Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Semua orang menatap Aurora dengan eskpresi yang berbeda-beda, ada yang kagum. Namun, tak sedikit merasa Aurora terlalu sombong.
"Aku Aurora Bellazena Harvey, putri yang tertukar dengan Anjani Rosalinda karena kesalahan rumah sakit, akulah putri sah dan akulah keturunan Harvey yang asli," suara Aurora menggelegar di sana menimbulkan kembali bisik-bisik dan berita besar langsung bermunculan di forum sekolah.
Keributan yang di timbulkan oleh Anjani juga Aurora sampai pada para guru dan Aruna. Mereka semua masuk ke kantin untk menghentikan aksi keributan yang bisa saja tersebar keluar lingkungan sekolah.
"Anjani," panggil Aruna.
Aurora menoleh, dia melipat tangan di dada dan bergumam,"Pertunjukan lain akan segera di mulai!"
Aruna berjongkok cepat, menarik tubuh Anjani yang terduduk lemah di lantai. "Anjani, kamu... apa kamu baik-baik saja?" Suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Anjani menatap Aruna dengan mata yang basah oleh air mata, lirih ia membalas, "Sakit, Kak..." Tangannya gemetar menyentuh pipi yang membara, merah merekah karena tamparan Aurora.
Kemarahan Aruna membuncah. Ia mengepal tangan begitu kuat sampai kuku mencengkeram telapak, napasnya berat penuh amarah.
Matanya tajam mengunci sosok Aurora yang berdiri dingin tanpa rasa bersalah.
"Aurora," suaranya menjadi pedang bermata dua, "Kenapa kamu tega menyakiti Anjani? Minta maaf sekarang juga!" Tekad Aruna tebal, tak peduli siapa yang mulai baginya, Aurora sudah melewati batas.
Aurora tertawa sinis, suaranya menggema penuh ejekan. "Menyakiti Anjani? Minta maaf? Hahaha, mana mungkin."
Tatapan Aruna menjadi lebih menusuk, bayangan kemarahan membayangi seluruh wajahnya. "Kenapa kamu tertawa? Aku perintahkan untuk minta maaf, bukan buat bahan tertawaan." Suaranya rendah tapi penuh ancaman, seolah menggenggam badai yang siap meledak kapan saja.
Aurora menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya, tertawa getir. "Lucu sekali kamu, Kak. Aku yang jadi korban, tapi aku juga yang harus minta maaf? Kamu malah lebih membela orang lain daripada adik kandungmu sendiri?" Suaranya penuh luka, sekaligus menantang, membuat udara di sekitar mendadak tegang.
Bisik-bisik di kantin menyebar seperti api yang membakar, meninggalkan dingin di hati Aruna yang mendengarnya dengan suara tercekat.
"Kenapa Aruna malah membela Anjani? Padahal Anjani yang mulai, yang sengaja menyiram Aurora."
"Astaga, ternyata Aruna jahat. Lebih pilih orang luar daripada adik kandungnya sendiri."
" Kasihan sekali Aurora memiliki kakak seperti Aruna"
"Si Anjani benar-benar keterlaluan! Padahal Aurora tak pernah sedikit pun mengganggunya, tapi tiba-tiba datang dan menyiramnya dengan air, lalu menamparnya tanpa alasan!"
" Iya pick me banget jadi cewek".
Aruna membeku di tempat, jantungnya berdetak seolah mau pecah. Seluruh orang yang ada di kantin seakan menudingnya.
mereka semua tahu kini, Aurora lah darah asli keluarga Harvey, bukan Anjani.
Aurora menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan. "Sekarang kamu tahu kan, siapa yang mulai duluan? Tak perlu aku jelaskan lagi." Suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang.
Aruna terpaku, bingung harus berbuat apa. Seluruh kantin seperti menjadi saksi bisu yang lebih tahu kebenaran daripada dirinya sendiri.
Jika dia berani membela Anjani, namanya yang akan jadi bulan-bulanan, reputasinya tercemar.
Namun, matanya tak bisa lepas dari tatapan Anjani penuh sedih dan memohon, seperti mengharapkan pertolongan yang tak mudah diberikan.
