NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENANG TANPA TERLIHAT MENANG

CHAPTER 5

Hari balapan datang dengan cuaca yang nyaris sempurna.

Langit cerah, angin ringan, suhu aspal stabil—kondisi yang membuat banyak pembalap muda merasa percaya diri. Terlalu percaya diri.

Tribun tidak penuh. Ini hanya kejuaraan amatir regional, bukan ajang besar. Tapi tetap ada penonton: keluarga, teman, beberapa pemandu bakat, dan orang-orang yang datang hanya karena menyukai suara mesin.

Julian berdiri di paddock dengan helm di tangan.

Di sekelilingnya, pembalap lain tampak tegang. Ada yang mondar-mandir, ada yang bicara terlalu banyak, ada juga yang duduk diam sambil menatap motor seperti sedang berdoa.

Julian… santai.

Bukan sok dingin.

Ia hanya tidak merasa ini sebagai “hari penentuan”.

Baginya, ini hanya lap pertama dari hidup yang baru.

“Eh, itu dia anak Ashford.”

Seorang pembalap lain melirik Julian dari balik helm. Namanya Leon Keller, favorit lokal. Agresif, cepat, dan terkenal berani—atau ceroboh, tergantung siapa yang menilai.

“Anak orang kaya ikut balapan amatir?” lanjut Leon, menyeringai. “Lucu juga.”

Rekannya tertawa. “Paling juga cuma beberapa lap.”

Julian mendengar. Ia menoleh sebentar, lalu kembali fokus memasang sarung tangan.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada emosi.

Leon mengernyit. Entah kenapa, sikap itu justru mengganggunya.

Di tribun, seorang pria paruh baya memperhatikan dengan seksama.

Ia bukan orang sembarangan—mantan pembalap nasional, kini pemandu bakat independen. Ia tidak melihat papan nama. Ia melihat gerak tubuh.

“Yang pakai Ducati itu… aneh,” gumamnya.

“Kenapa?” tanya temannya.

“Dia tenang sekali. Terlalu tenang untuk balapan pertamanya.”

Lampu start menyala.

Merah.

Merah.

Merah.

Padam.

Motor-motor melesat seperti peluru.

Julian tidak start paling cepat. Reaksinya bagus, tapi tidak eksplosif. Ia membiarkan beberapa pembalap menyalip di tikungan pertama.

Bagi penonton awam, itu terlihat biasa saja.

Bagi Julian, itu pilihan.

Ia tahu balapan ini tidak dimenangkan di lap pertama.

Lap demi lap, ritme mulai terbentuk.

Leon memimpin. Ia agresif, masuk tikungan dengan kecepatan tinggi, sering memaksa apex lebih awal. Penonton bersorak—gaya balapnya memang enak ditonton.

Julian berada di posisi keempat. Jaraknya stabil. Tidak mengejar. Tidak tertinggal.

Clara, yang datang hanya sebagai pengamat hari itu, melirik layar waktu.

“Dia menjaga jarak,” katanya pelan. “Bukan karena tidak bisa mendekat… tapi karena tidak mau.”

Marco berdiri di sampingnya, tangan di saku.

“Dia membaca balapan.”

Di lap tengah, kesalahan kecil mulai muncul.

Satu pembalap melebar. Yang lain kehilangan traksi keluar tikungan. Ban mulai panas. Konsentrasi menurun.

Julian?

Masih sama.

Ia mulai mendekat tanpa terlihat memaksa. Jarak yang tadinya setengah detik, kini tinggal sepersepuluh.

Teknik yang ia gunakan sederhana tapi kejam:

Late braking ringan, bukan untuk menyalip, tapi untuk menekan mental lawan

Throttle control super halus, menjaga ban tetap hidup

Garis balap bersih, tidak memberi celah tapi juga tidak agresif

Leon mulai merasa ada yang salah.

Setiap kali ia menoleh ke spion, Ducati itu ada di sana.

Tidak menyerang.

Tidak menghilang.

“Hantu,” gumam Leon kesal.

Lap terakhir.

Leon memimpin, tapi bannya sudah mulai kehilangan grip. Di tikungan kanan panjang sebelum straight, ia sedikit terlalu memaksa.

Cukup.

Julian tidak langsung menyalip.

Ia menunggu hingga keluar tikungan—saat motor Leon belum sepenuhnya tegak. Julian membuka gas lebih cepat setengah detik, motor stabil, traksi sempurna.

Mereka sejajar.

Penonton berdiri.

Di straight, Ducati Julian melaju sedikit lebih halus, sedikit lebih efisien.

Bukan karena mesin lebih kuat.

Karena keluar tikungan lebih bersih.

Julian menyalip.

Tidak dramatis.

Tidak kasar.

Seolah memang seharusnya begitu.

Finish line dilewati.

Julian menang.

Tidak ada selebrasi berlebihan. Ia mengangkat tangan sebentar, lalu menurunkannya.

Di podium, ia berdiri dengan tenang. Senyum kecil. Mata jernih.

Penonton bertepuk tangan, tapi dengan nada bingung.

“Dia… hebat,” kata seseorang.

“Tapi kok rasanya bukan balapan pertamanya?” sahut yang lain.

Leon menatap Julian dari podium kedua.

Untuk pertama kalinya, ia tidak kesal.

Ia… penasaran.

Di paddock, Richard Ashford berdiri agak jauh dari keramaian.

Ia tidak bertepuk tangan. Tidak tersenyum lebar.

Ia hanya menghela napas pelan.

Bukan lega.

Bukan bangga.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya menerima kenyataan:

Anaknya tidak sedang bermain balap motor.

Ia sedang kembali ke rumahnya sendiri.

.

.

.

.

