NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 1 bagian 8

Setelah seminggu penelitian kasus, akhirnya hasil otopsinya keluar. Bima tiba di rumah sakit untuk mengambil hasil otopsi. Seperti apa yang dikatakan Daniel satu-satunya cara untuk menyelamatkan Mitha adalah dengan memecahkan teka-teki siapa yang membunuhnya. Sebenarnya ia tidak peduli dengan gadis itu, ia lebih peduli pada masalah keponakannya. Atau kenaikan pangkatnya mungkin. Siapa yang tahu akan ada kasus besar di balik kasus kecil yang menerpa keponakannya.

Terkadang ia menyayangkan mengapa kakak perempuannya harus menikah dengan orang terpandang yang tidak terhormat itu. Mungkin jika di masa lalu dia tidak menikahi Dewanta, hal-hal aneh tidak akan terjadi dalam kehidupannya. Diskriminasi sosial, menjauh dari suaminya dan yang terpenting Andre yang selalu terancam. Belum genap 2 bulan semester baru dimulai dan masalah sebesar ini sudah menimpanya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah dia bahkan tidak terlibat dalam kasus ini sama sekali.

Dengan ragu ia mengetuk pintu ruangan bertuliskan ‘FORENSIK’. Ruangan yang hampir tidak pernah ia datangi seumur hidupnya. Ia membuka kenop pintu itu setelah mendengar izin dari dalam ruangan. Di sabut dengan udara dingin dan ruangan yang cenderung gelap, tanpa sadar bulu kuduknya merinding. Orang gila mana yang betah tinggal di ruangan sedingin ini.

“Pak Bima, lebih pagi dari yang aku pikirkan” sapa seorang wanita dari balik meja.

Stefani Ayuna, Dokter spesialis Forensik dan Medikolegal, itu yang tertulis di papan nama yang di letakan di atas meja. Seorang wanita berusia 30an dengan perawakan yang tidak terlalu tinggi dan berbadan proporsional. Ia menggunakan pakaian panjang berwarna hijau muda dengan penutup kepala yang menyembunyikan rambut sebahunya. Ia tersenyum kecil, menyembunyikan secercah kelelahan yang terpancar di matanya.

“Ini sedikit mendesak jadi aku sedikit terburu-buru” jawab Bima.

“Apa karena ini melibatkan keluargamu?” tanya sang dokter.

“Sebenarnya ini tidak menyangkut keluargaku sama sekali, hanya kebetulan salah satu teman keponakanku punya sedikit kecurigaan” jawab Bima. Ia mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, berusaha tidak menatap dokter itu.

“Terkadang orang yang tahu lebih dulu itu perlu dicurigai keterlibatannya” kata dokter itu lagi. Ia membuka loker mejanya memilih beberapa berkas dan mengambil yang dibutuhkan.

“Dia indigo” jawab Bima.

“Pak Bima, berapa banyak kasus yang telah anda tangani dengan bantuan indigo ini? Apakah itu lebih banyak dari kasus yang disebabkan oleh orang-orang indigo ini?” tanya dokter itu menghentikan semua aktivitasnya untuk menatap Bima.

Bima tahu yang dibicarakan oleh dokter ini. Itu merujuk pada kasus penipuan, permasalahan mental, dan kejahatan yang disembunyikan. Terlalu banyak kasus yang mengada-ada hingga terkadang kasus yang benar-benar ada terlupakan begitu saja.

“Terkadang mengetahui lebih sedikit itu lebih baik daripada mengetahui segalanya. Berprasangka bukan lah hal yang boleh dilakukan oleh seorang ahli forensik, Dokter Stevani” jawab Bima menatap dokter itu tajam.

Dokter itu tersenyum kecil. Dia mengulurkan amplop dokumen hasil otopsi itu kepada Bima.

“Saya tidak berprasangka, hanya saja akhir-akhir ini banyak kasus di luar nalar yang saya tangani. Itu membuat saya seperti orang bodoh, tidak tahu siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku kejahatan” ucapnya sambil meletakkan kaca mata kerjanya. Seharian bergelut dengan sesuatu yang tidak bernyawa memang tidak selalu menyenangkan.

