NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Arena Hitam

Koloseum batu hitam itu tampak lebih megah dan mengancam dari dekat. Ukiran-ukiran kasar berupa pertarungan antara manusia dan berbagai makhluk aneh menghiasi dinding luarnya. Suara riuh sorak-sorai, teriakan, dan raungan makhluk bergema dari dalam, menciptakan simfoni kekerasan yang terus-menerus. Bau keringat, darah, dan kotoran hewan menyerang indra penciuman.

Minlie memimpin Xu Hao melewati gerbang besar yang dijaga oleh dua orang bertubuh besar, aura mereka di level Core Formation akhir. Mereka mengenakan rompi kulit sederhana dengan lambang patahan tanduk naga.

"Masuk sebagai penonton atau peserta?" tanya salah satu penjaga dengan suara parau, tanpa banyak basa-basi.

"Peserta," jawab Xu Hao sebelum Minlie sempat bicara.

Penjaga itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah lempengan kayu kecil. "Isi nama dan tingkat kultivasi. Biaya pendaftaran lima kristal hukum rendah, atau setara. Kalau menang, dapat bagian dari taruhan. Kalau kalah, atau mati, tanggung sendiri."

Xu Hao mengambil lempengan itu. Dengan ujung jari, ia mengukir dua karakter: "Hei Feng". Untuk tingkat kultivasi, ia mengukir "Soul Transformation Akhir". Lalu ia mengeluarkan lima keping kristal hukum rendah dari dalam sakunya.

Penjaga mengambil lempengan dan kristal, memeriksa sekilas. "Pertarungan pertama biasanya melawan peserta lain yang juga baru, atau melawan binatang buatan tingkat sepadan. Tunggu di ruang tunggu peserta. Nanti akan dipanggil."

Minlie menepuk bahu Xu Hao. "Aku akan nonton dari tribun. Ingat tipsku. Dan jangan mati, ya. Aku belum puas bertarung dengan mu."

Dia memberikan senyuman yang ambigu, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan penonton yang memasuki pintu lain.

Xu Hao memasuki ruang tunggu peserta. Ruangan itu luas, berlantai tanah, dengan beberapa bangku kayu kasar di pinggir. Sekitar belasan orang sudah ada di dalam, semuanya kultivator dengan berbagai tingkat, mulai dari Foundation Establishment hingga Soul Transformation. Beberapa sedang memeriksa senjata mereka, beberapa bermeditasi dengan tenang, beberapa lainnya terlihat gugup dan berkeringat dingin.

Udara di ruangan itu penuh dengan ketegangan dan aroma ketakutan. Xu Hao menemukan sudut yang sepi, duduk di atas bangku, dan menutup matanya. Dia tidak bermeditasi, hanya mengamati.

Tidak lama kemudian, seorang pria berbadan besar dengan bekas luka di wajah memasuki ruangan. Dia mengenakan rompi yang sama dengan penjaga gerbang, tapi dengan tambahan emblem perak. Aura-nya Soul Transformation awal.

"Dengar, wahai kalian para sampah tak berguna!" teriaknya, suaranya menggelegar.

"Aku Pengawas Gor. Aturan di sini sederhana. Ikuti perintah wasit. Tidak ada senjata beracun tingkat tinggi. Tidak ada serangan setelah tanda menyerah. Tapi kecelakaan bisa terjadi. Kalau mati, keluarga kalian bisa klaim mayat di pintu belakang. Itu saja. Nama akan dipanggil. Yang pertama, 'Hei Feng' melawan 'Batu Tanduk'."

Xu Hao membuka matanya. Dia berdiri, lalu mengikuti Pengawas Gor keluar dari ruang tunggu, melalui lorong gelap yang menuju ke area arena.

Suara kerumunan tiba-tiba menggema sangat keras saat mereka mendekati ujung lorong. Cahaya terang menyilaukan. Xu Hao melangkah keluar ke arena.

Arena itu berupa lingkaran tanah keras berdiameter sekitar lima puluh meter, dikelilingi oleh dinding batu tinggi yang di atasnya terdapat tribun berlapis-lapis yang dipenuhi oleh ratusan, mungkin ribuan penonton yang bersorak-sorai. Langit terbuka di atas, dengan beberapa pulau terapung terlihat di kejauhan.

