Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sapuluh (10)
Matahari mulai menyengat kulit, tapi Han Jia masih sibuk mengatur letak batu-batu sungai yang dikumpulkan oleh Feng Shura. Di sampingnya, Hera yang berwujud hologram tampak sedang memeriksa skema konstruksi yang melayang di udara.
"Shura, letakkan batu yang mengandung kalsium... ah, maksudku batu putih itu di sebelah kanan," perintah Han Jia. Ia menggigit bibirnya, sedikit kesal karena harus mengganti istilah kalsium karbonat menjadi sekadar "batu putih".
Shura, yang bajunya sudah basah oleh keringat, mengangkat batu besar itu dengan hati-hati. "Batu putih ini? Kenapa harus di sini? Bukankah lebih baik jika semua batu besar diletakkan di bawah sebagai pondasi?"
Han Jia menarik napas dalam-dalam. "Tidak. Batu itu memiliki ketahanan... emmm... dia lebih tahan api. Jika kau menaruh batu yang salah, tungku ini akan hancur saat suhunya mencapai titik didih... maksudku, saat apinya sangat panas!"
Han Jia menggerutu dalam hati. 'Sialan Othor baperan itu. Menjelaskan prinsip termodinamika tanpa kata-kata teknis itu seperti mencoba melukis tanpa warna! Sangat tidak efisien!'
"Sabar, Profesor," Hera terkekeh, suaranya hanya terdengar di kepala Han Jia. "Anggap saja Anda sedang mengajar di kelas taman kanak-kanak. Gunakan bahasa yang lebih... primitif."
"Diam kau, Hera," bisik Han Jia.
Shura berhenti sejenak, menatap Han Jia dengan curiga. "Kau bicara lagi dengan jinmu? Kenapa wajahmu terlihat seperti ingin memakan seseorang?"
"Aku tidak bicara dengan siapa-siapa! Cepat kerjakan lubang di tengah itu!" bentak Han Jia untuk menutupi kekesalannya. "Aku butuh lubang itu untuk menaruh wadah sari tanaman."
Shura menghela napas, namun ia tetap menurut. Meskipun ia seorang jenderal, entah kenapa ia merasa lebih takut pada amarah gadis kecil ini daripada pada ribuan musuh. Ia mulai menggali tanah hitam yang sekarang terasa lebih empuk.
"Han Jia, kau bilang kau butuh 'sari tanaman' dari sawi aneh itu. Untuk apa? Jika warga desa tahu kau membuat ramuan lagi, mereka mungkin benar-benar akan memanggil pendeta pengusir setan," ucap Shura sambil mencangkul.
"Biarkan saja mereka datang. Akan kuberi mereka gas... ah, maksudku bau-bauan yang membuat mereka tidur lebih lama," Han Jia hampir saja menyebut 'gas anestesi'.
Ia berjalan ke arah meja kerjanya yang baru, menatap botol porselen berisi hasil perasan Sawi Roh. "Sari ini mengandung energi yang bisa menyatukan kembali saluran napasmu yang tersumbat. Tapi aku harus memurnikannya dulu. Jika diminum mentah, perutmu akan meledak karena kelebihan tenaga."
"Meledak?" Shura menelan ludah. "Kau yakin ini aman?"
"Tentu saja aman! Selama penguapannya—maksudku, selama proses pemanasannya dilakukan dengan benar!" Han Jia menggerutu lagi. 'Penguapan! Masa aku harus bilang 'air yang naik ke atas'? Benar-benar merusak harga diri profesor-ku!'
Setelah beberapa jam bekerja keras di bawah instruksi Han Jia yang penuh dengan gerutuan dan sensor bahasa, sebuah tungku sederhana namun kokoh akhirnya berdiri di samping gubuk. Bentuknya unik, tidak seperti tungku masak biasa. Ada pipa dari bambu yang disambung sedemikian rupa menuju sebuah wadah pendingin di bawahnya.
"Ini namanya alat distilasi... ah, maksudku alat pemurni," Han Jia mengoreksi dirinya sendiri dengan wajah masam.
Ia mulai menyalakan api. Han Jia menggunakan batu api yang sudah ia lapisi dengan sedikit serbuk belerang agar api menyala lebih cepat dan stabil. Shura memperhatikan dengan seksama, terpana melihat betapa lincahnya tangan Han Jia mengatur aliran air dingin di pipa bambu.
"Kenapa air dinginnya harus mengalir di luar pipa?" tanya Shura penasaran.
"Karena itu akan memicu kondensasi... arggh! Maksudku, agar uap panas di dalam pipa berubah kembali menjadi air!" Han Jia hampir saja membanting wadah kayunya karena frustasi. "Kenapa bicara dengan bahasa normal itu sangat melelahkan saraf otak?!"
Shura terdiam, tidak berani bertanya lagi. Ia hanya bisa melihat dengan takjub saat tetesan air berwarna emas jernih mulai jatuh satu per satu ke dalam botol kecil di ujung pipa bambu. Aroma segar yang luar biasa mulai memenuhi udara, membuat paru-paru Shura terasa sejuk hanya dengan menghirupnya.
"Sempurna," bisik Han Jia. Matanya berkilat puas saat melihat cairan murni itu. "Hera, hitung tingkat kemurniannya."
"Tingkat kemurnian: 92%. Sangat tinggi untuk peralatan primitif ini, Profesor," lapor Hera. "Dan omong-omong, selamat. Anda berhasil menyelesaikan satu jam tanpa menyebut istilah 'molekul' atau 'katalisator'. Saya bangga pada Anda."
"Jangan memancing emosiku, Hera. Aku merasa IQ-ku menurun drastis hari ini," Han Jia mendengus.
Ia mengambil botol kecil itu dan memberikannya pada Shura. "Minum ini. Pelan-pelan. Rasakan alirannya di dadamu."
Shura menerima botol itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan emas di dalamnya, lalu menatap Han Jia. "Jika aku mati setelah ini, pastikan kau menguburku dengan pedangku."
"Kau tidak akan mati, Cerewet! Cepat minum!"
Shura pun meminumnya. Seketika, matanya membelalak. Ia merasa ada aliran hangat yang sangat kuat menusuk titik sumbatan di dadanya. Rasa sakitnya luar biasa selama beberapa detik, namun kemudian diikuti oleh rasa lega yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
UHUK!
Shura memuntahkan segumpal darah hitam yang berbau busuk. Namun, setelah itu, napasnya menjadi sangat ringan. Ia bisa merasakan energi di tubuhnya mengalir kembali dengan lancar.
"Ini... ini ajaib..." Shura mengepalkan tangannya. Kekuatannya kembali. "Han Jia, kau benar-benar bukan manusia biasa."
Han Jia menyilangkan tangan di dada, senyum bangga muncul di wajahnya. "Tentu saja. Itu adalah hasil dari pengolahan zat yang tepat. Dan ingat, Shura, jangan sebut itu ajaib. Itu adalah hasil dari kerja keras... emmm... hasil dari cara memasak yang pintar!"
Han Jia menghela napas panjang. 'Bagus, Han Jia. 'Cara memasak yang pintar'. Othor pasti senang, tapi aku merasa ingin memukul kepalaku sendiri ke tembok.'