CHAPTER 6

Kemenangan Julian tidak meledak seperti berita besar.

Ia tidak masuk headline utama. Tidak ada judul sensasional. Tidak ada video viral dengan jutaan penonton.

Namun di dunia balap—dunia yang kecil, sempit, dan penuh orang-orang yang benar-benar memperhatikan—namanya mulai terdengar.

Bukan sebagai sensasi.

Sebagai tanda tanya.

“Siapa Julian Ashford?”

Pertanyaan itu muncul di beberapa tempat berbeda, hampir bersamaan.

Di ruang briefing kecil Ducati Corse, seorang analis menunjuk hasil balapan amatir regional.

“Ini waktunya konsisten,” katanya. “Tidak ada lap buruk.”

“Balapan amatir,” sahut yang lain.

“Ya,” jawab si analis, “tapi konsistensi seperti ini jarang. Apalagi untuk pembalap baru.”

Nama itu tidak dicoret.

Hanya diberi lingkaran kecil.

Di sisi lain sirkuit, Leon Keller duduk sendirian.

Ia menonton ulang rekaman balapan di ponselnya. Bukan momen saat ia kalah—melainkan lap-lap awal.

“Dia nahan,” gumamnya. “Dari awal, dia nahan.”

Leon bukan pembalap bodoh. Ia tahu satu hal dengan jelas sekarang:

Julian Ashford tidak menang karena keberuntungan.

Ia menang karena kesabaran.

Dan itu… berbahaya.

Julian kembali ke rutinitasnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Pagi ke kampus. Sore latihan fisik. Malam istirahat.

Namun ada satu perbedaan kecil.

Orang-orang mulai memperhatikannya.

Bukan karena ia pamer. Bukan karena ia berubah. Tapi karena ada aura tenang yang sulit dijelaskan—seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia berjalan, meski tidak pernah mengatakannya keras-keras.

Di kampus, seorang dosen sempat menegurnya setelah kelas.

“Ashford,” katanya, “kau terlihat… lebih fokus akhir-akhir ini.”

Julian tersenyum kecil. “Aku hanya menemukan ritme, Pak.”

Dosen itu mengangguk, tidak tahu bahwa ritme yang dimaksud Julian bukan tentang akademik.

Di rumah, suasana berubah pelan.

Tidak ada perayaan besar setelah kemenangannya. Tidak ada ucapan selamat berlebihan. Keluarga Ashford bukan tipe yang merayakan satu langkah kecil.

Namun makan malam hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Richard duduk di ujung meja. Eleanor memperhatikan Julian lebih sering dari yang ia sadari.

Akhirnya, Richard meletakkan sendoknya.

“Berapa banyak balapan seperti ini yang kau rencanakan?” tanyanya.

Julian mengangkat kepala. Tidak terkejut. Pertanyaan ini sudah ia tunggu.

“Beberapa,” jawabnya jujur. “Aku ingin tubuh ini siap sepenuhnya.”

Richard menyandarkan punggung. “Dan setelah itu?”

Julian diam sejenak.

“Level internasional,” katanya pelan. “MotoGP amatir Eropa. Dari bawah.”

Ruangan hening.

Eleanor menatap Julian, bukan dengan takut, tapi dengan cemas yang ditahan rapi. “Julian… kau tahu kami tidak pernah melarangmu bermimpi. Tapi dunia itu—”

“Berbahaya,” sambung Julian. “Aku tahu.”

Ia menatap ibunya, matanya tenang.

“Aku tidak akan ceroboh.”

Richard memperhatikan cara Julian berbicara. Nada suaranya. Pilihan katanya.

Ini bukan remaja yang sedang terbakar emosi.

Ini seseorang yang sudah menerima risiko, bukan menantangnya.

Malam itu, Richard berdiri sendirian di ruang kerja.

Ia membuka berkas lama—bukan tentang bisnis, bukan tentang saham Ducati. Tentang kecelakaan.

Tentang pembalap.

Tentang dunia yang menelan banyak orang hebat.

Ia teringat wajah Julian kecil, tertawa tanpa beban. Dan wajah Julian sekarang—tenang, tapi penuh tekad.

“Kenapa harus balapan?” gumamnya pelan.

Jawabannya datang tanpa suara.

Karena ada orang yang tidak bisa hidup tanpa lintasan.

Dan memaksa mereka berhenti… hanya akan mematahkan sesuatu di dalam.

Beberapa hari kemudian, Julian menerima pesan singkat dari Marco.

Balapan amatir berikutnya, level lebih tinggi. Kalau kau ikut, kau akan mulai terlihat.

Julian menatap layar cukup lama.

Ia tahu arti “terlihat”.

Terlihat berarti diawasi.

Diawasi berarti diuji.

Diuji berarti tidak ada lagi ruang untuk sembunyi.

Ia mengetik balasan singkat.

Aku ikut.

Di fasilitas Ducati, Clara membaca daftar peserta.

Nama Julian Ashford kini tercantum resmi.

Ia tersenyum kecil.

“Naik level,” gumamnya. “Dan dia kelihatan… santai.”

Marco berdiri di dekatnya. “Orang seperti dia justru paling berbahaya.”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak balapan untuk membuktikan apa pun.”

Marco menatap lintasan kosong di depan mereka.

“Dia balapan karena memang di sanalah dia seharusnya berada.”

Di kamar, Julian duduk sendirian, helm di pangkuannya.

Ia tidak lagi melihat bayangan Michael dengan sedih.

Ia melihatnya seperti teman lama—seseorang yang sudah menyelesaikan bagiannya.

“Tenang,” bisik Julian pelan. “Aku lanjutkan.”

Lintasan berikutnya menunggu.

Dan dunia… perlahan mulai membuka mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!