Di seberang arena, lawannya sudah menunggu. "Batu Tanduk" adalah julukan yang tepat. Pria itu hampir setinggi dua meter lebih, dengan otot-otot membengkak dan kulit yang tampak sekeras batu. Kepalanya botak, dan dari dahinya tumbuh dua tonjolan tulang seperti tanduk yang belum sempurna. Aura-nya Soul Transformation akhir juga, tapi terasa liar dan tidak terkendali, mengandalkan kekuatan fisik murni.

Wasit, seorang pria kurus yang berdiri di pinggir arena dengan bendera di tangan, berteriak.

"Pertarungan dimulai! Tidak ada senjata! Menyerah atau mati!"

Batu Tanduk mengaum, lalu menyeruduk langsung seperti banteng liar. Langkahnya berat, membuat tanah bergetar.

Xu Hao tidak bergerak dari tempatnya. Dia mengamati. Serangan itu lurus, kasar, tanpa teknik. Persis seperti yang dikatakan Minlie: di sini banyak yang mengandalkan kekuatan mentah dan naluri.

Saat Batu Tanduk hampir menabraknya, Xu Hao baru bergerak. Dia tidak menghindar ke samping, tapi melangkah mundur tepat setengah langkah, lalu tangannya yang satu meraih lengan Batu Tanduk yang mengayun, yang satunya menepuk sisi tubuh pria besar itu. Gerakannya halus, menggunakan momentum lawan sendiri.

Batu Tanduk, yang sudah mempersiapkan untuk menabrak sesuatu yang padat, tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena tarikan dan dorongan yang tak terduga. Tubuhnya terpelanting ke depan, jatuh terjungkal dengan suara gedebuk keras.

Penonton tertawa dan bersorak.

Batu Tanduk bangkit dengan muka merah marah. "Kau licik!" dia menggeram, lalu menyerang lagi, kali ini dengan pukulan bertubi-tubi.

Xu Hao tetap tenang. Dia tidak menggunakan teknik elemen. Hanya gerakan tubuh dasar, menghindar, menangkis, mengalihkan. Setiap pukulan Batu Tanduk hanya mengenai udara atau dialihkan ke tanah. Xu Hao mempelajari pola serangannya, yang sederhana dan mudah ditebak.

Setelah sekitar sepuluh jurus, Xu Hao merasa sudah cukup. Saat Batu Tanduk mengayunkan pukulan besar dengan seluruh tenaganya, Xu Hao melangkah maju, bukan mundur. Bahunya menempel ke dada Batu Tanduk, tangannya mendorong siku lawan, lalu dengan sebuah putaran halus yang menggunakan tenaga lawan sendiri, dia melemparkan tubuh raksasa itu ke udara.

Batu Tanduk terbang, lalu mendarat keras di luar arena, menghantam dinding pembatas. Dia terdiam, pingsan.

Wasit mengangkat bendera. "Pemenang, Hei Feng!"

Sorak-sorai penonton bergemuruh, tapi banyak juga yang bersiul kecewa karena pertarungan terlalu cepat dan tidak berdarah.

Xu Hao tidak bereaksi. Dia berbalik dan kembali ke lorong. Di sana, Pengawas Gor menunggu dengan ekspresi tidak senang.

"Lumayan. Tapi penonton tidak suka pertarungan cepat. Besok, kau dapat lawan yang lebih sulit. Atau, mau coba gelanggang bertahan hidup? Hadiahnya lebih besar."

"Besok saya kembali untuk pertarungan lain," jawab Xu Hao. "Hari ini cukup."

Dia mengambil bagiannya dari taruhan, hanya tiga kristal hukum rendah, lalu keluar dari area peserta. Di pintu keluar, Minlie sudah menunggu dengan senyum lebar.

"Hebat, tapi membosankan," komentarnya. "Kau main-main dengannya. Harusnya kau patahkan tangannya atau sesuatu, biar penonton senang."

"Aku di sini untuk berlatih, bukan menghibur," jawab Xu Hao.

Minlie mengangkat bahu. "Oke, baiklah. Mau lanjut? Masih ada waktu."

"Tunjukkan tempat tinggal sementara yang aman dan murah," pinta Xu Hao. Dia perlu tempat untuk memproses pertarungan tadi dan mengkonsolidasi pemahaman barunya.

Minlie mengernyit. "Tempat tinggal? Kau benar-benar baru. Ikut aku."

