"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Awal dari Perubahan.
Evan masih terpaku di tempatnya berdiri meski Rieta sudah keluar kamar beberapa menit lalu. Pikirannya mendadak buntu, otaknya mengulang kembali semua kalimat yang baru saja Rieta ucapkan, semua perlakuan yang sudah ia lakukan terhadap Rieta mulai berputar ulang di pelupuk matanya.
Tapi kemudian ia tersentak, berbalik cepat ke arah pintu kamar dengan satu pertanyaan yang melintas di pikirannya.
"Bagaimana jika kali ini Rieta mengadu pada ayahnya atas semua yang sudah ia ucapkan?"
"Tidak..."
Evan menggeleng, segera keluar kamar untuk menyusul istrinya. Selama ini Rieta memang tidak pernah mengadu pada siapapun atas semua sikap dan perlakuannya terhadap Rieta. Tetapi malam ini berbeda. Wanita itu sudah berani mengeluarkan emosi di hatinya, yang artinya Rieta juga bisa mengadu pada ayahnya.
Kaki panjang Evan melangkah cepat mencari sang istri dengan hati was-was. Akan tetapi, melihat suasana rumah dalam pencahayaan redup sedikit melegakan hatinya, membuat ia berkesimpulan bahwa semua orang sudah tidur, hingga ia terpikirkan satu tujuan yang menjadi kemungkinan tempat istrinya berada saat ini.
"Rie ... Apakah kamu di dapur?"
Suara Evan yang menggema dalam keheningan malam mengejutkan Rieta yang saat ini terjebak dalam suasana intim bersama Arlan dimana Rieta berada di antara kedua tangan Arlan, sementara pinggangnya terhimpit meja counter dapur dengan Arlan berada tepat di depannya.
"Menyingkir!" Rieta menggeram tertahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara saat Arlan justru kian menekan tubuhnya.
"Jawab aku," tekan Arlan menatap lekat manik mata Rieta. "Apa yang Evan lakukan terhadapmu?"
Arlan menatap wajah Rieta lekat, sorot mata itu menunjukkan Rieta tidak dalam keadaan baik-baik saja. Wajah yang ternyata jauh lebih cantik dari potret yang pernah ia lihat sebelum kepulangan Rieta, sekaligus wajah yang berhasil mengusik hatinya hanya dengan satu potret saja sampai ia tidak lagi peduli dengan jarak usia diantara mereka. Satu hal yang ia tahu, ia tertarik pada istri keponakannya.
"Tidak ada," jawab Rieta. "Ahh... Paman!"
Rieta nyaris berteriak saat Arlan tiba-tiba meremas pahanya yang hanya terbungkus piama sepanjang lutut, tangan kekar itu bahkan mulai menaikkan celana yang Rieta kenakan hingga membuat Rieta bisa merasakan udara dingin sekitar membelai kulit pahanya.
"Jawab aku dengan jujur atau aku akan melakukan hal lebih dari ini," ancam Arlan.
"Sudah kukatakan tidak ada-... hentikan!" panik Rieta.
Tangan Rieta bergerak cepat menahan tangan Arlan saat tangan pria itu akan menelusup masuk ke balik celana pendeknya.
"Tolong berhenti, jangan seperti ini, aku keponakanmu," ucap Rieta mengingatkan dengan nada memohon, berharap pamannya berhenti melakukan aksinya.
"Keponakanku hanya satu, dan itu adalah Evan. Aku bahkan hampir tidak pernah mengakuinya sama seperti dia tidak mengakuiku sebagai pamannya," jawab Arlan.
"Aku istri Evan," Rieta memperjelas statusnya, tetapi tetap tidak cukup untuk membuat Arlan berhenti.
Arlan mendekatkan wajahnya, menahan tengkuk Rieta saat wanita itu akan menjauh. Dorongan serta pukulan di dada yang ia dapatkan dari Rieta seolah tidak ia rasakan, ia malah kian mengikis jarak.
"Jantungmu berdebar..." Arlan berkata dengan suara serak, bibirnya hanya berjarak beberapa senci saja dari bibir Rieta.
"Apakah itu karena aku yang berada di dekatmu atau hal lain?"
"Rie ... Kamu di sana?"
Suara Evan kian mendekat, gema dari suara langkah kaki Evan perlahan memenuhi udara, tetapi keintiman yang terjadi masih berlangsung.
"Suara langkah yang mendekat..." Arlan kembali berbicara saat melihat bibir Rieta bergerak.
"Suara gagang pintu yang dibuka..."
