander sudah sangat berhati-hati, Fasha tetap gemetar, merasakan perih yang menusuk setiap kali tersentuh.
“Masih sakit?” tanya Sander pelan.
“Mmm…” suara Fasha tertahan. Ia menggigit bibirnya dan cepat-cepat menyeka air mata di sudut matanya.
“Kenapa tadi kamu tidak mengeluh saat di periksa?”
“Aku takut dipukul kalau bicara.”
Alis Sander terangkat. Gerakannya menjadi lebih lambat dan hati-hati.
Sander bingung dengan mood Fasha selalu mudah menangis saat berpura-pura menyedihkan, tetapi ketika rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan, dia justru keras kepala menahannya.
Ada rasa aneh yang muncul di hatinya—penuh dengan rasa posesif dan keinginan untuk memiliki yang semakin dalam dan tak terbendung.
Selama bertahun-tahun, Sander tak pernah merasakan hal seperti ini.
Fasha adalah orang pertama yang bukan hanya tidak ia benci, tapi juga membuatnya menemukan kepuasan halus hanya dari sentuhan saja.
“Hh…”
Desahan kecil Fasha menarik Sander kembali ke dunia nyata, seolah terbangun dari mimpi. Ia segera mengambil salep lagi dan mengoleskannya cepat ke bagian yang terluka.
“Jangan bergerak. Biarkan obatnya mengering.”
Keringat membasahi dahi Fasha. Ia sudah minum obat pereda nyeri dari Dokter Liam, tapi ketika ditekan langsung, rasa sakitnya tetap terasa jelas.
Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Sander sedang mencuci tangannya.
“Kakak, apa salepnya sudah kering?”
Kulit Fasha yang seputih porselen kembali menarik perhatian Sander. Ia meliriknya sekilas lalu menjawab pelan.
“Sudah.”
“Terima kasih, Kak.”
Fasha bangkit perlahan, menunduk sambil mengenakan pakaiannya.
Sebenarnya, dia ingin tetap di tempat tidur itu dan tidak bangun sama sekali.
Namun, terlalu lama juga tidak baik. Ia meraih salep dan bersiap pergi.
Baru beberapa langkah, ia tiba-tiba menoleh.
“Petunjuknya bilang tiga kali sehari. Jadi, Kakak harus membantuku lagi besok ya..”
Alis Sander berkedut. Ia merasa ini benar-benar bentuk penyiksaan bagi dirinya sendiri.
Namun entah mengapa, ia tidak bisa menolak permintaan Fasha.
Fasha yang keluar dari sana langsung tersenyum senang, 'Dia bahkan tidak menolak.. cepat atau lambat Sander pasti mencintaiku, kan?'
tetep semangat thoor/Angry/, jangan lupa istirahat minum vitamin