Dia membawa Xu Hao menjauh dari keramaian arena, menyusuri jalan-jalan sempit di pulau yang sama. Mereka tiba di sebuah bangunan kayu tiga lantai yang tampak tua tapi masih kokoh. Papan nama bertuliskan "Pondokan Awan Terkikis" tergantung miring.

"Pondokan ini milik seorang tua yang tidak peduli siapa pun, asal bayar. Kamar kecil, tapi ada formasi penyembunyian dasar. Satu malam, satu kristal hukum rendah," kata Minlie.

Mereka masuk. Ruang tamu kecil dengan seorang tua berjanggut panjang yang sedang tidur di belakang konter. Minlie mengambil sebuah kunci kayu dari papan, melemparkan satu kristal rendah ke meja, kristal itu menghilang disambar tangan tua yang bergerak cepat meski pemiliknya masih terlihat tidur, lalu memberikan kunci pada Xu Hao.

"Kamar 3, lantai dua. Aku di pulau lain. Kalau butuh sesuatu atau mau latihan lagi, tanya di arena, mereka tahu caranya hubungi aku." Dia melambaikan tangan, lalu pergi.

Xu Hao naik ke lantai dua. Kamar 3 kecil, hanya ada tempat tidur papan, meja, dan sebuah jendela kecil yang menghadap ke lorong belakang yang kotor. Tapi seperti yang dikatakan Minlie, ada formasi penyembunyian energi yang sangat dasar di sekeliling kamar. Cukup untuk mengaburkan aktivitas kultivasi level rendah.

Dia duduk di tempat tidur. Pertarungan tadi terlalu mudah. Batu Tanduk tidak memberi tekanan sama sekali. Tapi pengamatan terhadap penonton dan atmosfer arena itu berharga. Ini adalah tempat yang baik untuk berlatih tanpa menarik perhatian berlebihan. Dia bisa naik tingkat secara perlahan, menguji berbagai teknik dasar yang ia pelajari dari naskah Sekte Gunung Jati dan pengalamannya sendiri, menyesuaikannya dengan "rasa" Dataran Tengah.

Keesokan harinya, Xu Hao kembali ke arena. Kali ini, lawannya adalah seorang kultivator wanita kurus bernama "Jarum Beracun". Kultivasinya Soul Transformation akhir juga, tapi gaya bertarungnya licin dan menggunakan racun ringan yang diizinkan, racun yang melumpuhkan saraf sementara.

Pertarungan ini lebih menantang. Jarum Beracun bergerak cepat, menghindar, dan menyerang dengan jarum-jarum energi beracun dari jarak sedang. Xu Hao sengaja membatasi diri, tidak menggunakan kecepatan atau teknik ruang tingkat tingginya. Dia berlatih menghindari serangan jarak jauh, mendekati lawan, dan menetralisir racun dengan energi murni yang dipadatkan.

Setelah pertarungan selama sepuluh menit yang cukup ketat, Xu Hao berhasil menangkap lengan Jarum Beracun dan melumpuhkannya dengan tekanan pada titik meridian. Kemenangan lagi.

Hari berikutnya, lawannya adalah seorang pria tua yang menggunakan teknik bumi. Arena berubah menjadi medan berbahaya dengan pilar-pilar batu yang tiba-tiba muncul dan tanah yang berubah menjadi pasir hisap. Xu Hao berlatih membaca dan mengantisipasi serangan berbasis lingkungan, menggunakan sedikit pemahaman hukumnya untuk menetralisir efek tanah.

Dia menang lagi, tapi kali ini dengan sedikit kesulitan. Pria tua itu cukup berpengalaman.

Selama dua minggu, Xu Hao menjadi peserta reguler di Sarang Naga Patah. Dia bertarung hampir setiap hari, selalu menang, tapi selalu dengan usaha yang terlihat wajar untuk level Soul Transformation akhir. Dia sengaja kena beberapa serangan, mendapat luka-luka kecil, untuk terlihat realistis. Namanya, Hei Feng, mulai dikenal sebagai peserta yang solid dan bisa diandalkan, meski tidak spektakuler.

Dia juga mulai mengamati peserta lain, terutama yang kuat. Ada beberapa yang benar-benar berbahaya: seorang pria bisu yang hanya menggunakan pedang dan memiliki aura dingin yang mematikan, seorang wanita yang bisa memanipulasi api biru yang aneh, bahkan seorang tunawisma tua yang kultivasinya tampak biasa tapi selalu menang dengan trik kotor yang tak terduga.