Debaran jantung Rieta makin tak terkendali. Rasa takut, cemas, panik berbaur menjadi satu. Dan anehnya, adrenalinnya justru terpacu. Wajah Arlan yang berada sangat dekat, hembusan napas panas yang menyapu wajahnya, membuat ia nyaris kehilangan akal.
"Haruskah kita lari? Atau... Sembunyi?" bisik Arlan sambil meniupkan udara di telinga Rieta.
"Rie?"
Tepat di detik terakhir setelah Arlan meniup telinganya disertai gigitan kecil yang membuat tubuhnya terasa seperti tersengat listrik, Rieta berhasil mengembalikan kewarasannya dan menekan bahu Arlan hingga tubuh tinggi pria itu tertutupi sempurna di balik meja counter dapur, terduduk tepat di samping kakinya.
"Ya?" Rieta menyahut, membalikkan badan hingga ia menemukan sosok penuh Evan melangkah mendekat ke arahnya, berdiri di sisi lain meja. Melihat ekspresi pria itu, Rieta berkesimpulan bahwa Evan tidak melihat Arlan saat pria itu mengurung tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Rieta senormal mungkin meski debaran jantungnya masih berpacu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Evan lembut.
Rieta mengernyitkan dahi. Jelas ia merasa heran mengapa Evan bertanya selembut setelah sesaat lalu berkata pedas padanya.
"Aku haus, ada apa?" Rieta balas bertanya dengan nada datar.
"Ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kamu kembali ke kamar?" pinta Evan.
"Aku segera menyusul," jawab Rieta seraya kembali meneguk air dari gelasnya.
"Baiklah, aku akan menunggu." jawab Evan seraya berbalik, tetapi urung saat mata Evan menemukan gelas lain berisi air di dekat Rieta.
"Apakah kamu bersama seseorang sebelumnya?" tanya Evan dengan pandangan tertuju pada gelas di dekat Rieta.
"Tidak. Aku yang menggunakan gelas ini sebelumnya," kilah Rieta melirik sekilas ke bawah. "Tapi ada sedikit noda di gelas ini, jadi aku menggantinya dengan gelas yang lain."
Di tengah usaha Rieta dalam menutupi keberadaan Arlan yang duduk di samping kakinya, pria itu justru tertawa tanpa suara, kepalanya sedikit tengadah, menatap wajah Rieta dari tempat ia duduk, lalu terbersit pikiran jahil di otaknya saat ia mendengar suara Evan lagi.
"Begitu..." Evan berkomentar sambil mengangguk, lalu membalikkan badan dan melangkah menjauh.
"Ahh...!"
Tubuh Evan kembali berbalik cepat menghadap Rieta ketika ia mendengar istrinya menjerit tertahan.
"Ada apa?" tanya Evan kembali mendekat, tetapi urung saat melihat tangan Rieta terulur maju sembari memberikan kibasan ringan.
"Tidak apa-apa," jawab Rieta sedikit menundukkan kepala dan melotot pada pria yang kini hanya tertawa tanpa suara setelah apa yang baru saja pria itu lakukan. Arlan sengaja mengelus kakinya. "Hanya sedikit kesemutan."
Evan kembali mengangguk, lalu berbalik pergi meninggalkan dapur. Sesaat setelah Evan menghilang dari pandangan Rieta, ia beranjak dari tempatnya berdiri, namun lagi-lagi Arlan menahan pergelangan tangannya.
"Tolong!" tekan Rieta segera menarik kasar tangannya. "Jangan buat aku menjadi lebih rendah lagi dengan sikap yang Paman berikan padaku. Aku sudah bersuami."
Selesai dengan kalimat itu, Rieta melenggang pergi meninggalkan Arlan yang terpaku di tempatnya berdiri. Sementara Rieta membawa langkahnya menuju kamar, mendapati suaminya segera berdiri begitu ia datang dan mengulurkan tangan untuk meraih tangan Rieta.
Namun, sebelum tangan Evan sempat menyentuh tangannya, Rieta segera menjauhkan tangannya, lalu melangkah mundur untuk membentang jarak.
"Aku lelah, aku ingin istirahat," ucap Rieta datar.
Evan yang mendapatkan penolakan pertama kali dari istrinya tertegun, netranya mengikuti langkah Rieta yang berjalan menuju sofa yang menjadi tempat Rieta tidur sejak mereka berdua menikah. Harusnya ia senang melihat sikap Rieta demikian, itu artinya ia memiliki alasan untuk bercerai.
Tapi, kenapa kali ini hatinya resah?
. . . .
. . . .
To be continued...