NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Skandal

Hari ini Adji seperti sedang kejatuhan bom. Rumah utama seketika ikut sibuk mencari cara meredam ini semua. Berita mantan CEO Atmasena Grup terlibat skandal dengan perempuan di restoran setelah pertunangan dengan artis cilik Sabreena. Berita itu terus berkembang menyeret nama Atmasena, Setelah ada akun di sosial media yang menyebarkan foto kemiripan mantan CEO Atmasena Grup dengan pimpinan utama di perusahaan yang sama. Wajah Kala dan Adji dijajarkan tersebar.

Karyawan kantor utama Atmasena Grup pun akhirnya banyak yang mengkonfirmasi kebenaran ini di sosial media. Mereka mengaitkan dengan beberapa posisi pimpinan yang sama sekali tidak terlihat bekerja di kantor seperti biasa. Hanya asisten mereka lah yang mengaku diutus untuk mewakili di setiap meeting dan menangani setiap urusan.

Kala secepatnya diminta menghadap Eyang Kakung. Di ruanganya hanya berdua.

“Kamu menghancurkan semua yang sudah kami bangun.” ucap Eyang.

“Saya tetap berusaha untuk Atmasena.” jawab Kala pelan

“Privasi yang Eyang ciptakan dari dulu, untuk melindungi kalian, sudah hancur.”

“Belum, itu hanya asumsi yang bisa diluruskan, tanpa harus memanipulasi apapun lagi untuk menutupinya. Lebih lurus dengan keamanan yang kembali dibangun. Itu yang akan saya usahakan untuk Atmasena grup.” jelas Kala.

“Itu semua kebohongan, nyatanya kamu adalah aib.”

“Saya dilahirkan dari pernikahan yang sah. Mommy saya wanita yang baik. Bapak saya juga baik. Jadi jangan lagi mengemas kekeliruan ini dengan alasan Eyang melakukan semua ini untuk melindungi kami,”

Plakkk…

“Tidak usah mengajari Eyang! Eyang jauh lebih dahulu mengerti dunia ini dibanding kamu” seru Eyang.

“Dunia yang Eyang lalui itu kini sudah berkembang dan jauh berbeda dengan masa yang lalu. Yang Kala hadapi adalah dunia di masa depan yang Eyang belum pernah mengalaminya.”

“Kamu itu bodoh! Masa depan itu tidak mungkin ada kalau kami yang kata kamu itu masa lalu tidak ada. Keluar kamu sekarang bodoh!”

Kala segera keluar. Tepat di depan pintu Eyang Putri di sana. Mungkin juga mendengar semua percakapannya. Tatapanya teduh, perlahan menyentuh pipi Kala yang memerah. Perlahan tetes demi tetes air matanya jatuh. Kala membawa Eyang Putri kedalam pelukanya.

“Maafkan Eyang ya Kala.” ucap Eyang Putri.

“Shhh… Eyang tenang ya.” bisik Kala menenangkan.

“Eyang yang bicara dengan Adji nanti. Tadi itu Rakha sudah ceritakan ke Eyang, berisik sekali. Tapi Eyang bangga sama kalian yang kompak.”

“Calon kamu dibawa ketemu Eyang ya! Eyang Putri mau bicara.” perintah Eyang.

“Iya, pasti Kala ajak ke sini akan minta restu dan doa Eyang Putri.”

***

Percakapan grup baru saja dibuat secara mendadak untuk merundingkan skandal yang muncul ini. Perundingan itu ternyata menghasilkan keputusan besar, yang sepertinya itu akan memperkeruh hubungan dengan para tetua Atmasena.

Secepatnya mereka merancang semua, target mereka tiga hari rampung. Pembagian tugas sudah ditentukan. Peran utama sudah ada. Proses pun sudah dimulai.

“Oke, kayaknya kita perlu undang Ardito masuk panitia. Biar Kalo lo sibuk kita ke dia.” ucap Ringga.

“Oke gue masukin sekarang.” ucap Rakha.

“Sudah semua ini?” tanya Aksara.

“Sudah. Terima kasih ya.” ujar Kala.

“Kita yang makasih si, udah dibimbing bikin usaha.” ujar Ringga

“Gue nggak bisa ngobrol lama-lama. Harus urus yang lain.” pamit Kala.

***

Hari lalu saat menemui Adik dan Mommy nya Kala, dia tidak mengatur baju apa yang harus dikenakan. Tapi kali ini diminta memakai baju yang sudah dia bawakan. Menggunakan rok, rambut rapi, baju lengan panjang. Tidak terlalu berbeda dengan pakaian keseharian, hanya saja ini memakai rok.

Kala bahkan berulang kali memperingatkan untuk menggunakan ‘aku-kamu’ saat berbicara dengan dia. Lalu dia juga mengatakan kalau di rumah utama, dengan yang lebih tua menggunakan ‘saya’. Banyak hal lainya yang dia sampaikan. Tapi yang paling membuat Nareya heran, ketika menjelaskan tentang Eyang Kakung

Jangan menatap Eyang kakung terlalu lama.

Tundukan kepala, tangan bergenggaman di depan.

Saat sampai di gedung yang sangat luas, Kala masuk lewat pintu gerbang yang bahkan lebih lebar dibandingkan rumahnya. Nareya dibuat terkejut, dia akan menemui orang seperti apa yang bisa punya rumah yang lebih pantas disebut resort. Nareya hanya diam mengikuti arahan Kala. 

“Kita lewat kanan, langsung ke Eyang Putri saja. Kalau perlu tidak usah bertemu Eyang kakung dahulu.” ucap Kala pelan.