Minlie sesekali muncul, menonton pertarungannya, memberikan komentar sarkastik tapi tajam. Hubungan mereka tetap dalam batas rekan sesama kultivator yang saling memanfaatkan. Xu Hao membayarnya dengan kristal untuk informasi tambahan tentang daerah ini, dan Minlie memberinya tips tentang lawan-lawan tertentu.

Suatu sore, setelah mengalahkan seorang pesumo besar dengan teknik melempar yang ia pelajari dari mengamati pertarungan sebelumnya, Pengawas Gor mendatanginya di ruang tunggu.

"Hei Feng. Kau sudah menang delapan kali berturut-turut. Penonton mulai tertarik. Bos mau tawarkan sesuatu." Gor mengedipkan mata. "Gelanggang bertahan hidup. Besok malam. Hadiah utama: sepuluh kristal hukum tinggi, plus pilihan satu senjata dari gudang kami."

Kristal hukum tinggi. Itu setara dengan ratusan kristal rendah. Senjata dari gudang mereka mungkin biasa saja, tapi bisa berguna untuk menyamarkan identitas.

"Apa tantangannya?" tanya Xu Hao.

"Kau akan dimasukkan ke dalam sebuah lingkungan khusus, hutan buatan di bawah tanah bersama dengan sembilan peserta lainnya. Empat monster tangkapan level Soul Transformation akan dilepaskan. Aturannya: bertahan hidup selama enam jam. Bisa kerja sama, bisa saling bunuh. Yang terakhir bertahan, atau yang berhasil membunuh paling banyak monster, menang. Kalau semua mati, hadiah hangus."

Itu bukan sekadar pertarungan. Itu adalah pertempuran kecil dengan banyak variabel. Sempurna untuk menguji dirinya dalam situasi yang lebih kompleks.

"Saya setuju," jawab Xu Hao.

Gor tersenyum, menunjukkan gigi kuning. "Bagus. Persiapan minimal. Bawa senjata jika mau, tapi tidak ada artefak tingkat tinggi. Bertemu di sini besok sore sebelum matahari terbenam."

Malam itu, di Pondokan Awan Terkikis, Xu Hao duduk bersila di lantai kamarnya. Dia tidak bermeditasi menyerap energi. Dia merenungkan pengalaman dua minggu terakhir. Pertarungan demi pertarungan telah memberinya pemahaman intuitif tentang gaya bertarung lokal. Dia mulai bisa "merasakan" aliran energi spiritual di sekitarnya dan mengintegrasikannya secara halus ke dalam gerakannya, seperti yang disarankan Minlie. Esensinya yang sebelumnya "kaku" sekarang lebih cair.

Tapi dia tahu, ini baru permukaan. Para kultivator kuat sejati di Dataran Tengah pasti memiliki pemahaman yang jauh lebih dalam. Namun, setidaknya dia sudah mulai menapak.

Kemudian, pikirannya beralih ke gelanggang besok. Sembilan peserta lain. Empat monster. Lingkungan hutan buatan. Itu adalah situasi di mana dia bisa menguji lebih banyak kemampuannya tanpa terlalu mencolok, asal berhati-hati. Dia bisa menggunakan sedikit lebih banyak teknik, asal tampak seperti keberuntungan atau kepandaian bertahan hidup.

Dia juga perlu waspada terhadap peserta lain. Dalam situasi hidup-mati, kerja sama mudah berubah menjadi pengkhianatan.

Dia membuka matanya, memandang keluar jendela ke langit malam yang dihiasi pulau-pulau terapung dan dua bulan. Di suatu tempat di dataran luas itu, Klan Xu masih ada, mungkin sedang mencari jejaknya setelah insiden di Sekte Gunung Jati. Di tempat lain, Tetua Hong dan sisa sekte mungkin masih bertahan. Dan di dunia yang sangat jauh, Bingwan, Xue Bing, dan yang lainnya sedang menunggu.

Tekadnya mengeras. Dia akan menggunakan setiap kesempatan di tempat baru ini untuk menjadi kuat. Arena, gelanggang, apa pun. Dan besok, di hutan buatan itu, akan menjadi langkah berikutnya. Bukan lagi sekedar mengasah, tapi mulai mengambil sumber daya yang dia butuhkan untuk langkah selanjutnya. Sepuluh kristal hukum tinggi bisa membeli banyak informasi, atau bahkan akses ke tempat latihan yang lebih baik.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!