Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Budak? Kontrak itu budak...
Fajar baru saja menyingsing saat Aluna membuka mata.
Ia terbatuk kecil, matanya terasa sepet akibat debu yang tak sengaja masuk.
Pikirannya kosong, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan tentang malam tadi. Namun, saat ia mengangkat tangannya, matanya membelalak.
Ada perban putih yang melilit rapi di pergelangan tangannya. Ia meraba pipi dan bibirnya, rasa perihnya sudah jauh berkurang, berganti dengan sensasi dingin dari salep yang dioleskan.
Di pangkuannya, sebuah selimut tebal mendekap hangat tubuhnya.
'Siapa yang melakukan ini? Kenapa tiba-tiba aku ada di sofa?' batinnya heran. Sedetik kemudian, pahitnya kenyataan kembali menghantam. 'Ah, benar. Aku kan dipenjara di sini. Bagaimana bisa aku lupa sejenak kalau pria itu adalah monster?'
Aluna menoleh, menatap Arkan yang tertidur di atas meja kerja dengan kedua lengan kekarnya sebagai bantal.
Wajah pria itu nampak sangat tenang dalam lelapnya, jauh dari kesan temperamental yang selalu meledak-ledak. Aluna menghampiri pelan, menatap suaminya dengan tatapan benci.
"Kenapa kau ada di dunia ini, Mas? Hanya untuk mengacak-ngacak hidupku?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Matanya beralih ke plakat nama di meja. Untuk sesaat, pikiran gelap melintas—apa jadinya jika ia menghantamkan benda itu ke kepala Arkan? Namun, Aluna bukan psikopat. Ia memilih berbalik untuk pergi, tapi ia ingat pintu itu terkunci rapat.
Click.
Suara kunci otomatis terdengar. Pintu terbuka, menampakkan Bu Lastri yang tampak panik.
"Ah! Bu Lastri... kenapa pintunya bisa dibuka?" Aluna terkejut.
"Nyonya, ini gawat! Tuan Besar sudah ada di depan. Beliau mencari Anda dan Tuan Arkan!" seru Bu Lastri.
Mendengar kata 'Tuan Besar', Arkan langsung tersentak bangun seolah disiram air es dari kutub.
"Kakek di sini?!" serunya dengan suara menggelegar yang membuat telinga Aluna berdengung.
Arkan melesat secepat kilat, mencengkeram lengan Aluna—kali ini sedikit lebih lembut, menghindari bagian yang diperban.
"Cepat! Kita ke kamar utama sekarang!"
"Kamar utama? Memangnya ada?" Aluna kebingungan saat diseret ke sebuah ruangan yang belum pernah ia masuki.
Begitu pintu terbuka, Aluna hampir saja jatuh pingsan karena terkejut.
Foto-foto mereka berdua yang sudah diedit sedemikian rupa—tampak seperti pasangan paling bahagia di dunia—terpajang di mana-mana. Sprei berwarna pink, bantal pasangan, hingga dekorasi penuh tanda cinta yang membuat Aluna ingin muntah di tempat.
"Aluna, cepat ganti pakaian!" perintah Arkan panik.
"Pakai apa, Mas?!"
"Pakai baju tidur! Pokoknya buat kesan kita baru saja bangun dari ranjang yang sama! Cepat tutupi semua lukamu dengan make-up di dalam!" Arkan mendorong Aluna ke dalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban.
Aluna hanya bisa pasrah. Ia segera mengganti pakaiannya dengan piyama satin, melepas perban di tangannya yang syukurnya sudah tidak terlalu lebam membiru, lalu menumpuk foundation setebal mungkin di pipi dan bibirnya agar luka semalam tertutup sempurna.
Ia memoles lipstik tebal untuk menyamarkan bengkak di bibirnya.
Di luar, Kakek Seo sudah duduk dengan gagah di ruang tamu tanpa kursi rodanya. Wajah tuanya berseri-seri saat melihat Arkan keluar menemui dirinya.
"Arkan! Akhirnya kau datang juga!" Kakek Seo menatap cucunya dari atas ke bawah. "Sepagi ini kau sudah rapi dengan jas kerja? Mau langsung ke kantor?"
