Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 11
Di sebuah jalanan sepi yang jarang dilewati orang, Cao Yi duduk bersila di bawah pohon tua berbatang besar. Akar-akarnya mencuat dari tanah, seolah mencengkeram bumi dengan kukuh, sama seperti gadis itu yang tengah menenangkan nafasnya. Udara di sekitarnya terasa dingin dan berat. Kabut hitam tipis berputar perlahan di sekeliling tubuhnya, menyatu lalu menghilang ke dalam pori-pori kulitnya. Itu adalah sisa energi kehidupan dua Pendekar Guru Awan Mengalir yang ia bunuh semalam. Energi itu tidak berontak, tidak pula liar. Semuanya terserap dengan patuh, seolah kematian itu sendiri mengenali siapa pemilik sahnya.
Cao Yi membuka matanya perlahan sambil menghembuskan nafas hangat yang tampak seperti uap putih di tengah udara dingin. Ia merasakan aliran energi itu menetap di dalam pusaran energinya, namun raut wajahnya tetap datar, tak menunjukkan kepuasan sedikit pun.
"Baru sebanyak sembilan energi Qi," batinnya dalam hati. "Sepertinya aku membutuhkan setidaknya sepuluh Pendekar Tingkat Guru untuk bisa benar-benar memiliki modal yang cukup untuk mengimbangi seorang Pendekar Guru Agung."
Bagi kebanyakan pendekar di dunia ini, Tenaga Dalam adalah segalanya. Ia adalah sumber kekuatan, fondasi setiap teknik bela diri, dan ukuran utama status sosial seseorang. Setiap kelipatan dua puluh Tenaga Dalam menandai satu kenaikan tingkat yang signifikan, sebuah hukum alam yang telah mapan selama ribuan tahun dan nyaris tak pernah berubah. Namun, hukum itu tidak berlaku bagi Cao Yi. Ia tidak menggunakan Tenaga Dalam yang biasa dikumpulkan oleh para pendekar. Ia menggunakan energi yang jauh lebih kuno dan mengerikan bernama Qi.
Satu energi Qi miliknya setara dengan dua puluh Tenaga Dalam murni. Energi ini sangat padat dan jauh lebih sulit dikendalikan daripada aliran energi biasa. Qi tidak bisa dilatih dengan meditasi pernapasan biasa, tidak pula bisa dipadatkan dari energi alam secara sembarangan, apalagi hanya dengan mengkonsumsi pil-pil penambah tenaga yang dijual mahal di pasaran.
Qi miliknya memiliki sifat predator. Ia harus direbut dari energi kehidupan seseorang, menyerap esensi keberadaan mereka, lalu dimurnikan melalui proses yang menyakitkan menjadi Qi sejati. Cara lainnya yang lebih ekstrim adalah dengan menyerap racun-racun paling mematikan di dunia, sebuah teknik warisan dari seorang dewa bernama Liu Bai dan tidak mungkin dikuasai oleh orang lain.
Sambil mengatur sirkulasi energinya, Cao Yi teringat pada ayahnya, Cao Xiang. Sang ayah adalah seorang Pendekar Guru Suci yang disegani dengan sekitar delapan puluh Tenaga Dalam. Sosoknya adalah pilar kekuatan kerajaan yang tak tergoyahkan di medan perang.
Sementara itu, Mantan Jenderal Ziang Guang, sang Pendekar Guru Agung, memiliki hampir seratus Tenaga Dalam, sebuah angka legendaris yang membuat hampir seluruh perguruan di negeri ini memilih untuk menundukkan kepala demi keselamatan mereka.
Namun, jalan kultivasi Cao Yi jauh lebih terjal. Jumlah Qi yang ia miliki memang terlihat sedikit, bukan karena ia lemah, melainkan karena harga untuk mendapatkan satu tetes Qi saja terlampau mahal. Untuk mendapatkan satu energi Qi, ia harus mengonsumsi esensi kehidupan dari sepuluh pendekar dengan tingkat yang setara dengannya. Jika ia membantai pendekar dengan tingkat yang lebih rendah, maka jumlah nyawa yang harus serap akan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Itulah sebabnya setiap langkah kenaikan kekuatannya selalu diiringi oleh genangan darah dan aroma kematian.
"Jika aku bisa menyerap setidaknya lima Pendekar Guru Suci," gumamnya lirih dengan suara yang nyaris tertelan angin, "mungkin aku sudah memiliki sepuluh energi Qi yang stabil. Tapi ini terlalu sulit."
Ia membuka mata sepenuhnya dan menghentikan meditasinya. Kabut hitam yang tadinya menari-nari di sekeliling tubuhnya kini memudar, menyatu kembali ke dalam pori-porinya seolah-olah fenomena mistis itu tak pernah terjadi. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu dari jubahnya yang berwarna gelap.
"Aku harus segera pulang," katanya pelan pada dirinya sendiri. "Kabar pertempuran di Lembah Teratai pasti sudah tersebar luas ke seluruh pelosok negeri. Ayah pasti sudah mendengarnya, dan aku tidak ingin dia khawatir terhadap ku."
