Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Nafis begitu sibuk mengoreksi laporan bulanan dari beberapa butik cabang miliknya. Dia patut bersyukur hampir semua butiknya mengalami perkembangan yang cukup bagus. Memang hanya butiknya yang di pati saja yang sedikit mengalami minus dalam pemasukan. Nafis tidak terkejut karena tau apa permasalahan di sana.
" Memang ada baiknya butik itu aku lepas. Aku hanya perlu memindah beberapa karyawan yang memang bagus kinerjanya selama ini "
" Nikmatilah selagi kalaian masih punya kesempatan tapi, hari di mana kamu benar-benar menikah lagi, maka jangan salahkan aku jika semua kenikmatan selama kita hidup berdampingan aku cabut " ucap Nafis sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.
" San kamu bisa keruanganku sebentar ?" Ucapnya melalui sambungan telfon.
" Baik bu "
Pintu ruangannya diketuk, dia tau itu pasti Santi.
" Masuk San ?"
" Ada apa bu, apa ada laporan yang salah ?"
" Duduk San, ada yang mau aku diskusiin sama kamu " Santi menurut.
" San, kondisi butik kita yang di Pati benar-benar mengkhawatirkan bulan ini. Karena apa kamu juga tau kan, menurutmu bagaimana baiknya ?"
" Sebenarnya penjualan di sana termasuk yang paling bagus bu, kalau mau kita tutup sangat sayang bu, kasian juga karyawannya bu ?'
" Kamu benar San tapi, kalau mau kita pertimbangakan harus di pikirkan bagaimana caranya tetap stabil "
" Maaf bu, ini cuma sekedar saran saya saja. Bagaimana kalau kita buat skenario seolah ibu menjual butik itu. Dengan begitu pak Hanafi dan ibunya tidak akan berani berbuat semaunya di sana ? "
" Usul kamu bagus San "
" sekalian kita beri sedikit shock terapi ke mereka bu ?"
" Bagaimana caranya San ?"
" ibu serahkan saja ke saya."
" Ya sudah, asal jangan aneh-aneh yang ujungnya malah membahayakan keselamatan kamu"
" Siap bu "
Ponsel Nafis berdering, sedkitit terkejut saat mendapati nomer Farid yang dia simpan waktu pria itu mengantar putra-putrinya datang ke kliniknya untuk konsultasi.
" Siapa bu, kok nggak di angkat ?"
" kepo kamu ya "
Tak mau membuat kliennya menunggu terlalu lama, Nafis segera mengangkat panggilan itu.
" Assalamu'alaikum benar ini dengan mbak Nafis ?" Ucap Farid.
" Wa'alaikum salam, betul "
" Alhamdulillah kalau begitu, ini mbak Nafis sedang ada di Magelang atau di Jakarta ya ?"
" Saya kebetulan sedang ada di Magelang mas, mohon maaf ada apa ya, apa terjadi sesuatu dengan kak Satria dan Kak Anin ?"
" Alhamdulillah mereka baik mbak Nafis, Saya hanya ingin konsultasi masalah anak-anak saja mbak Nafis, ingin tau sejauh mana perkembangan anak-anak '
" Bagaimana ya mas Farid, kebetulan ini saya sedang tidak di Jakarta ?"
" Apa mbak Nafis sedang di Magelang ?"
" Iya Mas Farid, baru kemaren saya kembali dari Jakarta "
" Kebetulan hari ini saya sedang di Magelang, baru selesai syuting. Apa mbak Nafis ada waktu ?"
" Ya Allah njenengan sedang di Magelang ya, bisa mas Farid yang ke tempat saya atau bagaimana ?"
" Sepertinya saya ketempat mbak Nafis saja, bisa tolong share location tempat mbak Nafis ?"
" Oya boleh mas, mohon di tunggu sebentar "
Setelah mengirim alamat kliniknya Nafis segera menuju klinik miliknya yang letaknya sebelahan dengan butik. Tak lupa dia meminta karyawannya menyiapakan jamuan untuk tamunya.
" Memang tamunya siapa bu, kayak istimewa banget sih ?"
" Tamunya dari jauh San, makanya musti kita jamu "
" Lagian bukan biasa juga begini ya kalau ada tamu " Santi hanya nyengir sembari berlalu.
" Bu ada yang mencari ibu di bawah ?" Ucap Revi karyawan Nafis yang berjaga di bagian resepsionis.
" Iya Rev.."
Nafis segera mengikuti langkah Revi ke lantai satu. Senyum Nafis terkembang menyambut tamunya. Sementara beberapa karyawannya terlihat heboh saat tau tamu bosnya adalah artis terkenal.
" Assalamu'alaikum mbak nafis. Maaf saya datangnya membawa rombongan begini "
" Wa'alaikum salam, tidak apa mas Farid. Monggo silahkan masuk."
" Hay kak Nafis kita bertemu lagi ya ?" Nafis terkejut melihat Agas salah satu pasiennya ternyata ikut dalam rombongan Farid.
" Alhamdulillah jadi tau tempat saya yang disini ya ?"
