Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Sabotase dan Rahasia Masa Lalu
Aulia berdiri di depan meja Kepala HRD dengan tatapan yang bisa membekukan udara. Ia baru saja mengetahui bahwa Jane—wanita yang ia kenal sebagai bagian dari masa lalunya yang kelam—telah resmi direkrut sebagai asistennya melalui prosedur yang menyimpang. Henry secara sepihak melangkahi wewenang Aulia sebagai kepala bagian teknik.
"Saya adalah atasan langsung di laboratorium itu. Sesuai SOP, saya yang memegang kendali atas siapa yang masuk ke tim saya," tegas Aulia, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Namun, Kepala HRD hanya mengangkat bahu dengan ekspresi meremehkan. Di matanya, Aulia adalah orang yang sebentar lagi akan ditendang dari UME jika taruhannya dengan Henry gagal. "Prosedur bisa disesuaikan dalam keadaan darurat, Scarlett. Henry merasa kamu butuh bantuan segera agar tidak gagal di akhir bulan. Terimalah, atau kamu akan dianggap menghambat kemajuan proyekmu sendiri."
Aulia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ia sadar otoritasnya sedang dirongrong secara sistematis. Namun, dengan sisa sepuluh hari yang sangat krusial, ia memilih untuk tidak terjebak dalam perang mulut. Ia harus membiarkan musuh masuk ke dalam selimutnya daripada membiarkan proyek ini terhenti karena konflik birokrasi.
Sementara itu, di sudut kantin yang tersembunyi, Jane sedang menyuapi Melati dengan informasi yang lebih beracun daripada kopi yang mereka minum. Jane memutarbalikkan fakta tentang pernikahan Aulia dengan sangat lihai.
"Kamu tahu tidak? Dia itu sebenarnya 'pengantin pengganti' yang tidak tahu diri," bisik Jane dengan wajah jijik. "Dia merebut posisi di malam pesta lajangku. Enam tahun dia hidup sebagai benalu di keluarga besar, menjadi bahan tertawaan karena tidak punya harga diri. Dia hanya sampah yang kebetulan mendapat keberuntungan."
Jane sengaja merahasiakan identitas Rizki. Ia tidak ingin Melati tahu bahwa "sampah" yang ia maksud pernah bersanding dengan pria paling berpengaruh di kota ini. Baginya, menghapus eksistensi Aulia dari ingatan sosial adalah misi utamanya.
Melati tertawa sinis, merasa mendapatkan amunisi yang lebih dari cukup. "Pantas saja kelakuannya menjijikkan. Kemarin aku melihatnya di restoran bersama pria kaya, berpura-pura menjadi korban saat dilabrak wanita lain. Ternyata dia memang 'pemain' profesional."
Jane tertegun, lalu seringai licik muncul di wajahnya. "Jadi dia menggoda Mavin, Rizki, dan sekarang pria misterius di restoran? Luar biasa. Aku harus memastikan orang tuaku, Caksa dan Wenny, tahu tentang ini agar mereka tidak memberinya celah untuk kembali."
Sore harinya, Aulia menunjukkan profesionalisme yang nyaris robotik. Ia memasuki ruangan Henry, membawa proposal final dan purwarupa robot yang telah ia sempurnakan. Lengan robot itu kini mampu melakukan gerakan mikro-presisi yang belum pernah dicapai oleh prototipe Henry sebelumnya.
Henry tertegun sejenak saat memeriksa data di tablet yang diserahkan Aulia. Matanya berkilat penuh rasa tidak percaya. Ia menyadari bahwa Aulia telah melampaui standar teknis perusahaan dalam waktu yang jauh lebih cepat dari janjinya.
Namun, alih-alih memberikan apresiasi, Henry justru melempar berkas itu ke meja dengan kasar. "Cepat bukan berarti hebat, Scarlett. Ini baru di atas kertas. Bagaimana jika alat ini meledak saat demonstrasi?"
"Data tidak berbohong, Henry. Robot itu siap diuji kapan saja," jawab Aulia dingin.
"Baiklah. Letakkan di ruang penyimpanan teknis," perintah Henry sambil tersenyum miring. "Jane akan membantumu melakukan pengecekan terakhir besok pagi. Dia asistenmu sekarang, kan? Dia yang akan memegang kunci cadangan laboratoriummu."
Aulia merasakan firasat buruk yang luar biasa. Purwarupa itu kini berada di bawah pengawasan Henry, dan Jane—wanita yang membencinya setengah mati—resmi memiliki akses penuh ke "jantung" pekerjaannya.
Aulia telah menyerahkan hasil karyanya ke tangan serigala. Ia tidak tahu bahwa malam ini, saat kantor sepi, Henry dan Jane telah merencanakan sesuatu untuk memastikan robot itu tidak akan pernah berfungsi saat di depan direksi. Akankah Aulia menyadari sabotase ini sebelum semuanya terlambat?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.