Baru saja Cao Yi menjejakkan kakinya ke tanah untuk melakukan lompatan ringan, udara di sekitarnya tiba-tiba berdesing tajam. Suara itu adalah pertanda maut yang sudah sangat ia kenali. Sebuah anak panah yang dilapisi Tenaga Dalam berwarna biru melesat cepat ke arah pelipisnya, membawa niat membunuh yang murni dan menusuk.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, Cao Yi hanya mengangkat tangan kanannya dengan gerakan yang terlihat sangat lambat namun presisi.
Tang!
Anak panah itu tertangkap dengan sempurna di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Getaran dari anak panah itu masih terasa kuat, berusaha menembus pertahanannya, namun gerakan Cao Yi tetap tenang, nyaris terlihat malas. Dengan satu sentakan pergelangan tangan yang halus, anak panah itu melesat kembali ke arah asalnya dengan kecepatan yang justru jauh lebih tinggi daripada saat ditembakkan semula.
Klang!
Suara benturan logam terdengar keras saat sebuah pedang menepis anak panah itu di udara. Tak lama kemudian, seorang pendekar tua muncul dari balik semak-semak yang rimbun. Ia berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, meskipun pedang di tangannya masih sedikit bergetar akibat benturan barusan. Tatapannya penuh dengan kebencian mendalam yang tidak berusaha ia sembunyikan.
Cao Yi menatap sosok itu sekilas, lalu sebuah senyuman tipis yang dingin mengembang di bibirnya.
"Seorang Pendekar Guru Suci?" katanya dengan nada santai seolah sedang menyapa kawan lama. "Sepertinya kali ini aku benar-benar dijadikan target utama oleh Perguruan Awan Mengalir."
Pendekar sepuh itu mendengus dingin, kumis dan rambutnya yang memutih berkibar tertiup angin yang tiba-tiba menjadi kencang. Aura di tubuhnya terasa sangat padat, memancarkan tekanan Tenaga Dalam yang membuat dedaunan di sekitar mereka bergetar hebat.
"Dewi Kematian," ucapnya dengan suara berat dan serak. "Kau telah membunuh dua tetua Awan Mengalir kami. Hari ini, kau tidak akan bisa melarikan diri. Kau harus membayar nyawa mereka dengan setiap tetes darah di tubuhmu!"
Cao Yi mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit terang. Perlahan, warna matanya yang hampir hitam normal mulai berubah. Warna merah darah yang pekat perlahan menyelimuti pupilnya, memberikan kesan mistis sekaligus mengerikan.
"Hanya dengan kemampuanmu?" tanyanya pelan. Suaranya terdengar merdu namun mengandung ejekan yang menusuk tulang. "Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau sendirian mampu menumpahkan darahku, Tetua?"
Pendekar tua itu tertawa keras, sebuah tawa yang penuh dengan percaya diri dan kemenangan yang prematur.
"Hahaha! Tentu saja aku tidak sebodoh itu, gadis kecil!"
Tawanya belum sepenuhnya berhenti ketika bayangan-bayangan lain bermunculan dengan sangat cepat dari segala penjuru mata angin. Satu, dua, tiga... dalam sekejap mata, sembilan sosok tambahan telah mengepung Cao Yi, membentuk lingkaran rapat yang nyaris tanpa celah. Aura mereka saling bertumpang tindih, menciptakan sebuah medan tekanan yang bisa membuat pendekar biasa pingsan seketika.
Empat di antara mereka memancarkan tekanan kuat khas Pendekar Guru Suci, sementara enam lainnya berada di tingkat Pendekar Guru biasa. Tak cukup sampai di situ, puluhan murid muncul di kejauhan di atas dahan-dahan pohon, menarik busur panah dengan anak panah yang sudah berpendar oleh lapisan Tenaga Dalam yang tajam.
Cao Yi menyapu pandangannya ke sekeliling dengan ketenangan yang tidak wajar bagi seseorang yang sedang dikepung maut.
"Empat Guru Suci dan enam Guru biasa," ia menghitung dengan nada datar sambil tersenyum tipis. "Sepertinya Tetua Besar kalian benar-benar sangat dendam padaku sampai-sampai harus mengerahkan kekuatan sebesar ini hanya untuk satu orang."
Asap hitam mulai keluar dari tubuh Cao Yi. Awalnya terlihat lembut dan tipis, namun perlahan menjadi semakin tebal dan terasa sangat berat bagi siapa pun yang menghirupnya. Aura kematian yang murni mulai menyebar ke radius sepuluh meter, membuat beberapa murid pemanah di kejauhan tanpa sadar menelan ludah dengan susah payah. Tangan mereka mulai gemetar hebat, meski mereka tidak berani menurunkan busur karena perintah tegas dari atasan mereka.
Cao Yi berdiri tegak di pusat kepungan tersebut. Ia tampak kecil dan rapuh di antara para pendekar perkasa itu, namun kehadirannya justru terasa paling mendominasi. Di balik tatapan matanya yang merah darah, tersimpan ketenangan dingin seorang predator puncak yang sudah terbiasa berdiri di atas tumpukan mayat musuh-musuhnya.