Di depanya ada wanita yang rambutnya sudah memutih, dengan kain batik khas pakaian tradisional. Serius sekali sedang menuangkan malam pada kain yang sudah berpola. Ditemani beberapa wanita yang mengenakan pakaian sederhana, sepertinya pekerja di sini. Nareya sangat khawatir, karena dia tau yang akan dihadapinya bukan dari kalangan biasa. Seketika lupa apa saja yang sudah Kala sampaikan saat diperjalanan tadi.

“Eyang…” panggil Kala. 

Seketika wanita itu mengangkat wajahnya, tersenyum. Meletakan semua peralatan membatiknya ke lantai.

“Cucu kesayanganku,”ucap Eyang Putri menyambutnya. 

Setelah bersalaman, Kala memperkenalkan Nareya, “Eyang, mohon kesediaan eyang merestui calon istri Kala, ini namanya Nareya.”

Nareya sama sekali tidak biasa dengan sebutan itu tadi. Apa? Calon istri?!

Nareya menyalami Eyang Putri dengan ragu-ragu tanganya menjulur pelan, menundukan tubuhnya dengan begitu saja. Dia tidak pernah diajarkan sampai seperti itu di rumah, tapi dengan suasana disini yang begitu tenang membuatnya bertingkah laku sebagaimana orang di sana.

“Nareya ya, ini Eyang Putri nya Kala.” 

“Cantik sekali, sini duduk dekat Eyang.” perintah Eyang Putri dengan lembut.

“Umur berapa nak?”

“Dua puluh empat Eyang”

“Ah, masih muda, kamu mengenal Kala dari mana? Pekerjaan.”

“Betul Eyang, Nareya pernah bekerja satu kantor, bahkan satu tim dengan… mmm Mas Kala.” ucap Nareya. Ragu dengan sebutanya, dia meniru cara Kirana menyebut kakaknya. Sedikit melirikan pandanganya ke Kala, dia tersenyum? Huh. 

“Sekarang?”

“Sebelumnya Nareya di pecat, lalu sekarang diminta resign dari pekerjaan baru.” jujur Nareya.

“Kala yang minta?” tanya Eyang Purti. Dibalans anggukan Nareya.

“Kamu ini! Masih muda ya nggak apa-apa bekerja. Nanti kalau sudah punya buntut yang perlu dirawat baru kamu minta fokus di rumah.”

“Bukan seperti itu Eyang, maksud Kala supaya nanti mengurus bersama bisnis Kala.”

“Ooo seperti itu.”

Percakapan mereka mengalir dengan lancar, Nareya sangat bersyukur tidak melakukan kesalahan. Karena wanita yang dia temui itu sejak awal memberi kesan, tak pantas untuk disakiti.

Saat sudah berpamitan ternyata Eyang Kakung dan Adji melewati area itu sehingga bersitatap dengan Nareya . Nareya langsung mengangguk sopan lalu menunduk.

“Temui Eyang Kakung ke ruanganya dahulu.”perintah Eyang Putri.

Kala menatap agak lama ke arahnya, tapi langsung dipahami kegundahannya. “Tidak apa, Eyang sudah bicara dengan Adji.”

Hubungan antara Eyang Putri dan Eyang kakung memang kurang baik. Seringnya terjadi perselisihan di dalam hubungan rumah tangga itu wajar. Tapi seperti orang pada umumnya, ketika sudah usia lanjut memang akan memilih kedamaian. Sehingga mereka memutuskan tinggal di bagian rumah yang berbeda.

“Nanti saat bertemu Eyang Kakung jangan katakan apapun, cukup ikuti yang aku lakukan.”

“Sama Bapak juga sama, dengarkan saja.”

“Hey, lo udah nyebut itu berapa kali. Gue berusaha menenangkan diri, malah lo yang bikin gue gugup.”

“Ah, iya kah. Oke tenang.”

Kala mengetuk pintu kayu dengan ukiran-ukiran unik membingkainya. 

“Masuk” 

Terdengar suara dari dalam, kami pun masuk. 

“Eyang, ini Nareya…”

“Tidak perlu” ucap Eyang Kakung, memotong perkataan Kala.

“Bersikap yang pantas, saya tidak memilihmu, tapi kamu yang memilih hadir di keluarga kami.”ucapnya. Dia menatap Nareya lekat sambil menunjuk, dengan telunjuk yang bergetar. 

“Bapak…” panggil Adji menahan ucapanya, tapi pria lanjut usia itu tetap melanjutkan ucapanya.

“Dengan kehadiran yang tidak ramah, nama kami yang selalu menjadi contoh baik di hadapan presiden kini menjadi tercoreng.” geramnya. 

“Baiklah, kami pamit, Eyang.” ucap Kala, dengan segera membawa Nareya keluar. 

Nareya membeku, matanya memerah. Dadanya naik turun seirama dengan napasnya yang memburu. 

“Kayaknya ini salah deh..” ucap Nareya. Dengan segera dia membuka handphone nya, lalu mengetikan nama ‘Atmasena’ sesuai dengan tulisan pada kayu diatas meja yang dia lihat di ruangan tadi. 

Seketika mukanya makin memerah, melihat berita-berita tentang dia. Beberapa potongan foto dan identitasnya pun terpampang. Semua sosial medianya pun ternyata sudah dibanjiri komentar. Dia betulan baru mengetahui itu semua, karena memang sangat lelah menghadapi semua cobaan yang menekanya tiada henti. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!