Bima tidak membalas, ia membuka amplop itu dan mulai membaca satu persatu. Korban adalah gadis berusia 18 tahun yang dilaporkan menghilang oleh keluarganya 2 bulan yang lalu. Data terakhir yang diterima kepolisian adalah kemunculannya di salah satu pusat perbelanjaan di malam ia dinyatakan hilang. Tidak ada saksi mata atau CCTV yang memberi petunjuk kemana ia pergi.

“Seperti dugaan semua orang ini murni pembunuhan. Korban menelan sianida dalam jumlah besar dan mati seketika. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau paksaan lainnya, waktu kematian diperkirakan 50 sampai 60 hari yang lalu dan dikuburkan tidak lama setelah waktu kematian. Tidak ada darah, sidik jari atau DNA lain yang tertinggal. Tampaknya pelaku benar-benar memperhatikan tindakannya” jelas Stevani. Ini terdengar rumit dan sulit dilakukan apalagi oleh seorang siswa SMA, rasa curiganya seketika terpatahkan.

“Lalu bagaimana dengan puntung rokoknya?” tanya Bima mengingat-ingat.

“Dari 3 puntung rokok yang dikirim, 2 diantaranya memiliki DNA dan sidik jari yang sama dengan sampel gelas yang disusulkan. Namun satu puntung rokok lainnya tidak dapat diidentifikasi, tidak ada satu pun DNA yang tertinggal. Entah karena terlalu lama berada di TKP dan membuat DNAnya rusak atau memang tidak pernah dihisap” jawab Stevani.

“Apa gunanya mematik rokok tanpa dihisap?” tanya Bima sini. 

“Mungkin saja itu digunakan untuk mengusir serangga. Jika ditinjau dari keterangan TKP dan waktu kejadian, diperkirakan pelaku melakukan penggalian itu di malam hari. Jika ia tidak ingin meninggalkan jejak maka sudah pasti ia akan menggunakan sarung tangan, penutup kepala, dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bisa menghisap rokoknya. Namun tempat itu adalah hutan tanpa penghuni dan tentu penuh dengan nyamuk kebun yang menganggu, ia bisa mengusirnya dengan asap yang dihasilkan. Itu waktu yang ia butuhkan untuk melakukan semuanya” jelas Stevani lagi.

“Rokok normal hanya akan bertahan selama 15 menit, mana mungkin pelaku melakukannya secepat itu” bantah Bima.

“15 menit untuk membakar habis puntungnya, dan 2-3 jam untuk menghilangkan asapnya” jawab sang dokter lebih tegas lagi. Ia terlalu malas memberi penjelasan pasa seorang perokok yang lebih suka membantah daripada mendengarkan.

Bima menghela nafas lelah, merapikan kembali dokumen itu, berterima kasih lalu melangkah keluar. Namun sebelum ia sempat menyentuh knop pintu, Stefani kembali berucap,

“seorang pelaku kejahatan selalu kembali ke tempat kejadian. Dia perlu memastikan semuanya sesuai keinginannya”

Bima menghentikan langkahnya, dia menyeringai kecil. Jika tidak ada siswa yang kesurupan di sekolah Andre, ia tidak akan mencari hingga ke tempat itu. Tidak ada satu pun petunjuk yang mengarah kesana. Siapa yang menjadi pelaku tidak akan jauh dari tempat itu.

“Aku juga mulai percaya bahwa korban meminta pertolongan untuk keadilannya. Namun siapa yang menyangka itu melalui suatu hal yang tidak dapat dilogika” ucap Bima tanpa berbalik. Dia dengan tegas melangkah pergi, mengabaikan sang dokter yang tampak ingin membantah.

Ia kembali ke kantor polisi untuk meneliti kembali dokumen hasil otopsi yang ia bawa, namun hingga 15 menit ia duduk di meja kerja, dokumen itu tidak lagi ia sentuh. Ia lebih tertarik untuk memikirkan apa yang diucapkannya oleh dokter itu. Dari mana Daniel tahu ada mayat di sana? Apakah dia benar-benar indigo seperti yang diceritakan? Gelas kopi yang dikirimkan Daniel dan puntung rokok yang tertinggal adalah milik orang yang sama, apakah pelakunya kepala sekolah? Atau ada orang yang sedang membingkai kasus untuknya?

