Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Naga Tersembunyi
Tiga bulan kemudian.
Musim semi telah tiba di Sekte Pedang Langit. Bunga persik bermekaran di sepanjang jalan setapak menuju Puncak Utama, mewarnai dunia dengan kelopak merah muda yang lembut. Namun, keindahan alam ini seolah tenggelam oleh gelombang antusiasme ribuan manusia yang membanjiri kaki gunung.
Hari ini adalah hari Ujian Masuk Sekte Dalam.
Bukan hanya murid luar Sekte Pedang Langit yang berkumpul di sini, tetapi juga perwakilan dari klan-klan besar dan genius muda dari kota-kota sekitar yang datang untuk mencoba peruntungan mereka melalui jalur eksternal.
Di Paviliun Elite Murid Luar, sebuah pintu kayu tebal perlahan terbuka.
Sesosok pemuda melangkah keluar, menghirup udara segar musim semi dalam-dalam.
"Tiga bulan..." gumam Li Tian.
Dia terlihat berbeda. Sangat berbeda. Tubuhnya kini lebih tinggi dan tegap. Kulitnya memancarkan kilau keemasan samar di bawah sinar matahari, tanda bahwa Tulang Emas-nya telah terbentuk sempurna. Auranya tenang dan dalam, seperti danau yang menyembunyikan naga.
"Bagaimana rasanya, Bocah?" suara Zu-Long terdengar di benaknya.
"Luar biasa," jawab Li Tian sambil mengepalkan tangannya. "Pil Tulang Emas itu benar-benar ajaib. Aku merasa tubuhku seringan kapas tapi sekeras baja. Tempa Tubuh Tingkat 9 Puncak. Aku sudah mencapai batas maksimal tubuh fana."
"Bagus. Tapi ingat, di Sekte Dalam, Tingkat 9 hanyalah standar minimum. Kau akan bertemu monster yang sesungguhnya di sana," ingat Zu-Long.
Li Tian mengangguk. Dia menyampirkan Pedang Angin Biru di punggungnya, membetulkan letak sarung tangan perunggunya, dan berjalan menuju lokasi ujian.
Lokasi ujian berada di Gerbang Naga Tersembunyi, sebuah gerbang batu raksasa setinggi lima puluh meter yang berdiri di kaki tebing curam. Di balik gerbang itu, terdapat Tangga Seribu Langkah yang legendaris, ujian pertama bagi calon murid dalam.
Saat Li Tian tiba, lautan manusia sudah memenuhi pelataran.
"Lihat! Itu Li Tian! Juara Kompetisi Luar!" "Kudengar dia mengalahkan Li Feng dengan satu pukulan!" "Cih, paling hanya beruntung. Lihat saja nanti di Tangga Seribu Langkah."
Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Li Tian mengabaikannya dan mencari wajah yang dikenalnya.
"Tian! Di sini!"
Han Gemuk melambai dari kerumunan. Dia terlihat sedikit lebih kurus—mungkin karena latihan keras tiga bulan ini—tapi senyumnya tetap lebar.
"Kau terlihat hebat, Han. Tingkat 8?" tanya Li Tian, merasakan aura sahabatnya.
"Berkat bantuanmu dan sisa hadiahmu, aku berhasil naik tingkat!" Han tertawa bangga. "Tapi saingan kita tahun ini gila, Tian. Lihat ke sana."
Han menunjuk ke arah sekelompok pemuda yang mengenakan jubah sutra putih dengan lambang awan perak. Mereka berdiri terpisah dari murid luar biasa, memancarkan aura arogansi yang kental.
"Itu rombongan dari Kota Awan Putih. Yang di tengah itu Zhao Feng. Kudengar dia sudah mencapai Setengah-Langkah Bangkit Jiwa sejak usia 14 tahun. Jenius gila."
Li Tian melihat pemuda bernama Zhao Feng itu. Wajahnya tampan tapi dingin, matanya menatap orang-orang di sekitarnya seperti melihat semut.
Tiba-tiba, kerumunan di sisi lain pelataran membelah, menciptakan jalan lebar. Suara riuh mendadak senyap, digantikan oleh desahan kagum.
