Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Gaya Hidup Arga
Sabtu pagi yang cerah menyambut Jakarta dengan langit biru yang jarang terlihat. Di depan rumah kos eksklusifnya, Arga sudah bangun sejak pukul lima pagi. Dia berdiri dengan lap microfiber di tangan, menggosok kap mesin Mitsubishi Pajero Sport hitamnya dengan penuh kasih sayang seolah sedang membelai kulit bayi. Tidak boleh ada debu setitik pun yang menempel.
Mobil itu berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak gagah, besar, dan mengintimidasi. Arga tersenyum puas melihat bayangan wajahnya sendiri di bodi mobil yang licin.
Dia mengenakan kemeja polo branded—sisa diskon tahun lalu yang warnanya sudah sedikit pudar di bagian kerah—dan kacamata hitam, berusaha keras terlihat seperti eksekutif muda yang siap liburan santai di akhir pekan tanpa beban finansial.
Arga menjemput Nadinta terlebih dahulu di lobi apartemennya. Nadinta turun dengan pakaian kasual yang rapi dan nyaman—celana kulot warna beige, kemeja putih longgar, dan sneakers. Dia membawa tas laptop dan sebuah bantal leher.
"Pagi, Mas. Wah, gagah banget mobilnya kalau kena matahari pagi gini," sapa Nadinta saat masuk, memulai hari dengan suntikan ego yang manis.
"Jelas dong. Yuk, kita jemput Maya," jawab Arga semangat, memutar setir dengan satu tangan.
Mereka melaju ke apartemen Maya di Jakarta Selatan. Saat tiba di lobi, Maya sudah menunggu. Penampilannya sangat kontras dengan Nadinta.
Maya mengenakan summer dress bermotif bunga dengan potongan dada rendah, topi pantai lebar, dan kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya. Dia terlihat seperti selebriti yang siap dipotret paparazzi di Bali.
"Arga! Gila! Keren banget mobilnya!" pekik Maya heboh saat mobil berhenti tepat di depannya.
Maya hendak membuka pintu penumpang belakang, tapi Nadinta menurunkan kaca jendela belakang dan melambaikan tangan dari dalam sambil tersenyum ramah.
"Eh, May! Di depan aja!" seru Nadinta.
"Aku lagi mau nyicil kerjaan sedikit di laptop nih, lebih enak di belakang ada meja lipatnya. Kamu temani Arga ya di depan biar dia nggak ngantuk. Sekalian kamu rasain tuh captain seat-nya yang empuk dan luas."
Wajah Maya langsung cerah. Dia merasa menang karena Nadinta "sadar diri" akan posisinya yang membosankan.
"Serius? Duh jadi nggak enak..." Maya memasang wajah yang menyiratkan rasa bersalah, meski hatinya bersorak. "Makasih, ya Nad."
Akting yang bagus.
Maya masuk ke kursi penumpang depan, menghempaskan tubuhnya ke jok kulit, dan langsung menguasai area dashboard. Dia mengatur lubang AC agar mengarah ke wajahnya, menghubungkan ponselnya ke bluetooth mobil untuk memutar lagu-lagu top hits dengan volume keras, dan mulai merekam Instagram Story.
"Hai Guys! OTW Bandung nih naik beast baru," celoteh Maya ke kamera ponselnya, sengaja menyorot profil samping Arga yang sedang menyetir dengan gaya cool dan beralih ke Nadinta untuk sepersekian detik.
"Trip sama calon pasutri, nih!"
Arga tersenyum bangga ke kamera, merasa seperti raja jalanan yang membawa dua wanita. Egonya melambung tinggi, menutupi suara logika di kepalanya yang berteriak soal uang. Di sisi lain, Nadinta merasa mual ketika Maya mengucap kata 'Pasutri'.
"Oh iya, Nad, Ga. Saking buru-buru, aku sampe kelupaan bawain kalian oleh-oleh. Padahal tadi udah ku siapin." Maya menatap Arga cukup lama, kemudian beralih ke Nadinta.
"Kalo misal aku bawain besok hari senin, nggak papa, kan?"
Nadinta melihat sorot mata wanita itu sejenak. Dia tersenyum. "Santai, May. Nggak apa-apa kok."
"Yey!"
Perjalanan menuju tol Cikampek awalnya terasa menyenangkan bagi Arga. Dia menikmati sensasi menyalip mobil-mobil kecil dengan mudah. Tenaga mesin diesel itu memang luar biasa, membuatnya merasa superior di jalan raya.