Tidak lagi dapat menunda rasa ingin tahunya, ia segera menyalin dokumen itu sebelum menyerahkannya pada pihak yang akan menyampaikan berita. Dengan ragu ia menelfon Andre dan memintanya bertemu di cafe kecil yang terletak tidak jauh dari sekolah. Ia juga menyuruh untuk membawa serta Daniel, dia ingin memastikan apakah rasa curiganya benar.

Bell pulang sekolah berdering tepat pukul 15.00, belum terlalu sore namun karena mendung suasana menjadi terlihat seperti hampir malam. Bima tengah menikmati makan siangnya yang terlambat ketika Daniel dan Andre masuk ke dalam cafe.

“Om, kenapa kami tidak dipesankan sekalian?” tanya Andre setelah duduk.

“Aku tidak tahu apa yang kalian suka, pesan lah aku yang akan bayar. Kita tidak akan membicarakan hal yang penting dengan perut kosong” dia menatap Andre “aku sudah mendengar apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, dan sejujurnya aku cukup kesal anak itu tidak di drop out” sambungnya.

“Kami juga kesal, tapi apa yang bisa kami lakukan? Ayahnya adalah salah satu donatur terbesar sekolah, tentu pihak sekolah tidak ingin kehilangannya” jawab Andre acuh.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu?” tanya Bima setelah menelan makanannya.

“Yang mana?” bingung Andre.

“Ya yang ingin kamu tetap hidup, aku tidak berurusan dengan gadis kesurupan itu”

“Tidak tahu, aku dengar nenek meminta tes DNA langsung dan hasilnya akan keluar dalam beberapa hari. Ia akan mengumumkan hasilnya pada pesta akhir tahun” jawab Andre malas.

Pesanan mereka datang beberapa saat kemudian, tidak ada satu pun kalimat yang terdengar selama 20 menit kedepan. Hanya ada suara denting piring dan sendok yang mengisi kesunyian.

“Jadi bagaimana hasilnya?” tanya Daniel begitu meja mereka telah bersih.

“Itu adalah seorang gadis berusia 18 tahun yang dilaporkan hilang 2 bulan yang lalu. Tidak ada jejak yang tertinggal dan tidak ada tersangka. Semua orang yang berada di dekatnya punya alibi dan saksi mata yang kuat untuk ditargetkan sebagai pelaku, tidak ada petunjuk. Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah puntung rokok yang kita temukan di TKP, dan itu punya DNA yang sama dengan gelas kopi yang kalian kirim beberapa hari yang lalu” jawab Bima, ia menyeruput kopi yang mengepul itu pelan.

“Semuanya?” tanya Daniel.

“Tidak. Satu diantaranya tidak terdeteksi DNA milik siapa. Entah karena terlalu lama di tempat lembab atau memang tidak dihisap. Tapi jika dikalkulasikan, kepala sekolah punya 75% bukti yang memberatkannya” jawab Bima.

“Seorang petugas kepolisian tidak boleh berprasangka Pak. Kita tidak bisa menduga pembunuhannya adalah kepala sekolah hanya karena puntung rokok itu. Aku dengar dari satpam sekolah bahwa kepala sekolah memang sering datang kesana untuk merokok, kalian pasti tahu aturan tentang larangan merokok di area sekolah dan itu adalah satu-satunya tempat yang sangat jarang dilewati dan sama sekali tidak terpantau CCTV. Tempat itu telah ditutup sejak awal semester dan membuatnya steril, tapi sebelum kejadian ini beberapa staf juga memilih tempat itu untuk beristirahat” ujar Daniel panjang.

Bima tersenyum kecil. Pagi ini ia telah mengatakan hal yang sama pada dokter forensik yang menangani kasusnya, siapa yang akan menduga seorang anak SMA akan mengatakan hal yang sama padanya?

