Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Wanita Bernama Masa Lalu”
Lampu kamera akhirnya mati.
Suara riuh wartawan mereda menjadi gumaman yang perlahan menjauh. Konferensi pers selesai, tapi ketegangan tidak ikut berakhir. Cessa masih bisa merasakan panas sorotan kamera di kulitnya, meski kini mereka sudah berada di lorong belakang gedung.
Benny tidak melepas genggamannya.
Tangannya hangat. Kuat. Seolah ingin memastikan Cessa benar-benar ada di sisinya.
“Kamu hebat,” ucap Benny pelan saat mereka berjalan berdampingan.
Cessa menghembuskan napas panjang. “Aku cuma jujur.”
“Dan itu lebih sulit daripada yang orang kira.”
Cessa menoleh sekilas. Tatapan Benny tidak lagi dingin seperti dulu. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana—kekhawatiran, kebanggaan, dan… ketakutan kehilangan.
Namun sebelum Cessa sempat berkata apa pun, langkah mereka terhenti.
Seorang wanita berdiri di ujung lorong.
Tegap. Elegan. Setelan hitam rapi membalut tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan ketenangan yang sulit ditebak.
“Ben,” panggil wanita itu lembut.
Tubuh Benny menegang seketika.
Cessa merasakannya.
“Diana,” jawab Benny singkat.
Nama itu jatuh seperti benda berat di antara mereka.
Diana tersenyum kecil. Tatapannya bergeser ke Cessa, menilai tanpa perlu berkata. “Jadi ini istrimu.”
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
“Iya,” jawab Benny tegas. Ia melangkah setengah langkah ke depan, nyaris refleks melindungi Cessa. “Ada yang bisa kami bantu?”
Diana mengangkat alis. “Tenang. Aku cuma ingin mengucapkan selamat.”
Cessa menatap wanita itu lurus. “Terima kasih.”
Nada Cessa sopan. Dingin. Tidak ramah, tapi tidak kasar.
Diana tersenyum lebih lebar. “Kamu berani. Berdiri di depan publik seperti itu.”
Cessa mengangguk. “Karena ini hidupku.”
“Menarik,” gumam Diana pelan.
Benny menghela napas. “Kalau nggak ada urusan bisnis, kami permisi.”
“Sebentar,” tahan Diana. Tatapannya kembali ke Benny. “Kita perlu bicara. Berdua.”
“Tidak,” jawab Benny cepat. “Apa pun yang mau kamu sampaikan, bisa di sini.”
Diana tampak terkejut—lalu tertawa kecil. “Sejak kapan kamu seperti ini?”
“Sejak aku menikah.”
Cessa merasakan genggaman Benny menguat. Dan untuk pertama kalinya sejak wanita itu muncul, ia tidak merasa kecil. Justru… tenang.
Diana menatap mereka bergantian, lalu mengangguk pelan. “Baik. Mungkin lain waktu.”
Ia melangkah pergi, tapi sebelum benar-benar menghilang, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh, “Hati-hati, Ben. Dunia nggak selalu sejujur itu.”
Kalimat itu menggantung lama setelah Diana pergi.
Di mobil, keheningan terasa berat.
Cessa menatap jalanan dari balik kaca jendela. Lampu kota berkelebat, tapi pikirannya tertinggal di lorong tadi.
“Kamu kenal lama sama dia?” tanya Cessa akhirnya.
“Partner bisnis,” jawab Benny. “Dan… masa lalu.”
Cessa mengangguk. “Aku nggak tanya lebih.”
Benny meliriknya sekilas. “Kamu marah?”
Cessa tersenyum kecil. “Kalau aku marah setiap ada wanita cantik dekat kamu, aku bakal capek sendiri.”
Jawaban itu membuat Benny menegang. “Aku nggak mau kamu merasa dibandingkan.”
“Aku nggak merasa,” balas Cessa jujur. “Aku cuma nggak mau dibohongi.”
Benny menelan ludah. “Aku janji jujur.”
Cessa menoleh. “Janji itu mudah. Menepatinya yang susah.”
Mobil melaju dalam sunyi.
Namun di balik ketenangan itu, sesuatu mulai bergerak.
Keesokan harinya, media kembali ramai.
Bukan tentang konferensi pers.
Bukan tentang pernikahan rahasia.
Melainkan tentang foto lama.
Foto Benny dan Diana makan malam berdua. Tertawa. Terlihat intim. Judul berita mencolok:
“CEO Setia atau Drama Segitiga?”
Cessa membaca berita itu di ruang tamu. Jarinya dingin. Dadanya mengeras.
Ia tidak langsung marah.
Ia lelah.
Benny pulang sore itu dengan wajah tegang. “Kamu sudah lihat?”
Cessa mengangguk. “Aku tahu itu foto lama.”
Benny terdiam. “Aku belum sempat jelasin.”
“Aku nggak minta penjelasan sekarang,” kata Cessa pelan. “Aku minta kejujuran.”
Benny mendekat. “Itu sebelum kamu.”
Cessa mengangguk lagi. “Aku percaya.”
Kata itu membuat Benny menatapnya tajam. “Kamu yakin?”
“Untuk sekarang,” jawab Cessa. “Tapi jangan uji.”
Keheningan kembali turun.
Ponsel Benny bergetar.
Nama Diana muncul.
Benny menatap layar itu lama.
Cessa melihatnya.
“Kamu mau angkat?” tanya Cessa tenang.
Benny menggeleng. “Tidak.”
Ia mematikan ponselnya.
Namun malam itu, pesan masuk bertubi-tubi. Dari nomor tak dikenal. Dari akun gosip. Dari orang-orang yang merasa berhak tahu.
Dan satu pesan, membuat napas Cessa tercekat.
Kamu yakin dia mencintaimu?
Atau kamu cuma pengganti sementara?
Nomor tak dikenal.
Cessa menatap layar lama.
Ia tidak menunjukkan pesan itu pada Benny.
Belum.
Di sisi lain kota, Diana duduk di ruang kerjanya. Lampu temaram. Segelas anggur di tangan.
Ia tersenyum tipis saat ponselnya bergetar.
“Langkah pertama selalu paling mudah,” gumamnya pelan.
Malam itu, Cessa berdiri di balkon rumah Benny. Angin dingin menyentuh kulitnya. Di belakangnya, Benny berdiri ragu.
“Kamu kenapa?” tanya Benny.
Cessa menoleh. “Kalau suatu hari aku ragu…”
Benny menegang. “Ragu apa?”
“Ragu apakah aku benar-benar dipilih,” lanjut Cessa lirih. “Apa yang akan kamu lakukan?”
Benny melangkah mendekat. “Aku akan yakinkan.”
“Dengan apa?” desak Cessa.
“Dengan tindakan,” jawab Benny tanpa ragu.
Cessa menatapnya lama. “Aku akan pegang itu.”
Ia berbalik masuk ke dalam.
Benny berdiri sendiri di balkon, menyadari satu hal yang tidak bisa ia abaikan lagi:
Ujian kali ini bukan tentang publik.
Bukan tentang usia.
Bukan tentang kontrak.
Tapi tentang kepercayaan—
dan seseorang yang berniat merusaknya.
Saat Cessa memilih percaya,
ada seseorang yang bertekad membuktikan bahwa kepercayaan itu salah.