Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kebohongan
Suara pintu utama yang dibanting begitu keras hingga mengguncang bingkai foto di dinding menjadi pertanda badai telah tiba. Arya melangkah masuk dengan napas memburu, tangannya mencengkeram erat amplop cokelat berisi foto-foto perselingkuhan itu. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, memancarkan aura kegelapan yang siap menghancurkan apa pun di depannya.
Ria sudah di sana, duduk tenang di sofa ruang tengah. Ia tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang melamun. Ia hanya menunggu. Saat langkah kaki Arya mendekat, Ria perlahan meletakkan ponselnya di atas meja, seolah sedang menutup sebuah bab dalam hidupnya.
"Bagus! Kau sudah pulang setelah bersenang-senang dengan kekasihmu itu?!" Arya melempar foto-foto itu tepat di depan wajah Ria. Foto-foto itu berhamburan, memperlihatkan wajah dr. Heru yang sedang menatapnya penuh perhatian.
"Ternyata ini alasan kau berubah, Ria? Ini alasan kau meminta uang tunai?" Arya memaki, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kau menggunakan uangku untuk membiayai laki-laki lain di belakangku? Kau pikir aku sebodoh itu?"
Orang-orang di rumah itu berhamburan menyaksikan pertengkaran tuan rumah mereka. Ria menatap foto yang berhamburan itu tanpa ekspresi. Tidak ada ketakutan, tidak ada tangis. Ia justru menatap foto dr. Heru dengan tatapan sendu, seolah teringat akan peringatan dokter itu bahwa ia harus lebih menghargai dirinya sendiri.
Ria kemudian mendongak. Ia menatap wajah Arya dengan sangat serius. Pandangannya begitu dalam, tajam, namun di saat yang sama terasa sangat jauh—sebuah tatapan yang membuat Arya tiba-tiba merasa kehilangan kata-kata. Ada kehampaan yang begitu pekat di mata Ria, sebuah ruang kosong yang tidak bisa lagi Arya masuki.
"Sudah selesai makiannya, Mas?" tanya Ria dengan suara yang sangat tenang, kontras dengan ledakan emosi Arya.
"Apa kau tidak punya rasa malu?!" Arya kembali berteriak, frustrasi karena tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan.
Ria berdiri perlahan. Meski tubuhnya terasa seringan kapas dan kepalanya berdenyut, ia menegakkan punggungnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak mendongak karena merasa rendah, tapi karena ia ingin menatap suaminya sejajar.
"Mari kita bercerai, Mas."
Lagi-lagi kata-kata itu diucapkan dengan lantang, tegas, dan tanpa keraguan. Suara Ria tidak bergetar sedikit pun.
Permintaan itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam api. Amarah Arya mencapai puncaknya. Ia merasa seolah ditampar di rumahnya sendiri.
"Kau pikir kau siapa?!" Arya mencengkeram bahu Ria, mengguncangnya dengan kasar. "Kau datang ke rumah ini karena ayahmu menjualmu padaku! Kau tidak punya hak untuk meminta apa pun, apalagi cerai! Kau adalah istriku, dan kau akan tetap di sini sampai aku memutuskan sebaliknya!"
Ria tidak meringis kesakitan meski cengkeraman Arya terasa sangat kuat. Ia justru tersenyum tipis—senyum yang membuat Arya merasa merinding.
"Kenapa kau begitu marah, Mas?" tanya Ria lirih. "Bukankah selama ini aku hanya beban bagimu? Bukankah aku hanya transaksi bisnis? Jika kau melepaskan ku, kau bebas. Kau bisa mencari wanita yang tidak 'pembawa sial' seperti aku. Kau bisa memiliki anak dari rahim wanita yang kau cintai."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk laki-laki itu!" bentak Arya lagi, matanya menyipit karena cemburu yang ia samarkan sebagai kemarahan.
"Laki-laki di foto itu bukan kekasihku. Tapi kau tidak akan pernah percaya, bukan?" Ria menarik napas panjang, menahan rasa perih di dadanya yang mulai muncul kembali. "Aku meminta cerai karena aku ingin bebas. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku tanpa melihat wajahmu yang penuh kebencian itu."
"Kau tidak akan ke mana-mana!" Arya melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Ria sedikit terhuyung. "Mulai detik ini, kau dilarang keluar rumah. Aku akan menyita ponselmu dan menyuruh penjaga mengawasi setiap langkahmu. Jika kau ingin bermain api, aku akan tunjukkan bagaimana rasanya terbakar, Ria!"
