Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7- sisi lain Arlan (1)
Aluna pun melangkah pergi diikuti Belva dan Sesya. Di belakang, Lyra hanya menatap punggung Aluna dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
kring-kring-kring
Bel yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua para murid sudah berbunyi, semua siswa dan siswi SMA Garuda berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Koridor yang tadinya sepi mendadak berubah menjadi lautan manusia yang berisik.
Bel pulang sekolah akhirnya benar-benar berakhir. Arlan menghela napas panjang, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik setelah perdebatan panjang dengan Aluna di kantin tadi. Tanpa menunggu Barra atau Darrel, dia langsung menuju parkiran, menghidupkan mesin motor sport hitamnya, dan melesat membelah kemacetan kota.
Tujuannya bukan rumah, melainkan sebuah bangunan minimalis dengan kaca besar di sudut jalan yang tenang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, motor sport hitam Arlan berhenti tepat di depan sebuah bangunan dengan desain industri minimalis yang elegan. Di papan namanya tertulis "The Last Bean" dengan lampu neon putih yang estetik.
Arlan turun dari motornya, membuka helm, dan menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena angin.
The Last Bean adalah cafe milik Arlan, yang dia dirikan sejak SMP kelas 9 , meskipun Arlan keturunan keluarga crazy rich.
Arlan tidak pernah ingin menggantungkan hidup pada nama besar keluarganya. Baginya, The Last Bean adalah identitas aslinya, sebuah kerajaan kecil yang ia bangun dengan keringat sendiri tanpa campur tangan aset sang ayah.
Ia melangkah masuk melalui pintu samping khusus staf. Suasana tenang dengan aroma kopi yang kuat menyambutnya. Beberapa barista yang sedang bertugas hanya mengangguk hormat; mereka sudah paham jika Bos mereka sedang dalam mode kaku, berarti jangan diganggu.
Arlan naik ke lantai dua, menuju sebuah ruangan kedap suara dengan pintu kayu ek yang kokoh. Di depannya terpasang papan kecil bertuliskan Private Office Authorized Personnel Only.
Di dalam, Arlan melempar tas sekolahnya ke sofa kulit. Ia melepas kemeja seragamnya, menyisakan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuhnya, lalu menggulung lengan kaus itu hingga memperlihatkan jam tangan perak yang berkilat. Ia duduk di kursi kebesaran, menyalakan tiga monitor besar yang langsung menampilkan arus kas, manajemen stok, dan grafik penjualan real-time.
Namun, fokusnya teralih ketika layar monitor paling kiri yang menampilkan CCTV area kasir menunjukkan sesosok gadis yang sangat ia kenal.
Arlan menyandarkan punggungnya di kursi kerja, matanya masih tertuju pada layar CCTV. Ia melihat Aluna, Belva, dan Sesya memilih tempat duduk di pojok ruangan, tepat di bawah lampu gantung yang estetik. Aluna tampak tertawa lepas sambil sesekali membenarkan anak rambutnya, terlihat jauh lebih tenang daripada saat ia mengamuk di kantin tadi siang.
Dreet- dreet- dreet
Telepon genggam milik Arlan berbunyi, menandakan ada telefon yang masuk. Arlan melirik layar ponselnya yang tergeletak di atas meja jati. Sebuah nama tanpa identitas muncul di sana, hanya deretan angka yang diakhiri simbol tengkorak kecil. Ia menghela napas, aura tenangnya sebagai pemilik cafe seketika menguap, digantikan oleh tatapan tajam yang dingin dan mematikan.
Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya," jawab Arlan singkat. Suaranya kini lebih rendah dua oktav, penuh otoritas.
Arlan mengakhiri panggilannya dengan tatapan yang sangat dingin. Ia memutar kursi kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan Aluna sedang asyik memakan croissant di lantai bawah.
Suara di seberang telepon tadi adalah Barra yang di dunia luar dikenal sebagai wakil ketua geng motor The shadow. Kabarnya, anak-anak The Garden baru saja memprovokasi anggota mereka di perbatasan wilayah barat dan menantang duel balap maut di jalur bypass tengah malam nanti.
Arlan meletakkan ponselnya, matanya kembali tertuju pada layar CCTV. Aluna tampak sedang menyeka krim croissant di sudut bibirnya sambil tertawa lebar. Tatapan Arlan melembut sesaat, namun segera berubah menjadi tajam kembali. Ia tidak pernah ingin Aluna, atau siapa pun di sekolahnya, tahu bahwa di balik figur Ketua OSIS yang gila aturan, ia adalah pemimpin The shadow, geng motor paling disegani di kota ini.
Arlan bangkit, berjalan menuju sebuah lemari rahasia di balik dinding kayu ruangannya. Di dalamnya tergantung jaket kulit hitam dengan bordir sayap gagak perak di punggungnya. Ia segera mengenakan perlengkapannya, menyembunyikan identitas di balik topeng kegelapan.