Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga dari sebuah Nyawa
Pemandangan di dalam ruangan itu membuat pandangan Reza memerah. Anya tersudut di pojok ruangan, duduk di atas lantai dengan kedua tangan melindungi perutnya. Di depannya, berdiri dua pria berjaket kulit hitam dengan aroma parfum murah yang menyengat. Salah satunya, pria berambut cepak yang dipanggil pengeran penagih hutang, sedang memainkan kunci motor di tangannya sambil menatap Anya dengan tatapan lapar.
"Oh, sang pahlawan sudah pulang," sindir pria cepak itu, menoleh ke arah Reza. "Gimana, Za? Sudah dapat uangnya? Atau masih sibuk cari pohon yang pas buat gantung diri?"
Reza tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya. Tangannya masih mencengkeram tas berisi gulungan tali kuning itu.
"Keluar dari sini," suara Reza rendah, bergetar karena emosi yang tertahan.
"Keluar? Hei, kami ke sini baik-baik, Za. Bos sudah bosan dengar janji manismu. Utangmu itu sudah berbunga jadi tiga puluh juta. Kalau hari ini tidak ada lima juta saja, aku rasa wanita ini bisa ikut kami sebentar untuk... jaminan," pria itu tertawa, diikuti oleh temannya yang bertubuh lebih besar.
Anya gemetar hebat. "Za, jangan..."
Reza maju satu langkah. "Dia tidak ada urusannya dengan ini. Dia bukan istriku lagi. Keluar."
Si pria cepak kehilangan kesabarannya. Ia mendorong dada Reza hingga punggung Reza menghantam pintu kayu yang rapuh. "Jangan belagu, sampah! Kamu itu cuma orang gagal yang bahkan mau mati saja tidak becus! Mana uangnya?!"
Di titik itu, sesuatu di dalam otak Reza "putus". Semua penghinaan yang ia terima selama setahun terakhir, semua rasa malu karena kemiskinan, dan semua keputusasaan tadi pagi berubah menjadi kekuatan fisik yang murni. Saat pria itu hendak melayangkan pukulan, Reza lebih cepat. Ia menghantamkan tasnya yang berisi botol minum berat tepat ke wajah si penagih hutang.
Buk..!
Hidung si pria cepak berdarah. Temannya yang besar langsung menerjang, tapi Reza yang selama berjam-jam tadi berkelahi dengan kemacetan Jakarta memiliki insting bertahan hidup yang sedang memuncak. Ia merunduk, mengambil kursi plastik biru yang kakinya goyang itu, dan menghantamkannya ke arah pria besar tersebut. Kursi itu pecah, tapi berhasil membuat lawan terhuyung.
Reza tidak berhenti. Ia mengeluarkan gulungan tali jemuran kuning dari tasnya.Dengan gerakan cepat yang bahkan ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya, ia melilitkan tali itu ke pergelangan tangan si pria cepak yang masih memegangi hidungnya yang berdarah.
"Kau mau tahu rasanya tali ini, hah?!" teriak Reza. Ia menarik tali itu kencang, memiting lengan pria itu di belakang punggungnya. "Tali ini hampir membunuhku tadi pagi! Kau pikir aku takut padamu?! Aku sudah tidak takut mati, bodoh! Itu artinya aku tidak punya alasan untuk menahan diri!"
Mata Reza terlihat gila. Pria cepak itu ketakutan. Ada perbedaan besar antara berkelahi dengan orang yang ingin menang, dan berkelahi dengan orang yang merasa sudah tidak punya apa pun untuk dipertahankan. Orang seperti Reza adalah mimpi buruk bagi para preman pasar.
Pria besar yang satunya hendak maju lagi, tapi melihat Reza yang begitu beringas dan Anya yang mulai berteriak histeris, ia ragu.
"Pergi! Bawa temanmu ini atau aku akan memastikan polisi menemukan kalian di sini dengan leher terikat!" ancam Reza.
Ia melepaskan pitingan nya dan mendorong si pria cepak ke arah temannya. Keduanya terengah-engah, menatap Reza seolah-olah mereka baru saja melihat setan. Tanpa sepatah kata lagi, mereka kabur keluar dari apartemen, menyumpah-nyumpah bahwa mereka akan kembali dengan orang yang lebih banyak.
Reza terengah-engah. Ia menjatuhkan tali kuning itu ke lantai. Tangannya bergetar hebat. Amarahnya surut, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Ia jatuh berlutut di tengah ruangan.
Anya berlari mendekat, langsung memeluknya dari samping. " Kau gila! Mereka bisa saja membunuhmu!"
"Aku sudah mati tadi pagi, Anya," bisik Reza, suaranya parau. "Sisanya hanyalah bonus."
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang komisi dari Budi dan uang tips dari pria tua tadi. "Ini... hanya ada seratus ribu. Aku tahu ini tidak cukup untuk membayar mereka, tapi ini cukup untuk kita pergi dari sini malam ini."
"Pergi ke mana?"
"Ke mana saja. Hotel murah, terminal, rumah teman... yang penting jangan di sini. Mereka akan kembali," Reza menatap Anya dengan tulus. "Aku akan menjagamu. Aku berjanji. Bukan sebagai mantan suamimu, tapi sebagai manusia yang berhutang nyawa pada rasa lapar."
Anya menangis, kali ini tangisan lega. Ia membantu Reza berdiri. Mereka mulai mengemasi sisa-sisa barang yang sangat sedikit ke dalam satu tas ransel. Reza mengambil tali kuning itu kembali, tapi kali ini ia tidak menyimpannya dengan niat buruk. Ia memasukkannya ke dalam tas sebagai pengingat bahwa sesuatu yang bisa digunakan untuk mengakhiri hidup, juga bisa digunakan untuk mempertahankannya.
Malam itu, mereka keluar dari apartemen nomor 402 tanpa menoleh ke belakang. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Reza berjalan di depan, memimpin jalan bagi Anya. Di kepalanya, ia tidak lagi memikirkan font Times New Roman untuk surat perpisahan. Ia mulai memikirkan rute pengantaran paket untuk besok pagi.
Hidup ternyata masih sangat berisik, sangat mahal, dan sangat berbahaya. Tapi bagi Reza, selama ia masih bisa merasakan perih di lehernya dan berat tas di bahunya, itu artinya ia masih ada di dalam permainan.
"Za ," panggil Anya saat mereka sampai di halte bus.
"Ya?"
"Terima kasih sudah gagal tadi pagi."
Reza hanya tersenyum tipis, menatap bus yang datang dari kejauhan. "Sama-sama. Ayam gepreknya memang terlalu pedas untuk dilewatkan."
Reza dan Anya berakhir di sebuah losmen murah di daerah Senen. Kamarnya pengap, bau pembersih lantai murahan menyeruak dari balik sprei yang sudah mulai menipis warnanya. Di luar, suara kereta api yang melintas setiap beberapa menit menjadi pengantar tidur yang kasar. Namun, bagi Reza, lantai semen yang keras ini terasa lebih aman daripada apartemennya yang kosong.