Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tempat untuk Kembali
(POV: Noah)
Musim dingin benar-benar berakhir.
Salju terakhir mencair menjadi lumpur di pinggir jalan. Laut tidak lagi membeku. Angin masih dingin, tapi tidak kejam.
Dan Norden terasa… kosong.
Aku bekerja lebih lama. Lebih keras. Seolah suara mesin bisa menenggelamkan ingatan tentang langkah kaki ringan di lantai villa.
Villa itu kini sunyi.
Aku tidak masuk ke sana lagi. Hanya memastikan jendela tertutup, atap tidak bocor. Selebihnya, aku membiarkannya diam—seperti luka yang belum siap disentuh.
Suatu sore, Pak Hans datang ke bengkel.
“Kau dengar kabar?” tanyanya.
“Aku tidak mendengar apa pun akhir-akhir ini,” jawabku jujur.
Dia mengangguk pelan. “Orang-orang dari luar kota berhenti datang.”
Aku berhenti bekerja. “Maksudmu?”
“Tekanan itu,” katanya. “Seperti ditarik kembali.”
Aku tidak menjawab.
Malamnya, aku duduk di tepi dermaga, menatap laut gelap. Tiket feri satu arah masih terselip di dompetku. Kusimpan sejak lama.
Dulu, tiket itu adalah mimpi.
Sekarang, rasanya seperti pelarian.
Aku mengeluarkannya, menatap tanggal yang sudah hampir lewat.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri—
Jika aku pergi, apa yang sebenarnya kutinggalkan?
(POV: Alice)
Aku menyewa kamar kecil di kota pinggiran.
Tidak mewah. Tidak indah. Tapi jendelanya menghadap taman kecil, dan aku bisa membuka tirai tanpa takut diawasi.
Aku mendapat pekerjaan paruh waktu di galeri seni.
Upahnya kecil. Tanganku sering kotor oleh cat dan debu kayu.
Dan aku tidak pernah sebebas ini.
Suatu malam, aku duduk di ranjang sempit, membuka ponsel lamaku.
Nama “Noah” masih ada di sana.
Aku belum menghubunginya.
Bukan karena aku tidak ingin.
Tapi karena aku takut—jika aku melakukannya terlalu cepat, aku akan kembali menjadi seseorang yang bergantung.
Aku ingin kembali sebagai diriku sendiri.
Bukan gadis yang bersembunyi.
(POV: Noah)
Aku akhirnya masuk ke villa.
Debunya tebal. Sunyinya menekan.
Aku membuka jendela besar di ruang tamu. Udara laut masuk, membawa aroma asin yang segar.
Aku membayangkan Alice berdiri di sana, menatap laut.
Aku menghela napas.
“Bodoh,” gumamku pada diri sendiri.
Aku membersihkan satu ruangan. Lalu dua. Tanpa alasan jelas.
Seolah bersiap untuk sesuatu.
Atau seseorang.
Malam itu, ponselku bergetar.
Satu pesan.
Nomor tidak dikenal.
Aku baik-baik saja.
Aku belajar berdiri sendiri.
Aku harap kau juga.
—A
Aku menatap layar lama.
Lalu mengetik.
Norden masih abu-abu.
Tapi tidak lagi mati.
Aku mengirimnya sebelum aku bisa ragu.
(POV: Alice)
Aku membaca balasannya sambil tersenyum.
Bukan senyum bahagia yang meledak-ledak.
Tapi senyum yang tenang.
Aku menatap keluar jendela, ke arah taman kecil yang mulai dipenuhi bunga musim semi.
Aku tidak tahu apakah aku akan kembali ke Norden.
Aku tidak tahu apakah Noah menungguku.
Tapi untuk pertama kalinya—
Aku tidak merasa harus memilih antara cinta dan kebebasan.
Mungkin, jika waktunya tepat,
keduanya bisa berada di tempat yang sama.
(POV: Noah)
Aku akhirnya membakar tiket feri itu.
Bukan dengan upacara. Bukan dengan kemarahan. Aku hanya merobeknya menjadi dua, lalu menjatuhkannya ke tong besi di belakang bengkel bersama potongan kain berminyak. Api kecil menjilat kertas itu sebentar, lalu padam.
Tidak ada rasa lega yang meledak-ledak.
Hanya rasa selesai.
Aku kembali ke dalam bengkel dan bekerja seperti biasa. Mengganti oli. Mengencangkan baut.
Mendengar mesin batuk lalu hidup kembali.
Rutinitas yang sama—namun tanpa pikiran tentang kabur.
Sore itu, Pak Hans mampir lagi.
“Kau tidak jadi pergi?” tanyanya, sambil menyesap kopi dari termos.