Arya berbalik dan pergi dengan amarah yang masih meluap, meninggalkan Ria yang kembali duduk di sofa. Ria memandangi telapak tangannya yang gemetar. Ia tahu, waktunya tidak banyak. Jika Arya mengurungnya, maka ia harus menemukan cara lain untuk pergi sebelum tubuhnya sendiri yang memaksanya pergi selamanya.
Rumah megah itu kini tak lebih dari sebuah penjara berlapis emas. Sesuai ancamannya, Arya memperketat penjagaan. Namun, alih-alih memberontak atau menangis histeris, Ria justru menunjukkan kepatuhan yang ganjil. Ia tidak lagi membantah, tidak lagi meminta pergi, dan tidak lagi menatap Arya. Ia menjadi penghuni rumah yang paling sunyi; bergerak seperti hantu dari kamar ke perpustakaan, atau sekadar duduk di balkon menatap langit tanpa ekspresi.
Arya merasa telah menang, namun kemenangan itu terasa hambar. Setiap kali mereka berada di ruangan yang sama, Ria akan menyibukkan diri—entah membaca buku lama atau sekadar menatap kosong ke arah taman. Kontak mata telah hilang, dan setiap kali kulit mereka tak sengaja bersentuhan saat berpapasan, Ria akan menarik diri secepat mungkin, seolah tersengat listrik.
"Makanlah, jangan menambah beban dalam hidupku. Aku tidak ingin kau pingsan lagi dan membuatku repot," ujar Arya suatu malam di meja makan.
Ria hanya mengangguk tanpa suara, menyuap sedikit nasi ke mulutnya yang terasa pahit. Baginya, Arya kini hanyalah suara latar yang tak bermakna. Dunianya sudah berpindah ke dalam kepalanya sendiri, merencanakan perpisahan yang paling sunyi.
Satu hal yang Arya pastikan adalah kesehatan fisik Ria. Ia masih percaya pada diagnosa dokter pribadinya bahwa istrinya hanya mengalami gizi buruk dan stres. Setiap pagi dan malam, Arya sendiri yang mengambil botol putih dari nakas dan memastikan Ria meminumnya.
"Minum vitamin mu," perintah Arya sambil meletakkan sebutir obat dan segelas air di depan Ria.
Ria mengambil obat itu dengan jemari yang tenang. Arya tidak menyadari bahwa isi botol putih itu sudah berubah. Beberapa hari lalu, saat penjagaan sedikit lengah, Ria berhasil membuang semua kapsul vitamin penambah gizi dan menggantinya dengan obat pereda nyeri dosis tinggi yang diberikan oleh dr. Heru.
Setiap kali ia menelan obat itu di depan Arya, ia merasa sedang menelan rahasia kematiannya sendiri.
Jika kau tahu apa yang sebenarnya aku minum, Mas, apakah kau akan tetap menatapku dengan kebencian yang sama? batin Ria sambil meneguk air putih.
Obat itu bekerja dengan cepat menumpulkan rasa nyeri yang menusuk tulang-tulangnya, namun ia tidak bisa menyembuhkan warna pucat di wajah Ria yang semakin hari semakin transparan.
Arya memperhatikan Ria dari ambang pintu kamar. Ia melihat istrinya duduk di meja rias, menyisir rambutnya yang mulai rontok lebih banyak dari biasanya. Arya merasakan sebersit keraguan. Obat itu seharusnya membuat Ria lebih bertenaga, tapi mengapa istrinya justru tampak semakin rapuh?
"Mengapa kau tidak pernah bicara lagi padaku?" tanya Arya tiba-tiba, suaranya tidak setinggi kemarin.
Ria meletakkan sisirnya. Ia menatap pantulan Arya di cermin, namun matanya tidak fokus pada pria itu. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas. Semua kata-kata sudah habis terpakai untuk saling menyakiti."
"Aku melakukan ini untuk menjagamu, Ria! Agar kau tidak terjerumus dengan laki-laki asing itu!"
Ria hanya tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan kelelahan yang mendalam. "Terserah apa katamu. Aku sudah meminum 'vitamin'-ku. Bisakah kau keluar? Aku ingin tidur."
Arya mengepalkan tangan, merasa terlempar jauh dari kehidupan istrinya sendiri. Ia keluar dan membanting pintu, tidak menyadari bahwa di dalam kamar, Ria segera meringkuk di lantai, mendekap perutnya yang mulai terasa sakit kembali meski baru saja meminum obat. Efek obat pereda nyeri itu mulai kalah cepat dengan penyebaran sel kanker di tubuhnya.
Ria tahu, sandiwara ini tidak akan bertahan lama. Tubuhnya sudah berada di batas akhir, dan ia harus segera menyelesaikan urusannya sebelum botol putih itu tak lagi mampu membendung rasa sakitnya.