NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 : Gosip yang membuat cemas

Alena kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa pada hari itu meski ada sedikit perasaan janggal yang masih tertinggal dan membuatnya tak tenang. Namun, masalah itu disingkirkannya terlebih dahulu.

"Bi, bekal si adek udah dimasukin?" Ujarnya memasuki ruangan dapur dan melihat Yani sedang agak repot.

"Ini udah, Bu." Wanita yang masih terbilang muda (25 tahun) itu berbalik dan menyerahkan sebuah tas kecil berwarna merah-muda kepada Alena.

"Ya udah, saya berangkat dulu sama Alena. Titip rumah ya, Bi...." Alena melempar senyum sekilas lalu berjalan keluar.

"Alena, ayo kita sekolah, Nak." Ia berjalan dan menggandeng tangan si kecil yang sudah menunggunya di ambang pintu utama.

"Mamih, nanti pulang sekolah Alena mau beli es krim ya?" Celoteh sang anak dengan wajah ceria.

"Iya, tapi sekolah dulu baru beli es krim," jawab Alena tersenyum kecil melihat sang anak yang tampak begitu bersemangat.

Alena mengeluarkan sepeda motor matic-nya nya yang berwarna merah-muda dari halaman rumah. Yani kemudian menggendong Alea, membantu mendudukkan gadis kecil itu di belakang.

"Hati-hati, Bu," ujar sang babysitter sebelum majikannya berangkat.

"Yuk, Bi berangkat dulu," balas Alena mengangguk lalu menoleh sedikit melihat Alea yang dengan cepat berpelukan erat kepada sang ibu.

"Alea pegang kuat-kuat, ya," ujarnya kepada sang anak yang dibalas dengan anggukan kecil.

Akhirnya matic roda dua berwarna lembut meski tetap mencolok di jalan itu melaju meninggalkan komplek perumahan.

Yani melihat keduanya pergi dengan senyum, lalu ia masuk kembali, menutup pintu rumah rapat-rapat jadi dia bisa melakukan pekerjaannya.

Kalau di pagi hari biasanya dia hanya diminta membantu menyapu halaman rumah saja dan membereskan kamar Alea, karena Alena yang mengantar Alea ke sekolah, dengan jarak tempuh 15 menit. Lalu siangnya baru gantian Yani yang akan menjemput Alea dan tugas rumah dikerjakan sendiri oleh Alena, sementara untuk mencuci keluarga Alena lebih praktis dan memilih laundry sebagai solusi tercepat.

.

.

Setelah menempuh 15 menit kurang sedikit, Alena pun sampai di sekolah Tunas bangsa, tempat Alea bersekolah TK.

Di sana sudah banyak ibu-ibu yang juga mengantar putra-putri mereka dengan segala macam kendaraan yang mereka bawa. Mulai sepeda, motor, sepeda listrik, bahkan sampai mobil mentereng pun tampak terparkir beberapa di pinggir jalan. Namun, kebanyakan dari para ibu rumah tangga itu menggunakan sepeda listrik.

Alena memberhentikan motor di pinggir sekolah lalu menurunkan Alea dengan hati-hati.

"Ini tasnya Alea." Ia memakaikan tas mungil cantik berwarna merah cerah dengan gambar kelinci ke punggung sang anak. "Ingat, di sekolah jangan nakal atau berantem sama yang lain ya," lanjutnya memberi peringatan halus kepada Alea.

"Oke, Mamih!" Gadis itu nyengir lucu dengan memamerkan gigi-gigi kecilnya.

"High five, dulu!" Kemudian ia pun berjongkok dan memberikan tangannya.

Alea memberikan tepukan tangan mungilnya ke telapak tangan Alena sambil tertawa girang.

"Udah, sana masuk." Setelah itu ia mengelus lembut kepala Alea sebelum melepasnya pergi memasuki kelas.

Alena masih sempat memandangi sang anak yang berlari kecil ke arah sang guru yang sudah menanti di depan gerbang dengan senyuman lega saat Alea sudah benar-benar berada di dalam sekolah.

Bel masuk di sekolah itu tak lama berbunyi dan Alena pun segera beranjak. Namun, saat ia hendak jalan, tanpa sengaja ia mendengar obrolan tiga orang wanita dari arah belakang.

"Bu, tau gak suaminya Bu Nadira? Dia habis ketahuan selingkuh kemarin!" Seorang wanita membuka percakapan.

"Ah, yang bener? Masa sih? Mukanya 'kan, kaya Laki bener ya? Masa selingkuh?" Balas seorang wanita terdengar penasaran dengan rasa tak percaya.

"Ih bener, Bu! Heboh loh semalam ribut besar! Semua tetangga juga udah ada tau! Makanya itu anaknya Kevin hari ini gak masuk sekolah 'kan?" Wanita pertama mencoba meyakinkan kesaksiannya.