“Jadi apa yang harus dilakukan, dia satu-satunya orang yang tertuduh dan dia satu-satunya orang yang datang ke TKP setelah kejadian itu” ucap Bima.

“Aku setuju dengan kalimat tentang pelaku akan kembali ke tempat kejadian, tapi kalian mungkin lupa sesuatu. Pelaku kali ini benar-benar jeli. Dia bahkan tidak meninggalkan DNA di puntung rokok pertamanya, lalu mengapa ia harus ceroboh di kunjungan kedua?” tanya Daniel.

Andre diam-diam kagum dengan Daniel. Tidak banyak orang yang tahu bahwa orang yang menghacking seluruh proyektor di sekolah adalah dia, dan hari ini ia bisa menganalisa kasus pembunuhan? Sepertinya ia detektif yang terjebak di raga siswa SMA.

“Hanya itu petunjuk yang kita punya” jawab Bima.

“Lebih baik membebaskan pelaku utama daripada menghukum orang yang tidak bersalah. Mitha juga tidak akan sembuh sebelum kasus ini selesai” ujar Daniel lagi.

Andre yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suara,

“kalian melupakan jejak kaki yang tertinggal” ujarnya.

“Ya aku mengingatnya, itu seperti jejak sepatu sneaker yang biasanya digunakan siswa laki-laki. Tidak untuk olahraga atau pun pembelajaran formal. Mungkin itu salah satu siswa organisasi yang datang ke sekolah pada malam kejadian, ada terlalu banyak orang yang menjadi tersangka” ucap Daniel sambil menerawang.

“Dan, memang kamu tidak bisa meminta arwah itu untuk menunjukkan siapa pelakunya?” tanya Andre penasaran.

“Tidak ada satu pun arwah yang dapat bersuara, bahkan perlu banyak energi untuk bernegosiasi dengan mereka. Mereka hanya meminta tolong dengan menampakkan diri. Mereka juga tidak merasuki orang yang hidup, jadi jika ada kasus yang mengatakan seorang saksi kesurupan arwah mungkin saja dia pelakunya. Atau mungkin dia hanya kekurangan perhatian” jawab Daniel. Dia memejamkan mata sebentar. Meski hari kejadian bukan hari formal aturan pasti masih berlaku, siapa yang berani melanggar peraturan sekolah.

“Jadi kasus kesurupan masalah juga tidak benar?” tanya Andre tidak percaya.

“Tidak sepenuhnya kasus kesurupan itu melibatkan hal supranatural, terkadang kondisi psikologis dan lingkungan juga berpengaruh” jawab Daniel tenang.

“Apakah tidak mempertimbangkan salah satu dari geng pembuatan masalah itu pelakunya?” tanya Andre lagi.

“Aku yakin Pak Bima sudah punya rekontruksi setelah mendengar kalimatmu ndre. Tapi rasanya tidak mungkin mereka pelakunya, bukan hanya karena mereka tidak berhubungan. Menurut rumor yang beredar 3 atau mungkin 4 anak lainya adalah anak yang bertanggungjawab, mereka menjadi semakin tidak terkendali sejak masuk ke SMA. Bagas dan Sora tidak mungkin menjadi pelakunya, mereka terlalu tergantung pada orang lain” jawab Daniel. Dia melirik Bima yang mengerutkan kening tidak setuju, tapi juga tidak mengeluarkan protes.

Andre tidak mengerti tetapi tidak ingin bertanya, jadi ia diam dan menciptakan keheningan. Hanya suara detik jam yang mengisi kekosongan selama beberapa saat. Hingga Daniel mengeluarkan suara,

“Bagas dan Sora dapat keluar dari masalah di sekolah karena orang tuanya, siapa lagi siswa yang tidak takut melanggar aturan karena orang tuanya?” tanya Daniel.

“Ya beberapa anak kaya yang membeli hukum, dan tentu saja Vito” jawab Andre acuh.

Daniel melempar pandang pada Bima,

“Pak Bima, bukankah seharusnya penyidik menyelidiki orang-orang yang terkait, mungkinkah mereka melewatkan sesuatu?”

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!