Seorang gadis berjalan melewati kerumunan itu.
Dia mengenakan gaun putih polos yang berkibar lembut ditiup angin. Rambut hitamnya yang panjang tergerai lurus hingga pinggang. Wajahnya cantik bagaikan lukisan dewi, namun ekspresinya sedingin es di puncak gunung.
"Itu... Su Yan," bisik Han Gemuk, wajahnya memerah. "Putri dari Tetua Agung Sekte Dalam. Dia turun gunung untuk mengikuti ujian ini secara adil, padahal dia bisa langsung masuk lewat jalur khusus."
Li Tian menatap gadis itu. Cantik, memang. Tapi yang menarik perhatian Li Tian bukan kecantikannya, melainkan aura di sekitar gadis itu.
"Dia kuat," batin Li Tian. "Sangat kuat."
"Gadis itu memiliki tubuh Yin Murni," komentar Zu-Long. "Bakat kultivasi yang langka. Dia mungkin saingan terberatmu hari ini."
Seolah merasakan tatapan Li Tian, Su Yan menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sesaat. Mata Su Yan yang bening menatap Li Tian tanpa emosi, lalu beralih kembali ke depan seolah Li Tian tidak penting.
"Sombong sekali," kekeh Li Tian.
DUM! DUM! DUM!
Tiga kali suara drum raksasa dipukul. Seorang Tetua berjubah ungu muncul di atas Gerbang Naga Tersembunyi, melayang di udara tanpa bantuan alat apa pun.
Kultivator Ranah Jiwa Baru!
"Diam!" suara Tetua itu menggema, menekan ribuan orang di bawah hingga hening.
"Namaku Tetua Guntur. Aku pengawas ujian tahun ini."
"Aturan ujian pertama sederhana: Tangga Seribu Langkah. Tangga ini dilapisi oleh Formasi Penekan Jiwa. Semakin tinggi kalian mendaki, semakin berat tekanan pada jiwa dan tubuh kalian."
Tetua Guntur menunjuk ke puncak tebing yang tertutup awan.
"Siapa pun yang bisa mencapai langkah ke-500, Lulus. Siapa pun yang mencapai langkah ke-800, mendapat hadiah. Dan jika ada yang bisa mencapai Puncak (Langkah 1000)... Sekte akan mengabulkan satu permintaan wajar darinya."
Mata semua peserta berbinar. Satu permintaan!
"Waktu kalian... satu batang dupa. Mulai!"
Begitu kata "Mulai" terucap, ribuan peserta langsung menyerbu ke arah tangga batu yang lebar itu seperti air bah.
"Ayo, Tian!" seru Han Gemuk, ikut berlari.
Li Tian tidak terburu-buru. Dia membiarkan gelombang pertama lewat. Dia melihat banyak murid yang begitu menginjak anak tangga pertama langsung terjatuh berlutut, wajah mereka pucat pasi.
"Tekanan Jiwa, ya?"
Li Tian melangkah maju. Kakinya menginjak anak tangga pertama.
Wush.
Dia merasakan beban tak kasat mata menimpa bahunya. Rasanya seperti membawa karung beras seberat 50 kg.
Bagi orang biasa, ini berat. Bagi Tempa Tubuh Tingkat 9 dengan Tulang Emas?
"Ini bahkan tidak terasa seperti menggelitik," gumam Li Tian.
Dia mulai berjalan naik. Bukan berlari, tapi berjalan dengan kecepatan konstan yang menakutkan. Dia melewati murid-murid yang sedang merangkak atau terengah-engah di langkah ke-100.
Di langkah ke-200, tekanan meningkat dua kali lipat. Li Tian tetap berjalan santai dengan tangan di belakang punggung.
Di depan sana, Zhao Feng dan Su Yan sudah berada di langkah ke-400, memimpin jauh di depan.
"Mari kita lihat seberapa tinggi langit ini," kata Li Tian sambil mempercepat langkahnya.
Ujian Sekte Dalam telah dimulai, dan Li Tian tidak berniat untuk sekadar "Lulus". Dia mengincar Puncak.