NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Arkan tidak mempedulikan protokol atau rasa canggung lagi.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil handuk kering dan pakaian ganti yang lebih hangat dari lemari.

Ia menyeka sisa-sisa air di tubuh Gladis dengan sangat lembut, memastikan istrinya tidak semakin menggigil, lalu mengganti pakaian basah itu dengan kaus berbahan katun lembut miliknya yang tampak sangat besar di tubuh mungil Gladis.

Tak lama kemudian, pintu kabin terbuka lebar. Dokter Sarah masuk dengan tas medisnya, diikuti oleh seorang perawat.

Melihat wajah Arkan yang tegang dan rahangnya yang mengeras, Sarah tahu dia harus bergerak cepat.

Dokter Sarah segera melakukan pemeriksaan menyeluruh mulai mengecek denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh Gladis yang rendah.

"Bagaimana keadaannya, Sarah?" tanya Arkan, suaranya terdengar parau dan penuh tekanan.

Sarah menghela napas panjang sambil merapikan stetoskopnya.

"Dia mengalami shock ringan karena suhu air, tapi masalah utamanya adalah kelelahan ekstrem, stres yang menumpuk, dan perut yang benar-benar kosong. Tubuhnya ambruk karena tidak punya energi lagi untuk bertahan, Arkan."

Arkan memejamkan matanya sesaa dan ada rasa bersalah yang menghujam dadanya.

"Aku akan memasang infus glukosa untuk mengembalikan energinya dan cairan untuk menghangatkannya dari dalam," lanjut Dokter Sarah.

Dengan cekatan, ia menusukkan selang infus ke pergelangan tangan Gladis yang pucat.

Setelah memastikan tetesan infus berjalan lancar, Sarah menoleh pada perawatnya.

"Suster, tetaplah di sini. Jaga Nona Gladis dan pantau suhunya setiap lima belas menit. Jika ada perubahan atau jika dia mulai mengigau, segera panggil saya."

"Dia butuh ketenangan total saat terbangun nanti. Jangan berikan tekanan apa pun padanya dulu."

Arkan mengangguk pelan dan duduk di kursi kayu di samping ranjang, matanya tidak lepas dari wajah Gladis yang masih terpejam.

Tangannya menggenggam jemari Gladis yang bebas dari infus, seolah takut jika ia melepaskannya, gadis itu akan pergi selamanya.

"Terima kasih, Sarah. Pergilah, aku yang akan menemaninya di sini bersama perawat," ucap Arkan mutlak.

Di luar kabin, suasana kapal tetap berjalan mewah, namun di dalam ruangan itu, waktu seakan berhenti.

Arkan terus menatap botol infus yang menetes perlahan, bersumpah dalam hati bahwa setelah Gladis sadar nanti, ia tidak akan membiarkan istrinya itu lepas dari pandangannya meski hanya sedetik.

Namun di sudut gelap lorong kabin, Alex terlihat sedang mengamati pergerakan suster dan dokter yang keluar dari ruang Kapten. Ia tersenyum licik.

"Pingsan ya? Bagus. Itu artinya pertahananmu sedang berada di titik paling lemah, Gladis."

Panggilan mendesak dari anjungan kembali bergema.

Kapal akan segera memasuki selat yang cukup sulit dinavigasi, menuntut kehadiran sang Kapten di pusat kendali.

Arkan berdiri dengan berat hati, ia menatap perawat yang berjaga dengan tatapan mengancam.

"Jaga dia seolah nyawamu bergantung padanya. Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi aku lewat jalur prioritas," perintah Arkan tajam.

Perawat itu hanya bisa mengangguk patuh sebelum Arkan melangkah keluar dengan rahang yang masih mengeras.

Beberapa jam kemudian, cahaya lampu kabin yang temaram menyambut kesadaran Gladis.

Matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan diri dengan langit-langit kabin yang familiar.

Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, rasa sedikit perih muncul dan ia mendapati selang infus menempel di pergelangan tangannya.

"Akhirnya Anda sadar juga," sebuah suara lembut menyapa. Gladis menoleh dan melihat seorang perawat muda yang tersenyum ramah ke arahnya.

Wanita itu segera berdiri dan memeriksa suhu tubuh Gladis serta botol infus yang tinggal setengah.

"Apa Anda haus?" tanya perawat itu lagi.

Gladis menganggukkan kepalanya, ia merasakan tenggorokannya terasa sangat kering, hampir seperti terbakar.

Dengan cekatan, perawat itu membantunya minum sedikit demi sedikit menggunakan sedotan.

"Terima kasih..." bisik Gladis parau.