Aku menggeleng. “Tidak.”
Dia mengangguk seolah itu jawaban yang sudah lama dia tahu. “Kota ini tidak seburuk itu kalau kau berhenti berharap pergi darinya.”
Aku mendengus kecil. “Atau mungkin aku hanya berhenti berharap.”
Malamnya, aku berjalan ke villa. Bukan untuk membersihkan. Bukan untuk berjaga. Hanya duduk di beranda, mendengar angin, dan membiarkan sunyi lewat tanpa perlu dilawan.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Alice.
"Aku akan kembali ke Norden.
Bukan untuk bersembunyi.
Hanya ingin menutup beberapa hal."
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada janji. Tidak ada permintaan.
Hanya pernyataan.
Dan entah kenapa, itu terasa tepat.
(POV: Alice)
Aku kembali ke Norden dengan bus pagi.
Tidak ada koper besar. Hanya ransel tua dan mantel yang sama. Kota itu menyambutku dengan warna abu-abu yang jujur. Tidak ramah, tapi tidak mengusir.
Aku tidak langsung ke villa.
Aku berjalan ke pusat kota. Ke toko-toko kecil yang dulu kulalui dengan rasa asing. Kali ini, aku memperhatikan. Bau roti. Tawa singkat. Tatapan ingin tahu yang tidak menghakimi.
Aku masuk ke kafe kecil dekat dermaga.
“Kopi hitam,” kataku.
Pemiliknya menatapku. “Kau pernah ke sini.”
Aku tersenyum. “Sebentar.”
Aku duduk dekat jendela, menunggu tanpa benar-benar menunggu.
Ketika pintu terbuka dan lonceng kecil berbunyi, aku tahu tanpa menoleh.
Noah berdiri di ambang pintu, jaket kerjanya masih berbau oli. Tatapannya bertemu denganku.
Tidak ada senyum lebar.
Tidak ada pelukan spontan.
Dia mendekat dan duduk di kursi seberang.
“Kau terlihat lebih… tenang,” katanya.
“Aku memang lebih tenang,” jawabku.
Kami minum kopi dalam diam. Tidak canggung.
Tidak penuh kata.
“Aku tidak akan lama,” kataku akhirnya. “Aku hanya ingin memastikan beberapa hal.”
“Seperti apa?”
“Bahwa aku tidak lari lagi.”
Dia mengangguk. “Dan aku tidak menunggu.”
Kalimat itu tidak melukai.
Justru membebaskan.
(POV: Noah)
Kami berjalan ke villa bersama, tapi dengan jarak satu langkah di antara kami. Jarak yang disengaja.
Alice membuka pintu sendiri.
Villa itu tidak lagi terasa seperti tempat persembunyian. Hanya sebuah rumah kosong dengan dinding tua.
“Aku akan melepas sewanya,” katanya. “Aku tidak butuh tempat ini lagi.”
“Baik.”
“Kau tidak menanyakan apa yang akan kulakukan.”
“Aku tidak perlu.”
Dia menoleh, menatapku lama. “Kau berubah.”
“Aku berhenti menunggu perubahan,” jawabku.
Kami berdiri di ruang tamu, di tempat kami pertama kali bicara tanpa topeng. Matahari sore masuk lewat jendela, memantul di debu yang beterbangan—seperti salju yang malas jatuh.
“Aku tidak datang untuk memintamu apa pun,”
katanya pelan. “Aku hanya ingin mengatakan—terima kasih.”
Aku mengangguk. “Sama-sama.”
Dia tersenyum kecil. Senyum yang tidak meminta balasan.
Ketika dia pergi, aku tidak mengikutinya.
Dan ketika aku kembali ke bengkel malam itu, aku tahu—itu bukan kehilangan.
Itu penempatan ulang.
(POV: Alice)
Aku meninggalkan Norden sebelum senja.
Di dalam bus, aku menatap ke luar jendela. Kota itu mengecil, lalu menghilang di balik tikungan.
Aku tidak menangis.
Aku juga tidak merasa kosong.
Ada ruang di dadaku—ruang yang dulu diisi ketakutan, kini diisi pilihan.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Noah.
Jika suatu hari kau kembali,
bukan karena perlu,
aku akan ada.
Aku menutup mata.
Tidak untuk berjanji.
Hanya untuk menyimpan kemungkinan.
(POV: Noah)
Malam turun di Norden.
Lampu bengkel menyala satu per satu.
Mesin-mesin beristirahat. Laut tenang.
Aku berdiri di depan pintu bengkel, menatap kota yang tidak lagi terasa seperti jebakan.
Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.
Tapi untuk pertama kalinya—
aku tidak menunggu akhir.
Aku hidup di bagian tengahnya.