NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sihir Penyamaran

Karena daya sihirnya semakin kuat, maka tidak perlu lagi berhemat. Sebelumnya, saat berada di lantai pertama, ia harus menahan diri dan menghemat energi. Setelah kekuatan meningkat, maka kini bisa dengan lebih leluasa menggunakan sihir.

Bola-bola api muncul dari udara kosong di depan telapak tangannya. Menembak ke arah para Gomon yang berada di sasaran tembaknya.

Sihir tanpa mantra yang dilakukan Rapphael, tidak semua orang bisa melakukannya. Kini hanya dengan sihir api, dapat mengalahkan Larva dan Larva Darah. Meski jumlah mereka lebih banyak, kini tidak perlu khawatir akan keselamatan dirinya.

Nyatanya, bukan hanya sihir bola api yang bisa dikendalikan. Jaring api, yang memungkinkan menjaring lebih banyak Gomon yang bermunculan. Jebakan yang dibuat sebelumnya juga sangat berguna.

"Ini sudah terlalu banyak, bukan?" Rapphael menyadari kekuatannya kini melesat semakin kuat. Bukan hanya sekedar meningkatkan daya sihir, kekuatan fisiknya juga telah melampaui orang biasa.

Lihat perubahan tubuhnya sendiri pada kristal-kristal yang terpapar di dinding. Selain sebagai penerang, itu juga memantulkan bayangan. Meskipun tidak sejelas cermin.

"Tubuhku juga berubah. Tidak seperti lima belas tahun lagi. Seperti dua tahun lebih tua sekarang."

Masa otot yang semakin kuat dan lebih baik, perkembangan teknologi tubuhnya begitu sempurna. Tinggi badannya pun bertambah sekitar sepuluh sentimeter. Sehingga ia sekarang sudah semakin dewasa.

Lantai dua sudah dilewatinya dalam waktu satu jam lebih. Membuatnya sudah cukup banyak menyerap level kekuatan. Sampailah dia di ujung lorong lantai dua. Lantai tiga sudah ada di hadapan mata.

Kaki berjalan melangkah ke lantai tiga Dungeon Swrisdk, menyalurkan sihir untuk perlindungan diri. Lantai ini lebih gelap dan lebih bau daripada lantai sebelumnya, dan udara di sini dipenuhi dengan bau darah yang kuat. Dia bisa mendengar suara berisik dan gerakan di sekitarnya, tanda bahwa ada banyak makhluk Dungeon di sini.

Tiba-tiba, beberapa ekor tikus besar muncul dari kegelapan. Mereka memiliki mata merah yang bersinar, dan gigi yang tajam. Mereka adalah Redrat, tikus darah yang sangat berbahaya.

"Redrat!" seru Rapphael, mengenali makhluk-makhluk itu. Dia tahu bahwa Redrat sangat cepat dan sangat agresif, dan mereka bisa mengeluarkan cairan darah yang korosif dari gigi mereka.

Redrat-redrat itu mulai menyerang, bergerak dengan sangat cepat. Rapphael melancarkan serangan. Namun dengan sihirnya, begitu mudah membunuh mereka. Tapi mereka sangat cepat, dan beberapa di antaranya hampir berhasil mengenai kulitnya.

Untungnya ia masih melindungi area sekitarnya dengan sihir pertahanan. Hal itu mengakibatkan tubuhnya mundur karena serangan mereka juga menimbulkan dorongan kuat.

Rapphael tersenyum, matanya bersinar dengan energi sihir. Dia mengangkat tangannya, dan angin mulai bertiup dengan kuat di sekitarnya. Redrat itu mencoba untuk menyerang, tapi angin yang kuat membuatnya terhenti.

"Api!" seru Rapphael, dan api mulai membakar di sekitarnya. Api itu membakar Redrat raksasa itu, membuatnya mengeluarkan suara keras.

Api itu membakar kulitnya, membuatnya merasa sakit dan tidak nyaman. Tapi para Redrat itu tidak menyerah. Mereka terus menyerang, mencoba untuk mencapai Rapphael. Pemuda itu mengangkat tangannya lagi, dan petir mulai menyambar di sekitarnya. Setelah dikeluarkan sihir petir, petir itu menyambar Redrat.

Redrat berukuran besar itu mengeluarkan suara berteriak lagi, dan jatuh ke tanah. Petir itu membuatnya kehilangan kesadaran. Hingga akhirnya mereka hangus dan berubah menjadi Batu Perl.

Rapphael berdiri di atas Redrat raksasa itu, pedangnya masih menyala dengan energi hitam. Dia tersenyum, merasa puas dengan pertarungan yang telah berlangsung.