"Sama-sama. Panggil aku Vita saja. Aku yang ditugaskan menjagamu sampai Kapten Arkan kembali," ujar perawat itu sambil merapikan selimut Gladis.

Vita kemudian duduk kembali di kursi samping tempat tidur, sambil sesekali membuka majalah bisnis yang ia bawa untuk membunuh waktu.

Gladis yang masih lemas hanya terdiam, namun matanya tidak sengaja menangkap sampul majalah yang sedang dibaca Vita.

Di sana, terpampang foto Arkan yang mengenakan setelan jas hitam elegan, tampak sangat berbeda dari seragam kaptennya namun tetap dengan aura dominan yang sama.

Judul besarnya tertulis dengan huruf emas yang mencolok.

"Itu, Arkan?" tanya Gladis pelan, jarinya menunjuk ke majalah.

Vita mengikuti arah pandangan Gladis lalu tersenyum kagum.

"Oh, ini? Iya, Nona. Kapten Arkan Maulana. Beliau bukan hanya sekadar nakhoda di kapal ini. Beliau adalah pemilik tunggal Oceanic Group, perusahaan yang memiliki puluhan kapal pesiar mewah termasuk raksasa ini."

Vita membalik halaman majalah itu dan menunjukkannya pada Gladis.

"Di sini tertulis beliau masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia tahun ini. Katanya, beliau menjadi nakhoda bukan karena butuh pekerjaan, tapi karena laut adalah hidupnya dan beliau ingin memastikan aset terbesarnya berjalan sempurna di bawah kendalinya sendiri."

Gladis langsung terdiam dan jantungnya berdegup kencang membaca deretan angka dan pencapaian pria itu.

Selama sepuluh tahun mengenal Arkan sebagai ayah tirinya fsn dan ia hanya tahu Arkan adalah pelaut yang sukses.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa pria yang memaksanya menikah itu adalah salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

"Beliau sangat protektif padamu, Nona. Tadi saat Anda pingsan, wajah Kapten sangat pucat. Aku belum pernah melihat beliau sekhawatir itu pada siapa pun," tambah Vita tanpa menyadari bahwa setiap kata-katanya membuat Gladis semakin merasa terhimpit oleh kenyataan.

Gladis kembali menyandarkan kepalanya ke bantal.

Informasi itu bukan membuatnya bangga, melainkan semakin takut.

Jika Arkan memiliki dunia di bawah kakinya, lantas kekuatan apa yang ia punya untuk melarikan diri dari pria itu?

"Dia punya segalanya dan sekarang dia punya aku sebagai koleksi terbarunya," gumam Gladis pahit dalam hati.

Suasana kabin yang tenang seketika pecah menjadi kepanikan saat kepala Gladis terkulai lemas di atas bantal.

Vita yang melihat mata Gladis berputar ke atas sebelum akhirnya terpejam rapat, langsung menjatuhkan majalahnya ke lantai.

"Nona Gladis! Nona!" seru Vita panik.

Ia segera menekan tombol darurat di dinding kabin dan menghubungi anjungan melalui jalur prioritas.

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi Arkan untuk sampai.

Ia menerobos pintu kabin dengan napas memburu, wajahnya yang tadi lelah kini tertutup oleh kemarahan dan ketakutan yang murni.

Dokter Sarah tiba tepat di belakangnya dengan peralatan medis yang lebih lengkap.

"Apa yang terjadi?! Kenapa dia pingsan lagi?" geram Arkan, suaranya menggelegar membuat seisi ruangan bergidik.

Vita gemetar hebat, ia berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.

"Tadi Nona Gladis sudah sadar, Kapten. Kami sempat berbincang sedikit. Beliau melihat majalah yang saya bawa..."

Sarah segera memeriksa denyut nadi Gladis yang kembali tidak stabil.

"Tekanan darahnya turun drastis. Dia mengalami shock psikologis secara tiba-tiba. Vita, katakan dengan jelas apa yang kalian bicarakan!"

Vita menunduk dalam, air mata mulai mengalir di pipinya.

"Nona Gladis melihat foto Kapten di majalah bisnis itu. Saya hanya menjawab pertanyaannya dan saya menceritakan kalau Kapten adalah pemilik perusahaan ini dan salah satu orang terkaya di dunia. Begitu mendengar itu, wajahnya langsung pucat dan beliau pingsan begitu saja."

Arkan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.

Ia sengaja merahasiakan skala kekayaannya yang sebenarnya dari Gladis agar gadis itu tidak merasa terintimidasi, namun sekarang semuanya terbongkar di saat yang paling salah.