Arkan memaksakan tawanya.
"Tentu tidak, Kek. Masih nanti berangkatnya. Tadi itu... Aluna sedikit manja. Dia minta rambutnya disisirkan dulu sebelum mandi, jadi kami agak lama di kamar. Haha, " ucap Arkan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tawa garing Arkan ternyata ampuh. Kakek Seo bertepuk tangan gembira, matanya berbinar mendengar keromantisan palsu yang dikarang cucunya.
Aluna berjalan mengekor di belakang Arkan, berusaha menjaga langkahnya agar tidak terlihat kaku.
Begitu mata Kakek Seo menangkap sosoknya, wajah pria tua itu langsung cerah.
Tanpa ragu, Kakek Seo memeluk Aluna hangat, sebuah pelukan yang tulus seolah Aluna adalah cucu kandungnya sendiri.
Aluna tersenyum, ada rasa sesak yang membuat air matanya hampir luruh—ia merasa berdosa membohongi orang setulus Kakek Seo.
"Aluna, katanya kamu manja sekali dengan suamimu... benar itu?" tanya Kakek Seo menggoda.
"Aduh, kalian ini benar-benar membuat Kakek gemas. Belum sah secara hukum tapi sudah seromantis ini."
Aluna melirik sinis ke arah Arkan melalui sudut matanya, sebelum kembali menatap Kakek dengan wajah manis yang dibuat-buat.
"Iya, Kakek... terima kasih ya," jawabnya sopan, meski hatinya mencibir.
Kakek Seo terus menghujani Aluna dengan pujian.
"Kata Bu Lastri kamu juga pintar masak, ya? Benar-benar istri idaman! Arkan, kau dengar itu? Pilihan Kakek tidak pernah salah, kan? Kau pasti sangat puas memiliki Aluna," ucap Kakek sambil menyenggol lengan cucunya.
Arkan menarik sudut bibirnya.
Ia mendaratkan tangannya di pundak Aluna, mencengkeramnya dengan tekanan halus yang hanya bisa dirasakan oleh wanita itu—sebuah peringatan agar Aluna tetap pada perannya.
"Iya, Kakek... Kakek benar-benar hebat dalam memilihkan pendamping untuk saya," ujar Arkan, suaranya merendah penuh kasih.
"Kemarin saya mencoba nasi goreng buatannya, Kek... rasanya luar biasa! Kapan-kapan Kakek harus mencobanya sendiri."
Mendengar itu, mata Kakek Seo langsung berbinar penuh harap.
"Oh ya? Aluna! Buatkan Kakek makanan juga sekarang... Kakek jadi iri kalau hanya Arkan yang bisa mencicipi masakanmu."
Aluna tersenyum manis, mengangguk dengan patuh. "Tentu, Kek. Kakek suka sup? Saya bisa membuatkan sup herbal dari resep mendiang ibu saya. Rasanya sangat segar dan cocok untuk kesehatan Kakek."
"Wah, benarkah? Kakek jadi penasaran!" Kakek Seo tertawa terbahak-bahak, sampai pelayan pribadinya harus menepuk punggungnya untuk mengingatkan agar tidak terlalu bersemangat demi menjaga jantungnya agar tak kumat.
Namun, di tengah tawa, mata tajam Kakek Seo mendadak terpaku pada satu titik di wajah Aluna. Ia memicingkan mata, mendekat sedikit. "Loh... bibirmu kenapa, Aluna? Sepertinya sedikit bengkak..."
Jantung Aluna seakan berhenti berdetak. Ia refleks menutupi bibirnya dengan punggung tangan. Padahal ia sudah memoleskan lipstik setebal mungkin, namun mata tua Kakek ternyata jauh lebih jeli dari yang ia kira.
Baru saja Aluna hendak mencari alasan, Arkan dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Aluna, menarik tubuh ramping itu hingga menempel pada tubuh kekarnya.
"Begini, Kek... coba Kakek ingat-ingat masa muda dulu," ucap Arkan dengan nada santai, seolah membicarakan hal yang wajar.