Di Dungeon lantai tiga, warna Batu Perl adalah berwarna biru. Batu-batu itu tergeletak di lantai dan dengan sihirnya, Rapphael mengambilnya. Batu-batu Perl beterbangan ke arahnya dan tersimpan dalam ruangnya.

"Sedikit lagi sampai ke ujung lantai tiga." Rapphael kembali meminum ramuan untuk memulihkan kondisinya. Lalu bersandar pada dinding untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Sekali lagi, ia sudah semakin kuat dan semakin besar kemungkinan untuk melebihi kekuatannya di kehidupan sebelumnya. Lalu ia akan bisa menyelesaikan urusannya sendiri. Berlatih sihir yang belum bisa dipelajari pada kehidupan lalu. Namun ia harus mengingat tahap demi tahap.

"Baiklah ... istirahatnya sampai di sini saja." Sambil bersandar pada dinding, ia mengeluarkan sihir petir yang menyebar ke sekitarnya. Membunuh Gomon yang muncul di hadapannya.

Jalan menuju lantai empat sudah terlihat oleh mata. Dengan demikian, ia akan menemukan lantai baru untuk dijelajahi. Ia memasang ekspresi dingin dan melihat adanya tanda-tanda kematian.

Yap, ada potongan tangan yang sedang dibawa dan sedang disantap dengan rakus. Redrat-redrat itu semakin berisik ketika menemukan mangsa baru.

"Kemungkinan besar, itu tangan petualang yang ditinggalkan temannya. Padahal sudah di lantai tiga. Oke, sekarang saatnya menuju lantai empat."

Rapphael melangkah maju, setelah mengambil Batu Perl dari para Redrat di belakangnya. Dia tahu bahwa di lantai empat itu ada kelompok petualang. Sehingga ia harus hati-hati dan sebisa mungkin tidak bertemu.

Untungnya ia bisa menggunakan sihir penyamaran. Sehingga ia tidak akan dikenali orang lain. Ia ingat, untuk menyamar menjadi orang lain, harus membayangkan orang yang ingin dijadikan wajah barunya.

Dahulu, ia menggunakan sihir pengubah wajah dengan baik. Karena level sihirnya sudah semakin meningkat, maka ia bisa mengubah wajahnya menjadi orang lain. Lalu ia mengganti pakaiannya serta menggunakan tongkat dari tulang.

Memasuki lantai empat, ia akan berhenti jika merasa tidak mampu. Karena sudah tiga jam lebih ia berada di Dungeon, ia harus cepat kembali dan istirahat.

Tiba-tiba Rapphael mendengar suara berisik di sekitarnya. Dia menoleh, dan melihat beberapa ekor Redrat kecil muncul dari kegelapan. Tapi kali ini, mereka tidak menyerang. Mereka hanya berdiri di sana, melihat Rapphael dengan mata merah yang bersinar.

"Apa ini?" kata Rapphael, tersenyum. "Sepertinya aku telah menemukan sesuatu yang menarik. Aku harus tahu apa yang mereka inginkan."

Rapphael melangkah maju, mendekati Redrat kecil itu. Mereka tidak bergerak, hanya melihatnya dengan mata merah yang bersinar. Rapphael bisa merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada sesuatu yang tidak beres.

Tiba-tiba, salah satu Redrat kecil itu berbicara. Suaranya lembut, tapi membuat Rapphael merasa tidak nyaman.

"Kami telah menunggu kamu, Tuan," kata Redrat kecil itu. "Kami memiliki sebuah pesan untukmu. Ini dari tuan dungeon ini."

"Bodoh ... kalian pikir, dengan mengendalikan Redrat ini, bisa menipuku? Kalian menganggap ku anak kecil?"

Rapphael kemudian melancarkan serangan. Karena dalam ingatannya, tidak ada Gomon yang bisa berbicara. Bahkan ketika ia mencapai lantai terakhir, pun. Pada akhirnya itu hanyalah ulah dari penyihir pengendali.

Untungnya Rapphael menggunakan Sihir Penyamaran. Sehingga tidak ada yang mengenalinya lagi. Ia menerawang dan melihat sekelompok Hunter yang sedang menjebaknya.

Serangan terhadap Redrat yang dikendalikan, membuat pengguna sihir pengendali memuntahkan darah. Bahkan Batu Perl yang dihasilkan bermutasi. Yang seharusnya Batu Perl berwarna biru berukuran sedang, kini warna birunya semakin gelap dan ukurannya lebih kecil.

***

1
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!