Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman untuk Maya
Di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota, suasana jauh dari kata tenang. Maya berjalan mondar-mandir di atas karpet bulunya dengan langkah gusar. Suara ketukan hak sepatunya yang tajam beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama kecemasan yang memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, pria pengintai yang tadi dicegat oleh Kenan masuk dengan wajah lebam dan pakaian yang berantakan.
"Mana fotonya?!" bentak Maya tanpa basa-basi. Ia langsung menghampiri pria itu dan menadahkan tangannya.
Pria itu menunduk dalam, badannya sedikit gemetar. "Maaf, Nona... fotonya... kartunya dipatahkan. Semua data di ponsel saya juga dihapus bersih."
PLAK!
Maya mendaratkan tamparan keras di pipi pria itu. Napasnya memburu, matanya membelalak penuh amarah.
"Bodoh! Kamu tahu berapa banyak uang yang aku kasih buat dapet bukti itu?!" teriak Maya histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi. "Hanya untuk memotret satu orang perempuan dan satu pengawal saja kamu gagal? Kamu bilang kamu profesional!"
"Pengawalnya bukan orang sembarangan, Nona," bela pria itu dengan suara serak. "Dia tahu posisi saya bahkan sebelum saya sempat mengambil banyak gambar. Dia bergerak seperti hantu. Dia mengancam saya... dia bilang kalau Nona menyentuh Alea lagi, Nona akan kehilangan segalanya."
Maya tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat tajam. "Menghancurkan karirku? Dia pikir dia siapa? Hanya seorang pelayan Maheswari berani mengancamku?!"
Malam semakin larut di pusat kota Jakarta. Maya baru saja selesai membersihkan sisa riasannya, namun emosinya masih membara.
Tiba-tiba, bulu kuduk Maya meremang. Ia merasa ada hembusan angin dingin yang tidak biasa, seolah pintu balkonnya terbuka. Belum sempat ia menoleh, sebuah bayangan hitam bergerak secepat kilat dari balik pilar.
"Siapa—"
Kalimat Maya terputus seketika. Sebuah tangan besar dan kokoh mendarat di lehernya, mencengkeramnya dengan tekanan yang pas untuk mengunci suara sekaligus memutus pasokan oksigennya. Maya terdorong hingga punggungnya menghantam dinding marmer dengan keras.
Di depannya, berdiri seorang pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Hanya matanya yang terlihat tajam, dingin, dan mematikan. Maya meronta, tangannya mencakar lengan pria itu, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun, seolah lengannya terbuat dari baja.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Maya.
"Singkirkan niat busukmu sebelum kamu habis di tangan saya," bisiknya. Setiap kata terasa seperti mata pisau yang menyentuh kulit Maya.
"Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alea Maheswari lagi. Sekali saja kamu mencoba memfitnahnya, karirmu bukan satu-satunya hal yang akan lenyap malam ini."
"S-siapa... kamu?" rintih Maya di sela cekikannya.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru mempererat cengkeramannya sejenak hingga Maya merasa pandangannya mulai kabur, lalu dengan kasar ia melepaskannya hingga Maya jatuh tersungkur di lantai, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang kini memerah.
"Saya adalah bayangan yang akan mencabut nyawamu jika kamu berani melangkah satu inci saja mendekati Alea," ucap pria itu sambil menatap Maya dari ketinggiannya. "Ingat, Maya. Saya tahu semua rahasiamu, termasuk hal-hal yang tidak diketahui Dafin Danuar. Tetaplah diam, atau seluruh dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya."
Tanpa menunggu balasan, pria berbaju hitam itu berbalik dan menghilang ke arah balkon. Maya merangkak menuju pintu balkon dengan tubuh gemetar hebat, namun tempat itu sudah kosong. Hanya ada angin malam yang berhembus kencang.
Pria berbaju hitam itu turun melalui tangga darurat dan keluar melalui pintu belakang yang tidak terjangkau CCTV. Ia melepas masker hitamnya, menyingkap wajah Kenan yang berkeringat dengan ekspresi yang sangat gelap. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengatur napas agar kembali tenang, lalu mengganti pakaiannya dengan jas pengawal yang biasa.
Ia melihat jam di tangannya. Pukul 11 malam.
Kenan mengambil ponselnya, bukan ponsel rahasianya, melainkan ponsel kerjanya. Ada sebuah pesan masuk dari Alea.
"Kenan, kamu sudah sampai di rumah? Aku merasa tidak tenang malam ini. Tolong beritahu aku kalau kamu sudah aman."