"Yah, ini akibat perbuatan saya yang sedikit 'kasar' tadi malam di ranjang. Tapi Aluna tidak keberatan, kok. Dia malah menikmatinya."
Aluna tertegun. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, tapi karena merasa sangat terhina dengan kebohongan vulgar yang dilontarkan Arkan. Kakek Seo tertawa kecil sambil geleng kepala.
"Benar-benar kau, Arkan! Sudah dewasa rupanya! Tapi jangan terlalu kasar, perlakukan Aluna dengan lembut meskipun di kamar... nanti kalau anak orang menangis bagaimana?" pesan Kakek dengan tawa bangga.
Aluna terbungkam. Menangis? Ia sudah menangis sampai hampir kehabisan air mata semalam.
Perutnya terasa mual mendengar pembicaraan ini.
"Mas, geli ah..." ucap Aluna memaksakan senyum tipis, berusaha melepaskan tangan Arkan dari pinggangnya seolah-olah ia sedang merasa malu, padahal ia hanya ingin menjauh dari sentuhan yang sangat memuakkan baginya.
"Haha, lihat kalian berdua. Jauh lebih serasi dan manis daripada saat bersama Clarissa, ya kan?" tanya Kakek Seo dengan nada riang.
Seketika, senyum di wajah Arkan memudar. Nama wanita itu—Clarissa—seolah menjadi badai salju yang membekukan suasana.
Aluna, meski merasa itu bukan urusannya, merasakan jantungnya berdebar kencang. Siapa Clarissa? Ia tak punya waktu untuk bertanya karena Kakek Seo kembali melanjutkan khayalannya.
"Nanti, setelah kalian resmi menikah, anak kalian akan aku jadikan pewaris tunggal. Aluna, kau pasti senang, bukan?"
Aluna tersentak. Pewaris? Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup sampai kontrak ini selesai.
"I—iya, Kek," jawabnya kaku. Karena kegugupan itu, Arkan diam-diam mencubit pinggang belakang Aluna dengan sangat keras. Aluna menahan rintihannya, keringat dingin mengucur di pelipisnya sementara Arkan tetap memasang wajah tanpa dosa.
...****************...
Di meja sarapan, Kakek Seo berceloteh sambil disuapi pelayannya. "Tiga hari lagi akan diadakan resepsi besar-besaran. Kalian harus siap. Untukmu Aluna, jangan pusingkan biaya sepeser pun. Kau cukup duduk cantik di pelaminan, biar Arkan yang mengurus perjanjian dan sumpah di depan semua orang."
Dunia Aluna seakan berputar. Resepsi? Tiga hari lagi? Ia menoleh ke arah Arkan, mencari penjelasan, namun pria itu justru melahap sarapannya dengan tenang seolah sudah tahu segalanya.
"Terima kasih, Kek. Kami sebenarnya sudah tahu soal itu sejak lama," sahut Arkan enteng.
Aluna menunduk, matanya berkaca-kaca menatap piringnya. Ia mendongak, berusaha keras menahan agar air matanya kembali ke "pabriknya" dan tidak tumpah di depan Kakek.
...****************...
Setelah sarapan usai, Kakek Seo memuji sup herbal buatan Aluna dengan tulus.
Sebagai hadiah tambahan, ia menyuruh pelayannya memberikan sebuah amplop elegan. "Ini tiket bulan madu ke Maldives untuk kalian berdua."
Tangan Aluna gemetar saat menerimanya.
Maldives? Bagaimana ia bisa pergi ke tempat seromantis itu dengan pria yang memperlakukannya seperti sampah?
Namun, Arkan justru menunjukkan reaksi sebaliknya.
"Wah, ini hadiah yang sangat spesial! Terima kasih banyak, Kek!" Arkan menjabat tangan kakeknya, lalu menyenggol tangan Aluna agar ikut bersuara.
"Te—terima kasih, Kek... hadiah ini akan kami nikmati," ucap Aluna lirih, mencoba mengikuti skenario gila ini.