Namun, euforia itu mulai terusik saat lampu indikator bahan bakar berkedip kuning tepat sebelum Rest Area KM 57. Arga lupa mengisi bensin kemarin karena terlalu asyik pamer di kantor dan terlalu pelit untuk mampir ke SPBU.
"Yah, bensinnya low nih," gumam Arga, melirik panel instrumen dengan cemas.
"Mampir dulu dong, Mas. Isi full sekalian biar nggak bolak-balik berhenti. Nanggung kalau nanti mogok di Cipularang," saran Nadinta dari kursi belakang, matanya tidak lepas dari layar laptop namun telinganya waspada mencatat setiap detail.
Arga membelokkan mobil ke SPBU. Antrean cukup panjang. Petugas SPBU dengan sigap mengarahkan Arga ke pompa khusus solar non-subsidi—Pertamina Dex.
Arga membuka jendela. Aroma solar menyeruak.
"Isi full ya, Pak," perintah Arga dengan suara lantang, ingin terdengar kaya di depan Maya.
"Siap, Pak. Dimulai dari nol ya."
Nadinta mengintip dari celah kursi depan. Dia melihat wajah Arga yang awalnya santai, perlahan berubah tegang saat melihat angka di mesin pompa digital itu berputar cepat. Liter demi liter masuk ke tangki raksasa mobil SUV itu. Angka rupiahnya berputar gila-gilaan, jauh lebih cepat dari detak jantungnya.
Tiga ratus ribu... Lima ratus ribu... Tujuh ratus ribu...
Mata Arga mulai melotot. Dia lupa bahwa tangki mobil ini kapasitasnya 68 liter, dan harga solar non-subsidi hampir dua kali lipat dari solar biasa yang dulu dia pakai untuk mobil kantor.
Delapan ratus ribu... Sembilan ratus ribu...
"Lama banget sih, Mas? Belum penuh juga?" tanya Maya polos sambil membetulkan lipstiknya di cermin visor, sama sekali tidak peduli pada angka yang membuat Arga berkeringat dingin.
"Be-belum, May..." jawab Arga, suaranya tercekat.
Klik.
Mesin berhenti otomatis. Angka final di layar menunjukkan: Rp 950.000.
Sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Hampir satu juta. Hanya untuk sekali isi bensin.
Arga menelan ludah dengan susah payah. Itu setara dengan biaya makan siangnya selama dua minggu penuh di kantin kantor.
"Sembilan ratus lima puluh ribu, Pak," ujar petugas SPBU ramah.
Tangan Arga kaku saat merogoh dompet. Dia mengeluarkan kartu debitnya. Dalam hati, dia berdoa semoga saldonya masih cukup setelah dipotong berbagai biaya administrasi kredit dan belanja bulanan kemarin.
Nadinta melihat tangan Arga yang sedikit gemetar saat menyerahkan kartu.
"Kenapa, Mas? Kok tegang gitu?" tanya Nadinta dengan nada polos dari belakang. "Mahal ya?"
Arga tersentak, buru-buru menutupi kepanikannya. "Eh, enggak kok. Biasa saja. Cuma kaget tangkinya gede banget ternyata."
"Namanya juga mobil badak, Mas. Makannya banyak," timpal Maya sambil tertawa kecil tanpa beban. "Tapi worth it kan? Daripada naik mobil murah yang berisik dan bumpy."
Arga memaksakan tawa yang terdengar sumbang. "Iya, bener. Worth it."
Mobil kembali melaju keluar dari rest area. Tapi kali ini, setiap kali Arga menginjak pedal gas untuk menyalip, dia tidak lagi hanya merasakan tenaga mesin yang gahar. Dia merasakan uangnya terbakar menjadi asap knalpot hitam. Setiap akselerasi adalah lembaran rupiah yang melayang sia-sia.
Mereka tiba di Bandung pukul satu siang. Sesuai permintaan Maya yang sudah dia list sejak kemarin di grup chat, mereka menuju sebuah restoran kafe hits di daerah Dago Pakar yang memiliki pemandangan lembah hutan pinus yang instagramable.
Tempat itu penuh dengan anak muda berpakaian trendy dan deretan mobil mewah. Arga memarkirkan Pajero-nya di barisan depan dengan bangga, sedikit terobati sakit hatinya melihat bon bensin tadi karena merasa setara dengan pengunjung lain.