Kenan menatap layar itu lama. Jemarinya ragu untuk membalas. Ia baru saja melakukan hal yang cukup mengerikan.
“Saya aman, Nona. Jangan khawatir. Beristirahatlah, besok pagi saya akan menjemput Anda tepat waktu,” balasnya singkat.
Di kejauhan, sebuah mobil sport mewah milik Dafin tampak melaju kencang menuju apartemen Maya. Dafin datang tepat setelah Kenan pergi, terpancing oleh pesan darurat yang dikirim Maya sebelumnya.
Dafin Danuar membanting pintu apartemen Maya dengan napas memburu. Ia datang secepat kilat setelah menerima pesan singkat berisi permintaan tolong yang dikirim Maya beberapa menit sebelum Kenan tiba. Namun, pemandangan yang menyambutnya di dalam ruangan itu jauh dari apa yang ia bayangkan.
Lampu apartemen masih redup, dan bau alkohol dari gelas wine yang pecah tercium menyengat. Di sudut ruangan, dekat dinding marmer, Maya duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat. Rambutnya berantakan, dan kedua tangannya memegangi lehernya sendiri.
"Maya!" Dafin menghambur ke arah kekasihnya, berlutut dan merangkul bahunya. "Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?!"
Maya tersentak saat tangan Dafin menyentuhnya. Ia menatap Dafin dengan mata yang membelalak penuh trauma. Wajahnya pucat pasi, dan di lehernya yang jenjang mulai muncul rona merah keunguan bekas cengkeraman tangan yang sangat kuat.
"Dia... dia masuk lewat balkon," bisik Maya dengan suara parau. Suaranya hampir hilang akibat tekanan pada pita suaranya tadi.
"Siapa?! Apa kamu melihat wajahnya? Apa dia orang suruhan Maheswari?" cecar Dafin, suaranya naik satu oktav karena emosi. Pikirannya langsung tertuju pada Kenan, pengawal Alea yang sejak awal sudah memicu kecurigaannya.
Maya terdiam sejenak. Ia teringat ancaman pria berbaju hitam tadi: "Saya tahu semua rahasiamu... tetaplah diam, atau seluruh dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya." Rasa takut bahwa rahasia gelapnya akan dibongkar oleh sosok misterius itu jauh lebih besar daripada keinginannya untuk mengadu.
"Aku... aku tidak tahu, Dafin," rintih Maya sambil menggeleng lemah. "Dia memakai masker. Semuanya serba hitam. Dia bergerak sangat cepat, aku bahkan tidak sempat melihat matanya dengan jelas."
Dafin menyipitkan mata, menatap leher Maya yang memar. "Tidak mungkin tidak tahu. Apa pria itu mengatakan sesuatu? Apa dia meminta uang? Atau dia menyinggung soal pertunanganku?"
Maya menelan ludah dengan susah payah. Rasa perih di tenggorokannya mengingatkannya pada kekuatan cengkeraman tadi. "Dia hanya menyuruhku untuk diam. Dia mengancam akan menghabisiku jika aku terus mengusik orang-orang tertentu. Tapi dia tidak menyebutkan nama."
Dafin berdiri, ia berjalan menuju balkon dan memeriksa pintunya yang sedikit terbuka. Ia menatap ke bawah, ke arah kegelapan kota. Pikirannya berputar cepat.
"Maya, tatap aku," ucap Dafin sambil kembali mendekati Maya. "Apa belakangan ini kamu menyinggung seseorang? Apa ada orang dari masa lalumu atau musuh di industri model yang membencimu sedalam ini?"
Maya menunduk, menghindari tatapan tajam Dafin. "Tidak... tidak ada. Kamu tahu aku selalu berhati-hati. Aku tidak pernah menyinggung siapa pun."
Dafin terdiam sejenak. Ia tahu ada yang disembunyikan Maya, namun melihat kondisi wanita itu yang begitu rapuh, ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia menarik Maya ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis di dadanya.
"Sudahlah, tenangkan dirimu," ucap Dafin lirih sambil mengecup puncak kepala Maya. "Jangan dipikirkan lagi sekarang. Aku akan menjagamu malam ini. Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Maya memeluk Dafin erat, merasa sedikit aman meskipun bayangan pria berbaju hitam tadi masih menghantui pikirannya. Sementara itu, Dafin menatap ke arah balkon yang terbuka dengan tatapan tajam. Di dalam hatinya, ia bersumpah akan menemukan siapa pun yang berani masuk ke apartemen ini dan menyentuh milik-Nya.