"Keluar," ucap Arkan lirih namun sangat tajam.

"Kapten, saya—"

"KELUAR!" bentak Arkan.

Vita berlari keluar sambil terisak, sementara Dokter Sarah memberikan suntikan penenang dan cairan tambahan ke infus Gladis.

"Arkan, dengarkan aku. Saat ini Gladis sedang berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh. Kehilangan ibunya, pernikahan paksa, dikhianati Alex, dan sekarang menyadari bahwa dia 'terikat' pada pria dengan kekuatan sebesar dirimu, itu terlalu banyak untuk kapasitas mentalnya. Dia merasa tidak punya jalan keluar."

Arkan duduk di pinggir ranjang, menatap wajah istrinya yang tampak sangat menderita bahkan dalam tidurnya.

Ia membelai pipi Gladis dengan jemarinya yang gemetar.

"Aku hanya ingin melindunginya, Sarah. Aku ingin dia memiliki segalanya," bisik Arkan parau.

"Tapi bagi Gladis, kekayaanmu bukan fasilitas, Arkan. Itu adalah jeruji emas yang membuatnya merasa semakin kecil," sahut Sarah sambil merapikan peralatannya.

"Biarkan dia istirahat. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali aku. Dan kamu turunkan sedikit dominasimu jika tidak ingin dia benar-benar gila."

Setelah Sarah pergi, Arkan mematikan lampu utama kabin, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram.

Ia duduk di lantai di samping tempat tidur, menyandarkan kepalanya di dekat tangan Gladis yang terinfus.

"Maafkan aku, Gladis. Aku tidak bermaksud menakutimu dengan semua itu," gumam Arkan di keheningan malam.

Namun di luar sana, badai yang sesungguhnya bukan lagi tentang cuaca.

Semua ini tentang kepercayaan yang hancur, dan Arkan tahu, memiliki dunia ternyata jauh lebih mudah daripada memiliki hati gadis yang sedang tertidur di hadapannya ini.

1
Linda Liddia
Ayooo syila kamu pasti bisa 💪💪💪
Linda Liddia
Makasih udh up lg kk othor..
my name is pho: sama-sama kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Vita Vita ambisi kamu untuk menjadi istrinya Gerald sudah menyebabkan kamu jadi gila, dan sekarang terima konsekuensinya kamu berurusan dengan aparat hukum
Linda Liddia
Akhirnya kebenaran terungkap..Emang keren bgt Kapten Arkan langsung sigap..
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
my name is pho: ditunggu ya kak🥰
total 1 replies
Linda Liddia
Wiiihhh paraaahhh bgt si vita emangnya gegara cinta ditolak org bisa jadi gila bisa berbuat apa saja
Ariany Sudjana
aduh kok jadi begini ceritanya? kemarin psikopat Delon, sekarang Vita juga jadi psikopat
Linda Liddia
Sakiiiiitttt bgt tuh si vita..
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Linda Liddia
Kok kemaren & hari ini cuma up 1 bab thor..
my name is pho: sabar kak ya
kemarin hujan deras banjir kak 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
kenapa dulu Arkan tidak langsung membunuh Elisa? malah ditahan polisi
Linda Liddia
Terima kasih udh up 3 bab..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Ariany Sudjana
kalau saya sih lebih suka diselesaikan dengan cara mafia yah, dibawa ke gudang bawah tanah. sayangnya bukan cerita mafia ini
Ariany Sudjana
jadi Delon itu anaknya si pelacur pirang? orang yang sudah buat Gladys bunuh diri
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
aduh kok ceritanya jadi begini sih? ga tega bacanya
Ariany Sudjana
sudah dinasehati papa kamu dan kamu tidak percaya arsyila, kamu ini bodoh , bodoh sekali
my name is pho: sabar kak. sabar
total 1 replies
Linda Liddia
Satu kata utk arsyila TOLOL udh di ingetin sama papa tercinta tapi masih ngeyel
my name is pho: bucin kak
total 1 replies
Linda Liddia
wah siapa kah Delon ini apakah dia punya niat yg tdk baik sama arsyila..??? Pacaran kok mesti diem2 anehkan
Linda Liddia
Wah selamat ya Gladys gak nyangka si baby twins mau punya adek..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys
my name is pho: sekitar 50 an kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sehat selalu Gladys dan bayi dalam kandungan, juga si kembar dan tentu saja sang kapten
Linda Liddia
Wow selamat ya Gladys udh jadi sarjana 💃💃💃
Linda Liddia
🤣🤣🤣 cilok ya Gladys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!