"Kok bisa ya, padahal suaminya royal banget 'kan, sering kasih perhiasan mahal dan barang-barang bagus!" Ujar wanita lainnya lagi sambil menggeleng kepala.

"Ah, itu mah karena dia lagi nutupin kebohongannya aja, padahal mah busuk!" Wanita pertama langsung menghakimi.

Alena yang mendengar percakapan itu seketika terdiam. Ia seakan teringat akan cincin mewah pemberian Arinta.

Masa iya sih Arinta juga kayak gitu.... Batin Alena mendadak jadi cemas kembali.

Ketiga wanita itu berjalan melewati Alena yang masih berdiam diri di atas motornya.

"Tau gak, suaminya selingkuh sama siapa?" Wanita itu mengatakannya dengan nada penuh pancingan, sengaja dibuat-buat biar penasaran.

"Sama siapa, Bu?" Balas dua wanita lainnya dengan kompak.

"Ya gak jauh-jauh, itu sama Indah, teman satu kantornya yang pernah datang ke pesta ulang tahun anaknya!" Jawaban wanita di tengah itu seketika membuat keduanya heboh, sampai mereka sempat berhenti sejenak.

"Ya ampun! Pantesan di acara itu kayaknya nempel banget sama si Bagas, ternyata ada main?"

"Ah, tapi itu udah biasa, Bu! Laki-laki selingkuh di kantor pasti sama temen satu kerjaannya lah!

"Untung laki kita pedagang di pasar ya! Paling ketemunya sama sesama pedagang juga, mana satu komplek lagi!"

Ketiga wanita itu lalu tertawa terbahak-bahak dan kembali berjalan.

Alena sempat termenung agak lama setelah mendengar semua percakapan ketiga orang ibu-ibu itu. Entahlah, hatinya yang mulia tenang kembali terganggu dengan kedua hal yang terlalu persis terjadi pada Arinta. Barang mewah, sampai kedekatan tak biasa dengan teman kantor.

Meski tak nyaman tapi Alena mencoba menepis semua itu dulu dan langsung memilih pulang daripada pikirannya semakin kalut.

.

.

Sementara di kantor, Melinda baru saja masuk ke dalam ruangannya Arinta sambil membawa dokumen.

Ia masuk dengan senyuman menggoda dan menutup pintu ruangan.

"Silahkan Pak, dokumennya dicek dulu." Ia berbicara dengan nada menggoda. Meletakkan berkas itu ke atas meja, lalu duduk di atas kursi sambil menaikkan satu kaki.

"Ah, kamu ini mau ngasih dokumen atau lagi merayu Saya sih?" Balas Arinta tanpa merasa canggung saat menatap Melinda duduk dengan gaya yang memikat.

"Terserah, mau dokumen dulu, atau...." Ia sengaja menahan kata-katanya sambil melirik atasannya dengan nakal.

Arinta kemudian berdiri dari kursi, berjalan mengitari Melinda lalu berdiri di belakang kursi wanita itu sambil memeluk pinggangnya dengan penuh gairah, meskipun hari masih pagi. Tak lupa ia pun memberi beberapa kecupan ringan di telinga dan leher wanita itu.

Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti, ia seperti menyadari sesuatu.

"Ah, aku lupa...," ujarnya dengan sedikit serius. "Kayaknya untuk sementara kita gak bisa sering-sering ketemuan di luar dulu," tandasnya yang teringat soal foto mereka yang bisa sampai ke Alena.

"Yaaaah, kenapa...?" Melinda merengek. Tampaknya ia tak suka dengan keputusan Arinta.

"Kayaknya ada yang tahu soal hubungan kita dan memata-matai deh," ujarnya curiga.

"Masa? Kamu tau dari mana?" Melinda menoleh ke arah Arinta, tampak tak percaya.

"Yah, soalnya ada orang yang mengirim foto kita berdua di depan mall ke istri aku," jawab Arinta menjelaskan soal foto tersebut. Ia masih tak tenang meskipun sudah berhasil membohongi sang istri soal itu.

"Tapi aku bakal kangen banget sama kamu nanti...." Melinda pun cemberut.

"Ya sabar dong, untuk sementara aja, sampai kecurigaan Alena reda, baru kita bisa jalan-jalan lagi keluar," balasnya dengan rayuan sambil mencium tangan wanita yang lebih muda itu dengan mesra.

"Iya deh...." Melinda mengangguk dan mengulas senyum tipis meski agak bete.

Siapa kira-kira orang yang membuntuti mereka? Apa masih teman satu kantor atau pihak lain yang secara gak sengaja melihat Arinta berdua dengan wanita lain?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!