Hati Aruna teriris, menggigit bibir bawahnya dalam pergulatan batin yang mencekam. "Ayo, kita ke UKS saja," ucapnya pelan sambil merangkul Anjani, berusaha menahan luka yang tersembunyi di balik kata.
Anjani menolak, suaranya terbata, "Tapi kak, Aurora—"
"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Di sini terlalu banyak mata yang mengawasi," potong Aruna dengan tegas, pandangannya mulai berubah menjadi tajam penuh tekad.
Saat mereka melangkah pergi meninggalkan kantin, sebelum benar-benar jauh, Aruna menoleh dan menatap Aurora dengan bara kemarahan yang terpendam, "Aku akan adukan ini pada mama dan papa."
Suara itu menggema seperti ancaman sunyi, membawa gelombang badai yang akan mengoyak dunia Aurora.
" Silahkan, aku tak takut." Sahut Aurora tak kalah dingin.
...****************...
Di sudut lain ruangan, para guru menghela napas berat, hatinya baru bisa sedikit tenang saat keributan mereda. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
"Aurora, ikut saya ke BK sekarang juga," suara tegas guru BK memecah sunyi.
Seina menatap Aurora, mata mereka berbicara tanpa kata, penuh kegelisahan yang sulit diurai.
"Aku bisa mengatasi ini... tenang saja," bisik Aurora, suaranya lirih tapi penuh tekad yang hampir terasa seperti janji.
Seina hanya mengangguk perlahan, meski hatinya bergejolak, dia tahu bahwa badai belum sepenuhnya berlalu.
Lalu Aurora melangkah mengikuti guru ke ruang BK dengan sikap tenang, seolah dunia tak pernah menaruh beban di pundaknya.
Namun di balik ketenangan itu, udara di sekitar muram dengan bisik-bisik kekhawatiran. Para guru berkata pelan, memperingatkan setiap murid agar merahasiakan peristiwa ini.
"Jangan sampai isu ini menyebar ke luar sekolah,jika sampai tersebar kalian akan mendapatkan hukuman" tegas mereka, suara mereka berat penuh ancaman tersamar.
Karena jika gosip ini sampai tersebar, bukan hanya nama baik sekolah yang akan tercemar, tapi juga keluarga Harvey.
...****************...
Setelah guru Aurora, Aruna, dan Anjani pergi. suasana kantin berubah menjadi lautan bisik penuh kegaduhan.
Di tengah keramaian itu, para anggota inti Code Black berkumpul, membahas sebuah rahasia yang baru saja terkuak.
"Gila, ternyata anak baru itu benar-benar putri keluarga Harvey? Aku nggak nyangka sama sekali," seru Galaxy dengan mata membelalak, suaranya menggema di antara bisik-bisik lain.
"Pantesan, Anjani nggak ada mirip-miripnya sama keluarga Harvey," celetuk Abi tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya termasuk geng Araina yang sejak tadi memperhatikan.
Abi menatap balik dengan heran "Kenapa? Kalian menatap aku begitu?"
Arion melihat ke arah Abi, nada suaranya menggoda, "Tumben, nih, kamu ikutan ngomongin keluarga Harvey."
Abi mencibir, "Aku benci sama Anjani. Jadi Cewek kok pick me banget." Ucapannya pedas melesat ke udara, seperti pisau yang tanpa ampun menyayat rasa.
Kejutan melintas wajah teman-temannya, kemudian tawa kecil pecah pecah memenuhi sudut kantin.
"Pedes banget, Bi! Mulutmu itu lho, nggak ada obatnya," goda Araina sambil menyengir.
Clarin menimpali dengan heran, "eh bulan Tapi tumben itu pacar mu ikut campur, biasanya cuek abis?"
Bulan menghela napas panjang, lalu menatap Abi dengan mata setengah tertawa, "Baru tahu kalian, ya? Abi itu mulutnya emang tajam, bicaranya nggak pernah pelit racun."
Di antara tawa dan candaan itu, sebuah ketegangan halus tetap terasa di udara, menandai bahwa perbincangan ini lebih dari sekadar gosip biasa.
Sebuah pertarungan diam tersimpan dalam kata-kata yang terlontar antara dendam dan kebencian yang sulit dipadamkan.
selalu d berikan kesehatan😄