"Hoho... Kakek sudah tidak sabar menantikan cicit kakek. Pasti dia akan cantik seperti Aluna dan pintar seperti Arkan," tawa Kakek Seo sebelum akhirnya berpamitan pulang.
Begitu mobil Kakek Seo menghilang dari pandangan, suasana hangat itu menguap seketika. Arkan melepaskan tangan Aluna dengan kasar dan kembali ke mode dinginnya yang mematikan.
"Untung saja Kakek percaya. Kau ini becus tidak sih menutupi luka? Begitu saja tidak bisa. Ck!"
"Mas... tunggu. Soal resepsi itu, kenapa kamu tidak bilang padaku?" tanya Aluna dengan suara bergetar.
"Hah? Memangnya aku harus melapor padamu?"
"Ya! Aku ini istrimu, Mas! Setidaknya di atas kertas! Aku berhak tahu, kita ini bekerja sama dan aku tidak mau ada hal yang merugikan salah satu pihak!" seru Aluna kencang, memutus perkataan Arkan.
Arkan mendelik, matanya berkilat marah. Ia melangkah maju, memojokkan Aluna.
"Memangnya kau yang bayar, Aluna?! Siapa yang mengeluarkan uang miliaran untuk acara ini? Siapa yang memberimu tempat tinggal mewah? Siapa?! Kalau bukan karena saya, kau pasti sudah terjebak dan 'digilir' oleh rentenir nakal itu! Seharusnya kau tahu diri! Jangan membantah, tinggal ikuti saja apa susahnya?!"
Aluna terdiam, mulutnya bungkam seribu bahasa. Air matanya jatuh menetes, membasahi pipinya yang masih tertutup foundation. Arkan semakin kesal melihat tangisnya.
"Nangis terus! Nangis terus! Kapan selesainya?!"
"Kamu jahat, Mas..." lirih Aluna di sela isaknya.
Arkan tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Ya, memang saya jahat. Lalu kenapa?! Saya orang jahat yang mengekangmu untuk jadi istri kontrak, bla, bla, bla... saya tidak peduli! Kau itu harusnya tahu posisi, Aluna. Jangan sok berkuasa di sini. Kau hanya budak saya! Kalau bukan karena Kakek memaksaku menikahimu, mana mau saya menikah dengan orang kumuh sepertimu! Bikin kesal saja!"
Kata-kata itu bagaikan belati yang menghujam jantung Aluna. Orang kumuh? Budak? Rasa sakit itu berubah menjadi amarah yang memuncak. Tanpa sadar, tangan Aluna terayun kencang dan...
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di ruang tamu yang luas. Wajah Arkan tertoleh ke samping. Aluna berdiri dengan napas tersenggal, menatap Arkan dengan tatapan tajam dan penuh luka.
"Aku budakmu? Kenapa tidak Mas bilang saja di kontrak kalau aku akan dijadikan budak? Kalau aku tahu akan dihina seperti ini, lebih baik aku kabur dan mati di jalanan daripada harus tinggal dengan pria sepertimu!"
Arkan melotot, rahangnya mengeras. Ia mengangkat tangannya, siap membalas tamparan itu dengan pukulan yang jauh lebih mematikan.
"BERANI KAU!—"
"Tuan Arkan..." suara seorang pelayan senior menginterupsi, membuat Arkan menghentikan gerakannya di udara.
Pria itu menurunkan tangannya dengan gemetar karena menahan amarah yang meledak.
"Kau kira saya akan menahan diri? Awas kau, Aluna..." desis Arkan sebelum melenggang pergi.
Di sudut ruangan, beberapa pembantu berbisik dengan nada mencemooh.
"Pelacur itu berani sekali menampar Tuan."
"Ck, sombong sekali. Padahal dia hanya wanita yang dibeli dengan uang, tapi nganggap dirinya sendiri mahal."
Aluna merosot ke lantai, tubuhnya tak berdaya lagi. Telapak tangannya masih terasa panas dan perih, mencerminkan panasnya hati yang hancur.
Bersambung...
TENANGKAN DIRI KALIAN GURLLSSS :)