"Kita duduk di outdoor ya! Biar dapat cahaya matahari bagus buat foto," pinta Maya.
Mereka duduk bertiga. Pelayan memberikan buku menu. Maya membuka menu itu dan memesan tanpa melihat kolom harga di sebelah kanan, seolah Arga adalah sultan minyak.
"Aku mau Wagyu Steak medium well, Truffle Fries, sama Iced Lychee Tea ya. Oh ya, dessert-nya Lava Cake satu."
Arga membuka menu miliknya. Matanya memindai harga. Steak yang dipesan Maya harganya 350 ribu belum termasuk pajak dan layanan.
"Kamu mau pesan apa, Din?" tanya Arga pada Nadinta, matanya memancarkan kode 'tolong pesan yang murah'.
"Aku Caesar Salad sama air mineral saja deh, Mas. Masih kenyang sarapan tadi," jawab Nadinta hemat. Dia tahu kapan harus menahan diri untuk melihat kehancuran orang lain.
"Kamu, Mas?" tanya Maya.
Arga menelan ludah. Dia harus berhemat. Tagihan bensin tadi sudah memukul mental keuangannya.
"Aku... Nasi Goreng Kampung saja deh. Lagi pengen nasi, kangen masakan Indonesia," jawab Arga, memilih menu paling murah di daftar main course.
"Ih, jauh-jauh ke Bandung makannya nasi goreng. Pesan steak juga dong biar samaan, nanti difoto bagus di meja," protes Maya.
"Nggak ah, lagi nggak pengen daging, perutku agak nggak enak," tolak Arga, padahal air liurnya menetes melihat gambar steak itu.
Selama makan, Maya sibuk dengan ponselnya. Dia menata makanan mahal itu, meletakkan kacamata hitamnya dan kunci mobil Pajero Arga di atas meja sebagai properti foto.
Cekrek.
"Bagus banget," gumam Maya puas. Dia memposting foto itu. Hanya foto makanan, kunci mobil, dan sedikit lengan kemeja Arga. Nadinta tidak ada di frame.
Arga hanya diam, mengunyah nasi gorengnya yang terasa hambar karena pikiran tentang tagihan kartu kredit yang akan datang bulan depan. Dia merasa seperti sopir yang sedang menemani majikannya makan.
Saat sore menjelang, pelayan datang membawa tagihan. Arga mengambilnya dengan cepat sebelum Maya melihat.
Total: Rp 875.000.
Ditambah bensin dan tol, hari ini Arga sudah menghabiskan hampir 2 juta rupiah. Dalam waktu kurang dari 8 jam.
"Mas, habis ini kita mampir ke outlet ya? Aku mau lihat sepatu nih, mumpung lagi di sini," ajak Maya santai saat mereka berjalan kembali ke parkiran, sama sekali tidak peka terhadap kondisi dompet Arga.
Kaki Arga lemas. Dia tidak sanggup lagi mengeluarkan uang hari ini. Kartu debitnya sudah menjerit.
"May, kayaknya kita langsung balik saja deh. Badan aku agak nggak enak beneran. Masuk angin kayaknya kena AC mobil baru yang dingin banget," Arga beralasan, memegang kepalanya pura-pura pusing.
"Yah... padahal baru jam segini," keluh Maya, wajahnya langsung cemberut.
Arga menghela napas, melirik Nadinta lewat spion. Nadinta hanya tersenyum tipis, menyimpan segudang makna.
"Bukan pelit, May. Beneran pusing. Lain kali ya?"
Maya akhirnya setuju dengan enggan, masuk ke mobil sambil membanting pintu pelan. Sepanjang perjalanan pulang, dia mendiamkan Arga, sibuk membalas komentar teman-temannya di Instagram.
Di kursi belakang, Nadinta kembali membuka laptopnya. Dia tidak bekerja. Dia membuka aplikasi catatan pengeluaran di ponselnya, lalu mengetik:
Bensin: Rp 950.000
Tol & Parkir: Rp 200.000
Makan Siang: Rp 875.000
Total Kerugian Arga Hari Ini: Rp 2.025.000
Gaji Arga 10 juta per bulan, jika dia terus mempertahankan gaya hidup seperti ini, maka hanya masalah waktu hingga pria itu benar-benar berada di jurang kehancuran. Dan itu adalah tujuan Nadinta.
Wanita itu tersenyum miring menatap punggung Arga yang tegang di kursi pengemudi.
Sebentar lagi.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/