" Adem kak di sini, enak buat sejenak menjauh dari hiruk pikuk lokasi syuting "
" Monggo silahkan masuk semua " Nafis mengarahkan tamunya menuju lantai dua rukonya.
" Silahkan duduk , maaf cuma begini tempatnya "
" Wah kak Nafis ini mah keren banget lho " Ucap Miranti adik seklaigus managernya Farid.
" Kenapa luas banget bagaian atasnya kak ?"
" Ini dua ruko kita gabung Mir, kalau yang bawah kan di bagi dua, untuk butik dan kantor "
" Jadi butik sebelah punya kak Nafis juga ?" Nafis tersenyum sembari mengangguk.
" Psikiater iya, nulis novel iya, ngisi seminar iya masih ngurus butik juga, kapan istirahatnya kak "
" Kan ada team Mir ?"
Dua orang karyawan Nafis, datang menyajikan minuman dan beberapa makanan. Beruntung ruko milik Nafis ini tidak jauh dari pusat penjualan aneka makanana ringan dan kudapan.
" Wah jadi merepotkan ini " Ucap Farid.
" Tidak kok, hanya makanan kecil dan ini ada buah salak fres baru tadi pagi di petik dari kebun ibunya Rahma karyawan saya ini "
" Wah mantap , salak dari daerah mana ini bu Nafis ?"
" Dari srumbung pak " Rahman mewakiliku menjawab karena jujur akau tidak paham rumah Rahma di daerah mana.
" Lho mbaknya asli sana ?" Rahma mengangguk.
" Mas Ahmad paham ya daerah Magelang ?"
" Iya bu Nafis kebetulan ibu saya asli sini, lumayan tidak jauh dari daerah mbaknya "
" Begitu ya ?'
" Silahkan di nikmati maaf cuma seadanya ya "
" Meja sampai penuh begini lho kak Nafis." Jawab agas sembari menikmati wajik week khas magelang. Dia paling suka itu kalau pas di Magelang.
Semua menikmati kudapan yang Nafis siapkan dengan di selingi obrolan ringan. Sesekali di selingi tawa membahana.
" Oya apa bisa kita mulai sekarang konselingnya mbak Nafis ? "
" Ya Allah karena asyik ngobrol sampai lupa, kalau begitu mari silahkan pindah keruang konseling saya ?" Farid mengangguk.
" Aku kedala dulu ya, titip Miranti ya Mad ?"
" Siap bos "
Nafis membawa Farid masuk kedalam ruang konsultasi yang berada di lantai yang sama.
" Silahkan duduk mas Farid " Farid memeperhatikan ruangan itu, nampak begitu baik penataannya. Membuat siapa saja yang memasuki ruangan itu sudah merasa nyaman terlebih dahulu.
" Apa yang ingin mas Farid ketahui tentang kondisi anak-anak anda ?" Nafis dengan tenang duduk di sebrang Farid.
" Bagaimana kondisi psikis anak-anak saya ?" Nafis tersenyum l.
" Sejauh pengamatan saya kak Satria yang lebih berat diantara keduanya. Yang pertama jelas anda kecewa dengan perpisahan ini, meskipun dia memahami betul jika anda dan istri tetap bertahan juga bukan hal yang bagus "
" Sudah sejak dua tahun ananda merasa hubungan anda dan istri tidak lagi sehat."
" Puncak dari rasa kecewa, malu dan terluka adalah mana kala maaf ..' Sulit bagi Nafis mengungkapkannya .
" Kenapa ?"
" Mohon maaf, ananda melihat ibunya sedang maaf... Bercumbu di kamar apartemen milik anda "
" Astagfirullah hal adzim .... Dia lihat mamanya sedang begituan ?" Nafis mengangguk lemah.
" Butuh waktu bagi kami untuk kak Satria mau mengungkap keresahan hatinya. Berkali-kali kami dekati, ananda masih belum mau berbicara, baru setelah kami gunakan metode hipnotis ananda au berbicara panjang lebar, ada satu kalimat yang belum selesai ananda ucakan tapi keburu ananda terbangun "
" Apa itu mbak ?'
" Saya hanya menangkap ananda berucap jika tidak suka anda di rendahkan.."
" Ada amarah saat ananda mengucap itu "
"Lalu saya harus bagaimana sekarang ?"
" Saran saya luangkan lebih banyak untuk ananda, siapa tau ananda mau jujur dengan papanya,"
" Kalau Anin ?"
" Kalau kak Anin, sebenarnya reaksi dia wajar. Dia mengungkapkan kekecewaannya juga masih dalam tahap wajar. Ananda ini hanya kecewa atas perpisahan orang tuanya, dan juga merasa risi karena ikut terseret-seret dengan apa yang sedang di alami orang tuanya "
" Sejak awal langsung welcome menceritakan semua yang menjadi uneg-uneg di hatinya. Dia hanya terkejut, biasa papanya muncul dipemberitaan karena karya dan prestasi tapi, ini karena kasus perceraian.
" Apa keputusan saya berpisah ini salah ya ?" farid terlihat putus asa.
" Setiap keputusan pasti ada dampak baik dan buruknya. Semoga keputusan ini memang yang terbaik menurut Allah SWT.
" Aamiin "
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.