"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kamar yang Terpisah
Terpisah dari dunia luar membuat Maya Anindya merasa seperti seekor burung yang sayapnya baru saja dipatahkan secara paksa oleh keadaan. Dia berdiri di tengah kamar yang luas dengan perabotan yang serba kaku serta tertata sangat rapi tanpa sedikit pun sentuhan kehangatan rumah. Tatapannya tertuju pada satu jendela besar yang terhalang oleh jeruji besi kokoh yang menyatu dengan tembok rumah dinas tersebut.
"Mengapa ada jeruji besi di jendela kamar ini seperti di dalam sebuah sel tahanan?" tanya Maya Anindya dengan suara yang bergetar hebat.
Arga Dirgantara yang masih berdiri di ambang pintu hanya menatap datar ke arah jendela tersebut tanpa menunjukkan ekspresi simpati sedikit pun. Dia melangkah masuk dengan perlahan hingga suara sepatu larasnya bergema di atas lantai keramik yang dingin serta terasa sangat angker. Pria itu menyentuh jeruji tersebut untuk memastikan kekuatannya sebelum beralih menatap istrinya yang tampak sangat rapuh.
"Keamananmu adalah prioritas utama dan jendela itu adalah titik terlemah yang bisa ditembus oleh penyusup," jawab Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat kaku.
Maya Anindya merasakan bulu kuduknya meremang saat menyadari bahwa ancaman nyawa yang dibicarakan pria itu ternyata sangat nyata serta mengerikan. Dia segera berbalik dan melihat sebuah pintu kayu jati yang menghubungkan kamarnya dengan ruangan lain di sebelah kanan. Rasa ingin tahu serta ketakutan mulai bertarung di dalam benak gadis remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abu tersebut.
"Apakah pintu itu menuju ke ruang kerja rahasia yang Anda larang tadi?" tanya Maya Anindya sambil menunjuk ke arah pintu misterius tersebut.
Arga Dirgantara tidak menjawab melainkan hanya memberikan tatapan yang sangat tajam seolah-olah sedang memberikan peringatan keras tanpa kata-kata. Dia kemudian menarik sebuah koper besar dari bawah tempat tidur dan membukanya hingga memperlihatkan deretan pakaian baru yang masih terbungkus plastik. Pria itu meletakkan koper tersebut di atas kasur dengan gerakan yang sangat efisien serta tidak membuang-buang tenaga sama sekali.
"Pintu itu menuju ke kamar saya dan jangan pernah berani membukanya kecuali dalam keadaan bahaya yang mengancam nyawa," tegas Arga Dirgantara dengan rahang yang terlihat sangat mengeras.
Pernyataan itu membuat jantung Maya Anindya berdegup sangat kencang karena menyadari bahwa mereka akan tidur di ruangan yang sangat berdekatan satu sama lain. Dia membayangkan bagaimana rasanya hidup di bawah pengawasan ketat seorang perwira yang sama sekali tidak memiliki rasa belas kasihan. Hening yang panjang kembali menyelimuti ruangan tersebut hingga hanya terdengar suara detak jam dinding yang berdetak dengan ritme yang sangat lambat.
"Sekarang ganti pakaianmu dan segera istirahat karena besok pagi saya akan mengantarmu kembali ke sekolah," perintah Arga Dirgantara sambil berbalik menuju ambang pintu.
Gadis itu terkesiap saat melihat suaminya mengeluarkan sebuah kunci cadangan dari balik saku seragamnya yang berwarna hijau loreng tersebut. Dia merasa privasinya telah dirampas benar-benar karena tidak ada satu pun tempat di rumah ini yang benar-benar bisa dia miliki sendiri. Kelelahan yang luar biasa mulai menyerang tubuh mungilnya hingga dia jatuh terduduk di tepi tempat tidur yang terasa sangat keras serta tidak nyaman.
"Apakah Anda akan terus mengawasi saya bahkan saat saya sedang tidur di dalam kamar ini?" tanya Maya Anindya dengan sisa keberanian yang dia miliki.
Arga Dirgantara menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu lalu menoleh sedikit untuk memberikan senyum miring yang sangat misterius serta sulit diartikan. Dia mematikan lampu utama ruangan hingga hanya menyisakan cahaya remang dari lampu meja yang berada di pojok tempat tidur tersebut. Tanpa memberikan jawaban yang pasti, pria itu menutup pintu dengan suara debuman keras yang membuat Maya Anindya terjengit kaget karena ketakutan yang mendalam.
"Tidurlah dengan nyenyak karena malam ini adalah malam terakhir kamu bisa bermimpi sebagai orang biasa," bisik Arga Dirgantara dari balik pintu yang kini telah terkunci rapat dari arah luar.